
Satu bulan kemudian....
Aku memandangi surat pengunduran diri itu sekali lagi. Masih menimbang-nimbang keputusan itu. Jika ingin berhenti, aku harus menemukan pekerjaan lain. Tapi, tentu saja aku juga membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di sini. Atau barangkali menunggu dipecat –berapa kali lagi aku harus bermasalah dengan perkerjaanku berkat campur tangan Harrish. Nasibku benar-benar sial setiap berurusan dengannya. Kenapa Tuhan tidak menjauhkannya dariku setelah apa yang dia perbuat padaku?
Aku mendengus, meyimpan surat itu di dalam laci. Mungkin, aku akan menyerahkannya setelah aku menemukan pekerjaan baru yang cocok. Aku sedikit menyesal kembali datang bekerja seolah tak terjadi apa-apa di mana seharusnya aku akan melarikan diri. Tapi, kemana aku akan melarikan diri? Sendra yang punya banyak uang saja terancam akan dijebloskan ke penjara karena dia nyaris akan menjual perusahaan
Rrrrr! Rrrrr!, telpon di meja samping membuatku terlonjak. Aku meihat tulisan ‘Direksi’ berkedip-kedip di layar LED telpon.
Aku meraih gagangnya. "Halo, selamat siang !” sapaku cepat dan kuharap dia tidak akan bertanya sambil berteriak kenapa aku terlambat mengangkat telponnya.
“Ke ruangan saya. Sekarang," perintahnya, cepat dan langsung menutup telpon.
Aku segera berdiri. Merapikan setelanku. Menata rambutku yang sedikit tidak rapi.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak ?” tanyaku begitu berdiri di depan mejanya.
Dia menatapku sebentar. Sebelum file yang ada di tangannya. “Hm…," dia membalik-balik lembaran di dalamnya dan aku bisa melihat bahwa itu adalah biodata karyawan –milikku. Dia tampak ingin membacakan isinya untukku. Oh, mati aku! “Nama Sabina Ayuningtyas Putri. Lahir Surabaya, 14 Desember 1987. Status belum menikah”
Tawa kecilnya terdengar sinis, seperti dia baru menemukan celah untuk memojokanku entah karena sama bencinya padaku terhadap Pak Sendra. Kekanakan!
“Dari mana kamu dapat KTP ini ?” tanya dia, melempar file itu di atas mejanya, namun terpapar tepat di depanku.
Terus terang saja, Pak Sendra tidak pernah mempermasalahkan status. Tidak pernah mengomentari soal aku dan Harrish yang bercerai karena ‘musibah’.
“Pemalsuan identitas," kata dia memperjelas, bahwa kesalahanku adalah mempunyai data diri yang berstatus lajang.
Bukan tanpa sebab. Harrish menceraikanku saat usiaku 21 tahun! Di usia semuda itu, orang-orang akan menganggapku melakukan kesalahan sampai diceraikan. Dan sebenarnya yang punya ide itu bukan aku! Tapi, Evania! Dia yang membuatkan identitas itu supaya aku bisa hidup dengan melupakan kejadian buruk dalam hidupku serta bekas permanen yang Harrish tinggalkan dalam hidupku. Identitas rekayasa akan menutupinya! Terutama dari teman-temanku! Dari semua orang! Dan itu penting bagiku! Apa jadinya kalau orang-orang tahu bahwa aku pernah menikah?
“Ini fatal," kataku. "Kamu sama sekali nggak berpikir bahwa ini akan merugikan kamu nanti?”
Aku diam. Mendengarkannya. Jika dia mulai membahas tentang masa lalu, aku akan menghentikannya.
Kuharap aku dapat cukup terlihat tenang. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku, mengendalikan seraut wajah yang sekarang terlihat kaget. Melihat caraku menghadapinya.
Harrish berdehem. "Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk membantu saya," katanya. "Sebenarnya sejauh ini… kamu sangat ‘membantu’ saya dalam mengungkap peggelapan yang dilakukan oleh atasan kamu yang lama dan saya menghentikannya dengan cara yang tepat”
Selamat kalau begitu, kataku dalam hati tapi mendengarkan dengan seksama.
“Saya butuh pekerjaan, Pak," kataku menegaskan, agar ia tidak berpikiran macam-macam dulu.
“Saya tahu. Untuk semua yang kamu miliki sekarang. Apartemen dan mobil, yang semuanya diberikan oleh Sendra. Semua itu termasuk aset perusahaan dan bisa saja saya sita karena termasuk ke dalam penggelapan yang dilakukan Sendra. Saya hampir menjebloskan dia ke penjara dan kamu bisa terlibat kalau kita nggak bekerja sama…”
“Maaf, maksud Bapak?” aku semakin tidak mengerti dengan tuduhannya.
“Kamu sekretarisnya?” tanya dia.
Aku mengangguk.
“Kamu selalu melakukan semua yang dia minta?”
__ADS_1
Aku mengangguk. Itu memang tugas sekretaris. Dikiranya apa?
“Kontrol keuangan melalui kamu?” tanya dia lagi.
“Ada divisinya, Pak," jawabku.
“Tapi, kamu mengendalikan mereka lewat perintah dari Sendra kan?”
Aku pun terdiam. Apa sih maksudnya bertanya seperti itu?
“Kamu kaki tangannya. Nggak mungkin saya biarkan kamu pergi dari sini begitu saja," dia menegaskan lagi. "Saya hanya ingin kamu terbuka dengan semua yang dilakukan oleh Sendra. Nggak lebih…”
“Maaf, Pak, saya nggak mengerti dengan maksud Bapak…," kataku, mulai gentar.
Bakat menyudutkan orang Harrish semakin meningkat saja. Dia menguasai lawan biacara untuk membuatnya menyerah dan mengaku –bahkan tentang sesuatu yang tak pernah dilakukan sekalipun.
“Saya harus bilang ini secara pribadi. Harusnya kamu berpikir, kenapa Sendra mau memperkerjakan kamu di sini. Kenapa bukan orang lain? Kalau kamu pikir karena kemampuan kamu yang hebat itu, saya nggak yakin karena kamu nggak sepintar itu. Tapi, itu karena kamu sebagai Sabina dan dia memanfaatkan keadaan kamu waktu itu untuk memukul saya. Membuat saya terganggu. Tapi, kenyataannya itu tidak berpengaruh apa-apa buat saya. Karena kenyataannya kehadiran seseorang yang dia pikir bisa menghancurkan saya, malah sebaliknya, membuat saya bisa menyingkirkan dia dengan mudah…”
Aku kembali terdiam.
“Jangan takut saya akan bawa-bawa urusan pribadi…kamu bisa bekerja dengan tenang selama kamu melakukan perintah saya. Karena jika tidak…," kata Harrish mengambil file biodataku “Ini akan menjadi masalah besar buat kamu”
Pemalsuan identitas = pidana. Aku harus memberi tahu Evania tapi dia sudah kembali ke New Zealand.
Terjebak dengannya sekali lagi? Ini sama seperti kutukan.
***
Aku tidak menyukai momen saat aku berdiri di depannya seperti ini. Setiap berhadapan dengannya aku seperti melihat pintu neraka akan terbuka lebar di hadapanku lewat kata-katanya yang sinis.
“Ya, Pak," kataku.
“Apa dari kita ada yang ikut?” tanya dia lagi.
“Ada, Pak. Divisi Sales Marketing kita sudah mendaftar sejak sebulan yang lalu," jawabku, tenang dan datar. “Dan biasanya para owner juga diundang pada acara pembukaan”
“Lalu kenapa nggak ada di schedule saya ?” tuntut dia, kali ini menatapku garang.
“Hm… saya belum tambahkan karena…saya pikir Bapak nggak bisa datang. Dan undangannya atas nama Pak Sendra… jadi saya…”
“Itu bukan alasan! Memangnya siapa atasan kamu sekarang?” tanya dia, mulai lagi marah-marah. “Harusnya kamu update schedule karena sudah hampir sebulan saya di sini! Dan kamu sudah bukan sekretaris Sendra lagi, ngerti?”
“Maaf, Pak. Hari ini akan saya update," kataku. "Kalau Bapak memang mau hadir di acara pembukaan saya bisa hubungi panitianya untuk booking kamar dan tiket penerbangan”
Harrish hanya menatapiku. Tampak tidak punya kata-kata, sebelum dia berdehem dan kembali ke layar komputernya.
“Karena registrasinya pagi, mungkin bapak harus berangkat sehari sebelumnya," kataku, mengalihkan perhatian dari ekspresinya yang dingin. "Tapi, ada rapat general pada hari Rabu dari jam satu sampai jam lima. Kalau memungkinkan bapak bisa berangkat dengan pesawat malam dari Jakarta”
Masih menatapiku, sekarang dialah yang tampak menunggu kata-kataku.
__ADS_1
“Jadi… gimana, Pak?” aku mengabaikan perasaan bahwa dia sebenarnya dia sedang mencerna semua kata-kataku dengan baik.
“Masih ada pesawat malam ke sana?” tanya dia, terlihat ragu dan… heran.
“Jam 19.55 berangkat dari Jakarta dan sampai di sana kurang lebih jam 21.00 malam," jelasku lagi. "Kalau Bapak ingin penerbangan sore jam 18.40 juga masih bisa kalau sehabis rapat langsung berangkat. Paling nggak dari sini ke bandara hanya setengah jam kalau nggak macet dan paling lama bisa sampai 45 menit”
“Kamu hafal dengan jadwal penerbangan?” tanya dia.
Ya ampun! Pertanyaan bodoh apa itu?
Aku mengangguk. Apa aku harus bilang dulu Pak Sendra sangat sering berpergian ke luar kota bahkan ke luar negri dan aku yang mengurus semuanya?
“Bagus," dia mengangguk. “Saya ingin meeting generalnya dimajukan supaya saya bisa berangkat sebelum malam”
“Baik, Pak," sahutku dan aku ingin segera melenggang keluar dari sana karena rasanya sesak berada dekat-dekat dengannya. Sejak dia duduk di sana, memerintahku dengan ekspresi yang menjengkelkan itu, ruangan ini jadi seperti miasma yang membuatku tidak bisa berlama-lama di dalamnya. Sesak!. “Ada lagi, Pak?”
“Pastikan juga kamu ikut dengan saya," kata dia.
Aku lumayan kaget. Ikut? Ke Bali? Lagi?
Ya ampun, sekalipun Bali adalah surganya Indonesia, tapi aku tidak pernah mau ke sana, lagi.
“Ada masalah?” tanya dia, mungkin menyadari kalau aku agak keberatan harus pergi dengannya.
Aku segera menggeleng. "Tidak ada, Pak. Saya akan konfirmasi sebentar lagi," kataku. Segera meninggalkan neraka itu.
***
“Hebat! Kita bisa hangout lagi kan di sana…," malah Jessica yang kelewat girang saat aku kembali berkeluh kesah. Seolah dia sudah melupakan masalahnya tentang Sendra. Semoga dia tidak berpikiran untuk menggoda Harrish seperti dia pernah menggoda Sendra.
Aku memperhatikan kesibukan karyawan bagian dapur yang lalu lalang di depanku yang seolah tidak melihat kami mengendap-endap dan duduk di antara rak-rak besi ini. Sebenarnya staf seperti aku dan Jessica dilarang berada di sini, tapi Irish –chef andalan The Emperor, selalu membuatkan makan siang yang enak untuk kami. Dan itu menjadi saat-saat tak terlupakan bagiku.
“Seru dong kalau gitu," celetuk Irish yang sedang menngambil minuman di kulkas untukku. “Jangan lupa oleh-oleh ya…”
Fisik Irish adalah seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap namun sifatnya sangat lemah lembut seperti perempuan. Dia sering berkata pada kami bahwa dia mengalami gangguan sejak kecil yaitu gangguan karena merasa terjebak di tubuh yang salah. Seharusnya Irish terlahir menjadi perempuan, tapi dia ditakdirkan menjadi laki-laki.
“Oleh-oleh apaan? Baju barong?” balasku sambil tertawa.
“Ih, mana cocok ngasih Irish kaos yang gambarnya serem. Yang cocok itu ya…misalnya kain pantai yang biasa dipakai sama bule …," celetuk Jessica dan Irish jadi sebal seketika.
Aku ikut tertawa. Dan sejenak, aku merasa kalau pergi ke Bali tidak terlalu buruk. Aku ke sana untuk bekerja, bukan liburan. Jadi tentu saja aku akan sibuk. Ya, tentu. Apa sih yang aku khawatirkan?
“Lo kan bisa ketemu Bastian di sana," kata Jessica. "Lo nggak telpon dia?”
Aku menggeleng, sambil tersenyum getir. “Buat apa gue ngasih tau kalau gue ke sana?” balasku.
“Iya sih. Yang ada dia malah ge-eran, dikira lo sengaja balik ke Bali buat ketemu dia…," kata Jessica. “Serba susah ya…”
Aku membenarkan. Semuanya sudah berbeda sekarang.
__ADS_1
Hampir setahun, tapi hanya beberapa kali bertemu ditambah jarang berkomunikasi –bahkan di jaman serba canggih ini. Kalau ini masih bisa disebut pacaran, kenapa aku tidak merasa demikian? Hanya saat berada di sampingnya, aku bisa merasakan yang namanya memiliki tapi begitu jauh, kenangan manis pun jadi pahit. Seperti sekarang.
Aku berusaha untuk tetap sibuk untuk melupakanya. Aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan padanya, namun dia tidak memberiku jawaban apa-apa. Kata orang digantung tidak bertali itu sakitnya minta ampun. Dan harus kukatakan inilah yang kuhadapi sekarang. Bastian mungkin sudah menemukan penggantiku, atau memang dia tidak pernah menganggap bahwa aku adalah ‘seseorang’ di matanya.