
...Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan....
...****************...
"Cinta, sekss, gairah, hasrat, rindu, semua komponen itu harus ada di dalam suatu hubungan."
Kata-kata itu disampaikan dengan nada malas tapi tegas. Penampilan Isabell yang cupu tidak lantas membuatnya otaknya cetek disaat pernyataan itu disampaikan dengan sangat jelas. Isabell tidak butuh kamus atau pun translator untuk membantunya mengartikan apa itu yang dimaksud dengan sekss.
Pernyataan itu bagaikan tamparan yang cukup keras baginya. Pandangan mereka tentang pernikahan jelas berbeda walau Isabell tidak memungkiri apa yang dikatakan Austin benar adanya. Tapi yang paling dasar adalah kepercayaan, ketulusan dan saling menerima.
Austin berdiri dari kursi kemudian berdiri tepat di hadapannya, menatap Isabell dengan satu lirikan cepat dari atas ke bawah. Jelas sekali bahwa Austin sedang menilainya.
"Dari semua yang kusebutkan, tidak satu pun dari komponen itu ada diantara kita. Lantas, untuk apa kita menikah? Tidak mungkin hanya bermain rumah-rumahan, bukan?"
__ADS_1
Isabell merasakan tenggorokannya kering, lidahnya mendadak kelu dan otaknya blank seketika.
"Aku tahu kau gadis yang cukup pintar. Tapi jika kau tidak faham dengan apa yang kukatakan, pikirkanlah."
Austin berlalu meninggalkan cubitan di hatinya. Pria itu tidak mencintainya dan mungkin tidak menyukainya. Isabell sudah menebak kemungkinan tersebut, tapi menduga dengan mendengar kenyataannya secara langsung, rasanya sangat berbeda. Isabell merasa seolah ada jarum yang menusuk ulu hatinya.
Satu fakta yang sangat jelas, Austin tidak ingin pernikahan mereka terjadi. Apakah cinta, **** dan gairah hanya bisa diukur dengan penampilan seseorang? Seberapa cantik dan menariknya seseorang. Haruskah ia meniru penampilan para wanita yang pernah berkencan dengan Austin.
Dan Isabell tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi sekarang. Karena yang harus ia lakukan sekarang adalah mengayunkan kaki untuk kembali ke kamar dan bersiap-siap pergi berangkat bekerja.
Isabell hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mandi dan berpakaian. Ia juga tidak membutuhkan riasan yang berlebih untuk penampilannya. Isabell hanya memoleskan lipstik di bibirnya dan menyanggul rambutnya dengan rapi, tanpa ada sehelai rambut yang terlepas.
Sejenak ia tercenung memandangi refleksi dirinya. Mulai dari wajahnya yang terdapat sekumpulan bintik-bintik hitam yang cukup mengganggu. Kemudian ia beralih pada pakaian yang ia kenakan. Pakaian yang tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya sama sekali. Dari cara gayanya berpakaian, banyak yang terkecoh dengan bobot tubuhnya.
__ADS_1
Isabell menarik napas panjang, sedikit miris meratapi penampilannya yang memang kurang menarik. Dulu, ia nyaman-nyaman saja dengan penampilannya. Sekarang, tepatnya setelah perbincangannya bersama Austin di meja makan, ia mulai terusik dan tidak nyaman.
"Selamat pagi, Mom, Dad." Isabell menyapa calon mertuanya yang mungkin tidak akan pernah menjadi mertuanya. Pasangan Willson tersebut baru melintasi ruang utama sambil menyeka keringat. Tepatnya, Pax Willson yang sibuk menyeka keringat sang istri. Ya, keduanya baru selesai berolahraga.
Melihat yang begini saja, Isabell sudah terbawa perasaan. Isabell menggelengkan kepala membentengi pikirannya sebelum ia berandai-andai dan membayangkan bahwa dia dan Austin kelak juga akan begitu.
"Selamat pagi, Sayang." Dahi Alena mengernyit bingung melihat penampilan Isabell yang sudah rapi. "Kau mau kemana? Bekerja?"
"Ya, Mom. Aku harus pergi bekerja."
"Di akhir pekan?" Pax juga menganggap hal itu sesuatu yang aneh.
"Ya, Dad. Tidak ada waktu libur dan aku menyukainya. Aku harus pergi jika tidak ingin terlambat. Bye Mom, Dad."
__ADS_1