
Isabell masuk ke dalam kamar masih dengan suasana hati dongkol yang belum berkurang sama sekali. Masih tidak habis pikir dengan kelakuan Austin yang terlihat seperti sedang mempermainkannya. Isabell benar-benar ingin memberi pelajaran pada pria itu lebih dari sekedar tamparan.
Tidak nyaman dengan kemarahan yang masih meronta-ronta, Isabell melangkah lebar ke dalam toilet. Melepaskan kacamata kemudian membasuh wajah dengan kasar. Pun ia memandangi refleksi dirinya setelah memasang kembali kacamatanya. Bertanya-tanya dalam benaknya, apakah orang sepertinya memang tidak layak mendapatkan cinta?
Ibu yang melahirkanku saja tega membuangku, jadi tidak heran jika aku memang tidak layak untuk mendapatkan cinta.
Tapi apa aku harus tinggal diam diperlakukan seperti ini? Jika aku hanya diam saja, maka Austin akan tetap meremehkan perasaanku, dia akan terus bertingkah kurang ajar.
Aku harus melakukan sesuatu? Aku akan membuatnya menoleh kepadaku dan menunjukkan bahwa aku tidak bisa diremehkan!
Tapi caranya?
Isabell mendesaah. Ia tidak tahu cara untuk meluluhkan bandit liar itu.
Bagaimana jika kau melepaskan kawat gigimu?
Kalimat Austin tiba-tiba terngiang. Isabell kemudian memandangi wajahnya dengan lebih seksama. Membayangkan dirinya melepas kawat gigi juga kacamata.
Jika penampilan fisik bisa membuatnya menoleh ke arahku, haruskah aku melakukannya?
Memangnya apa yang berbeda jika aku menanggalkan semua itu. Bukankah aku tetap Isabell?
Isabell menggeleng, ia terlalu percaya diri menganggap hanya dengan melepaskan kacamata dan kawat gigi ia akan terlihat cantik. Cantik fisik bukan patokan untuk seseorang mendapatkan cinta. Isabell mencoba menguatkan dirinya.
Tapi Austin selalu dikelilingi wanita-wanita cantik.
"Sepertinya aku butuh dokter cinta." Isabell menjauh dari cermin, lalu berbalik meninggalkan toilet.
"Mari lupakan masalahmu, Isabell. Waktunya tidur! Meski fisikmu kurang menarik, kau tetap membutuhkan kulit yang sehat dan tenaga yang full untuk menghadapi hari esok.
Keesokan harinya, Isabell bangun jam delapan. Ia melewatkan olah raga paginya. Pun ia beranjak untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini, ia masuk sore. Masih ada waktu untuk bermalas-malasan.
Selesai mandi, Isabell turun ke bawah untuk sarapan. Ia sedikit dikejutkan dengan pemandangan di meja makan. Semuanya berkumpul di sana tanpa terkecuali. Isabell menjadi malu karena bangun kesiangan.
__ADS_1
Ini sudah masuk jam kerja. Oke, Steve mungkin tidak akan bekerja karena sudah mengambil cuti selama Lexi hamil. Tapi bagaimana dengan Darren? kenapa pria itu masih di sana dengan pakaian santai? Calon Ayah mertuanya juga biasanya sudah tidak di rumah jam segini. Dan Austin harusnya masih tidur.
"Selamat pagi. Aku terlambat bangun."
"Tidak akan ada yang menghukummu, duduklah." Darren lah yang menyahut lebih dahulu sebelum yang lain membalas sapaannya.
Pax duduk di paling ujung kanan, di sisi kanannya ada sang istri, di sisi kiri ada Austin. Sementara Darren duduk di sebelah ibunya dan di sampingnya ada Lexi. Steve sendiri duduk di ujung meja lainnya. Berhadapan dengan Pax. Sisa satu kursi lagi, tepat di samping Austin. Pria itu pun menarik kursi untuk Isabell.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Isabell mendaratkan bokongnya. Andai ini di istana, sudah pasti ia akan mendapat teguran dari permaisuri dan akan mendapat hukuman.
"Kau ingin makan apa, Sayang?" suara Alena menghentikan pikirannya melayang ke masa lalu. "Ada roti, omelet, sereal, bacon, waffle?"
"Aku akan mengambil sendiri Mom."
"Mom akan menyiapkan untukmu."
"Tapi ..."
" Aku lebih tergiur dengan waffle-nya, Mom."
"Baiklah." Alena mengisi piring Isabell sesuai dengan yang diinginkannya. Wanita setengah baya itu juga menuangkan susu vanilla untuknya. Untuk susu, Isabell menyukai segala rasa.
"Terima kasih," ucap Isabell seraya menerima piringnya. Katakan, siapa yang tidak ingin betah tinggal di sini? Isabell yang haus akan perhatian seorang Ibu, ia bisa memuaskan dahaganya di sini bersama Alena yang super keibuan.
"Terlambat bangun, karena terlalu nyenyak atau karena kau begadang semalaman?" kali ini Pax lah yang bersuara.
"Tidurku nyenyak, Dad. Apa kau melihat ada lingkaran hitam di mataku?"
Pax mengangkat kepala, memperhatikan Isabell dengan seksama. "Tidak. Baguslah, kupikir rumah ini kurang membuatmu nyaman."
"Aku suka di sini," akunya dengan jujur.
"Tidak bekerja hari ini?" Steve menyerahkan toping cokelat yang langsung diterima Isabell dengan cengiran lebar. Isabell memang terbiasa menikmati waffle dengan perpaduan cokelat dan stroberi. Alena hanya meletakkan irisan stroberi di atas wafflenya.
__ADS_1
"Kau selalu sangat perhatian," ucap Isabell tanpa berniat untuk memuji atau merayu.
"Itulah mengapa istriku begitu mencintaiku," ya, jawabannya selalu membawa-bawa nama istrinya. "Jadi, kau tidak bekerja hari ini?"
"Nanti sore."
"Yeah, tidak bisakah kau meliburkan diri." Lexi lah yang bersuara. "Aku dan Steve akan kembali besok. Hari ini, kami berencana pergi ke pantai. Ikutlah dengan kami."
"Kurasa aku akan kesulitan untuk mendapatkan izin. Kemarin aku sudah libur."
"Kau ingin ikut?" Darren bertanya kepadanya. Isabell memiringkan kepala untuk menoleh menatap pria itu. Darren ternyata juga sedang menatapnya. "Aku sedang bertanya." Darren berdecak malas yang langsung mendapat pelototan tajam dari sang Ibu.
"Aku suka pantai tapi..."
"Aku akan menghubungi manajer-mu kalau begitu."
"Mr. Jones tidak akan ..."
Isabell menghentikan ucapannya karena Darren sudah beraksi. Calon kakak iparnya itu sedang berbincang dengan manajernya.
"Oke, terima kasih, Romy. Aku akan mengatur jadwalku untuk bertemu denganmu." Darren memutuskan sambungan telepon lalu mengangkat kepala menatap Isabell. "Kau bisa libur hari ini."
Isebell menganggukkan kepala dengan cepat. "Mr. Jones memang selalu lemah jika berhadapan dengan pria tampan apalagi yang setipe."
"Romy Jones?" Steve bertanya sebelum Darren menimpali pernyataan Isabell.
"Kau juga mengenalnya?" Isabell balik bertanya.
"Jika yang kau maksud adalah Romy Jones yang memiliki ketertarikan terhadap pria. Kurasa aku memang mengenalnya."
"Ya, itu dia. Dia menyukai pria yang enak dipandang."
"Jadi maksudmu, dia menyukai Darren?" Dan akhirnya Austin bersuara.
__ADS_1