Crazy Deal

Crazy Deal
Maafkan Aku


__ADS_3

Para pembalap tidak terlihat lagi, menyisakan debu yang beterbangan. Yang terdengar hanya dengungan yang memecah keheningan malam. Isabell mengeluarkan ponsel, bersiap untuk menghubungi Steve untuk memberi aba-aba. Semoga saja pria itu tidak sedang memiliki acara bersama Lexi.


"Kau siapa?"


Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya membuat gerakan tangannya terhenti. Memiringkan kepala untuk melihat siapa gerangan yang mengajaknya berbicara. Alexa, wanita yang sudah menikmati bibir tunangannya. Setan pun berbisik agar Isabell menyerang wanita itu. Tapi, bagaimana jika dia lebih hebat? Isabell mengurungkan niatnya. Ia belum pernah mempunyai masalah dengan siapa pun. Tepatnya, ia cenderung menahan diri jika ada yang dengan sengaja mengusiknya.


"Isabell." Sahutnya dengan singkat. Daripada emosi melihat wajah Alexa yang lumayan cantik, Isabell kembali mengalihkan tatapan ke ponsel, menggulir layar untuk mencari nama Steve. Padahal ia cukup menekan angka tiga, nama Steve akan muncul.


"Aku tidak bertanya tentang namamu?"


"Lalu?" masih berusaha tetap bersikap dengan tenang dan Isabell tetap fokus pada layar yang menyimpan kontak tidak lebih dari sepuluh nomor.


"Kau dan Austin."


"Aku tunangannya." Isabell punya nyali juga ternyata. Dia yang tidak bisa berbohong atau dia dengan sengaja mengumumkan untuk memanas-manasi Alexa? Isabell menjawab keduanya.


"Tunangan? Apa kau baru saja mengatakan bahwa kau bertunangan dengan Aus?" Alexa memaksa Isabell menatap ke arahnya dengan menarik kasar tangan Isabell yang membuat ponselnya hampir jatuh. Omong-omong soal ponsel, dia membeli baru saat dia belanja gila-gilaan hari itu. Baik Austin dan Darren, keduanya benar-benar tidak berniat untuk menggantinya.


Isabell memasukkan ponsel ke dalam saku, memperbaiki letak kacamatanya, kemudian bersedekap seraya berkata, "Kau tidak tuli."


"Kau tunangan Austin?!" Setiap kata itu diucapkan dengan penuh penekanan oleh Alexa dengan ekspresi wajah yang terlihat aneh. Geli, marah, tidak percaya dan hampir tertawa, bayangkan saja betapa anehnya perpaduannya.


"Itulah yang kukatakan dan kau tidak tuli." Isabell tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas atau ditekan lagi.


Kehidupan di dalam istana, sudah cukup baginya mendapat perlakuan yang tidak adil dari sang permaisuri. Dan saat ia diberi kebebasan untuk keluar dari sangkar emas itu, Isabell sudah bertekad bahwa ia tidak akan memberikan celah pada orang lain untuk mengolok-olok dirinya. See, sejauh ini dia berhasil. Terbukti ia bekerja di salah satu store branded dengan gaji yang sangat lumayan. Lebih dari dua tahun, ia tidak pernah mendengarkan komplain dari para pelanggan tentang dirinya, termasuk cara berpakaiannya yang memang kurang sesuai dengan persyaratan yang seharusnya. Tapi Isabell menutup kekurangannya itu dengan banyak kelebihan, termasuk memberikan kenyamanan yang tidak dibuat-buat untuk para pelanggan.

__ADS_1


"Astaga!" Alexa memekik dengan cara yang memuakkan. Wanita itu dengan sengaja memasang mimik berlebihan seolah Isabell adalah makhluk luar angkasa yang tersesat. Ck! Isabell mengingat Darren jika sudah begini.


"Kau sungguh tunangannya?" Tatapan Alexa naik turun secara berulang kali. Memberikan penilaian secara terang-terangan. "I-Ini tidak mungkin!"


Isabell sudah menduga reaksi Alexa, jadi dia hanya diam menikmati keterkejutan wanita itu.


"Semua!!" Alexa tiba-tiba berseru menarik perhatian yang lain. Begitu perhatian didapatkan oleh Alexa, wanita itu tiba-tiba terbahak seperti orang kesurupan.


"Coba kalian perhatikan wanita ini? Astaga, aku baru saja mendengar lelucon yang sangat menggelikan darinya." Alexa kemudian mengumumkan apa yang dia dengan dari Isabell tentang hubungannya dengan Austin.


Awalnya hening, kemudian suasana langsung penuh dengan gelak tawa. Ya, semua menertawakan Isabell yang dianggap halu secara berlebihan.


"Apa dia masih waras?"


"Kukira aku yang lebih gila diantara pengagum Austin, ternyata dia yang lebih parah."


"Aku kasihan kepada Austin, mungkin dia menyesal terlahir menawan seperti ini."


"Ya, Aus pasti sangat terganggu hingga ia dengan sangat suka rela menjadikan wanita itu sebagai bahan taruhan."


"Kurasa Aus akan dengan sengaja kalah kali ini. Wanita halu itu pasti sangat merepotkan Austin."


Berbagai pendapat yang menyudutkan Isabell terlontar dari mulut-mulut berbau busuk. Awalnya Isabell tidak akan mengambil pusing komentar-komentar miring tersebut. Tapi, komentar terakhir membuatnya terusik. Benarkah Austin akan dengan sengaja kalah? Ini benar-benar cara yang kejam untuk mendorongnya.


Sebentar lagi mereka akan tahu jawabannya, dari kejauhan terdengar deru motor yang saling beradu. Lampu motor mulai terlihat. Jantung Isabell memompa lebih cepat. Haruskah ia menyelamatkan diri sekarang? Tidak, ia ingin melihat sebrengsek apa pria yang ia kagumi itu.

__ADS_1


Ciiittt....


Motor mengerem mendadak lalu kemudian berputar 180 derajat. Isabell refleks menghembuskan napas lega begitu mengenali motor yang mencapai garis finis dua detik lebih awal dari Jason. Ya, Austin menang.


Pria itu melompat turun, melangkah lebar ke arah Jason seraya melepaskan helmnya. Dan Bugh!!! Austin menyerang Jason yang masih di atas motor menggunakan helmnya. Semua berteriak, bukan pekikan kaget, melainkan seruan yang penuh dengan kehebohan.


Jason jatuh ke tanah. Dengan gerakan cepat pria itu berdiri dan membuka helmnya.


"Apa yang kau lakukan, bangsyat?!"


Bugh!


Kali ini Austin menyundulkan kepala ke wajah Jason hingga darah segar bercucuran keluar dari hidungnya. Kehebohan itu mendadak hening. Tidak biasanya Austin menyerang hingga berlebihan seperti itu.


"Bajiingan!" Jason jelas tidak terima. Ia mengeluarkan ponsel, berniat untuk menghubungi rekannya. Austin merebut ponsel tersebut lalu menginjak benda itu tanpa ampun. Austin meraup kerah baju Jason, menatap dengan tajam.


"Austin Ryder Willson. Tidak seorang pun yang bisa meremehkan wanita yang sedang bersamaku. Virgin? Heh?" Bugh! Austin mengangkat lututnya dan menyerang kejantanan pria itu hingga Jason bertekuk lutut sambil memegang hartanya yang paling berharga. Wajah Jason merah menahan sakit luar biasa dengan mata membeliak lebar mengeluarkan air mata.


Austin berbalik, berjalan menuju motornya. Pun ia naik, melaju dan berhenti di depan Isabell. Isabell langsung melompat naik. Hanya ada keheningan sepanjang perjalanan.


Motor berhenti di halaman rumah. Isabell langsung melompat turun, begitu juga dengan Austin.


"Aku minta maaf," Austin manahan tangan Isabell agar berhenti. Isabell menarik tangannya dengan kasar. Plak! Satu tamparan ia hadiahkan pada Austin.


"Yeah, aku layak mendapatkannya."

__ADS_1


__ADS_2