
Isabell memasuki rumah sambil menggerutu. Ia belum menerima jawaban atas penjelasan yang ia tuntut dari Darren, tapi pria itu sudah pergi dan dengan sengaja menekan gas dengan kekuatan penuh hingga menerbangkan debu ke wajah Isabell yang minim akan perawatan.
"Kenapa mulutmu berkomat kamit?"
Isabell refleks menoleh ke sumber suara. Austin sedang berada di dua dasar anak tangga terakhir, menatapnya dengan eskpresi bingung. Pria itu kemudian memendarkan pandangan ke sekitar ruangan.
"Aku tidak melihat siapa-siapa?" bergumam sambil melanjutkan langkah mendekati Isabell.
"Kau mengatakan sesuatu?" Isabell memperjelas karena tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan tunangan lima tahunnya itu.
"Aku bertanya kenapa mulutmu komat kamit?"
"Hah?"
"Seperti sedang merafalkan mantra."
"Heh?" Batang hidung Isabell berkerut sementara lobang hidungnya mekar, membesar dua kali lipat.
"Kau memiliki indera keenam?"
Pertanyaan macam apa pula ini? Pikir Isabell.
"Tidak. Tapi panca inderaku berfungsi dengan sempurna meski indera penglihatanku sedikit bermasalah dan harus dibantu dengan kacamata. Omong-omong, ini kacamata hadiah pemberianmu tiga tahun lalu." Dan merupakan hadiah pertama dan terakhir darimu. Sambung Isabell dalam hati.
Austin menyipitkan mata, memperhatikan kacamata tersebut dengan seksama sembari menggali memorinya kapan tepatnya ia memberi hadiah kepada gadis culun di hadapannya ini. Austin bukan tipe pria yang mau repot-repot memberi hadiah kepada wanita. Tapi keroyalannya tidak usah diragukan jika wanita tersebut membuatnya senang. Harus ada timbal balik. Baginya take and give itu perlu.
Sementara Isabell tidak pernah memberikan sesuatu kepadanya selain mengirim pesan secara rutin, satu kali seminggu dengan kata-kata yang selalu sama. Ia menduga Isabell menyalin pesan tersebut setiap kali ia ingin memberitahu kabarnya kepada Austin. Tidak kreatif dan tidak menarik. Ya, ia sudah tahu jika para kutu buku memang cenderung membosankan. Kecuali para kutu buku yang dulu satu sekolah dengan Austin. Penampilan polos yang terlihat lugu ternyata hanya topeng semata. Ada keliaran yang luar biasa jika mereka dirayu. Sedikit menjijikkan dan munafik.
Austin menggelengkan kepala mengenyahkan para gadis-gadis yang menurutnya munafik. Apakah Isabell seperti itu juga?
__ADS_1
Ia dan Isabell tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Artinya ia tidak pernah mengambil sesuatu dari wanita itu dan ia memang tidak yakin bisa bersenang-senang dengan wanita seperti model Isabell. Bukan karena penampilan Isabell yang culun. Ya, walau ia akui penampilan cukup menunjang gairahnya berkobar. Tapi alasan yang paling utama, melihat Isabell, Austin selalu mengingat para biarawati. Wanita suci yang tidak akan melakukan dosa. Jadi, kapan kacamata jadul itu ia berikan kepada Isabell?
Ah! Ia menjentikkan jari setelah memaksa memorinya untuk mengingat. Kacamata itu benar adalah pemberiannya. Mungkin hadiah murahan pertama yang ia berikan pada seseorang dan juga merupakan hadiah pertama yang ia berikan kepada Isabell dan memang ia pilih secara langsung. Tujuannya adalah untuk meledek Isabell dengan sengaja memberikan kacamata tebal yang sangat jelek. Austin mengingat jika hari itu ia sedang berkencan dengan kekasih salah satu temannya dan Ibunya selalu menghubunginya, hampir 20 kali jika ia tidak salah mengingat, memaksa dirinya agar mengirimkan sesuatu hadiah di hari kelulusan Isabell.
"Ah, kurasa kau sudah bisa menggantinya. Gagangnya mulai usang," ia memberi saran karena merasa terganggu dengan sesuatu yang menurutnya tidak menarik.
"Ya, kau benar," Isabell tersenyum lebar, senang dengan respon Austin yang membenarkan bahwa kacamata itu benar dari pria itu. "Tapi aku tidak akan menggantinya karena tidak ingin mengubah nilai pemberian seseorang."
Hampir-hampir Austin berdecak mendengar penjelasan klise wanita itu. Tapi, tunggu dulu, ia seperti pernah mendengar kekonyolan yang serupa tentang nilai sebuah kacamata.
Tidak berhasil mengingat siapa gerangan yang memiliki cerita yang serupa prihal kacamata, Austin lantas mengembalikan topik utama perbincangan mereka.
"Kupikir kau manusia indigo."
"Hah? Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Mungkin saja kau bisa melihat makhluk goib dan berteman dengan mereka."
"Hmm," Austin manggut-manggut. "Jadi kau sedang bernyanyi?" Astaga apa yang sedang kubicarakan ini? Apa pentingnya dia mau bernyanyi atau tidak?
"Kapan aku bernyanyi?" Isabell semakin bingung. Ada apa dengan para Willson? Yang satu menganggapnya orang dengan gangguan jiwa yang satu lagi menduga ia manusia indigo.
"Mulutmu komat-kamit," Austin kemudian berdehem ketika menemukan tatapannya jatuh ke mulut Isabell yang sedikit menganga.
"Oh, aku hanya sedang berdoa."
Ya, dia memang spek biarawati. Austin membatin.
"Oh, kalian sudah bertemu," Alena dan suaminya bergabung dengan Isabell dan Austin.
__ADS_1
"Kami sedang berbincang," sahut Austin ringan.
"Ya, kau dan Isabell memang sudah seharusnya sering menghabiskan waktu. Mulai besok, ajaklah dia berkencan."
Austin menukik alisnya tapi tidak mengeluarkan kata apa pun dari mulutnya.
"Empat bulan lagi pernikahan kalian akan digelar. Manfaatkan waktu tersebut untuk lebih mengenal Isabell." Alena tersenyum kepada putranya sambil mengusap lengan kekar Austin.
"Dia juga harus mengenalku sebelum melangkah lebih jauh, Mom." Ucapan tersebut terdengar seperti gumaman yang memiliki makna tertentu.
"Jika kau ingin Isabell mengenalmu, kau harus membuka dirimu, Dude." Kali ini ayahnya yang bersuara. "Bukan memberikan benteng pembatas, kemudian bersenang-senang tanpa batas."
Austin mendengus lalu meninggalkan mereka, "Aku sudah lapar."
"Kau harus menunggu lebih lama sedikit, Isabell belum mengganti pakaiannya." Ibunya berseru.
Lantas Austin menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah orang tuanya dan Isabell. "Sejak dua puluh menit yang lalu aku memintamu membersihkan tubuhmu, kau malah berkeliaran tidak jelas," pungkasnya dengan raut juga nada dingin. Pun ia kembali berbalik tanpa membiarkan Isabell menjelaskan.
"Aku kehilangan koperku," cicit Isabell dengan mimik tidak enak hati. "Mungkin sebaiknya kita makan malam, Mom, Dad. Aku akan mandi setelah makan malam."
"Tidak, tidak, sebaiknya kau mandi dulu. Kami akan menunggu." Alena memanggil pelayan yang diperintahkannya untuk mengantar koper Isabell, bertanya tentang keberadaan koper tersebut.
"Aku yang melupakan kamarku," aku Isabell dengan malu. "Lima menit, aku akan turun setelah lima menit."
"Tidak usah buru-buru, Sayang dan jangan berlari, Isabell. Hati-hati."
.
.
__ADS_1
.