Crazy Deal

Crazy Deal
Bersilat Lidah


__ADS_3

Tidak semua yang kau kira indah akan berakhir indah. Begitu juga dengan sebaliknya


.


.


"Gejala awalnya seperti apa?"


Khayalan Isabell buyar seketika dengan kemunculan suara yang datang tiba-tiba. Suara yang langsung bisa ia kenali siapa pemiliknya.


Oh Tuhan, mengapa pria-pria di rumah ini suka sekali muncul secara tiba-tiba.


Kali ini Isabell tidak berbalik dengan semangat. Ia justru enggan untuk menoleh. Kekesalannya pada Darren belum redup sama sekali karena mengkritik caranya berpakaian juga menyebut dirinya makhluk pluto.


"Belum pernah ada kejadian di rumah ini seseorang tertawa ngikngik tanpa sebab. Sebaiknya kau temui dokter." Darren melintasinya dan berlalu begitu saja.


"Permisi," Isabell melangkah mengikutinya, tapi pria itu terus saja melanjutkan langkahnya. Tidak menggubris panggilan Isabell.


"Apa kau baru saja menyebutku gila? Orang dengan gangguan jiwa?" Isabell menahan tangan Darren, memaksa pria itu berhenti. Darren melepaskan tangannya dari genggaman tangan Isabell dengan refleks, hingga tindakan itu terlihat sedikit kasar.


Tindakan Darren selanjutnya menunjukkan bahwa ia memang tidak menyukai sentuhan Isabell. Pria beku itu menepuk lengannya di tempat Isabell mendaratkan tangannya, seperti sedang menyingkirkan debu.


Melihat hal itu, mulut Isabell sampai mangap-mangap. Terang saja ia tersinggung, tapi tidak tahu harus menyuarakan ketersinggungannya itu seperti apa. Cara Darren menatapnya sudah membuat nyalinya ciut seketika.


Ada apa dengan pria di hadapannya ini? Kenapa Darren bersikap bermusuhan kepadanya. Apa masalahnya? Ia tidak berharap Darren akan bersikap ramah kepadanya karena ia juga tidak akan bersikap ramah pada pria itu. Namun bukan berarti Darren harus bersikap congkak seperti ini dan seenaknya melontarkan kata-kata mengejek.


"Apa maksud ucapanmu tadi?" Isabell bersedekap, dagunya sengaja diangkat sebagai sikap perlawanan kepada pria itu. Isabell tidak suka diremehkan. Cara Darren memandangnya mengingatkan cara orang-orang di istana meremehkannya. Ia tidak menyukainya. Apakah penampilan seseorang menjadi tolak ukur untuk layak diperlakukan dengan sopan dan sewajarnya.


"Ucapan?" Darren melihat jam tangannya, menunjukkan sikap bahwa ia sedang buru-buru, tidak ada waktu untuk meladeni hal yang menurutnya tidak penting. Lihatlah betapa tidak sopannya dia.

__ADS_1


"Ya, ucapan yang kau katakan beberapa menit lalu tentang aku yang tertawa ngikngik?" Isabell membenarkan gagang kacamatanya, gerakan refleks yang tidak ia sadari.


"Lalu?" Darren mengusap hidungnya, matanya naik turun memperhatikan penampilan Isabell.


"Lalu?!" Isabell mengulang kata itu dengan penuh penekanan. Bukan itu respon yang ia harapkan keluar dari mulut Darren. Penjelasanlah yang ia butuhkan.


"Aku sedang buru-buru." Darren membuka pintu mobil, tapi seperti ninja, Isabell melompat seperti ninja ke hadapan Darren, mendorong pintu mobil hingga tertutup kembali.


"Kau pikir hanya kau yang sedang buru-buru!"


Darren mendengus untuk menyembunyikan kekagetannya atas atraksi kilat yang dipamerkan Isabell.


"Setelah mengatakanku alien berpakaian buruk, lalu kau dengan seenak jigongmu menyebutku gila?!"


"Jangan fitnah." Tanggapan santai pria itu semakin membakar emosi Isabell. Fitnah?


Hei, akulah yang direndahkan dan diledek secara terang-terangan. Mengapa adegan pembully-an ini berubah menjadi sebuah fitnah?


Mata yang melayangkan tatapan mengejek itu seketika membeliak. Isabell melihat sudut bibir Darren berkedut samar. Apakah benar atau hanya imajinasinya saja. Karena saat ia memperhatikan lebih seksama, ekspresi pria itu sudah kembali datar.


"Setajam silet? Ini berlebihan. Bersilat?" Darren berdehem, kemudian melanjutkan. "Tahu apa kau tentang lidah yang bersilat?"


"Apa yang kau katakan?!" Isabell mendadak bingung. "Aku mengatakan kau ahli bersilat lidah, bukan lidah yang bersilat." Entah kenapa kedua kalimat itu terdengar memiliki makna yang sangat berbeda.


"Apa perbedaannya?"


"Aku tidak menemukan perbedaannya." Isabell menggeleng seraya mengibaskan tangannya. "Kenapa kau menyebutku gila dan itu bukan tudingan omong kosong. Aku tidak sedang memfitnahmu."


"Aku tidak menyebutmu Alien berpakaian buruk." Ucapan Darren berbanding terbalik dengan caranya menatap Isabell yang seolah membenarkan pernyataan itu.

__ADS_1


"Kau dan teman priamu, di kamar..."


"Tidak ada kalimat persis seperti itu yang kulontarkan dari mulutku," Darren menyela ucapannya dan itu menyebalkan, genk!


"Kau mengkritik caraku berpakaian. Menyebutnya buruk!"


"Aku hanya berkata bahwa Lexi tidak akan berpakaian seperti caramu berpakaian."


"Kau menyebutku alien!" Isabell tidak mau kalah untuk memojokkan Darren. Ia harus mendapatkan penjelasan atas sikap Darren yang meremehkannya.


"Aku tidak mengatakannya." Masih dengan ketenangan yang membuat emosi jiwa.


"Kau mengatakan aku berasal dari Pluto, itu sama saja menyebutku alien!"


"Salahkan Beth kalau begitu. Dia yang bertanya tentang asalmu."


"Kau tinggal menyebut alamatku."


"Dan kau kira aku tahu alamatmu. Menyingkir, aku harus pergi."


"Kau tinggal menjawabnya di bumi!!"


"Kau bisa mengatakannya langsung kepada Beth. Aku sudah terlambat."


"Kenapa kau menyebut..."


"Bagaimana jika sebaiknya kau kembali masuk ke dalam. Makan malam akan segera dimulai. Masalah pertanyaanmu yang belum terjawab, kita selesaikan nanti."


"Kenapa kau menyebutku gila?!" Isabell menempelkan tangan di pintu mobil Darren untuk menghalangi pria itu untuk membukanya.

__ADS_1


"Apa namanya jika bukan gila. Kau tertawa tanpa sebab." Darren mendorong tubuhnya agar menyingkir dari pintu mobil. "Kau membuang-buang waktuku."


__ADS_2