
Jujurly, respon pertama saat ia melihat Isabell keluar dari kamar, ia hampir terjungkal karena kaget. Apakah benar alien mendarat di rumahnya. Terima kasih untuk kacamata tebal yang cukup kuno yang bertengger di hidung Isabell. Benda itu penyelamat bagi Darren dan tidak jadi pingsan.
Demi meyakinkan diri bahwa wanita aneh yang berdiri di depan pintu kamar calon adik iparnya benar adalah Isabell, pun ia memanggil nama gadis itu. Thanks God! Ucapnya dalam hati begitu Isabell membenarkan bahwa itu benar adalah dirinya.
Dan respon kedua setelah mengetahui gadis aneh itu Isabell, hampir-hampir ia meledakkan tawa. Astaga! Ia belum pernah melihat dandanan yang lebih kacau dari yang ada di hadapannya ini. Buruk, amat sangat buruk. Baju yang dikenakan Isabell cukup bagus, hanya saja terlihat aneh karena gestur tubuh wanita itu menunjukkan ketidaknyamanan. Mungkin bagi sebagian orang, pakaian hanyalah sekedar pakaian yang melindungi tubuh dan mempercantik diri. Tapi, pakaian semahal apa pun, jika si pemakainya merasa tidak nyaman, nilai pakaian itu akan hilang dengan sendirinya.
Kesimpulannya, di mata Darren, baju itu tidak sesuai untuk Isabell. Lagi pula, mau kemana gadis itu malam-malam begini menggunakan dress dengan bahu terbuka seperti itu. Dan... Tatapan Darren berhenti pada tulang selangka dan terpaku untuk sesaat. Hei, kamu, jangan nakal dong, Mas!
Ia tidak tahu bahwa tulang selangka bisa terlihat begitu... Darren buru-buru memejamkan mata sebelum otaknya menyuarakan apa yang ada di dalam pikiran ke dalam hatinya. Wanita yang di hadapannya adalah gadis cerewet yang sudah disegel untuk adiknya. Dan sejak kapan Darren peduli dengan penampilan dan tulang selangka seseorang? Jawabannya tidak pernah! Ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan tentang hal itu.
Darren mengikis jarak di antara mereka, di luar kendalinya, ia mengulurkan tangan mengusap lipstik tebal dengan warna darah kental. Ia melihat jempol yang ia gunakan untuk menghapus lipstik tersebut, kemudian mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya.
"Dandanan yang sangat buruk. Kau terlihat seperti badut." Tidak ada niat untuk meledek Isabell. Ia hanya menyuarakan apa yang ada di pikirannya tentang penampilan Isabell. Darren yakin, penghuni bumi ini akan setuju dengan pendapatnya.
"Kau menghinaku?" Suara Isabell kali ini tidak pakai urat. Sepertinya Isabell merasa malu, karena saat melihat dirinya di cermin, wanita itu juga sudah merasa aneh dengan penampilannya sendiri.
"Kau sepertinya setuju dengan apa yang kukatakan." Darren menyerahkan sapu tangan miliknya ke pada Isabell. "Cuci dan tidak usah kembalikan."
"Kenapa? Ini milikmu."
"Aku tidak mengambil barang yang sudah disentuh orang lain."
"Kalau begitu mobilmu bisa untukku? Aku sudah menyentuhnya."
Untuk sesaat perkara dandanan terlupakan.
Mendengar jawaban cerdas Isabell, Darren seketika tersedak. Tepatnya pura-pura tersedak untuk mengalihkan permintaan mahal wanita itu. Dikira cupu ternyata tukang peras!
"Jadi lipstikku terlalu tebal. Inikah yang membuatku terlihat seperti badut?" Isabell mengembalikan topik pembicaraan ke awal. Wanita itu juga tidak benar-benar meminta mobil Darren untuk dirinya.
"Aku juga merasa aneh dengan warnanya," Isabell membersihkan bibirnya menggunakan sapu tangan milik Darren. "Austin memintaku agar mengenakan sesuatu yang tebal."
"Austin?" Darren menukik alis.
"Ya," Isabell tersenyum. "Kami akan berkencan," imbuh gadis itu setengah berbisik.
"Oh," Darren manggut-manggut.
"Jadi penampilanku terlihat buruk?" alih-alih meminta pendapat kepada Steve atau pun Lexi, ia justru meminta penilaian pria di hadapannya ini.
"Sangat buruk."
Hidung Isabell tidak kembang kempis lagi menanggapi jawaban jujur calon kakak iparnya tersebut.
"Austin akan berpendapat sama?"
__ADS_1
"Kurasa begitu."
"Jadi aku harus mengenakan apa? Apa kau tahu selera Austin?"
"Selera?"
"Tentang wanita."
"Semua pria menyukai keindahan. Itu memanjakan mereka."
"Aku tidak peduli dengan semua pria. Yang kumaksud adalah Austin."
"Austin juga pria."
"Ya, seperti apa seleranya. Secara spesifik, bukan umum."
"Aku tidak tahu."
"Bagaimana kau tidak tahu, kau dan dia tinggal satu atap hampir seumur hidup."
"Tidak lantas kami membahas atau berbagi cerita tentang apa yang kami sukai dan tidak kami sukai."
"Kau tentu sering melihat wanita-wanita yang berkencan dengannya."
"Kurasa kau lebih sering memperhatikannya." Ayolah, Darren tidak akan mempunyai waktu untuk menonton infotainment yang menayangkan berita tentang adiknya. Dan apa pedulinya tentang wanita-wanita yang dikencani Austin. Yang ia tahu, Austin bersama sederetan wanitanya hanya sebatas bersenang-senang. Ia juga melakukan hal yang serupa. Sesekali.
Darren memperhatikan wajah Isabell yang menyiratkan kecemburuan.
"Aku tidak akan menarik baginya." Isabell menarik napas panjang. "Sebaiknya aku harus membatalkan kencan kami sebelum aku membuatnya malu. Paparazi akan selalu mengikutinya kemana-mana." Wajah manis itu terlihat kecewa. Kencan bersama Austin adalah hal yang dia tunggu-tunggu. Darren bisa menebak hal itu dengan sangat jelas.
"Aku senggang," Darren bergumam malas dengan wajah yang terlihat tidak kalah malas.
"Nikmati waktumu kalau begitu," Isabell memberi saran.
"Apa yang dikatakan Austin?"
"Hah?"
"Tentang kencanmu dengannya."
"15 menit lagi kami bertemu dan ini sudah dua puluh menit."
"Artinya kau masih mempunyai waktu 10 menit lagi."
"Kenapa bisa begitu? Dia tidak tepat waktu?"
__ADS_1
"Kalianlah para wanita yang tidak akan bisa tepat waktu. 15 menit, artinya berikan waktu dua kali lipat kepada mereka para wanita. Artinya 30 menit. Sesuatu yang lain, selain waktu. Apa yang dia katakan."
"Ah! Dia memintaku memakai sesuatu yang tebal. Riasanku." Isabell tidak mungkin mengatakan bahwa Austin juga membisikkan hal yang mengerikan kepadanya tentang bersiap untuk kehilangan sesuatu. Ini privasi! Astaga, wajahnya bersemu merah membayangkan permintaan nakal tunangannya itu. Astaga! Isabell, bisa saja pemikiranmu tentang hal ini juga salah!
"Austin memintamu mengenakan pakaian yang tebal, bukan riasan."
"Begitukah? Astaga, aku salah menanggapi. Kau sangat senggang, bukan? Bisakah kau membantuku memilih pakaian yang cocok untuk kukenakan?"
"Kenakan sesuatu yang membuatmu nyaman." Darren melewati Isabell dan membuka pintu kamar wanita itu. "Apakah ada perampok yang masuk?" Kamar itu begitu berantakan. Isabell belum sempat merapikannya.
"Itu ulahku. Aku bingung mau mengenakan apa."
Darren tidak menanggapi lagi. Ia melintasi ruangan. Berdiri di tengah-tengah tumpukan barang yang berserakan.
"Austin tidak akan membawamu makan malam di restoran mewah."
"Ja-jadi kemana dia akan membawaku?" Isabell sedikit kecewa. Mungkinkah dia malu membawaku ke tempat mewah?
Darren tidak menanggapi, pria itu membungkuk mengambil jeans dan sweater rajut.
"Kau nyaman dengan ini?" Darren menunjukkan dua benda yang ia pungut.
"Aku mengenakan jeans hanya saat naik kuda. Tapi aku juga mengenakannya sewaktu-waktu, tidak terlalu sering."
"Kalau begitu tidak masalah." Darren menyerahkan benda tersebut. "Tugasku sudah selesai dan aku harus pergi." Darren berbalik, berniat untuk meninggalkan kamar Isabell.
"Tunggu..."
"Simpan saja ucapan terima kasihmu."
"Bukan itu. Kau tunggu di sini, kau harus melihatku mengenakannya." Isabell berlari ke dalam toilet. Sampai di dalam toilet, Isabell juga membasuh wajah hingga bersih.
"Jadi dia tidak ingin berterima kasih," Darren berdecak.
"Bagaimana?" Isabell sudah keluar dari dalam toilet.
"Terlihat lebih normal dan manusiawi." Darren merasa masih ada yang kurang, tapi tidak mengetahui dimana letak ketidaksempurnaan penampilan wanita itu.
Isabell menganggukkan kepala. Wanita itu juga jauh merasa lebih nyaman.
"Kenakan mantel." Perintah Darren disambut Isabell dengan anggukan. Gadis itu berjalan melintasi ruangan untuk mengambil mantel.
Ah! Darren akhirnya menemukan kejanggalan pada penampilan Isabell. Rambut yang digulung dengan begitu formal.
"Dan biarkan rambutmu tergerai," Darren refleks melepaskan jepitan rambut wanita itu hingga rambut panjang Isabell terurai bebas menebarkan aroma lembut yang sangat enak. Darren tercenung untuk sesaat, tergoda dengan aroma yang begitu manis.
__ADS_1
"Aku pergi." Darren buru-buru melangkah.