Crazy Deal

Crazy Deal
Badut


__ADS_3

Jangan jadikan seseorang sebagai prioritas utamamu sementara kamu hanya jadi pilihannya saja. - Mark Twain-


...****************...


"Wow! Perutmu indah sekali!" puji Isabell seraya mengusap lembut perut Lexi yang membuncit.


"Kau menginginkan perut yang seperti ini?" tanya Lexi dengan konyolnya dan Isabell mengangguk dengan polosnya.


"Minta Austin meniupnya." Lexi terkikik geli mendengar ucapannya sendiri, sementara Isabell langsung merona. Matanya menatap Austin yang hanya bergeming tidak menunjukkan reaksi apa-apa terhadap ucapan Lexi.


"Astaga, aku nakal sekali," Lexi menatap suaminya yang ternyata juga tersenyum mendengar celetukan genit istrinya.


"Mereka harus menikah dulu biar bisa menciptakan perut yang membuncit, Sayang." ucap Steve. "Sampai di mana persiapan pernikahan kalian?" Steve menatap iparnya.


Austin mengidikkan kedua bahunya. "Aku menyerahkan semuanya kepada Isabell." Pria itu menatap Isabell dengan mimik datar. Isabell yang mengerti maksud dari ucapan Austin, hanya bisa menarik napas. Jawaban Austin bukan karena pria itu setuju dengan pernikahan ini, melainkan memberi waktu pada Isabell untuk berpikir dan pada akhirnya memutuskan. Jika Isabell tetap memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini, apakah Austin akan pasrah?


"Aku hanya menginginkan pernikahan yang sederhana. Kehidupan setelah pernikahan itu lah yang membuatku tidak sabar untuk menjalaninya."


"Haruskah aku membawamu sekarang ke kantor catatan sipil," tantang Austin.


"Bagaimana sebelum ke sana, kita berkencan dulu," Isabell menantang balik dengan berani.


Jika masih teguh inginkan Austin menikah dengannya, setidaknya ia harus berjuang. Cara yang ia gunakan memang sedikit berani seakan menyodorkan diri secara cuma-cuma kepada Austin. Tapu mau bagaimana lagi, jika pada akhirnya Austin tetap mendorong dan menolaknya, ia harus tahu alasannya. Untuk sekarang, ajakan kencan ini, bermaksud agar Austin lebih mengenalnya dan agar ia juga tahu, seperti apa pendamping yang diinginkan Austin. Ia akan berusaha untuk itu.


"Kau mengajakku berkencan?" Tanya Austin sedikit tidak percaya dengan ajakan tersebut.


"Ya. Mom mengatakan kita harus lebih sering menghabiskan waktu bersama." Demi melancarkan akal bulusnya, Isabell membawa tetua Willson ke dalam rencananya. Sedikit curang, tapi ini demi mempertahankan harga diri.

__ADS_1


Austin tertawa, tawa sumbang yang tidak mengandung humor sama sekali. Ia menatap Lexi dan Steven sekilas, sepasang suami istri itu terlihat duduk manis mendengar perbincangan mereka. Austin mengembalikan tatapan pada Isabell.


"Kurasa kita perlu menyingkir mencari ruangan khusus untuk membahas rencana kencan kita." Austin segera berdiri dan menarik tangan Isabell agar beranjak dari tempatnya.


Isabell menatap tangan Austin yang membimbingnya. Seperti ini rasanya dibimbing? Hatinya berbisik malu. Ia pasrah kemana pun Austin akan membawanya. Gila? Ya, gila, ia memang sudah sampai pada level gila dalam hal mencinta. Itulah yang Isabell yakini.


Isabell hampir mengerang saat Austin melepaskan tangannya. Barulah ia sadar bahwa mereka sedang berada di depan kamarnya.


"Ajakan kencan?" Austin bertanya dengan mimik tidak terbaca.


"Aku..."


"Bersiaplah, kita akan pergi berkencan." Austin tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih merapat ke arahnya. "Berkencan denganku, kau harus bersiap untuk kehilangan sesuatu." Bisik Austin di telinganya yang sontak membuat bulu kuduknya jingkrak-jingkrak.


"Ini akan menyenangkan, tidak usah takut," Austin masih berbisik, kemudian menegapkan tubuh. "15 menit lagi kita bertemu di bawah. Pakailah sesuatu yang tebal." Pun Austin berlalu masuk ke dalam kamar.


Pakailah sesuatu yang tebal.


Kalimat itu tiba-tiba terngiang mengembalikan kesadarannya. Isabell memegang jantungnya sambil berjalan menuju kamar.


"Apa yang dimaksudnya dengan tebal? Aku harus berdandan dengan make up tebal?" Gadis bersurai cokelat itu bergumam. "Benarkah kami akan berkencan? Austin menyanggupi kencan ini?" Isabell melompat-lompat kecil kegirangan.


"Aku harus wangi dan berdandan dengan make up tebal?" ia mengayunkan kaki menuju kamar mandi. Menaburkan aroma terapi sebanyak mungkin. Sesekali mulutnya bersenandung. Ini kencan pertamanya, Isabell menantikan hal ini, momen ini dan tidak akan merusaknya. Bahagia? Tentu saja. Mulutnya bahkan bersenandung tidak jelas.


"Sepertinya aku harus menyudahi acara mandi ini agar tidak terlambat berkencan dengan tunangan tampanku."


Isabell membongkar semua pakaiannya, semua terlihat sama dan tidak ada yang menarik. Mendadak semua terlihat buruk.

__ADS_1


"Apa yang harus kukenakan?" Matanya tertuju pada tumpukan belanja yang baru ia beli. Tergoda ingin membongkar barang-barang tersebut dan tanpa ia sadari, kakinya melangkah mendekat ke arah benda-benda tersebut.


Ya, Isabell membongkar barang-barang brandednya. Ada beberapa gaun, t-shirt, celana dan pernak pernik lainnya.


"Apa yang harus kukenakan? Haruskah aku memakai dress? Kemana dia akan mengajakku berkencan? Makan malam romantis di restoran mewah? Sepertinya aku memang harus mengenakan gaun." Dengan ragu, Isabell memilih satu gaun berwarna biru cerah dengan potongan bahu terbuka dan mengembang di bawah lutut. Terlihat mewah dan anggun, tapi apakah hasilnya akan sesuai ekspektasi jika Isabell yang mengenakannya?


Isabell memang bekerja di salah satu store barang-barang branded. Banyak artis, pengusaha, orang kaya, dan orang bergengsi yang datang ke sana. Isabell bisa menyarankan pakaian yang bagus untuk pelanggannya, tapi percayalah, bukan hal yang mudah baginya untuk memilih sesuatu yang menarik untuknya.


"Aku sedikit terlihat aneh," Gumamnya setelah memoles bibirnya dengan lipstik cerah merona yang membuat bibirnya tiga kali lipat lebih tebal.


"Haruskah aku meminta pendapat Lexi atau Steve? Ini sedikit mengerikan," ia bergidik geli. Dandanannya memang sangat mengerikan. Daripada mempermalukan diri di hadapan Austin, ia akhirnya memutuskan untuk menemui sepasang suami istri tersebut.


Isabell keluar dari kamar, bertepatan dengan Darren yang hendak masuk ke kamar. Pria itu menoleh, refleks berkata, "I-Isabell?"


Isabell berdehem. Ini pertama kali pria angkuh itu menyebut namanya.


"Ya, aku." Isabell mengangkat dagu dengan sombong.


"Wuah. Kau membuatku terkejut. Kau memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi pelayan di toko?"


"Maksudmu?" hidung Isabell kembang kempis.


"Jangan katakan kau ingin pergi keluar dengan dandanan seperti itu." Darren menatap Isabell dengan satu lirikan cepat. Mulutnya hampir menganga, Isabell benar-benar terlihat seperti...


"Apa masalahmu?!"


Darren mengayunkan kaki, melangkah dengan anggun mengikis jarak diantara mereka. "Tidak ada. Hanya saja kau terlihat seperti badut." Tangannya terulur mengusap bibir Isabell. "Dandanan yang buruk. Sangat buruk."

__ADS_1


__ADS_2