Crazy Deal

Crazy Deal
Salah Siapa?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Isabell sudah bangun. Selain ia harus pergi bekerja, dia memang terbiasa melakukan olah raga setiap hari walau hanya sekedar lari pagi selama 10 sampai 15 menit.


Di lantai dasar, ia tidak melihat para pelayan beraktivitas. Saat makan malam kemarin, calon mertuanya memang sudah menjelaskan bahwa setiap sabtu malam semua pelayan diliburkan. Berbicara tentang makan malam, Austin sering melayangkan tatapan dingin kepadanya saat acara makan tersebut. Apakah itu perasaannya saja atau bagaimana, ia tidak tahu yang ia rasakan ia tidak nyaman dengan cara Austin menatapnya.


Isabell keluar rumah menuju taman, ia hanya akan melakukan olahraga ringan walau sebenarnya ia tergoda ingin jogging ke luar mansion.


Isabell mengatur timer di ponselnya. Jumping jack selama satu menit, begitu juga dengan squad, kemudian ia push up sebanyak 15 kali dan lari di tempat. Setelah merasakan keringat di tubuhnya, pun ia menyudahi olahraganya dan kembali ke rumah.


Isabell langsung menuju dapur. Istirahat sejenak sambil menikmati air putih. Selain olahraga, Isabell juga tidak pernah meninggalkan sarapan pagi. Semua kebiasaan ini ia dapatkan dari Istana yang ia tekuni hingga detik ini. Jika dulu, ia dan para saudara angkatnya akan melakukan olah raga bersama dan sarapan mereka akan diantar juga dilayani. Meski permaisuri tidak menyukainya, tetap saja ada pelayan khusus yang melayani semua kebutuhannya. Tapi percayalah hal itu tidak lantas membuatnya bermanja-manja dan bermalas-malasan. Ia lebih sering melakukan segala sesuatunya dengan sendiri. Apa yang dikatakan permaisuri kepadanya tentang kemandiriannya tersebut. Jiwa pelayan tertanam di dirinya. Ya, pada akhirnya ia memang menjadi pelayan di sebuah toko pakaian branded.


Setiap mengingat Istana, Isabell selalu merasakan kerinduan. Tarutama kepada Philips Geonandes, ayah angkatnya yang begitu baik. Pria yang sudah dengan murah hati memberikan nama belakangnya kepada Isabell.


Sudah dua tahun ia tidak pernah pulang ke istana. Setiap ayahnya menghubunginya, ia selalu mempunyai segudang alasan untuk mengelak dari undangan tersebut. Terlihat sangat durhaka, tapi selain mendapatkan keluarga di Istana, ia juga mendapatkan luka di sana. Cara permaisuri memperlakukannya cukup kejam. Meski kejam, ia berani bersumpah bahwa ia tidak membenci wanita itu sama sekali. Semuanya hanya kesalahpahaman saja. Permaisuri mengira jika Isabell adalah anak dari selir suaminya. Ia mengira jika raja berkhianat. Faktanya terkuak setelah ia berusia 17 tahun 4 bulan 3 hari, bahwa tidak ada darah Geonandes yang mengalir di darahnya. Lantas, dia anak siapa? Isabell tidak ingin mencari tahu.


Setelah kenyataan tersebut terkuak, permaisuri mulai melunak kepadanya, tidak memperlakukannya lagi dengan kasar. Hanya saja jarak diantara mereka masih ada.


Drrttt...


Ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Senyumnya mengembang saat melihat nomor dan foto ayahnya terpampang di layar.


"Daddy..." Suaranya melengking dengan ceria. "Aku baru memikirkanmu dan kau sudah menghubungiku."


Terdengar tawa rendah dari seberang telepon. "Daddy mendengar bisikan jika putriku sedang merindukanku. Yang bisa Daddy lakukan hanya menghubungimu. Thanks God, benda elektronik ini memang sangat canggih dan membantu."


"Oh Daddy, aku juga merindukanmu."


"Pembohong."


"Dad..." Isabell merengek manja. "Aku akan menemuimu saat cuti nanti. Sungguh."


"Dua tahun terakhir, kau bahkan tidak mengambil cutimu sama sekali."


Isbell terkikik malu. Hal sepertinya tidak akan luput dari perhatian ayahnya. Ia juga tahu bahwa ayahnya masih mengirim seseorang untuk menjaga dan mengawasinya.


"Daddy mendengar kau sekarang berada di rumah tunanganmu."


"Ya, tadi malam Mrs. Willson menjemputku. Bagaimana keadaanmu, Dad?" Isabell beranjak dari kursi, berjalan menuju kulkas untuk melihat apa yang bisa ia makan untuk sarapan. Ia mengambil sereal, tapi tidak menemukan susu. Pun ia berbalik, berjalan menuju bufet gantung. Tangannya menggapai pintu lemari dan gerakan itu terhenti saat mendengar jawaban ayahnya.


"Baik, Ibumu juga baik."

__ADS_1


Isabell tersenyum, ia langsung mengetahui jika permaisuri sedang berada di dekat ayahnya. Ayahnya selalu berusaha membuat hubungan keduanya menjadi lebih dekat, walau menurut Isabell itu sangat mustahil. Ada ketakutan sendiri yang ia rasakan pada wanita itu.


"Bagaimana dengan pinggangmu? Apakah masih sakit."


"Hanya jika Daddy terlalu lelah."


"Jangan lelah kalau begitu."


"Ya."


"Bagaimana dengan Ibu, apakah asam lambungnya masih sering kumat?"


"Ibumu sudah lebih memperhatikan jadwal makannya. Ingin berbicara dengan Ibumu, Honey?"


"Oh, Dad, aku sangat ingin. Hanya saja aku harus ke toilet. Aku harus mandi, bersiap dan pergi bekerja. Aku merindukanmu, i love you. Sampaikan salamku pada Ibu." Isabel memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban sang ayah. Menyesal dengan ketidaksopanannya, ia hanya bisa menarik napas panjang.


"Permisi,"


"Argghh..." Isabell berjengkit dan refleks berbalik. Hidungnya mendarat di benda yang begitu keras dan kokoh. Wanginya sangat enak dan menggoda membuat darahnya berdesir tidak karuan. Perlahan ia mendongak dan menemukan wajah yang sedang menunduk.


"A-Austin..." jantungnya mulai tidak aman. Ponselnya di tangannya bahkan terjatuh tanpa ia sadari.


"Ya, aku."


"Maaf..."


"Santai saja. Sekarang menyingkirlah, aku butuh susu."


Dengan patuh Isabell segera minggir tanpa melepaskan tatapannya dari Austin, tepatnya dari dadaa Austin yang polos. Pria itu sepertinya baru bangun tidur. Rambutnya masih acak-acakan membuat jemari Isabell gatal ingin membuatnya lebih berantakan.


Aku baru mencium dadaa itu! Ciuman pertamaku!!!


Hampir saja ia melompat kegirangan. Untungnya ia tidak memiliki kekuatan untuk menggerakkan kakinya.


Mendapatkan apa yang ia inginkan, Austin kembali ke meja makan. Menuangkan sereal dan susu. Pun ia menggeser kotak susu ke depan mangkuk Isabell yang sudah diisi sereal.


"Selamat pagi," terdangar sapaan dengan nada malas.


"Morning," Austin menyahut tanpa menoleh kepada Darren yang melintasi dapur menuju mesin pembuat kopi. "Kau melewatkan makan malam bersama."

__ADS_1


"Ya, aku ada pertemuan tadi malam." Darren kembali melangkah untuk mengambil cangkir. Krek! Kakinya menginjak sesuatu. Ia berhenti untuk melihat benda yang ia injak. Keningnya mengernyit dan di detik selanjutnya ia dibuat terkejut.


"Arrggghhh, ponselku!!!" Isabell berlari dan mendorongnya hingga pria itu kehilangan keseimbangan yang membuat Darren refleks mengulurkan tangan menarik Isabell. Alhasil keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Isabell berada di atasnya... Ops, bukan... dengan posisi bibir yang sangat pas. Bibir ketemu bibir.


Manik keduanya membola untuk beberapa saat yang lama. Darren mendorong Isaball hingga menyingkir dari atas tubuhnya.


"Argghhh!! Menjijikkan!!" Isabell berdiri dan mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Darren tidak mau kalah, pria itu bahkan meludah. Sontak saja tindakannya itu membuat Isabell semakin geram.


"A-apa yang kau lakukan?!!"


"Mensucikan mulutku." Ucap pria itu dengan tenang seraya berbalik untuk mengambil cangkir yang ia butuhkan.


"Kau pikir aku najis?!"


"Bibirku tidak bisa disentuh secara sembarang. Berhenti berteriak, kau berisik sekali."


"Kau menghancurkan ponselku!"


"Hanya orang bodoh yang meletakkan ponsel di lantai."


"Benda itu terjatuh."


"Kenapa tetap membiarkannya di sana."


"Aku lupa."


"Bukan masalahku kalau begitu."


"Enak saja!"


"Bukan salahku."


"Lalu salah siapa?"


"Salahmu yang melupakannya."


"Austin yang membuatku lupa."


Austin yang sedang menikmati sarapannya, seketika tersedak. Darren dan Isabell menoleh.

__ADS_1


"Salahkan Austin kalau begitu," ucap Darren ringan.


__ADS_2