Crazy Deal

Crazy Deal
Bukan Pria Suci


__ADS_3

"Katakan di mana kau menyembunyikan anak itu, Maira!" seorang pria asing bertanya dengan nada tidak sabar. Pertanyaan yang sudah dipertanyakan secara berulang sejak setengah jam yang lalu.


"Tidak ada anak kecil, tidak ada siapa-siapa di sini!" Wanita bernama Maira itu memberikan jawaban yang sama setiap pertanyaan yang sama dilontarkan kepadanya.


"Jangan membuat semuanya semakin sulit. Berikan anak itu dan kau bisa hidup dengan bebas!"


"Katakan kepada Fernando atau pun kepada Bartoli bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa-apa di sini."


"Kalau begitu, katakan selamat tinggal kepada dunia, Maira." Seorang pria tua tiba-tiba muncul dan menodongkan senjata.


Door!!


Maira tumbang seketika dengan peluru yang menembus keningnya.


Doorr!!!


Doorr!!


Meski Maira sudah tidak bernyawa, dua peluru tetap dilayangkan pada tubuh wanita itu.


"TIDAK!!!" Isabell terbangun dari tidurnya. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Buru-buru ia menyalakan lampu ruangan, seketika ruangan yang tadinya remang berubah menjadi terang benderang. Napasnya memburu dan matanya sudah penuh dengan air mata. Kenapa ia menangis? Ia pun tidak tahu jawabannya selain rasa takut.


Isabell mengulurkan tangan untuk mengambil air minum, yang ia temukan hanya gelas kosong.


Tenggorokannya terasa sangat kering, tapi ia perlu menenangkan diri, mengumpulkan tenaga untuk bisa beranjak dari tempat tidur. Mimpi buruk yang sama, muncul di waktu yang tidak menentu. Meski sudah pernah memimpikan hal yang serupa, tetap saja rasanya mengerikan. Ia juga seolah-olah berada di sana, di tengah-tengah kejadian sedang menahan napas.


Setelah yakin ia mampu berdiri, Isabell perlahan bergeser dari tempat tidurnya. Memakai kaca matanya, lalu ia berjalan menuju toilet untuk membasuh wajah. Merasa lebih segar, Isabell keluar dari kamar menuju lantai bawah. Tujuannya adalah dapur, untuk mengambil air dingin.


Suasana remang-remang, ia cukup bersyukur dengan hal itu karena ia benci kegelapan. Kegelapan mengingatkannya pada hukuman yang sering diberikan permaisuri untuknya.

__ADS_1


Pencahayaan di mansion keluarga Willson sangat bagus. Isabell tidak perlu menyalakan lampu ruangan hanya untuk menuju dapur. Sinar bulan dan bintang serta biasan lampu taman sudah cukup menerangi langkahnya. Sampai di dapur, ia langsung menuju kulkas tanpa menoleh ke sana kemari. Isabell mengambil botol air dan langsung meneguknya dari sana. Persetan dengan tata krama, toh tidak ada yang melihatnya. Itulah yang ia pikirkan.


"Aku baru tahu jika putri kerajaan istana juga minum langsung dari botolnya."


Manik Isabell membola, tanpa menelan air minumnya terlebih dahulu, ia berbalik dengan gerakan cepat dan menyemburkan isi dalam mulutnya setelah melihat sosok pria yang berdiri tepat di belakangnya.


"Jorok!" Darren meletakkan laptopnya yang basah dan mengusap wajahnya dengan punggung tangan.


Isabell belum pulih dari keterkejutannya. Sejak kapan Darren ada di sana. Kenapa ia tidak mendengar langkah kaki pria itu? Dan... dan... apa-apaan pria ini? Kenapa dia berkeliaran tengah malam seperti ini sambil membawa laptop.


Darren mengenakan celana piyama sutra berwarna biru dipadukan dengan kaos putih polos, rambutnya sedikit berantakan dan baru Isabell sadari jika ternyata pria itu juga memiliki rambut setengah gondrong. Apakah rambut setengah gondrong sedang trend di tengah keluarga Willson?


"Kau membuatku terkejut!!"


"Kau menyembur wajah dan laptopku."


"Tidak ada aturan di rumah ini seperti aturan di istana, dimana kedatangan raja harus diumumkan."


"Kau bukan raja."


Darren menjentikkan jarinya, "Ya, itu poin pentingnya. Ambilkan tisu."


Isabell segera berbalik untuk mengambil tisu sesuai perintah pria itu dan memberikannya kepada Darren.


"Perlakuan macam apa ini? Setelah menguras isi dompetku, kau justru meludahiku."


Isabell tidak bisa menahan senyumnya mengingat kejadian tadi siang saat Darren melihat barang-barangnya dibungkus.


"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas kemurahan hatimu. Aku tidak perlu susah payah mencari target bulan ini." Isabell menunjukkan pipi kiri Darren yang masih basah.

__ADS_1


"Kalau begitu kau tidak akan keberatan jika aku meminta kemurahan hatimu untuk mengganti laptopku yang kemungkinan rusak." Darren mengarahkan dagunya ke meja, dimana laptopnya berada.


"Laptopmu rusak? Hanya karena semburanku?" Isabell tidak percaya. Ia hanya menyembur tanpa sengaja bukan menyiram atau memandikan laptop tersebut. "Tidak mungkin!" Isabell meraih laptop dan tanpa sengaja jemarinya menekan iklan yang kebetulan lewat. Iklan tidak bermoral. Adegan dewasa pria dengan pria.


Untung saja tidak ada suara, karena speakernya memang sedang rusak.


Manik Isabell membola, mulutnya terbuka tertutup. Melihat ekspresi Isabell yang mangap-mangap seperti ikan koki yang butuh bantuan napas buatan, Darren bergerak ke sampingnya.


"Ya Tuhan, mesum sekali Anda, Nona Odette!" Darren dengan segera mematikan layar komputer.


"Ke-kenapa kau menonton itu?" Isabell mengabaikan cara Darren memanggilnya. "Aku sudah berusaha menyangkal pikiranku tentangmu saat melihatmu di kamar tempo hari."


"Memangnya apa yang kau pikirkan tentangku?" Darren merebut laptop dari tangan Isabell.


"Jujur, aku senang saat melihatmu bersama wanita di store tadi siang. Kebersamaanmu dengan wanita itu mematahkan pemikiranku yang kotor. Ta-tapi... kenapa kau menonton hal semacam tadi. Pemikiranku yang kotor kembali merajalela."


"Kau butuh sabun pencuci kalau begitu. Otakmu perlu dibersihkan."


"Lalu bagaimana denganmu? Yang kau lakukan ini tidak normal."


Darren yang tidak melihat dengan jelas bahwa adegan yang diputar tadi dilakukan sesama pria hanya menanggapi dengan lempeng, "Semua pria menonton hal semacam itu. Ada edukasi di dalamnya."


"Pria normal tidak akan melakukan hal itu!"


"Mungkin maksudmu pria suci tidak akan menonton hal semacam itu. Aku bukan pria suci."


"Ya," Isabell memegang jantungnya. Terkejut dengan kenyataan bahwa Darren memiliki penyimpangan yang sangat memalukan. "Bagaimana bisa seperti ini?" wajahnya menatap Darren dengan prihatin.


"Kurasa kau sudah sangat mengantuk. Kembali lah ke kamarmu." Darren berbalik, membuka lemari pendingin dan mengambil dua botol minuman soda dalam kemasan, kemudian meninggalkan Isabell yang masih menatapnya dengan penuh prihatin.

__ADS_1


__ADS_2