
...Saat rasa kecewa tiba, kau akan lebih menyadari betapa pentingnya mencintai diri sendiri...
...****************...
Isabell memiliki banyak waktu luang sebelum berangkat bekerja. Apa yang harus ia lakukan? Biasanya ia menghabiskan waktunya dengan membaca novel romantis karangan author favoritnya, Rizky Rahm😎. Hari ini, mendadak dia tidak mood karena penulis kesayangannya itu juga akhir-akhir banyak tingkahnya dengan menggantungkan banyak karya.
Lantas, apa yang harus ia lakukan? Isabell melihat koper yang masih terabaikan begitu saja di sudut ruangan. Pun ia memutuskan untuk menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
Di tengah ia menyusun barang-barangnya, tiba-tiba ia merasakan perutnya melilit. Isabell melihat tanggal, ya tamu bulanannya akan tiba.
"Di mana pembalutku..." Bermonolog sambil membongkar semua isi koper. Ia tidak menemukan benda tersebut. Yang artinya ia harus pergi membeli ke supermarket.
"Apa Mom, ada di kamarnya?" Isabell bertanya pada salah satu pelayan.
"Setengah jam yang lalu, Mrs. Willson pergi keluar. Sepertinya pergi ke kantor untuk mengantar berkas milik Mr Willson yang ketinggalan, Nona."
Isabell menganggukkan kepala. Niat hati ingin meminjam salah satu mobil. Ia lebih nyaman menyetir sendiri daripada harus diantar oleh supir.
"Kenapa kau mencari Ibuku?"
Suara Austin membuatnya menoleh. Pria itu terlihat sangat tidak sopan. Hanya mengenakan boxer dan kaos kutang.
Tapi apa pun yang dikenakannya, justru membuatnya terlihat menawan. Puji Isabell dalam benaknya.
"Aku sedang bertanya padamu," Kini Austin berdiri tepat di hadapannya.
"Oh, aku ingin meminjam mobil. Ada beberapa hal yang ingin kubeli."
"Kunci mobil ada di sana," Austin menunjuk sudut ruangan. Terlihat memang beberapa kunci menggantung di sana. "Kau tinggal mengambilnya."
"Aku boleh memakainya."
"Asal kau pandai menyetir dan memiliki SIM."
__ADS_1
"Terima kasih. Kau butuh sesuatu?"
"Aku hanya ingin mengambil minuman soda. Stok di kamarku habis."
"Aku ingin ke supermarket, kau menginginkan sesuatu?"
"Kasirnya bernama Julia. Sampaikan salamku dan juga katakan padanya agar menggunakan obat kumur selain membersihkan giginya dengan pasta."
Isabell seketika tersedak mendengar penuturan tunangannya yang tidak ada akhlak tersebut.
"Bisakah aku menyimpulkan bahwa kau berciuman dengannya?" Wajahnya merona karena malu, marah dan cemburu bercampur menjadi satu. Lima puluh persen, Austin adalah miliknya. Ya, walau belum sepenuhnya. Hubungan mereka masih setakat tunangan. Meski begitu, Isabell selalu menjaga sikap. Tidak pernah memuja pria lain secara berlebihan karena memang tidak ada yang lebih hebat baginya selain Austin. Hanya nama dan wajah Austin yang selalu terbayang. Tidak ada yang lain.
Ia sangat menghargai pertunangan ini. Menganggap bahwa hubungan mereka sangat serius. Isabell merasa ia memiliki tanggungjawab untuk menjaganya. Tidak terpikir olehnya untuk berkhianat. Walau faktanya sejauh ini belum ada pria yang berusaha mendekatinya. Jika ada yang berusaha menarik perhatiannya, ia juga tidak tahu apakah ia bisa sesetia ini?
"Ya." Austin mengakui tanpa beban.
"Ba-bagaimana bisa?" Isabell memperbaiki letak kacamatanya. Harusnya ia tidak bertanya, tapi ia penasaran.
"Aku hanya penasaran."
"Dua hari yang lalu aku sedang membeli rokok. Kebetulan sangat sepi. Julia merayuku. Dan begitulah."
"Kau dan dia berciuman di sana? Di supermarket?"
"Dimana lagi? Dia sedang bekerja."
"Ada CCTV."
"Lalu masalahnya apa?"
Isabell kehilangan kata-kata. Ia tahu Austin pria yang bebas dan liar. Salah satu alasan mengapa ia jatuh cinta kepada Austin. Ia membayangkan berpetualang dengan Austin pasti sangat menyenangkan. Hanya saja, keliaran Austin yang seperti ini sangat tidak ia sukai. Ia cemburu!
"Ti-tidak ada. Akan kusampaikan salam juga pesanmu," tukasnya dengan kesal.
__ADS_1
Isabell segera berbalik, melangkah lebar menuju tempat kunci.
Seperti yang sudah ia katakan kepada Austin, Isabell benar-benar pergi berbelanja. Awalnya, ia hanya akan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan wanita. Namun, saat ia melihat supermarket yang tidak jauh dari kediaman Willson, Isabell memutuskan untuk membeli keperluannya nanti saja. Mumpung ia bisa mengemudi dan bebas kemana saja, Isabell pun tidak membuang-buang kesempatan tersebut. Ia terus melajukan mobil, membiarkan atap mobil terbuka, membiarkan angin menerpa wajahnya dengan bebas.
Isabell tidak tahu mobil siapa yang sedang ia kemudikan, apakah milik Austin atau Darren atau mungkin ayah mertuanya. Ia hanya asal mengambil kunci yang menggantung dan ternyata saat ia ke garasi untuk mencari tuannya, ia terkesima.
Porsche baru-baru ini meluncurkan mobil edisi khusus dan terbatas, Porsche Boxster 25 dan saat ini, Isabell mengemudi mobil tersebut.
Pelanggaran kedua yang ia lakukan adalah, memakai mobil tanpa meminta izin terlebih dahulu. Saat ia ingin berpamitan kepada Austin, pria itu masih tidur dan mengunci diri di kamar.
"Aku hanya perlu mengemudinya dengan penuh hati-hati dan mengembalikannya dengan segera," ia meyakinkan dirinya saat keraguan muncul di benaknya. Dan karena rasa penasarannya ternyata kalah dengan sopan santun yang ia junjung selama ini, akhirnya ia pun duduk di belakang kemudi. Mengemudi dengan hati-hati tinggal angan-angan, Isabell beberapa kali menyalip mobil yang ada di depannya. Isabell benar-benar menikmati kebebasannya. Pelanggaran demi pelanggaran pun ia lakukan tanpa sungkan. Mengebut di jalan.
Setelah lelah berkeliling, akhirnya Isabell menghentikan mobil di salah satu pusat perbelanjaan. Ia masuk ke toko yang satu dan berpindah ke toko lainnya. Beberapa melayaninya dengan baik dan tidak sedikit yang meremehkannya. Isabell memilih untuk tidak mengambil pusing. Disaat ia mendapat perlakuan tidak baik, ia membeli barang termahal meski ia tidak yakin kapan ia akan mengenakannya. Disaat ia mendapat perlakuan baik, ia belanja banyak di toko tersebut. Terima kasih kepada saudaranya, Harry yang memaksanya untuk menerima card milik pria itu. Card tersebut ternyata benar-benar sangat berfungsi. Orang-orang yang meremehkannya mendadak melayaninya dengan baik. Diantara mereka ada yang menyarankan fashion yang cocok untuknya, ada juga yang menyarankan agar Isabell mengunjungi salon kecantikan yang bisa mengubahnya menjadi lebih menarik.
Isabell hanya mengucapkan terima kasih atas saran-saran tersebut. Ia akan melakukan perubahan pada dirinya jika itu berasal dari hatinya. Bahkan saran Austin yang memintanya untuk melepaskan pagar gigi masih perlu ia pertimbangkan. Tidak lantas ia mengikuti saran pria itu begitu saja.
Selesai berbelanja, Isabell memutuskan untuk menonton bioskop. Seumur hidupnya, ia baru pertama kali memasuki bioskop, tepatnya di usianya yang sudah menginjak angka 23 tahun.
Isabell sudah membeli tiket film yang ia inginkan. Karena mungkin akan memakan waktu kurang lebih dua jam, pun ia menghubungi Carry untuk menggantikan shiftnya. Carry tidak keberatan sama sekali membuat Isabell lebih semangat untuk menikmati waktunya.
Isabell membeli popcorn dengan ukuran paling besar dan ia asal memilih film. Tujuannya bukan untuk menonton, tetapi untuk melihat seperti apa bioskop itu. Pada akhirnya ia tertidur sepanjang film diputar tanpa tahu isi cerita dari film yang sedang ditayangkan.
"Auuhh," ia terbangun dan meringis saat merasakan tarikan di rambutnya bersamaan dengan seseorang yang juga menusuk salah satu jarinya hingga mengeluarkan sedikit darah.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau?"
Pria tersebut segera berdiri dan pergi dengan langkah cepat. Isabell tidak mengenali wajahnya karena pria itu mengenakan masker juga topi.
"Apa di bioskop ada acara cek darah segala?" ia bergumam sambil mengusapkan darahnya ke rambut.
"Jam berapa sekarang? Perutku lapar sekali. Ouh, astaga, sudah jam tujuh malam ternyata."
Setelah mengisi perutnya, Isabell pun mengakhiri petualangannya hari ini. Meringis melihat barang belanjaan yang lumayan banyak. Barang-barang yang tidak akan ia kenakan dalam waktu dekat dan ia juga tidak tahu kapan benda-benda itu akan ia gunakan. Mungkin tidak akan pernah ia gunakan sama sekali dan mungkin akan ia hadiahkan kepada Lexi atau pun Carry.
__ADS_1