
"Kau masih marah padaku?" Austin mengikuti Isabell yang sedang berjalan menuju ke dalam kamar wanita itu untuk berkemas.
Bagaimana bisa marah kalau kau mengikutiku seperti ini?
"Apakah satu tamparan belum cukup? Panasnya masih terasa." Austin melompat ke depan untuk membuka pintu kamar. Isabell hampir saja memekik.
"Menurutmu itu cukup?" Isabell mendelik dari balik kacamatanya.
"Menurutku tidak. Untuk itulah aku di sini."
"Mengekoriku?"
"Membujukmu untuk memberi kesempatan pada hubungan kita."
"Maksudmu?"
"Sebaiknya kita masuk dan berbicara sambil kau berkemas." Austin menarik Isabell untuk masuk ke dalam kamar.
Pria itu sudah memikirkannya sepanjang malam. Menurutnya, ia memang sudah keterlaluan. Tujuannya membawa Isabell kemarin malam, hanya untuk membuka pikiran Isabell bahwa kehidupan Austin benar-benar liar dan bebas. Yang terjadi sebenarnya, justru ia lah yang dibuat terkejut. Sedikit terkejut. Austin cukup dibuat terpana dengan ketenangan yang ditunjukkan Isabell saat mengetahui dirinya dijadikan taruhan. Wanita modelan Isabell yang polos dan juga cupu, biasanya tidak akan memberikan reaksi setenang yang dilakukan Isabell. Austin mengira Isabell akan merengek meminta pulang atau tidak akan meraung menangis. Isabell tidak melakukan keduanya. Wanita itu tetap berdiri di tempat dengan tenang. Sedikit mengusik rasa penasaran Austin. Dan poin penting dari semuanya yaitu Austin tidak menyukai gadis lemah. Isabell ternyata tidak selemah yang terlihat. Benarkah dugaan Austin?
"Aku hanya perlu mengambil pakaian renang dan baju ganti."
"Hmm..." sementara Isabell mengerjakan apa yang ia butuhkan, Austin duduk di tepi ranjang memperhatikan sekeliling.
"Aku belum sempat merapikannya."
Perkataan Isabell mengembalikan tatapan Austin kepada Isabell. Ya, kamar gadis itu sangat berantakan. Di salah satu sudut ruangan, pakaian berserakan bercampur dengan tas dan beberapa sepatu.
"Oh," Austin hanya bergumam. Sekali lagi penilaiannya tentang Isabell salah. Ia kira, Isabell gadis yang gila akan kerapian.
"Jadi kesempatan seperti apa yang ingin kau bicarakan?"
__ADS_1
Dan untuk ukuran gadis cupu, Isabell cukup berani dalam berbicara dengan lawan jenisnya.
"Tentang kita." Austin memberi isyarat dengan lirikan matanya agar Isabell duduk di sebelahnya. Gadis itu dengan patuh segera duduk dengan tetap memperhatikan jarak aman.
"Tentang kita?" Isabell membeo dengan jantung yang mulai memompa tidak normal.
"Ya."
"Kesempatan seperti apa?"
"Kita sudah bertunangan cukup lama..."
"Hampir enam tahun," Isabell menyela.
Austin mengidikkan bahu. "Aku tidak tahu."
"Kau menyebalkan!"
"Kau semakin terlihat menyebalkan."
"Aku tidak akan menyangkal. Bisa kau dengarkan aku bicara sampai selesai?"
"Silakan."
"Aku kira pertunangan ini tidak serius. Saat kita dijodohkan, posisinya aku sedang mengalami patah hati untuk pertama kalinya. Aku menerima perjodohan ini hanya untuk mengatakan kepada wanita yang sudah mencampakkanku bahwa aku sudah move on. Pada akhirnya aku tidak melakukannya," Karena aku juga terkejut dengan penampilanmu.
"Kenapa kau tidak melakukannya?"
Karena aku juga terkejut dengan penampilanmu.
"Kita tidak pernah berkomunikasi." Austin mengabaikan pertanyaan Isabell. Tepatnya, ia sudah menjawab hanya saja tidak dilontarkan.
__ADS_1
"Aku selalu berusaha menghubungimu dan kau selalu mengabaikannya."
"Aku sedang bersenang-senang." kebangsyatan Austin tidak ada obat.
"Dengan koleksi wanitamu."
"Hmmm."
"Kau amat sangat menjengkelkan, Austin!!"
"Bisa kita lanjutkan pembahasan ini sampai ke inti?"
Isabell mendengus yang dianggap Austin sebagai izin untuk melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kupikir pertunangan ini sudah berakhir hingga tiba-tiba kau muncul dan Ibuku mengumumkan bahwa kita akan menikah empat bulan lagi. Dengarkan yang ingin kukatakan ini, aku belum siap untuk menikah. Belum terpikir olehku untuk melepaskan kebebasanku hanya demi sebuah pernikahan."
"Kau mendorongku lagi."
"Tidak. Dengarkan sampai habis."
"Baiklah."
"Sampai detik ini, keinginan untuk tidak menikah masih belum berubah. Hanya saja, perjodohan kota sudah diatur. Tidak adil rasanya jika memutuskan tanpa memikirkan perasaan keluarga. Untuk itu mari membuat kesepakatan. Aku percaya bahwa dua insan yang saling mencintai akan berakhir di pelaminan. Faktanya, aku belum mencintaimu, Isabell, dan aku tahu aku juga belum mencintaiku."
Tahu apa kau soal perasaanku, Austin sialan!!
"Sisa seratus satu hari menuju pernikahan yang nantinya menentukan masa depan kita. Mari mengambil kesempatan ini dengan saling mengenal satu sama lain. Buatlah aku tertarik, begitu pun sebaliknya."
Hei, bodoh, kau diam saja aku sudah tertarik!
"Dalam seratus hari, buat aku berubah pikiran."
__ADS_1