Crazy Deal

Crazy Deal
Selamat Pagi


__ADS_3

"Tidak bekerja?"


Suara Austin membuat Isabell praktis berbalik, tangannya langsung merapikan rambut.


"Aku masuk siang," sahut Isabell sambil tersenyum manis.


Austin hanya menganggukkan kepala, tidak memberikan komentar lagi. Pria itu menarik salah satu kursi di dapur dan mendaratkan bokong di sana.


"Kau membutuhkan sesuatu?" Isabell memperhatikan penampilan Austin yang sepertinya baru pulang pagi ini. Kemana dia sepanjang malam? Ia membatin. Mungkinkah sedang bersama salah satu mainannya atau mungkin dia ada pekerjaan lain? Hatinya berbisik mencoba berpikir positif.


"Kopi," jawab Austin singkat.


Pun Isabell dengan segera menyiapkan apa yang dibutuhkan Austin. Untung saja ia sempat berbincang -bincang dengan calon ibu mertuanya tentang apa yang disukai dan tidak disukai Austin dalam hal makanan. Karena bagi Isabell penting untuk mengetahui hal itu mengingat salah satu tugas wanita sebagai istri adalah memanjakan perut suami.


"Kopimu," Isabell meletakkan cangkir di hadapan Austin. "Dengan satu sendok teh gula ditambah tiga sendok teh kopi, benar?"


"Kau bertanya pada Ibuku?" Tebak Austin tepat sasaran. Hanya ibunya yang tahu tentang seleranya. Tidak ada wanita lain dan tidak akan ia biarkan para wanita mengetahui seleranya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk memikat hatinya. Ayolah, pria mudah luluh dengan perhatian-perhatian kecil seorang wanita.


"Ya," Isabell masih berdiri, menunggu Austin mempersilakannya duduk. Mungkin saja Austin masih membutuhkan sesuatu.


"Ah, aku sempat memanggang beberapa roti. Mungkin kau juga menyukainya. Hal ini aku belum bertanya pada Ibumu." Isabell beranjak untuk mengambil roti dan beberapa toping. "Kutebak kau suka blueberry?"


Austin menatapnya sekilas, kemudian mengambil sepotong roti dan toping stroberi.


"Ah, stroberi rupanya," Isabell tersenyum penuh arti. Ia hanya mencoba trik murahan seperti tadi untuk mengetahui selera pria itu.


"Duduklah, jangan berdiri seperti pelayan. Di sini ada pelayan yang akan menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam. Kau tidak perlu melakukannya."


"Aku senang melakukannya." Isabell memperbaiki letak kaca matanya. Gerakan yang tidak sadar ia lakukan saat sedang salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah, kini Austin memandanginya dengan seksama. Beberapa kali Isabell melihat Austin meliriknya dari atas ke bawah.


"Pakaianmu tidak membuatmu gerah?"


Isabell menunduk, melihat pakaian yang ia kenakan. Dress panjang putih yang cukup longgar dengan lengan panjang yang ia gulung hingga di bawah siku.


"Tidak. Aku sudah terbiasa. Kenapa? Kau merasa terganggu dengan penampilanku?"


Austin menggeleng, "Mungkin saja kau merasa gerah. Di sini bukan istana yang harus memperhatikan cara berpakaian. Istana memang penuh dengan aturan. Kau dibesarkan dengan aturan dimana adab, norma dan moral sangat penting. Tapi, ini di luar istana. Kau bebas melakukan apa pun. Tidak akan ada yang melarangmu, tidak akan ada juga yang akan mengawasimu dan melaporkanmu."


"Kau benar. Tapi mengenai cara berpakaianku tidak ada hubungannya dengan aturan istana, beginilah seleraku. Memang sedikit kuno. Tapi aku nyaman dengan ini."


Bukan sedikit kuno, tapi sangat kuno, gadis gigi berpagar!!! Austin membatin.


Isabell senang Austin mengajaknya berbincang. Tidak membuang-buang kesempatan berduaan seperti ini dengan Austin, Isabell menarik kursi, duduk berseberangan dengan tunangannya tersebut.


"Kau baru pulang pagi ini?"

__ADS_1


"Ya. Aku bersenang-senang tadi malam." Austin mencoba melihat reaksi Isabell tentang betapa ia sangat mencintai kebebasan.


"Ya, aku bisa melihatnya. Memangnya apa lagi yang kita butuhkan selain bersenang-senang."


Wuah, respon Isabell sedikit membuat Austin terkejut. Tidak ada ceramah tentang betapa pentingnya tidur tepat waktu, tentang berkeliaran di luar hanya membuang-buang waktu.


"Aku pun akan melakukannya andai aku tidak kelelahan karena bekerja." Isabell kembali berucap. "Bagaimana jika sesekali kau mengajakku, Austin?"


Lagi, Austin terkejut. Dikira Isabell adalah gadis cupu yang sangat pendiam, membosankan dan kuno. Ternyata penampilan gadis itu sangat berbanding terbalik dengan pola pikirnya. Dan apa yang dikatakan Isabell tadi? Apakah ajakan kencan atau penyerahan diri?


"Kau yakin?" Austin menukik alisnya.


"Hmm," Isabell menganggukkan kepala. "Aku tidak memiliki teman untuk diajak bersenang-senang. Sama sepertiku, rekan bekerjaku juga mengalami kelelahan saat kami ingin bersenang-senang. Mereka juga harus membagi waktu dengan kekasih dan keluarga mereka."


"Cara bersenang-senang dalam versiku sangat berbeda," Austin melayangkan tatapan nakal untuk menakuti Isabell.


"Selamat pagi," suara Darren menginterupsi.


Pria itu menarik kursi di sebelah Austin. Dia sudah berpakaian rapi, bersiap untuk pergi bekerja. Penampilan yang sangat bertolak belakang dengan Austin yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan rambut setengah gondrong yang dibiarkan terurai.


Benar dugaan Isabell bahwa para pria Willson sangat menyukai rambut gondrong. Isabell memperhatikan keduanya. Benar-benar hampir mirip, hanya saja Darren mengikatnya dengan rapi.


"Kau baru pulang?" Darren mencomot roti yang tadi disiapkan Isabell untuk Austin.


"Ya. Kami menunggumu."


"Preet!"


"Bagaimana tadi malam? Kudengar dari Beth, kau menang banyak."


"Jika kau sudah mendengar dari Beth kenapa kau masih bertanya. Aku mengantuk sekali." Austin mendorong kursinya dan segera berdiri. "Selamat bekerja, Saudaraku, berhati-hatilah saat mengemudi dan kumpulkan uang yang banyak." Austin menepuk bahu Darren.


"Aku akan kembali ke kamarku," Pamit Austin pada Isabell


Isabell menyengir sembari menganggukkan kepala.


"Pagar gigimu berubah lagi?"


"Kawat gigi, Austin." Darren meralat.


"Bagiku sama saja. Aku penasaran berapa banyak pagar gigi yang kau koleksi?"


"Lumayan banyak. Aku selalu meminta saran Steve saat aku ingin menggantinya."


"Oh, jadi kau berteman dengan iparku?"

__ADS_1


"Ya, kami berteman dekat. Lumayan dekat."


"Wuah, dia tidak pernah menggodamu?" Austin kembali duduk. Ini informasi yang baru ia ketahui. Pasalnya, saat pernikahan saudari dan iparnya, Isabell tidak muncul.


Isabell tertawa renyah, sedikit mengejutkan dua bersaudara Willson. Tawanya bikin candu, oi!


"Dia pria pertama yang kusukai." Aku Isabell dengan jujur.


"Jadi pertunangan ini pelarian?" Austin kemudian berdehem setelah menyadari pertanyaannya yang seolah menunjukkan bahwa ia sedang cemburu.


"Tentu saja tidak!" Aku menyukainya tapi tidak mencintainya seperti yang kurasakan padamu!


"Jadi, Steve yang menyarankan kau mengenakan pagar gigi warna warni ini?" Austin bertanya karena penasaran. Tidak menyangka jika iparnya tersebut memiliki cukup waktu luang untuk memberi saran kepada Isabell. Saran yang menurut Austin sangat membuang-buang waktu. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi Steve waktu memilihkan deretan pagar gigi. Ia meragu jika Steve memilih dengan sepenuh hati.


"Aku memberinya beberapa pilihan dan dia akan memilih salah satunya setelah dia mengatakan bahwa sebaiknya aku tidak usah memakai pagar gigi."


Austin mengullum senyum mendengar Isabell mengikuti caranya menyebut pagar gigi. "Aku setuju dengan iparku, kurasa kau tidak perlu pagar warna warni itu. Bagaimana jika kau melepasnya?"


"Tentu saja, aku akan melepasnya setelah dokter menyarankannya." Isabell kembali tersenyum. "Gigiku sedikit bermasalah. Aku akan melepasnya begitu dokter menyarakannya. Apakah aku terlihat aneh saat mengenakannya?"


Austin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik kepada Darren yang terlihat sangat fokus menikmati sarapan seolah tidak memedulikan keadaan sekeliling. Mungkin jika bukan Isabell yang bertanya pendapatnya, Austin akan menjawab dengan jujur tanpa peduli apakah jawabannya akan membuat sakit hati atau tidak.


Di matanya, benar bahwa Isabell terlihat aneh dan culun. Ia bingung mau menjawab apa. Isabell bukan gadis yang bisa ia abaikan perasaannya begitu saja. Semua keluarganya sangat menyayangi Isabell. Akan repot urusannya jika Isabell mengadu kepada ibu atau saudarinya, Lexi.


Austin kembali beranjak dari kursinya. Ia sudah menguap berulang kali. "Jika kau meminta pendapatku, memang terlihat aneh," pada akhirnya Austin memilih jujur. Prinsipnya, meski kejujuran itu pahit, tetap harus diutarakan. "Aku tidak bisa membayangkan pagar gigimu akan menjepit lidah atau bibirku saat sedang berciuman. Kau sudah pernah berciuman?"


Darren seketika tersedak, roti yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar.


Isabell yang juga tidak menyangka akan mendapat pertanyaan frontal seperti itu dari Austin, terang saja terkejut. Belum pernah ada seseorang yang berbicara blakblakan seperti itu kepadanya. Namun, keterkejutannya itu ia kesampingkan begitu melihat Darren yang sedang terbatuk-batuk. Wajah dan kuping pria itu bahkan sampai merah.


Isabell segera menghampirinya, mengusap punggung pria itu dan meletakkan air di hadapan Darren.


Darren mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat pada Isabell agar gadis itu menghentikan usapannya. Pun ia minum beberapa teguk sebelum menoleh kepada Austin yang terkikik geli melihat pemandangan tersebut.


"Kau seperti pria suci yang baru pertama kali mendengar kata ciuman," bukannya prihatin dengan saudaranya, Austin justru meledek pria itu.


"Kau pernah berkencan dengan gadis berpagar gigi?" Austin kembali melayangkan pertanyaan.


"Apakah itu penting bagimu?" Darren menarik tisu dengan kasar lalu membersihkan mulutnya. "Jika itu penting bagimu, sebaiknya kau kembali duduk sementara aku akan membatalkan pertemuanku pagi ini demi bisa berbagi cerita dengan saudaraku, membahas wanita seperti apa yang selama ini sudah kukencani."


Tawa Austin lepas seketika, "Godaan yang sangat menggiurkan. Sayang sekali mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Kita persingkat saja, kau tinggal menjawab pernah atau tidak."


"Kau tidak akan menemukan jawabannya saat kau menolak untuk duduk kembali. Pertemuanku setengah jam lagi. Jika aku tidak ingin terlambat sebaiknya aku pergi sekarang." Darren mendorong kursi ke belakang dan segera berdiri.


"Kau berkencan dengan wanita? Wanita sungguhan?"

__ADS_1


Pertanyaan Isabell terang saja membuat kedua pria itu bingung.


"Jadi kau berkencan dengan wanita jadi-jadian, Dude?" tanya Austin.


__ADS_2