Crazy Deal

Crazy Deal
Diikuti


__ADS_3

...Tidak ada yang sadar mengenai keajaiban cinta, hingga kau kehilangan cinta....


...****************...


"Jam berapa sekarang? Perutku lapar sekali. Ouh, astaga, sudah jam tujuh malam ternyata."


Setelah mengisi perutnya, Isabell pun mengakhiri petualangannya hari ini. Meringis melihat barang belanjaan yang lumayan banyak. Barang-barang yang tidak akan ia kenakan dalam waktu dekat dan ia juga tidak tahu kapan benda-benda itu akan ia gunakan. Mungkin tidak akan pernah ia gunakan sama sekali dan mungkin akan ia hadiahkan kepada Lexi atau pun Carry.


Isabell melajukan mobil menuju arah pulang. Ia masih harus mampir ke supermarket membeli keperluannya.


Kali ini Isabell mengemudi dengan santai. Atap mobil juga sudah ia tutup. Hanya tangannya yang sesekali keluar lewat jendela, membiarkan angin menyapu kulit tangannya.


Mendadak ia merasa ada yang aneh, seperti sedang ada yang mengikutinya. Jalanan lumayan sepi, tapi mobil yang di belakangnya seolah enggan mendahuluinya. Awalnya ia tidak menaruh curiga sama sekali, tapi tetap saja terasa janggal melihat mobil itu selalu berada tepat di belakangnya sejak ia keluar dari parkiran.


"Apa mereka mengikutiku? Aku tidak boleh berburuk sangka." Isabell menggelengkan kepala, jantungnya mulai berpacu. Ada rasa takut yang menyelinap.


Tapi ia harus tetap perlu membuktikan, pun dengan sengaja Isabell memperlambat laju mobilnya, dan mobil tersebut juga ikut memperlambat lajunya. Isabell kemudian mempercepat laju mobil dan mobil itu juga demikian.


"Mobil itu memang mengikutiku," ia bergumam semakin waswas. "Apakah Daddy mengirim pengawal untukku tanpa sepengetahuanku?"


Pelanggaran kesekian yang ia lakukan adalah menggunakan ponsel saat mengemudi. Di deringan kedua, ayahnya langsung menjawab panggilannya.


"Isabell?"


"Ya, Dad, ini aku. Bagaimana kabarmu, permaisuri dan semuanya?"


"Baik. Bagaimana denganmu, Sayang?"


"Aku juga baik-baik saja. Aku mengambil cuti hari ini dan aku berbelanja banyak barang. Aku hampir menghabiskan uang Harry."


"Terdengar sangat menyenangkan."


"Ya, sangat menyenangkan. Omong-omong, Dad, apakah kau bisa mengirimkan beberapa orang kemari untuk menemaniku."

__ADS_1


"Tentu saja. Berapa orang yang kau butuhkan? Pelayan wanita atau justru kau juga butuh pengawal? Kupikir kau tidak menyukainya. Daddy hanya mengirim seseorang untuk mengawasimu."


"Mengawasiku. Artinya kau memang mengirim pengawal untukku, Dad?"


"Ya, tapi dia tidak akan terlihat olehmu. Kau tidak akan menyadari kehadirannya. Tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman."


Mendadak Isabell merasa gugup. Artinya, yang mengikutinya itu bukan pengawal Ayahnya. Di tengah kegugupannya, Isabell berusaha mempertahankan konsentrasi, mengatur nada suaranya agar tetap terlihat tenang.


Tapi di mana pengawal Ayahnya itu disaat seperti ini?


"Aku akan memikirkannya dan menghubungimu dengan segera tentang pertambahan pengawal. Bisakah kau menghubungi pengawal yang kau perintahkan, Dad? Tanyakan dia sedang di mana? Aku butuh dia untuk membawa barang-barangku. Aku merindukanmu, Dad."


Panggilan berakhir, Isabell melempar ponselnya begitu saja, pun ia kembali menambah laju kecepatan.


Ia bernapas lega begitu bangunan supermarket sudah terlihat, setidaknya supermarket itu akan ramai pengunjung, tidak mungkin seseorang akan mencelakainya di sana. Isabell segera memarkirkan mobil, segera berlari masuk ke dalam supermarket. Ia menoleh ke belakang, untuk memastikan apakah mobil itu juga ikut berhenti dan sialnya mobil itu juga ikut berhenti.


Isabell melihat dua pria berbadan besar mengenakan masker turun dari mobil tersebut. Isabell segera mencari persembunyian, tidak salah lagi dua pria itu memang sedang mengikutinya. Pertanyaannya, kenapa ada yang mengikutinya? Apakah mereka adalah perampok? Penculik?


Astaga, di mana ponselnya? Harusnya ia membawanya, bukan meninggalkannya di mobil. Bagaimana ia harus menghubungi ayahnya untuk memberitahu lokasinya. Ia hanya berharap semoga Ayahnya membuat pelacak di ponselnya seperti yang dilakukan Willson pada putri semata wayang mereka, Lexi. Ck! Apakah ia sepenting itu bagi keluarga kerajaan?


Brugh!


Isabell menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai. Tidak memedulikan rasa sakit di bokongnya, Isabell segera berdiri, mengabaikan pria yang baru saja ia tabrak.


"Bukankah kau sangat sopan sekali, Isabell?"


Isabell segera berhenti begitu mendengar suara yang sudah ia hafal dengan sangat jelas itu. Ia segera berbalik dan melihat Steven sedang menatapnya. Isabell melirik dua pria yang sedang mengikutinya, menghentikan langkah mereka dan terlihat sedang berpura-pura memilih barang belanjaan.


"Steven! Ini sungguh dirimu!" Isabell langsung melompat ke dalam pelukannya yang disambut pria itu dengan hangat.


"Aku senang bertemu denganmu." Isabell kembali melirik ke belakang dan dua orang yang mengikutinya sudah tidak ada di sana melainkan di depan kasir.


Apakah aku sedang salah sangka? Isabell bertanya-tanya dalam hati. Mungkin saja tujuan kedua pria itu memang ke supermarket untuk membeli barang yang mereka butuhkan.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau beli?" tanya Isabell mengalihkan kebodohannya yang sempat berburuk sangka kepada orang lain. "Viagra?" Isabell membaca apa yang tertulis di benda yang dipegang oleh pria itu. "Aku baru saja memikirkan Lexi dan kau sudah muncul di hadapanku. Kau dan Lexi memang jodoh, kekasih dunia akhirat. Omong-omong apa itu? Isabell menunjuk benda yang ada di dalam genggaman Steven.


"Sesuatu yang berbau dewasa. Hadiah untuk mertuaku."


"Oh, Lexi ikut bersamamu?"


"Ya, dia mendengar kedatanganmu dan dia memaksa untuk menemuimu. Apa yang ingin kau beli?"


"Ah, aku hampir melupakannya. Aku butuh pembalut," jawab Isabell yang hampir saja melupakan tujuannya masuk kemari.


Steven mengangguk seraya berjalan mencari benda yang diinginkan oleh Isabell. Ia sudah terbiasa membeli benda itu untuk Lexi, jadi bukan perkara sulit baginya untuk menemukan tempatnya di mana.


"Kau butuh yang bersayap atau yang biasa?" di tangannya sudah ada pembalut yang biasa digunakan istrinya. Yang bersayap. Tapi ia perlu memastikan kepada Isabell, mungkin saja Isabell memiliki selera berbeda.


Steven sahabat terbaiknya, bukan hal yang memalukan saat pria itu bertanya seperti itu kepadanya. "Aku butuh yang bersayap dan juga panjang."


Steven segera mengambil yang ia butuhkan. "Apa kau masih membutuhkan yang lain?"


Isabell menggeleng. Mereka pun segera menuju kasir.


"Kau tidak yakin ingin membeli yang lain?"


Isabell tampak berpikir sejenak. Mumpung ada Steven, harusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Mungkin aku butuh beberapa cemilan." Isabell menarik sebuah trolly.


"Beberapa cemilan tidak membutuhkan trolly, Isabell."


Isabell terkikik. "Aku butuh banyak cemilan. Terima kasih, Steven. Kau yang terbaik."


"Ck! Jangan jatuh cinta padaku. Melukai Lexi sama saja membunuhku."


"Ciih! Aku memiliki pria yang lebih hebat darimu!"

__ADS_1


__ADS_2