Crazy Deal

Crazy Deal
Odette


__ADS_3

"Aku membutuhkan beberapa sabuk, juga beberapa dasi," Darren berkata kepada salah satu petugas pelayanan store yang sedang merapikan barang-barang di etalase.


Crew girl yang mendengar permintaan Darren segera menghentikan pekerjaannya. "Baik, Sir... Saya akan... Kau?" Sikap sopan santun Isabell raib seketika setelah melihat tampang Darren yang juga sama terkejutnya dengan dirinya.


"Ya, aku." Pria itu langsung bisa mengendalikan ekspresinya. Suaranya terdengar tenang dan datar. "Jadi kau bekerja di sini?" Darren memendarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang cukup luas.


"Aku mengenakan seragam, membersihkan etalase, lalu kau kira aku sedang apa di sini? menari ballet?"


Darren beralih kepadanya, menyapukan tatapan ke seluruh tubuh Isabell. Lagi dan lagi tatapan menilai. Begitulah anggapan Isabell. Dan kenapa pria itu suka sekali melemparkan tatapan menilai secara terang-terangan dengan santainya. Tidak merasa risih sama sekali. Tidakkah ia tahu bahwa Isabell sangat merasa tidak nyaman dengan cara pria itu menatapnya.


"Setidaknya kau butuh leotard dan ballet slippers sebagai perlengkapan dasar untuk cosplay menjadi Odette." .


Hampir-hampir Isabell tertawa dibuatnya. Bagaimana bisa pria kutub bin menjengkelkan seperti dia mengetahui pernak pernik ballet, dan apa yang dia katakan tadi? Odette, heh? Sorry, Isabell fans garis keras Cinderella!


"Apa secara tidak langsung kau menyebutku wanita kutukan, Mr. Willson?"


Siapa yang tidak tahu dengan cerita di balik kisah, Odette, penari ballet dalam serial barbie yang dikutuk menjadi angsa oleh penyihir jahat dan hanya cinta yang tulus bisa mengembalikan wujud aslinya.


"Darren," Pria itu meralat dengan santai. "Kau tidak perlu bersikap formal kepada kakak iparmu sendiri," samar-samar terdengar nada geli dalam suara pria bermanik cokelat tersebut. "Kau tidak terlihat seperti angsa sama sekali."


"Ya, aku memang terlihat seperti itik buruk rupa, itukah yang ingin kau katakan?"


Sumpah demi apa pun, Isabel kembali melihat sudut bibir pria itu berkedut menahan senyuman. Isabell benar-benar merasa terhina karena senyuman samar itu ia simpulkan sebagai pernyataan bahwa pria itu benar menganggapnya memang lebih mirip dan lebih pantas dikatakan sebagai itik buruk rupa.


"Aku tidak mengatakan apa pun." Darren melirik jam tangan mahalnya lalu menoleh melewati bahunya untuk mencari seseorang.


"Aku bertanya-tanya bagaimana bisa Mr. dan Mrs. Willson memiliki putra sepertimu."

__ADS_1


Darren mengembalikan tatapannya pada Isabell, menukik sebelah alis, mencoba memahami pernyataan Isabell. Kemudian berkata, "Memangnya apa yang salah dengan hal itu?"


"Banyak yang salah di dalam dirimu!" Caramu berbicara saja membuatku tergoda ingin mencakar wajahmu!


"Well, orang yang tidak menyukaimu memang cenderung mencari-cari kesalahanmu. Itulah yang sedang kau lakoni kepadaku. Omong-omong di mana sabuk yang kubutuhkan?"


Gigi Isabell bergemeretak menahan emosi. Menarik napas panjang, pun ia memaksakan raut wajahnya terlihat ramah. Profesional kerja, etos kerja, kata-kata itu Isabell teriakkan di dalam benaknya agar ia tidak lepas kendali.


"Sebelah sini, Sir. Kami memiliki keluaran terbaru, sepertinya sangat cocok untuk Anda..."


"Geli rasanya mendengar kau bersikap formal dan sopan seperti ini. Hentikan itu. Pilihkan untukku beberapa dan..."


"Darren..." Suara wanita menghentikan Darren menyelesaikan kalimatnya. Pun ia berbalik, menyambut wanita cantik nan anggun yang berjalan mendekat ke arah mereka. Wanita yang ternyata dilayani Carry. Terlihat Carry berjalan di belakang wanita itu membawa beberapa barang. Dress, tas dan sepatu.


Isabell melirik ke arah Carry, mulut temannya itu menganga menatap kagum. Ya, Isabell sudah bisa menebak hal ini. Carry si pengagum pria Willson.


Darren menoleh ke arahnya, Isabell segera memalingkan wajah.


Carry terlalu fokus menikmati pemandangan di hadapannya dalam wujud Darren yang wanita itu yakini sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang begitu mengagumkan. Telinga wanita itu mendadak tuli. Carry benar-benar memuaskan hasratnya dengan memanjakan penglihatannya. Momen seperti ini memang amat sangat jarang terjadi.


Darren dan Willson lainnya memang jarang berbelanja ke store mereka, bisa dikatakan tidak pernah. Ayolah, Willson memiliki brand sendiri. Akan ada desainer khusus yang selalu datang mengantarkan pakaian sesuai yang mereka inginkan.


"Oh Tuhan, tenggorokannya bisa kering jika mulutnya terus menganga seperti itu." Isabell menggerutu pelan. Perlahan Isabell bergerak mendekat ke arah Carry, lalu memukul lengan wanita itu. Sementara Darren sedang berbincang dengan wanita anggun itu.


"Ya Tuhan, Carry, tutup mulutmu. Kau terlihat seperti orang bodoh. Apa hebatnya objek yang sedang kau kagumi," ia berbisik agar Darren dan wanita anggun itu mendengarnya. Bisa kacau urusannya jika Darren atau pun wanita itu memberikan bintang satu pada cara mereka melayani pelanggan.


"Dia tampan sekali. Sangat tidak sopan. Bagaimana bisa dia terlihat lebih memukau daripada yang terlihat di media."

__ADS_1


"Jangan menilai hanya dari luarnya saja. Menurutku dia tidak sehebat itu." Meski Isabell membenarkan apa yang dikatakan Carry benar adanya, tapi ia tidak akan mengakui hal itu secara terang-terangan. Jika perlu, ia harus menghasut Carry dan siapa pun yang memuja Darren agar tidak menyukai pria itu.


"Apa kau buta? Astaga, kau sudah memiliki empat mata tetap saja kau tidak bisa melihat dengan benar!"


"Kau akan sependapat denganku jika mengetahui watak aslinya.


"Siapa yang peduli dengan wataknya? Dia tampan, wangi, dan kaya."


"Austin lebih dari segalanya. Austin lebih hebat, lebih mengagumkan, dan lebih wangi."


"Bagaimana kau tahu? Kau pernah bertemu?"


"Ya, tadi pagi."


"Permisi," Suara wanita anggun itu menghentikan acara mereka yang sedang berbisik-bisik manja. "Bawakan kemari barang-barang tersebut, perlihatkan kepadanya."


Carry segera membawa barang pilihan wanita itu dan menunjukkannya di hadapan Darren. Dengan gugup Carry menjelaskan beberapa kelebihan produk tersebut. Tatapan Darren memang selalu membuat lawan bicaranya mati gaya. Tapi itu tidak akan berlaku pada Isabell.


"Kau akan terlihat cantik mengenakan semuanya, Sharon." Darren bersuara. "Tapi untuk acara nanti malam, kenakan ini," Darren mengambil dress hitam yang sangat memukau, elegan dan berkelas. "Dan gunakan stiletto," Darren menunjuk stiletto dengan warna senada lalu terakhir memilih clutch bag.


"Darren, kau memang selalu bisa diandalkan! Aku akan mencobanya. Kau harus menjadi orang pertama yang melihatku!" Sharon melayangkan satu kecupan di pipi Darren sebelum masuk ke ruang ganti.


Terdengar pekikan tertahan secara serempak dari depan dan belakang. Carry termasuk salah satunya. Mungkin satu-satunya makhluk yang tidak iri dengan pemandangan tersebut hanya Isabell.


"Kau sudah menyiapkan barangku?"


"Aku baru akan menyiapkannya," segera Isabell memilih barang-barang yang paling mahal. Darren tidak menyebutkan jumlahnya, jadi ia memilih sebanyak mungkin. Dengan begitu targetnya akan tercapai.

__ADS_1


__ADS_2