Crazy Deal

Crazy Deal
Gadis Asrama


__ADS_3

Isabell keluar dari kamar dengan penampilan yang membuatnya cukup nyaman. Celana jeans dipadukan sweater pilihan Darren. Semangatnya yang sempat redup, kini berkobar kembali.


"Semoga aku tidak membuatnya malu, tapi kemana Austin akan mengajakku berkencan dengan pakaian seperti ini?"


"Kau menggerai rambutmu?"


Suara Austin, tunangan tampannya terdengar. Seperti magnet yang langsung menarik semua perhatiannya. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada Darren begitu melihat penampilan Austin yang terlihat santai. Tunangannya itu juga mengenakan jaket dan sarung tangan kulit. Sarung tangan kulit?


"Ya, Dar... Hmm, kurasa aku perlu sesekali menggerai rambutku."


"Yeah," Austin menanggapi seperti angin lalu. Pria itu melanjutkan langkah, Isabell spontan mengikutinya.


"Kau tidak menyukainya?" jawaban Austin terdengar tidak antusias membuat Isabell melayangkan pertanyaan. Ia ingin tampil maksimal di hadapan Austin. Austin harus puas dengan apa pun yang ada pada dirinya!


"Kau terlihat manis," Austin menjawab dengan terus melanjutkan langkah tanpa menoleh ke arahnya. "Hanya saja akan sedikit merepotkan. Sebaiknya kau mengikatnya kembali."


"Ouh," Isabell bergumam murung. Pun ia segera mengikat rambutnya sesuai keinginan Austin.


"Wow! Kemana calon pengantin kita akan pergi?" Seruan Lexi langsung menarik perhatian semuanya. Ya, Willson sedang berkumpul di sana dengan tatapan yang tertuju kepada Isabell dan Austin. Darren juga ada di sana. Pria itu juga ikut menatap mereka. Sesaat manik mereka beradu, pria itulah yang mengalihkan pandangan terlebih dahulu.


"Ya, kami perlu pendekatan sebelum mengucap janji suci," Austin menjawab sekenanya.


Mendengar jawaban Austin, Alena dan Pax Willson selaku orang tua, tersenyum bahagia. Isabell adalah pilihan mereka, gadis manis yang menurut mereka cocok untuk putra bungsu kesayangan mereka.


"Mom senang mendengarnya."


"Aku senang jika kau senang, Mom," Austin lagi dan lagi menjawab enteng.

__ADS_1


"Nikmati waktu kalian."


"Tentu. Akan kubuat Isabell menikmati malam ini. Kami boleh pergi?"


"Ya," Alena mengangguk dengan semangat.


Mendapat izin dari semuanya, mereka pun melangkah keluar. Di luar, mereka langsung disambut salah satu pelayan dengan memberikan dua helm. Austin menerima kedua benda tersebut, lalu menyerahkan salah satunya kepada Isabell.


Isabell menerima benda itu dan baru mengerti alasan Austin menginginkan agar rambut panjangnya diikat. Ya, rambut panjang tergerai memang akan sedikit merepotkan jika sedang naik motor.


Naik motor? Tersadar dengan kendaraan yang akan mereka gunakan membuat Isabell hampir salto. Bagaimana tidak salto, ia akan berada di atas boncengan pria itu. Bisa memperhatikan punggung lebar, tengkuk, jangan lengan kekar yang mengendalikan motor. Ah! Baginya itu pemandangan yang sangat mengagumkan! Sebagai bonus, ia akan mencium aroma Austin yang berhembus dengan angin bercampur dengan debu.


Austin mengenakan helm begitu berdiri di samping motor yang tidak kalah gagah dan tangguhnya dari profil tunangannya itu. Melihat Austin mengenakan helm, Isabell pun mengenakannya dengan segera. Austin berbalik hendak membantu Isabell memasang helm tersebut, tapi niat baiknya itu harus ia kubur kembali. Isabell memasang benda itu dengan sempurna. Tidak merasakan kesulitan sama sekali.


"Kau sudah siap?"


Austin naik ke atas motor. Ampun, Isabell merasa kakinya berubah menjadi jeli seketika. Helm dengan full face, rambut gondrong, jaket kulit hitam, sarung tangan hitam. Pemandangan di hadapannya benar-benar tidak ada obat. Ia akan membuat banyak wanita iri andai helm yang dikenakan Austin dibiarkan terbuka. Tapi sepertinya pria itu tidak akan melakukannya dan Isabell juga ingin momen berdua itu tanpa ada hati yang terluka. Ciee... Lagakmu, Bell!


"Naik," Austin memberikan perintah setelah menurunkan footstep.


🍂


Beberapa menit yang lalu, Isabell seakan terbang bersama angin. Austin melajukan motor dengan kecepatan tinggi dan Isabell tidak merasakan takut sama sekali. Ia menikmati kegilaan dan keliaran pria itu. Ia bahkan mendengar beberapa pengendara lain melayangkan umpatan dan makian karena terkejut dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba datang menyalip pengendara lain.


Tapi sekarang, kebahagiaannya itu berubah menjadi kebingungan. Motor sudah berhenti. Di mana mereka? Isabell jelas tidak tahu. Sekelilingnya penuh dengan jalanan yang tidak diaspal. Di sana bukan hanya ada mereka berdua, tapi banyak, sangat banyak. Suara motor dan mobil saling menderu, beradu kekuatan. Sorak sorai dan kata-kata kasar saling bersahutan.


"Akhirnya kau datang," seorang pria dengan tubuh penuh tatto datang menghampiri mereka. Seketika Isabell bergidik melihat penampilan pria tersebut.

__ADS_1


"Kau mengundangku, tentu saja aku datang." Austin melepaskan helm dan merapikan rambut gondrongnya.


"Pertandingan tidak akan menarik tanpa keterlibatanmu, Dude. Kau membawa seseorang?" Pria bertato itu menatap penasaran pada Isabell yang belum melepaskan helm.


"Ya," Austin memberi isyarat agar Isabell melepaskan helmnya.


"Kau membawa seorang gadis lari dari asrama," komentar pria itu diiringi kekehan kecil setelah melihat wajah Isabell.


"Apa taruhannya kali ini?" Austin tidan menanggapi kelakar pria itu. Isabell sedikit kecewa dengan respon Austin. Pria itu bahkan tidak memperkenalkan dirinya siapa.


"Austin!!" seorang wanita tiba-tiba berlari ke arah Austin, menjatuhkan diri ke dalam pelukan Austin lalu dengan rakusnya menyerang bibir Austin. Austin menyambut wanita itu, hanya beberapa detik sebelum mendorong wanita itu menjauh.


Melihat pemandangan tersebut, kekecewaan yang dirasakan Isabell bertambah sepuluh kali lipat. Hatinya berontak melihat Austin menyentuh wanita lain dengan begitu mudahnya.


"Austin..." wanita itu protes karena belum puas mencicipi bibir Austin.


"Alexa..." Austin terkekeh. "Apa taruhannya?" Austin kembali bertanya seraya mengusap bibir Alexa yang basah.


"Seperti biasa, uang tunai, mobil."


"Dan wanita itu," suara lain menimpali. Austin menoleh ke sumber suara. Jason, rivalnya.


"Alexa?" Austin menukik alisnya.


"Gadis asrama yang di belakangmu. Virgin?"


Isabell bergeming, tidak takut mendengar tantangan pria bernama Jason tersebut. Tapi, ia penasaran, jawaban apa yang akan diberikan Austin.

__ADS_1


__ADS_2