Crazy Deal

Crazy Deal
Itulah Permainan


__ADS_3

Waktu menunjukkan hampir jam 12 malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan Austin dan Isabell.


Mrs. Willson menguap berulang kali. "Mom dan Dad akan masuk ke kamar," pamit wanita setengah baya itu seraya memberi kode kepada suaminya agar segera beranjak.


"Jangan begadang," Pax Willson mengusap kepala putrinya dengan penuh sayang. "Kamu sedang mengandung, tidak baik jika terlalu sering begadang."


"Aku bisa menjaga istriku, Ayah mertua. Aku tahu yang terbaik untuknya."


"Aku tidak berbicara denganmu, aku sedang berbicara dengan putriku."


"Ini sudah malam. Ada baiknya kau masuk ke kamar, Dad." Darren menimpali. "Meladeni Steven tidak akan ada habisnya. Gula darahmu bisa naik."


Steve mendengus seraya melayangkan tendangan ke kaki Darren yang berhasil ditangkis pria itu.


"Good night!" ucap Pax seraya merangkul istri tercinta. Para tetua itu berjalan meninggalkan anak-anak mereka.


"Tapi kenapa Austin lama sekali? Isabell bisa kedinginan di luar sana." Lexi menunjuk cemilan yang ada di atas meja dan Steve dengan sigap langsung mengambilnya untuk sang istri.


"Austin tidak akan membiarkannya kedinginan," Darren menanggapi.


"Dan Isabell tidak bodoh dengan membiarkan dirinya kedinginan." Steve pun menimpali.


"Yeah, kau sepertinya sangat mengenal wanita itu."


"Sangat. Ada masalah?" Steve menantang Darren yang sepertinya berusaha untuk menyudutkan dirinya di hadapan Lexi.


"Kukira kau tidak tertarik dengan wanita."


"Ck! Pertanyaanmu menurunkan standarmu, Dude. Jika aku tidak tertarik dengan wanita, menurutmu bagaimana bisa adikmu yang luar biasa ini memiliki perut buncit yang begitu sangat seksih?"

__ADS_1


Ya, tidak akan ada yang mampu menandingi Steve dalam bermain kata. Steve tidak akan membiarkan dirinya disudutkan, terlebih di hadapan sang istri yang begitu ia cintai.


"Mesum."


Steve tergelak, "Tidak ada kemesuman diantara suami dan istri. Menikahlah, kau akan tahu betapa nikmatnya berumah tangga."


"Lexi," alih-alih menanggapi ucapan sok bijak iparnya, Darren justru memanggil adiknya.


"Ya."


"Bawalah suamimu masuk ke kamar, sepertinya dia butuh istirahat."


"Aku belum mengantuk." Lexi menolak membawa suaminya ke kamar. Ia menikmati perdebatan antara saudara dan suaminya.


"Dia bisa meninabobokanmu di dalam kamar. Tapi, ingat batasan. Jangan terlalu berisik. Tolong saling menjaga privasi."


Steve semakin terbahak, "Ayolah, Dude, kau butuh sesuatu yang membuat harimu lebih berwarna. Omong-omong, kau normal? Aku tidak pernah melihatmu berkencan dengan wanita?"


"Dengan pria atau wanita?"


Darren menoleh ke arahnya, menatap iparnya itu dengan mimik datar. Dulu, ia akan menemukan ekspresi yang sama di wajah Steve, tapi semenjak menikah dengan adiknya, hanya seringaian geli yang menjengkelkan yang terlihat di wajah ipar kurang ajarnya itu.


"Mari saling menghargai privasi."


"Sharing and caring juga perlu. Kita adalah keluarga. Ayo, ceritakan masalahmu. Kami akan membantumu."


"Sejak kapan kau jadi menyebalkan seperti ini?" Darren hampir-hampir mengambil asbak dan melemparnya ke wajah Steve.


"Bukankah aku selalu menyebalkan di matamu. Aku penasaran wanita seperti apa yang kau kencani. Ayolah, sebagai ipar aku tidak ingin kau tersesat."

__ADS_1


"Isabell..."


Suara Austin kompak membuat mereka menoleh. Isabell memasuki rumah dengan wajah menahan amarah. Austin menyusul dari belakang.


"Aku minta maaf," Austin menahan tangan Isabell agar berhenti. Isabell berbalik, menarik tangannya dengan kasar. Lalu tanpa diduga, gadis itu melayangkan tamparan di wajah Austin yang membuat tiga pasang mata yang menyaksikan hal itu kompak memekik ngilu.


"Ouch!!!" Steve lah yang paling drama. Suaranya langsung menarik perhatian Isabell dan Austin. Isabell terlihat terkejut melihat ketiga wajah yang menatap mereka dengan penuh penasaran.


"Apa kesalahannya?" Lexi bertanya sambil tertawa. Tidak merasa prihatin sama sekali dengan Austin yang masih memegang pipinya. Tamparan yang dilayangkan Isabell memang cukup keras.


Isabell tidak sanggup untuk menjawab karena hatinya masih dipenuhi dengan kekesalan yang membuncah kepada tunangan kurang ajarnya itu.


"Kau memaksa Isabell?" tuding Steve dengan sorot mata menuduh.


"Memaksa?" Austin mendadak bodoh.


"Kau tahu maksudku, Dude."


"Maksudmu bercinta?" Austin memperjelas. Terang saja wajah Isabell merona malu. Sempat terpikir olehnya saat sedang berdandan. Hal itu tidak terjadi, tapi keperawanannya menjadi taruhan. "Apa kau kau sudah gila?!" hardik Austin dengan wajah masam.


"Lalu?" Steve tidak merasa malu dengan tudingan tersebut. Ia justru mendesak Austin untuk memberikan penjelasan.


"Hanya terjadi sedikit kesalahpahaman. Aku layak mendapatkannya." Isabell langsung menyorotnya dengan tajam. Tidak terlihat mengerikan karena dihalangi oleh lensa kaca mata, justru Isabell terlihat sangat lucu.


"Ingat, kau yang mengajakku berkencan." Ia balik menyalahkan Isabell. "Beginilah duniaku. Hal seperti itu akan terus terjadi dan tidak selamanya kemenangan berpihak kepadaku."


Isabell langsung mengerti kemana arah tujuan kalimat tersebut. Austin lagi dan lagi memintanya untuk berpikir melanjutkan hubungan mereka.


"Maksudmu, jika kau kalah kau hanya akan tinggal diam saat..."

__ADS_1


"Itulah permainan." Austin menyela ucapan Isabell. Dan mendengar jawaban Austin, Isabell benar-benar kehilangan kata-kata.


__ADS_2