Crush On You

Crush On You
part 1


__ADS_3

Setelah menunggu kurang lebih satu jam. Akhirnya kereta Probowangi berhenti di stasiun Sidoarjo. Perlahan bergerak kemudian melaju cepat menembus senja yang hampir memasuki malam. Aku memejamkan mata sesaat. Berusaha menimbang dan berpikir bahwa keputusan ini sudah benar. Daripada terus-menerus diremehkan dan dianggap tidak mandiri. Semua berawal dari adu mulut antara aku dan salah satu saudara perempuanku yang bernama, Safira. Dua tahun lebih tua dariku. Aku memiliki dua saudara perempuan. Mereka bernama Safira dan Anjani.


Aku tertegun mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Dua minggu bapak tidak mau makan dan minum dengan benar. Ibu sering sekali merebus daun binahong untuk bapak. Konon daun itu berguna untuk penderita penyakit jantung. Rasanya tidak mungkin bapak punya penyakit itu. Karena sejak pensiun bapak aktif sekali ikut komunitas sepeda onthel. Mbak Jani adalah seorang bidan. Dan dia selalu memantau semua anggota keluarga untuk hidup sehat. Hanya saja bapak kadang beradu mulut dengan mbak Fira. Kalian pasti bisa bayangkan betapa kerasnya sifat kakakku. Sejak menjadi kepala sekolah di SMP swasta. Perangainya kasar seperti kehilangan hati nurani. Dia merasa lebih sukses. Karena bapak dulu hanyalah seorang guru sekolah dasar.  


Bapak meninggal hari minggu pagi. kami menunggunya untuk sarapan. Namun beliau tidak kunjung datang ke ruang makan. Mbak Jani menangis histeris di depan pintu kamar bapak. Laki-laki itu sudah tiada. Kami semua kehilangan bapak pagi itu.


Suara pemberitahuan dari ruang informasi, membuatku tersentak. Itu artinya sebentar lagi sampai di tempat tujuan. Dari Sidoarjo ke Jember kurang lebih memerlukan waktu empat jam. Empat tahun yang lalu menimba ilmu di kota yang terkenal dengan JFC (Jember Fashion Carnaval) selalu membuatku nyaman. Setidaknya jauh dari mbak Fira cukup melegakan. Kenapa begitu? Inilah alasannya. Setelah empat minggu bapak meninggal. Mbak Fira seolah-olah menggantikan posisi bapak. Wanita itu keras kepala, berkulit gelap dan angkuh. Terus-menerus bicara kasar padaku. Harapannya  adalah aku segera meninggalkan rumah. Wanita itu butuh uang untuk mendanai bisnis multilevel yang tidak jelas dan terjun ke politik. Rencananya rumah ini akan disewakan.


Lagi-lagi wanita itu mencerocos banyak hal. Mengungkit jasanya yang pernah menolongku. Benar sekali, aku mendapat pekerjaan karena mendapat rekomendasi darinya. Menurutku itu adalah hal biasa. Karena kami bersaudara. Tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan mengungkit seperti sekarang. Sungguh sangat buruk. Dulu waktu masih kecil kami semua sering makan dalam satu wadah dan sering berbagi. Tapi saat dewasa semua berubah karena dilatarbelakangi ego dan keinginan yang berbeda. Salah satunya harus mengalah dan menerima. Beradu mulut dengan saudara sungguh tidak enak. Jadi aku memilih untuk  diam dan pergi. Bicara juga sudah tidak ada gunanya.


Perkataannya begitu tajam. Aku segera menutup pintu kamar. Membereskan beberapa buku dan pakaian, memasukkannya dalam tas. Dan berjalan keluar. Rumah sederhana penuh kenangan masa kecil. Harus jatuh ke tangan serakahnya kakakku. Dalam perjalanan aku menelpon mbak Jani, sekaligus berpamitan dan bicara dengan ibu sebentar.


Terdengar suara tersendat-sendat. Ibu terisak, nampak dari ponsel yang kudengar. Terasa sedikit pilu saat ibu bercerita tentang keinginan mbak Fira yang menggebu-gebu untuk menyewakan rumah itu. Aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya ada tabungan sedikit dan motor vixion yang berhasil kubeli. Lagi-lagi surat motor itu menginap di pegadaian, mbak Fira yang pinjam katanya akan segera dikembalikan. Entah kapan.

__ADS_1


Sebagai anak terakhir, aku memang selalu bergantung pada Bapak dan ibu. Mereka lebih menyayangiku daripada kedua kakakku. Mbak Jani lebih dewasa dalam bersikap dan sangat mengayomi. Lain dengan mbak Fira yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada keluarga. Bapak dan ibu memiliki alasan tersendiri kenapa lebih menyayangiku. Tepat dimana aku lahir, hari itu juga bapak diangkat menjadi pegawai negeri. Sungguh hal yang menggembirakan bagi semuanya. Bahwa setiap anak yang lahir pasti membawa rezeki masing-masing.


Kereta berhenti di stasiun Jember. Aku melangkahkan kaki dan bersiap turun dari gerbong. Sejurus kemudian berhenti di pintu keluar. Mataku sedikit perih, segera ku ambil obatnya tetes dari saku.


“Purwaka Wiseso! Yok opo kabare jeh?”


”Amir, apik.” jawabku dengan sedikit anggukkan. Dan menjabat tangannya.


Kakiku melangkah di depan Omah mas Amir. Masih tetap seperti yang dulu. Belakangnya ada sawah. Suara jangkrik atau wereng memecah keheningan malam. Daerah perkampungan desa Jubung. Pintu berwarna coklat tua, dinding berwarna kuning, ada tanaman anggur hijau merambat di pekarangan. Ada Musholla di samping rumah. Dia sedang memarkir motornya.


“Ayo mlebu jeh!”


Begitu memasuki rumahnya. Pandanganku terkesima sejenak. Foto saat wisuda kami. Wisuda adalah momen terindah sepanjang usia. Ku letakkan tas di lantai keramik warna putih. Dan duduk di kursi sudut berbentuk L warna hijau tua.

__ADS_1


“Bayu sudah menghubungiku, kalau aku sudah bisa kerja mulai besok sore.”


“Jadi dosen nih ceritanya.” Amir menyandarkan punggungnya di kursi.”Bayu itu dekan di Universitas Pillar. Semoga nanti kau jadi Ketua Prodi di sana.”


“Amin,” ucapku tenang. “Tapi aku saat ini hanya jadi dosen pengganti.”


Amir tetap grapyak seperti dulu. Dulu kami beda kelas. Amir masuk kelas non reguler karena setiap pagi dia bekerja di sawah. Aku dan Bayu masuk kelas reguler. Bayu yang mengenalkanku padanya. Dan petang sehabis magrib kami sering bertemu di alun-alun untuk berdiskusi menggunakan bahasa inggris. Amir menanyakan  alasanku berada disini. Aku pun menceritakan beberapa hal. Sambil menikmati kopi salak yang baru saja di seduh. Sudah kuduga, wajahnya nampak bersimpati dan tidak memberikan komentar apapun.


Malam ini aku mempersiapkan diri untuk mengajar besok. Walaupun setiap hari terbiasa mengejar siswa SMA, pasti memerlukan beberapa persiapan untuk mengajar Mahasiswa. Rasanya tidak sabar ingin segera memasuki ruang kelas dan melihat muka para agen perubahan dan pembangunan.


Di balik jendela kamar ada pohon jambu. Daunnya lebat kadang terdengar berisik saat rantingnya tertiup angin. Suasana tenang, dingin dan layak untuk dinikmati. Hatiku terasa tanpa beban dan bebas. Seperti pengembara yang merasa tenang di dalam hutan.


Semua ini berkat kebaikan seorang kawan. Mereka memberi tumpangan tempat tinggal dan pekerjaan. Terima kasih pada Amir dan Bayu.

__ADS_1


__ADS_2