
Setiap hari, selama melanjutkan pengajaranku di kediaman Pak Surya, lanjut mengajar di kampus, kemudian mengajar di tempat kursus bahasa inggris. Semua aku syukuri dan tekuni dengan penuh suka cita. Senang sekali bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Secara finansial akhirnya aku punya tabungan lagi. Tidak banyak tapi cukup. Kemarin juga sempat membeli kain batik buat ibu dan kedua kakakku. Tak lupa kuselipkan uang untuk ibu pada paketnya. Tekad serta kesungguhanku selama berproses menjadikanku percaya bahwa setiap langkah yang kita jalani selalu ada campur tangan Tuhan.
Setelah terjaga beberapa saat. Aku tarik selimut dan mematikan lampu kamar. Layar persegi panjang kecil bergerak di atas meja. Tanganku meraihnya. Mataku mengerjap untuk memastikan sesuatu. ‘Devi, untuk apa menelpon selarut ini?’ bisikku dalam hati. Dengan cepat ku matikan ponsel. Itu cara menghindar yang baik. Gadis itu sangat merepotkan.
Malam ini dingin dan sepi. Air mengguyur deras disertai angin. Lap! Pemadaman. Suara petir membuatku terjaga. Tiba-tiba perutku melilit. Sejurus kemudian kakiku beranjak dari tempat tidur. Tanganku meraba di atas meja makan. Tidak ada apapun. Hanya ada es batu, saos dan kecap di lemari es. Air Galon,minyak dan Gas juga habis. Bahkan mie instan dan roti pun tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar, memeluk erat guling dan berusaha memejamkan mata, mengingat seharian hanya makan dan minum satu kali sehari. Semenjak mengajar dua bule itu aku jarang sekali belanja atau memasak. Karena memang selalu mendapat makan siang disana.
Jalanan pagi masih basah sisa hujan semalam. Matahari pagi bersinar terang membuat udara menjadi hangat. Beberapa pedagang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Ada buah, daging, ikan, tahu, tempe dan bermacam-macam sayuran. Pasar Tanjung ini tidak pernah terlihat sepi. Bahkan pukul enam seperti sekarang ini juga masih ramai. Aku memarkir sepeda motor, sejurus kemudian langkahku berhenti di depan pedagang buah. Setelah selesai berbelanja. Rasanya belum lengkap jika belum membeli makanan ringan (camilan), tahu isi, pisang goreng dan teh tawar hangat. Di kala perut kelaparan sejak semalam, aku putuskan menyantap makanan lebih banyak.
“Tahu isinya sepuluh biji,” ujarku sambil merogoh uang di saku. “Teh hangatnya tadi satu gelas. Jadi semuanya berapa?”
“delapan ribu”
Aku sodorkan uang lima belas ribu. “Kembaliannya, ambil saja”
Penjual itu mengangguk dan tersenyum. Sudah hampir jam sembilan pagi. Masih sepi pembeli. Sesekali penjual itu tertunduk malu. Lega rasanya jika sudah membantu orang. Rejeki yang kita terima, tidak semua itu menjadi milik pribadi. Namun sebagian itu adalah milik orang-orang yang sedang membutuhkan. Itulah prinsip yang almarhum bapak sering ajarkan.
“Apa tidak boleh kurang?” tanya seorang gadis ketika memilih kain di lapak pinggir jalan.”lima puluh ribu ya?”
“Wah yo rugi mbak. Udah pasnya lima puluh lima ribu” kata penjual kain.
Gadis itu masih berusaha untuk menawar. Wajahnya putus asa memandangi uang lima puluh ribuan di tangan.
Langkahku mendekat ke arahnya. “Sudah ambil aja, biar aku yang bayar”
“Mister?” tanyanya melongo. “Sedang apa disini?”
Aku menggeleng tak bergeming. Setelah menyerahkan uang lima puluh lima ribu pada penjual. Dengan cepat beranjak meninggalkannya. Kakiku bergerak cepat menuju tempat parkir. ‘Astaga, apa yang telah aku lakukan tadi?’ lirihku dalam hati. Pikiran bergulat pada kejadian barusan. Menolong gadis itu lagi, ah kenapa harus dia? Berkali-kali bertanya pada diri sendiri dan tak kunjung ada jawabannya. Lagipula aku tidak terlalu mengenalnya. Hanya sempat mengamatinya saat dia di kampus. Selebihnya tidak ada pengamatan khusus.
***
Esoknya, jam - jam sore sangat lambat. Kedua mataku tak tertahankan. Berat dan pandangan di layar laptop sudah mulai berkurang. Sebentar lagi, masuk kelas. Aku ingin segera pulang dan istirahat. Sepertinya harus tertunda karena Amir sedang ada urusan. Otomatis aku yang menghandle tempat kursus ini.
“Cepat keluarkan alat tulis kalian” perintahku sambil membagikan beberapa lembar soal. “Hari ini Mr. Amir tidak datang. Selesaikan dan segera kumpulkan.”
Para siswa sedang mengerjakan soal tanpa suara. Soal untuk siswa kelas satu SMP tidak begitu rumit. Kurang lebih dua puluh menit. Mereka selesai mengerjakan tugas dan pulang. Tak lupa aku menutup dan mengunci pintu pagar tempat kursus.
“Devi…?” tanyaku terperanjat. “Kau membuatku terkejut. Ada apa?”
Gadis itu hanya menunduk. Sesekali terisak. Tas ransel terlihat berat di punggungnya. Dan dia juga tidak membawa sepeda.
“Di mana sepedamu?”
Tidak ada jawaban.
“well, jika kau tidak mau menjawab. Dan masih saja menangis. Teruskan saja, tapi sekarang aku harus pergi”
“Wait sir…” ucapnya pelan. Dan tangannya meraih lenganku. “I need to talk….”
Akhirnya, tanganku membuka pintu pagar kembali dan kami bicara di teras. Devi menceritakan tentang masalah. Lebih tepatnya masalah keluarga. Kedua orang tuanya berencana bercerai. Dan sekarang ibunya sudah tidak ada di kota ini. Wajahnya pucat dan murung. Isakannya juga berhenti.
“What can I do for you?”
“Nothing. Thank you for your time”
“No problem, if you need friend….text me”
__ADS_1
“Tapi Mister gak pernah balas sms atau mengangkat telponku”
“Sibuk,” jawabku singkat. “Sudah malam sebaiknya kau pulang”
Dia menggeleng dan semakin mengeratkan jemari yang kecil dan mulus pada jemariku. Kulitnya dingin. Dia butuh teman dan sesuatu yang bisa membuatnya nyaman. Masalah keluarga memang bukan urusanku, tapi kali ini aku kasihan melihatnya.
“Apa rencanamu?”
“Aku mau pergi ke Banyuwangi untuk menemui ibuku. Dan tidak akan kembali”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Aku tidak peduli”
Kulingkarkan lenganku di pundaknya. “Apapun yang sudah menjadi keputusan orang tuamu. Terima dan hadapi. Sekarang pulanglah pada ayahmu. Beri waktu pada mereka sampai keadaan membaik”
“Aku tidak mau tinggal bersama ayah yang egois dan kasar” rengeknya manja.
“Ayahmu kasar karena memang kau selalu merepotkan dan berisik,” ujarku pelan. “kali ini kau harus mendengarkanku, berubahlah dan menjadi pribadi yang tangguh.”
Dia menatapku lekat-lekat. Matanya sembab dan merah. Kemudian mengangguk pelan dan melepaskan jemarinya. “Tapi Mister janji ya, angkat telponku walau hanya sebentar. Jangan lupa balas sms ku juga”
“Iya. Ayo aku antar pulang”
Sepanjang perjalanan pulang. Kedua tangannya melingkar di pinggangku. Dan kepalanya menyandar di punggung. Bibirnya mendekat di telingaku, “Terima kasih, aku akan selalu mengandalkanmu.”
Napas ini tertahan sebentar. Mendengar ucapannya. Begitulah kepolosan gadis remaja. Lemah, tumpul dan tidak berdaya. Aku benci situasi ini. Suara itu membuatku merinding. Sebagai guru, tugasku tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Agar dia punya pendirian dan karakter. Ada sedikit kebanggaan, menjadi orang yang selalu diandalkan. Tapi itu bukanlah sesuatu.
Motor berhenti di depan pagar warna hitam. Seorang pria berkumis tebal membuka gerbang dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya. Kedua matanya seperti burung elang yang sedang kelaparan. Dan siap menerkam mangsa.
Kami segera turun dari sepeda motor. Sapaan ramah dan sopan aku haturkan. Tidak ada jawaban. Devi menatapku dan mengangguk pelan. Kemudian masuk ke halaman rumahnya.
“Bukan. Saya Purwaka, guru les di smart English” jawabku hati-hati.
Wajahnya muram berubah menjadi seulas senyum tersungging.”Walah, Ngapunten Pak. Monggo pinarak”
“Matur nembah nuwun. Sampun dalu kulo pamit rumiyen” ungkapku sopan dan mulai menuntun motor hingga keluar pagar.
Pikiranku sedikit khawatir dengan Devi. Aku sangat mengenalnya. Dia gadis yang penuh percaya diri dan cerdas. Ternyata saat merasa buruk dia menjadi lemah. Perangainya yang berapi-api bisa padam. Meringkuk dan mendekat padaku. Harapanku tidak banyak, semoga dia bisa menjadi lebih dewasa dan kuat. Perceraian memang bencana bagi anak-anak. Tak heran jika banyak anak-anak frustasi, hilang arah, kurang percaya diri dan cengeng. Tapi waktu terus berjalan, mau tidak mau, siap tidak siap, korban broken home harus bisa dewasa lebih cepat. Menyalahkan orang tua atau diri sendiri, itu tidak akan berguna dan tidak akan berarti apapun.
***
Kecerdikan Devi memang patut di pertimbangkan. Mulai dari penampilan dan tindak tanduknya. Rambutnya lurus terurai panjang dan rapi. Begitu kulitnya juga semakin mulus dan putih. Termasuk dari caranya berpakaian. Dia lebih sering menggunakan dress selutut motif bunga-bunga. Olesan tipis juga menghiasi wajahnya. Sepertinya dia sudah matang dan aku perlu mengujinya. Apakah perubahan dalam dirinya itu murni karena keinginannya? Atau dia lakukan semuanya untuk menyenangkanku.
Dia sudah tidak pernah lagi mengeluh akan kehidupannya yang malang. Walaupun sikap manjanya masih tetap ada.
Malam minggu ini setelah gajian dari pak
Surya. Aku langsung ke Gramedia. Setelah membayar di kasir dan turun ke lantai satu. Ponsel berdering. Tertera nama Devi.
“Iya, sebentar lagi aku kesana” jawabku dan mematikan ponsel.
Gadis itu ingin aku menemuinya di alun-alun. Astaga benar-benar menggelikan. Setiap senin - jumat sore, kami selalu bertemu di tempat kursus. Tak lupa setiap malam dia juga sering sms dan telpon. Semua itu aku rasa sudah cukup dekat. Lalu apalagi yang dia inginkan?
“Cepet banget nyampenya. Baru beberapa menit aku telpon.”serunya berbinar
__ADS_1
“Kebetulan tadi sedang di gramedia. Ada apa?”
“Besok aku mau menemui ibuku,” jawabnya tenang. “Ayahku juga sudah membelikan tiket kereta.”
“Well, take care dan salam untuk ibumu”
“Kita akan pergi bersama-sama”
“Maksudnya?”
“Iya, kita. Aku dan Mister akan ke Banyuwangi besok.”
“Aku tidak bisa ikut, besok ada urusan”
“Tapi aku sudah bilang sama ayah, kalau kita akan pergi bersama”
“Kau bisa pergi sendiri. Jember - Banyuwangi tidak terlalu jauh”
Hening. Aku enggan membuka pembicaraan. Firasatku mengatakan beberapa menit lagi gadis disampingku akan merajuk atau bertingkah. Kami duduk di bangku taman. Beberapa sepasang kekasih berlalu lalang. Beberapa keluarga dan anak-anak kecil berlarian.
“Mister sudah punya pacar apa belum?”
“Belum. Karena belum ada yang cocok”
“Mister sukanya wanita yang seperti apa?”
Deg. Akhirnya terjawab sudah dugaanku selama ini. Devi melakukan perubahan bukan karena dirinya sendiri. Melainkan untuk mendapatkan sesuatu. Dasar wanita. Aku benci tipe-tipe seperti ini. Seperti politisi saja. Berusaha tampil terbaik untuk mendapatkan sesuatu.
“Kok gak dijawab?” tanyanya penasaran.
“Entahlah aku belum memikirkannya”
Dia berlutut dan meraih kedua tanganku. “Aku mau jadi pacarnya Mister?”
Aku menggeleng dan tertawa. “Well, akting yang bagus. Ayo aku antar kau pulang.”
“Aku serius. Dadaku sering dag dig dug saat ketemu Mister. Saat-saat bersama seperti ini, membuatku hidupku terasa lengkap”
“Berapa nilai toeflmu kemarin? Sudahkah mencapai nilai 600?”
“Jangankan 600. Nilai 400 saja aku belum mencapainya. “Eh, tapi. Kenapa tiba-tiba tanya soal nilai?”
“Jika sudah mencapai nilai 600, kau bisa mengatakan hidupmu terasa lengkap.”
“Aku janji akan berusaha keras. I love you Mister Purwaka.”
“Untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Seseorang harus berproses melalui belajar dan latihan. Begitu juga dengan LOVE, tidak semudah itu diungkapkan. Harus ada prosesnya.”
“Kalau gitu Mister ajarin prosesnya LOVE”
“No. Devi kau itu muridku. Sebagai guru aku hanya peduli terkadang cemas pada hal-hal yang menimpamu. Jangan salah mengartikan perlakuanku selama ini.”
“Apa karena aku belum dewasa?”
“Dewasa atau belum itu bukan ukuran. Hanya saja aku tidak merasakan apapun”
__ADS_1
“Kita bisa mencobanya. Seiring waktu Mister pasti menyukaiku. Hanya perlu sedikit waktu. Ya, sebentar lagi aku lulus SMA.”
Benar-benar keras kepala dan merepotkan. Situasi yang tidak aku sukai. Tanpa bicara, kupercepat langkahku dan meninggalkannya. Bagaimana mungkin dugaanku beberapa menit yang lalu menjadi nyata. Astaga, ini benar-benar sebuah keburukan. Perlakuanku selama ini di salah artikan. Diterima dan diresapi dengan pikiran yang konyol. Remaja tak berdaya sedang mengumbar kegilaan yang dengan mudah dia menyebutnya cinta. Devi tergila-gila padaku. Sangat memalukan!