
Setiap hari semakin banyak kesibukan. Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Niat dan kerja keras masih berproses, tak hanya dari Universitas saja penghasilanku berasal. Namun dari tempat kursus bahasa inggris dan percetakaan juga. Kurang lebih dua minggu aku bergabung di percetakan milik Arif. Sebuah percetakan yang menerima jasa cetak undangan, fotokopi, photo editing, buku dan skripsi. Ketelitian dan kejujuran sangat dibutuhkan, tugasku mengurus keuangan.
Arif merasa kewalahan mengatur keuangan dalam usahanya. Mengingat statusnya sebagai pegawai negeri dan seorang ayah. Istrinya baru melahirkan, kerepotannya pasti bertambah.
Terkadang harus aku akui, bahwa kesendirian ini tidak selamanya menyenangkan. Seluruh waktu habis di tempat kerja, saat pulang sering merasa sepi. Tidak ada yang menyambut. Belum lagi jika malam tiba, saat sembahyang beberapa pertanyaan bersarang. Sampai kapan aku begini? Hidup sendiri, kaku dan terus berhemat.
Hidup di perantauan banyak yang harus di pertimbangkan. Tetap tinggal disini untuk waktu yang lama atau kembali ke kota kelahiran. Sudah pantaskah kembali? Mengingat prestasi atau jodoh yang dinanti belum juga ada. Semua masih rahasia. Lagi pula, mana ada wanita yang bersedia berkomitmen dengan pria payah dan miskin sepertiku. Bisa bertahan hidup saja sudah bersyukur tiada tara.
Aku basuh muka sebelum tidur. Kemudian naik ke ranjang. Bersandar pada bantal, tiba-tiba teringat almarhum bapak. Sosoknya selalu mengkhawatirkan anak-anaknya.
Sidoarjo, 14 Desember 2007.
Aku turun dari motor. Senyum mengembang melihat dua orang yang paling aku cintai, hormati dan banggakan. Mereka adalah bapak dan ibu. Bercengkrama duduk di teras. Secangkir kopi dan jagung rebus selalu menjadi pelengkap. Seperti biasa aku duduk di samping bapak yang tengah membersihkan kacamata.
“Fira, sudah telpon?” tanyanya. “Hampir magrib kok belum ada kabar.”
“Belum pak. Mungkin masih sibuk. Jam tiga tadi tak telpon gak diangkat.”
“Aku khawatir. Dia anak perempuan kalau ada apa-apa, bagaimana?”
Ku perhatikan wajah mereka yang lebih sering menatap ke ponsel di meja. “Gak usah khawatir. Mbak Fira sudah dewasa. Kalau ada apa-apa pasti telpon.”
Bapak menatapku lalu menghela napas panjang. “Nanti kalau bapak sudah gak ada. Tolong titip ibu dan kedua kakakmu. Bapak mengandalkanmu.”
“Beres pak!” sahutku cepat. Tanganku meraih jagung rebus yang masih hangat.
——
Seluruh tubuh menggigil. Kedua kaki bergetar. Mengingat kata-kata itu. Celaka sekali. Aku tidak bisa diandalkan, saat bertengkar dengan Mbak Fira. Aku memilih pergi. Semoga Mbak Jani dan Ibu dalam keadaan baik dan sehat di sana. Segera ku matikan lampu dan menutup mata.
***
Ponsel berdering saat aku menuangkan sedikit madu dan air hangat pada cangkir. Keningku berkerut. Tertera nama Mbak Jani memanggil.
“Halo, ada apa Mbak?”
“Pak Dosen, tangine isuk-isuk,” serunya ramah. “Sehat Pur?”
“Sehat.”
“Safira mari teko omahmu?”
“Iyo, moro-moro kon tanda tangan. Emoh aku.”
“Bener. Aku yo gak tanda tangan. Wes tak urusi, omah sing ning Klurak wes tak bayari.”
“Syukurlah.”
“Tapi, duite kurang lima juta.”
“Aku enek iki, kiro-kiro engko jam 12 tak transfer.”
“Tenane?”
“Iyo, wes ora usah khawatir. Penting Ibuk gak kepikiran. Omah kui kan siji-sijine peninggalan Bapak.”
“Suwun yo.”
“Salam buat Ibu.”
Percakapan berakhir. Urusan dengan Mbak Fira selesai. Tidak banyak yang aku perbuat. Tapi setidaknya sudah membantu. Sehingga rumah itu tidak dijual.
Setelah pulang dari percetakan, aku segera ke Bank. Beban yang sempat melemahkan, kini teratasi. Tidak sabar menunggu waktu libur panjang dan pulang ke Sidoarjo. Lagi-lagi itu hanya rencana. Jika liburan ini banyak pekerjaan, itu artinya aku harus tetap bekerja. Sore ini, sepulang mengajar dari kampus. Aku memilih beberapa pakaian yang pantas untuk acara syukuran rumah baru milik Bayu. Di perumahan gunung batu.
Tamu-tamu yang hadir dari kalangan seprofesi, kerabat dan teman-teman Bu Laras. Deretan wanita-wanita cantik, berkelas dan anggun. Mereka tampil dengan balutan kain batik. Sementara para pria memakai kemeja berbalut blazer hitam. Semuanya menawan, kecuali aku. Kemeja putih polos dan celana panjang warna hitam. Terus terang, aku tidak tahu bahwa mereka mengenakan dress code tertentu.
Bu Laras memakai dress batik panjang berwarna gold. Rambutnya digelung ke belakang. Sedikit riasan ringan di wajah, membuatnya menarik untuk diperhatikan. Perangainya yang cerdas dan penuh kehati-hatian seolah-olah kata ‘sempurna’ cocok untuknya. Bayu juga terlihat gagah untuk mendampingi wanita itu.
Lima menit yang lalu aku mengobrol dengan Pak Surya. Seputar anak-anaknya dan pekerjaan. Ku lirik seulas tatapan dingin dari sang pemilik rumah. Dengan cepat aku mengakhiri obrolan. Kemudian berdiri di samping pintu kaca mengarah ke taman belakang. Terlihat kolam renang dan taman kecil di sekelilingnya. Kalian tahu, rumah ini benar-benar seperti istana. Seluruh ruangan bernuansa gold dan perabotan kayu jati dengan kualitas terbaik. Halamannya juga luas.
Amir mengajak untuk bergabung dengan yang lain. Aku hanya mengangguk dan belum berpindah tempat sekalipun.
Bu Laras berjalan ke arah kami.
“Kalian pasti penasaran dengan desain kolam renang dan taman kecil di sana,” katanya ramah. “Mari, akan saya tunjukkan.”
Pintu kaca dibuka, kami mengikutinya masuk. Kolam renang berwarna biru. Tak jauh dari pintu ada kursi panjang berwarna putih. Di bagian alas duduknya berlapis beludru halus.
“Duduk di sini, sir ….” pintanya melirikku.
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak akan duduk di tempat Bayu.”
Amir berdehem pelan. Kami tidak bergeming. Larut dalam pikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian, aku putuskan untuk pergi. Meskipun acara belum selesai. Dadaku terasa nyeri atas perlakuan Bu Laras. Begitu juga dengan kata-katanya beberapa waktu yang lalu. Bagaimana dia dan Bayu menilaiku. Mereka menertawakanku. Dan kata-kata mereka masih menancap hingga detik ini.
Entah aku yang terlalu kecewa atau perasaanku saja yang sedang diliputi rasa kesal. Sejak pertama masuk ke rumah itu. Tenggorokan tercekat, tidak menyangka Bayu bisa sukses besar. Sementara aku bukanlah siapa-siapa. Namun Bu Laras juga berusaha memancarkan aksinya padaku. Tak heran Bayu melirik angkuh dan dingin.
“Aku pulang dulu,” gumanku melewati Amir yang sedang mengobrol dengan beberapa orang.
Naluriku berusaha menarik keluar dari lingkungan itu. Pergi adalah langkah terbaik. Daripada berkumpul tapi seperti tidak dianggap sama sekali.
“Mau kemana!” teriak Amir mengikuti langkahku. “Tunggu, apa terjadi sesuatu antara kau dan Laras?”
“Tidak,” jawabku singkat dan menghentikan langkah.
“Miris sekali jika kesuksesan dinilai dari jabatan, rumah mewah dan wanita cantik,” ujarnya. “Seperti kau perlu mengetahui beberapa hal seperti ….”
“Apa?” Aku memotong pidato darinya. “Kenyataannya memang begitu. Dan aku seperti tikus menyedihkan yang tinggal di pinggiran kota.”
“Ada wanita cantik duduk menyendiri di antara tamu-tamu,” katanya berusaha membujukku. “Mungkin, itu akan membuatmu lebih baik. Well, aku bisa mengenalkannya padamu, bagaimana?”
“Aku tidak akan pernah pantas untuk siapapun,” jawabku pelan. “Coba tanyakan padanya, bersediakah dia berkenalan dengan pria miskin.”
Amir terdiam dan langkahnya berhenti.
Tanganku meraih helm yang menggantung di spion. Tanpa memperdulikan Amir. Aku segera keluar dari halaman rumah itu. Selama perjalanan, terselip kesedihan. Melihat salah satu teman akrab mencapai sukses, sementara kita masih jalan di tempat.
Aku pun melesat cepat di sebuah belokan arah ke kompleks perumahan dan nyaris menabrak pengendara sepeda dari arah berlawanan. Saat aku mengerem motor dan terhuyung turun. Mataku memperhatikan pengendara sepeda itu. Seorang gadis turun dan menuntun sepedanya. Sekilas wajahnya tidak asing.
“Bening!” teriakku lalu mematikan motor kemudian berjalan ke arahnya. “Hampir saja, lain kali kalau naik sepeda hati-hati.”
“Mister berbelok tidak menyalakan lampu reting,” ujarnya pelan. “Itu juga membahayakan pengendara lain.”
Selama beberapa detik, kami saling bertukar pandang. Sepertinya tidak satu pun ingin melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Ketika, gadis itu bersiap naik sepeda. Aku berkata santai, “Ada yang ingin aku tanyakan. Aku tunggu di warung sebelah TK.”
“Mister,” katanya melirik jam tangan. “Jangan sampai lebih dari jam sembilan. Karena kossan tutup jam segitu.”
Aku mengangguk dan mengambil motor. Sekarang pukul 8 malam. Itu artinya, pembicaraan nanti harus efektif dan sesuai dengan keinginanku. Sial! Otakku tidak bekerja cepat. Begitu juga perut melilit. Terakhir kali makan pukul 10 pagi tadi.
Suasana warung sedang sepi. Hanya aku dan Bening. Pemilik warung sedang menyiapkan pesanan, segera aku membuka pembicaraan.
“Kau dari mana?” tanyaku melirik bungkusan penuh pada keranjang sepeda.
“Mengambil pesanan. Sekalian membeli benang.”
“Bukan.”
“Merajut?”
“Bukan. Saya menyulam strimin untuk taplak meja dan sapu tangan,” jawabnya hati-hati.
“Membosankan dan pekerjaan bodoh. Apa kau menyukainya?”
“Sedikit. Itu pekerjaan yang membutuhkan kesabaran.”
“Lantas kenapa kau melakukannya? Banyak yang kau bisa kerjakan seperti menjadi penulis artikel, editor atau penerjemah.”
“Apa Mister yakin saya bisa melakukan pekerjaan itu?”
“Harusnya begitu. Mungkin kau sudah berusia 25 tahun atau lebih. Jadi itu akan membuatmu lebih baik setelah lulus nanti.”
“Saya masih 22 tahun. Tapi saya tidak punya relasi untuk pekerjaan itu.”
“Teman-temanmu. Apa kau tidak minta bantuan mereka?”
“Teman-teman seperti apa, yang Mister maksudkan. Mereka tidak akan peduli dengan apa yang saya alami.”
“Kalau begitu mereka juga patut disalahkan atau pola pikirmu yang harus di rubah.”
Bening menatapku sekilas. Keningnya berkerut, kemudian menggeleng.
“Jika kau hanya memiliki keterampilan mengajar saja, itu tidak akan cukup membantu. Menyedihkan memang tumbuh di lingkungan miskin dan kurang peduli pada pendidikan,” ujarku melirik ke arahnya.
“Ya, saya tahu Mister.”
“Tentu saja kau tahu. Hanya pekerjaan remeh yang cocok untukmu.”
Mulutnya berusaha untuk bicara. Namun dia memilih diam dan menganggap pembicaraan ini selesai. Perangainya tidak berubah sama sekali, tetap tenang dan tidak menyangkal setiap kata-kataku. Semakin mendorongku untuk lebih menggali sesuatu dari dalam dirinya.
“Berapa upah yang kau dapat dari menyulam?”
__ADS_1
“Tidak banyak. Tapi cukup untuk membeli beberapa buku.”
Pesanan kami datang. Dua gelas teh hangat tanpa gula. Sengaja aku tidak memesan makanan, karena hanya mie instan dan aneka minuman yang tersedia disini.
Setelah minum teh. Aku masih menunggunya, mengatakan sesuatu. Terlihat dari raut wajah yang berbeda dari sebelumnya. “Tidak perlu ragu, jika kau ingin menyanggah kata-kataku.”
Lagi-lagi dia menggeleng.
“Bagaimana kalau membahas hal lain. Darimana kau belajar menyulam?”
Seulas senyum terbit di bibirnya. “Ibuku yang mengajari menyulam. Hal kecil yang sering dipandang sebelah mata.”
“Berarti ibumu penyulam yang terampil. Pasti karyanya sudah banyak. Apa ibumu juga yang menyuruhmu kuliah?”
“Karya-karya ibu hanya dipajang di rumah. Mengenai kuliah, itu keinginan saya sendiri.”
“Benarkah? Apa alasanmu kuliah?”
“Memperbesar peluang, berlatih untuk bisa bertahan di bawah tekanan dan orang tua pasti bangga melihat anaknya memakai baju toga.”
Kali ini aku tersenyum mendengar penuturannya. Cukup berkesan dan sesuai dengan dirinya. Setelah berbagai pertanyaan dan pendapatku yang panjang. Dia bisa mengatasinya dengan cukup damai dan tenang. Luar biasa. Rasa penasaranku sedikit terjawab, namun tidak semuanya.
Bening berdiri kemudian mengambil sesuatu dari keranjang. “Ini sebenarnya untuk Iskan, tapi dia tadi bilang tidak bisa. Mungkin Mister bisa membantu jika ada waktu luang.”
Amplop warna putih. Tanganku membukanya pelan-pelan dan membaca isinya. Sebuah undangan, untuk menjadi juri ‘Story Telling’ tingkat TK pada hari senin pukul sepuluh pagi. Aku belum memberikan jawaban atas undangan itu. Hanya tersenyum dan menatapnya sekilas. Pukul sembilan kurang lima belas menit. Kami berpisah dan mengucapkan selamat malam. Dari kejauhan aku berdiri, untuk memastikan dia sampai ke kosan dalam keadaan baik.
***
Arif banyak cerita tentang pengalaman saat minggu pertama mengajar di sini. Mulai dari karakter mahasiswa secara umum dan beberapa dosen yang agak kurang ramah dan suka menjatuhkan. Sesekali aku mengangguk dan berpikir sejenak. Itu artinya disini harus ekstra hati-hati.
“Sebaiknya kau jangan terlalu ramah,” ujarnya membuang puntung rokok. “Mereka bisa saja mengejutkanmu.”
“Kerumitan mereka adalah hiburan bagiku.”
Arif terkekeh.
Kulirik jam di pergelangan tangan. Pukul setengah sepuluh pagi. Undangan dari Bening jam sepuluh. “Aku pulang dulu ada urusan.”
“Kau mau ke percetakan?” tanya Arif penasaran.
“No,” jawabku cepat. “Nanti malam saja aku kesana.”
Terdengar seseorang memanggil namaku. Aku dan Arif menoleh. Langkah kami terhenti tak jauh dari tempat parkir. Gadis berambut lurus dan berpakaian casual menghampiri kami. Tangannya membawa paper bag kecil.
“Salad buah, untuk Pak Pur,” Katanya sambil menyerahkan paper bag kecil.
“Apa kau jualan?”
“Tidak, itu gratis untuk Bapak. Saya Kartika dari FKIP Ekonomi, semester tiga. Kalau ngasih materi jangan banyak-banyak.”
“Terimakasih, tapi aku sedang puasa. Ambilah ….,” ucapku sambil mengembalikan paper bag tadi. “Nice to meet you, Kartika.”
Aku dan Arif meninggalkan gadis itu. Tidak bisa dipercaya, mereka pikir aku menerima sogokan atau sejenisnya. Ah dasar wanita, terkadang idenya konyol dan berlebihan. Arif menjelaskan padaku. Seperti itulah mahasiswi menegur pengajar (Dosen). Sebelumnya memang belum pernah terpikirkan.
Pesan singkat terkirim. Beberapa detik kemudian ponsel berbunyi. Balasan pesan dari Bening. Senyumku mengembang dan rasanya ingin cepat-cepat bertemu. Bersamanya aku merasakan ada kedamaian yang terpancar manakala mata kami bertemu dan ketulusan lewat lisannya yang lembut. Tidak akan aku sia-sia kan waktu untuk bisa masuk ke dunianya.
Blazer warna coklat susu dan celana panjang hitam. Tidak ketat ataupun longgar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi. Riasan wajah yang tipis, rambut di kuncir agak tinggi serta poni menyamping yang sedikit berantakan. Beberapa helay menutup keningnya membuat rahangnya terlihat tegas. Tak lupa, bibirnya kini sedikit berwarna. Tidak mencolok namun berseri. Sederhana dan enak di lihat. Sebenarnya Bening tidak terlalu biasa-biasa saja, tidak sempurna dan tidak masuk kategori cantik. Entah kenapa mataku belum beranjak darinya.
“Mister, sudah dari tadi disini?” tanyanya pelan dan hati-hati. “Mari, langsung masuk saja ke Aula.”
“Ya,” jawabku mengangguk dan melempar pandangan ke sekeliling. Rasanya aku gugup sekali, berjalan di sampingnya. Mataku melirik ke arahnya. Dia sibuk dengan beberapa map di tangan. Sesekali melirik jam tangan. Hingga kami sampai di depan Aula.
Banyak sekali anak-anak. Kostum mereka juga lucu-lucu. Bangku penonton penuh dengan wali murid. Bening mengenalkanku pada wanita memakai baju warna hijau.
“Ini yang namanya Iskan?” tanya wanita berbaju hijau.
“Bukan bu, ini Mister Purwaka. Dosen saya,” jawab Bening. “Iskan tidak bisa hadir.”
“Walah, Ngapunten. Monggo pinarak Pak, saya Bu Naliyah kepala sekolah TK Tulip,” Katanya ramah.
Bu Naliyah mengantarku ke meja Juri. Di sebelahku ada pria berkumis tebal dan kepala agak botak. Di belakangku ada tiga juri perempuan. Pria itu kepala sekolah SD, Pak Fahmi namanya. Kami berbincang-bincang sebentar sebelum acara dimulai. Form penilaian sudah ada di depan meja kami masing-masing.
Acara pertama adalah sambutan dari kepala sekolah TK Tulip. Disusul dengan sambutan ketua panitia. Bening naik ke panggung dan memberi sambutan. Bahasanya santun dan luwes. Tidak kaku ataupun demam panggung. Ini adalah kesempatan untuk memotretnya. Ku raih ponsel dan mulai memotretnya diam-diam. Lanjut ke acara pembukaan story telling. Sangat lama, ketika anak-anak menyanyikan lagu twinkle-twinkle little star. Berisik dan tidak jelas. Seperti suara anak ayam berkotek. Begitu pula ketika salah satu siswa mulai berdiri dan bercerita tidak ada yang bagus. Berantakan, berdasarkan kesimpulanku acara ‘story telling’ ini gagal total.
Pukul sebelas tiga puluh menit. Sisa kurang lebih lima peserta lagi yang akan tampil. Sepuluh menit digunakan istirahat sambil membahas hasil sementara dengan beberapa juri-juri lainnya. Aku melihat Bening memijat keningnya duduk di depan kelas. Sementara tangannya seperti sedang menulis sesuatu. Saat itu juga aku menemuinya dan memberikan sedikit komentar terkait acara ini.
Gadis itu mendesah pelan. Menunduk lalu menutup bukunya. “Mister benar, aku bukanlah guru yang terampil. Dari pengalaman ini aku akan banyak belajar lebih giat lagi.”
“Jika kau memiliki pengaruh. Mungkin acaranya tidak akan seburuk ini. Sebaiknya kau mencari pekerjaan lain daripada harus menghadapi monster-monster kecil.”
__ADS_1
“Aku menyukai mereka. Anak-anak itu jujur, polos dan selalu riang. Tidak seperti orang dewasa yang penindas dan palsu,” kata Bening berdiri. Mengangguk pelan dan berjalan ke Aula.
Nampaknya dia perlu hiburan atas ketidakberhasilan ini. Tidak ada yang peduli padanya. Lewat nada bicara yang berat di dengar. Pendirian yang dimilikinya tidak goyah dalam sekejap. Suatu saat dia akan terbentuk menjadi pribadi yang tangguh. Itulah pengamatanku.