Crush On You

Crush On You
Dijemput


__ADS_3

Mika kini berada di kamarnya, dia teringat dengan aktivitas nya satu hari ini. Dimana Jefri mengajaknya untuk makan siang bersama dan apalagi saat dia menyuapi Arkan makan, Jefri selalu memperhatikannya. Apalagi cara tatapan dan cara bicara Jefri sangat berbeda.


"Mika...." teriak Sonia yang baru saja pulang kerja.


Mika yang masih melamun langsung sadar karena suara teriakan Sonia. Tanpa mengetuk pintu kamar Mika, Sonia langsung membuka pintu kamar Mika dan melihat Mika sedang rebahan di kasur. Dengan wajah bahagia Sonia langsung berlari dan ikut berbaring di atas kasur.


"Katakan bagaimana rasanya jadi sekretaris Jefri? Apa dia yang meminta mu untuk jadi sekretarisnya?" Sonia benar-benar sangat terkejut saat Mika memberitahu padanya kalau dia jadi sekretaris Jefri mulai hari ini.


"Son, aku benar-benar sangat bingung" ucap Mika sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Bingung kenapa?"


"Kamu tahu sendiri bagaimana sikapnya Jefri yang sangat dingin dengan ku dulu dan apalagi beberapa hari yang saat kami di Bandung dia tampak sangat dingin dengan ku. Tapi tiba-tiba semalam dan hari ini sikapnya berubah total!"


"Benar juga..." ucap Sonia sambil memikirkan apa yang dikatakan Mika.


"Oh, ya aku lupa..." ucap Sonia yang tiba-tiba teringat dengan tujuannya ke kamar Mika. Sonia langsung menoleh ke arah Mika dan menatap Mika dengan tersenyum jahil.


"Bagaimana? Katakan saja yang kamu lakukan jadi sekretarisnya?" tanya Sonia yang sangat antusias mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"Memang kerjaan sebagai sekretaris apa? Itulah yang aku lakukan! Memang apalagi?"


"Ya, mana tahu dia ngajak mu untuk ngobrol..."


"Tidak ada, hanya saja dia meminta bantuan ku untuk mencari sekolah yang bagus dekat perusahaan untuk Arkan..." ucap Mika


"Sekolah?"


"Ya...."


"Mi, Jefri menghilang hanya dua tahun lebih tapi dia sudah memiliki anak umur Lima tahun. Apa jangan-jangan alasan dia pindah karena anak itu?" tanya Sonia dengan penasaran.


Mika pun jadi ikut-ikutan memikirkan apa yang dikatakan Sonia. Mika teringat dengan perempuan yang dia lihat dua tahun lalu saat dia ke cafe, dimana ada Jefri sedang ngobrol dengan seorang wanita.


"Mi, kenapa bengong?" tanya Sonia karena Mika tampak bengong.


"Tidak apa-apa! Aku mandi dulu!" ucap Mika yang tidak ingin berpikir lebih jauh.


...----------------...


"Kakek, nenek...." teriak Arkan saat dia masuk kedalam rumah dan melihat kakek dan neneknya sedang minum teh...

__ADS_1


Dengan bahagia Arkan langsung duduk di antara kakek dan neneknya. Sedangkan Jefri duduk di sofa yang kosong.


"Sepertinya cucu kakek tampak bahagia..." ucap Ridwan sambil mengelus-elus kepala Arkan.


"Besok Arkan ikut dengan papa lagi ya..." ucap Arkan dengan tersenyum.


"Kenapa? Apa Arkan sangat senang dikantor papa?" Arkan langsung mengangguk kepalanya dengan cepat.


"Arkan mau sama mama..." ucap Arkan bahagia karena dia teringat Mika selalu menemaninya bermain dan mengajarinya.


Mendengar ucapan cucunya, Ridwan langsung menoleh ke arah Jefri yang duduk di hadapannya.


"Bagaimana, Jef? Apa sekretaris yang papa pilih bekerja dengan baik?" tanya Ridwan sambil menatap Jefri yang tampak sangat dingin.


"Ya!" jawab Jefri dengan singkat.


Ridwan dan Maura langsung saling tatap dengan tersenyum. Mereka tahu walaupun saat ini reaksi putra mereka tampak biasa saja, dalam hati Jefri bahagia. Soalnya mereka sangat mengenal watak putra mereka, kalau putra mereka tidak ingin ada perempuan yang berkeliaran di depan kantornya. Sewaktu Jefri mengambil ahli perusahaan mereka yang dl luar negeri sambil kuliah, Jefri tidak mengijinkan ada perempuan yang berkeliaran di depan kantornya.


"Besok Arkan ikut papa lihat sekolah untuk Arkan..." ucap Jefri.


"Tidak mau! Arkan ikut papa kerja!"


Mendengar Arkan membantah nya, Jefri langsung menatap Arkan dengan tajam dan Arkan pun langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan Jefri.


Ridwan dan Maura hanya diam saja sambil mengelus-elus rambut coklat Arkan. Mereka sangat setuju dengan apa yang dikatakan Jefri, karena sudah waktunya Arkan untuk sekolah.


"Ma, pa! Aku ke kamar dulu..." ucap Jefri setelah menghabiskan minumannya.


"Arkan juga mau ke kamar..." ucap Arkan ikut-ikutan dengan Jefri.


Jefri pun langsung mengulurkan tangannya untuk digenggam Arkan, Arkan langsung menoleh ke arah Jefri dengan tersenyum. Keduanya pun bersama-sama pergi ke lantai atas dimana kamar mereka berada.


"Pa, mama takut kalau wanita itu datang tiba-tiba dan membuat kebahagiaan cucu kita hilang..." ucap Maura setelah Arkan dan Jefri pergi.


"Mama tenang saja, wanita masih sibuk dengan kesenangannya dan Jefri sudah menyuruh orang untuk memantau kegiatan wanita itu!" ucap Ridwan.


"CK... Papa lupa kalau wanita itu sangat licik?"


"Mama tenang saja, Jefri lebih cerdik dari pada wanita itu!"


Maura hanya menghela nafasnya, dia tahu kalau putranya Jefri begitu sangat teliti. Tapi dia masih ada rasa takut kalau tiba-tiba wanita yang dia maksud datang lagi.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan paginya Mika yang sudah bersiap-siap ingin pergi tampak sangat terkejut melihat pesan yang masuk ke nomornya.


"Nona, Mika saya dalam perjalanan menuju apartemen nona. Pak Jefri meminta saya untuk menjemput nona karena pak Jefri ingin anda untuk menemaninya ke sekolah yang nona pilih untuk tuan muda Arkan"


Semalam malam-malam Mika mengirimkan pesan pada Jefri nama-nama sekolah yang terdekat dan bagus dengan perusahaan mereka.


"Mi, Ayok cepat!" ucap Sonia yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Kamu saja duluan! Pak Doni, dalam perjalanan kesini untuk menjemput ku!" ucap Mika dengan lesu.


Sonia menatap Mika yang tampak lesu berjalan mendekati meja makan.


"Apa ada masalah?" tanya Sonia yang kuatir.


Mika menatap Sonia dengan wajah merenggut.


"Tidak! Pak Doni sedang menuju ke sini, untuk menjemput ku!"


Mata Sonia langsung membulat dan dengan cepat Sonia langsung memeluk tangan kiri Mika.


"Wah, Mi sepertinya hubungan mu dengan Jefri ada kemajuan!" ucap Sonia dengan bahagia.


"Jangan terlalu jauh pemikirannya!"


"Dengar, coba kamu pikirkan kenapa Jefri meminta pak Doni menjemput mu? Pasti ada sesuatu kan?"


"Ya, memang ada sesuatu. Sesuatu nya itu menemani Jefri untuk melihat sekolah yang ku ajukan semalam!" ucap Mika sambil memukul lengan Sonia yang memeluknya.


"Astaga Mika, kamu itu kenapa tidak juga bisa mengerti!" Sonia tampak sangat kesal karena Mika tidak juga peka.


Sonia lebih dulu berangkat kerja, sedangkan Mika masih menunggu kedatangan Doni di lobby apartemennya.


"Nona Mika saya sudah dibawah.."


Saat melihat pesan masuk dari Doni, Mika langsung bangkit berdiri dan langsung keluar dan langsung disambut dengan Arkan.


"Mama..." teriak Arkan yang keluar dari dalam mobil.


Mika pun langsung memeluk Arkan. Mika sangat gemas dengan tingkah Arkan padanya dan tidak pernah melarang Arkan memanggil nya mama dari awal mereka bertemu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2