Crush On You

Crush On You
part 12


__ADS_3

Gadis sederhana itu menikmati setiap kesenangan dan manfaat yang lebih bila berdiskusi denganku. Membahas hal sehari-hari terkait pengajaran dan beberapa bacaan. Dia suka sekali membaca puisi. Saat komentar datar dan kurang ramah terlontar dari bibirku. Dia hanya mengangguk  dan tidak menanggapi lebih lanjut. Aku sering berkunjung ke tempatnya, seminggu dua kali.


Wajahnya tidak pucat seperti dulu. Kini lebih sering berbinar. Walaupun perangainya masih malu-malu, takut bahkan ragu saat berhadapan denganku. Dan aku sudah terbiasa dengan itu semua. Hampir setiap hari melihatnya di kampus.


***


Sore itu di ruangan dosen sedang tidak terlalu banyak orang. Aku melirik jam tangan pukul dua siang, artinya satu jam lagi masuk kelas. Tanganku meraih jurnal mengajar dan membacanya sekali lagi. Tak lama kemudian segera kututup, saat kedua mata ini lelah.


Pak Heru membawa beberapa buku bersampul biru. Cukup banyak kemudian meletakkannya di meja. Pria itu mulai menyalakan laptop. Sementara tangan kanannya meraih ponsel. Aku sedikit penasaran dengan buku bersampul biru. Lalu ku langkah kaki berjalan ke arahnya. “Apa anda yang menulis buku ini?”


“Ya, untuk mempermudah mereka belajar,” jawabnya.


“Drama and Poetry.” Aku membaca judul buku itu dan mulai membuka setiap lembar. Deg! Hatiku berdesir. Teringat wajah yang selalu berbinar setiap membaca kalimat penuh diksi.


“Bening! Masuklah,” kata Pak Heru.


Aku yang sejak tadi menunduk. Tersentak dan menoleh ke pintu.


Gadis itu memakai kemeja putih, rambutnya dikuncir dengan pita merah jambu. Rok panjang bunga-bunga warna hitam. Langkahnya pelan menuju meja di samping aku berdiri.


Dia menatap sekilas lalu menundukkan pandanganya.


Dengan penuh kehati-hatian dia mendengarkan perintah dari Pak Heru, untuk menyusun buku-buku sesuai dengan absen. Posisinya berdiri di sebelahku sekarang. Selama itu pula aku bebas mengamati wajahnya inci demi inci. Rasanya ingin selama mungkin aku memandangnya.


Saat dia melirik, aku alihkan pandangan. Seperti ada getaran-getaran di dada.


Aku mengulurkan buku itu. Tanpa bicara atau melihat ke arahnya. Kemudian kembali ke tempatku semula. Sebelum keluar ruangan sesekali aku meliriknya sebentar. Bening keluar membawa buku banyak sekali. Langkahnya agak cepat. Segera aku berjalan di sebelahnya.


“Some magic has been at work on me,” ucapku pelan.


“Salah satu dialog dari The Comedy of Errors by Shakespeare,” katanya sedikit tertawa cekikikan.


“Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu.”


Akhirnya aku berjalan lebih dulu. Sementara otakku mulai berpikir, kalau saja aku mengajar mata kuliah Drama and Poetry mungkin itu sedikit menyenangkan. Akan ku ciptakan tokoh antagonis kejam dan kuat. Ah, sial! Itu semua hanya omong kosong.


Kelas berakhir pukul lima sore. Mereka keluar dengan wajah lesu. Sepertinya little debate satu jam yang lalu cukup memberi tekanan pada mereka. Yang pantas bertahan di podium hanya beberapa orang saja. Tentunya yang memiliki kemampuan speaking di atas rata-rata dan berani menyanggah. Dan yang lainnya membuat kesimpulan hasil debate untuk dikumpulkan dalam bentuk rekaman suara.  


***


Tanganku meraih buku dongeng anak-anak, buku mewarnai dan buku belajar membaca. Lanjut ke rak kumpulan psikologi. Buku berjudul Hidup Dengan Rasa Duka karya Dr Tony Lake, cukup menarik perhatian. Tanpa pikir panjang aku bawa ke kasir. Setelah membayar, turun ke lantai satu. Senyumku mengembang melihat gadis yang tengah memilih beberapa pensil warna. Keranjang di tangan kirinya sudah penuh.


“Apa kau sudah selesai berbelanja?”

__ADS_1


“Mister,” jawabnya terperanjat.


“Miss Bening!!!” teriak anak kecil berlari ke arahnya.


Zahra. Anak itu datang bersama ibunya.


“Ini bukan suatu kebetulan ,kan? Kalian berdua serasi sekali.”


Bening menjadi pucat dan gugup.


Aku mengangguk sopan pada wanita itu. “Kami kebetulan bertemu disini.”


“Sudahlah. Kebetulan ini sah-sah saja, tidak perlu gugup begitu.”


“Permisi!” kata Bening pelan. Segera menuju kasir.


Sebisa mungkin aku jelaskan pada Bu Sakinah. Agar tidak terjadi salah paham. Kalian, bisa bayangkan ekspresinya begitu riang seperti sedang melihat sebuah pertunjukan.


“Tenang saja, Pak! Saya tidak akan bilang pada siapapun,” katanya ringan. “Termasuk waktu Pak Pur jadi juri di TK.”


Aku mengangguk sopan. Kemudian wanita itu dan putrinya naik ke lantai dua.


Aku dan Bening keluar dari Toko Buku. Tidak ada pembicaraan apapun. Angkot warna kuning berhenti dan membawa kami menuju jalan Gajah Mada. Penumpangnya tidak banyak. Jadi aku duduk disebelahnya. Tepat di depan kami ada seorang Ibu membawa bayi. Suara tangis bayi itu melengking di telinga. Sepertinya tidak ada yang terganggu. Dan Bening berusaha menenangkan dengan mengusap lembut kepala bayi itu.


“Bisa,” jawab Bening cepat. Kemudian meraih Bayi itu.


Ibu itu meraih botol susu dan kipas kecil.


Bayi itu diam dalam dekapan Bening. Tangan nya juga memegangi botol susu bayi itu. Luwes dan sepertinya dia sudah terlatih menenangkan bayi.


“Terima kasih mbak,” ucap Ibu itu ramah. “Mbaknya telaten.”


Bening tersenyum.  


Aku melirik sebentar saat dia menyembunyikan senyum. Angkot berhenti, Ibu yang membawa bayi itu turun. Beberapa menit kemudian kami sampai di depan gapura masuk kompleks perumahan.


Siang ini tidak terlalu cerah dan tidak terlalu mendung. Matahari sedang meredup. Di sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh. Sebelum berpisah kami duduk di bangku panjang sebelah pos satpam.


Sengaja aku memintanya untuk membungkus buku yang kubeli tadi. Kertas pembungkus, lem dan gunting sudah ada di kresek.


Dia mulai membungkus buku tersebut. “Kado ini untuk siapa?”


“Buat anak-anak,” jawabku singkat dan menunjukkan foto dua anak laki-laki yang ada di layar ponsel. “Aku sangat menyayangi mereka.”

__ADS_1


“Sepertinya mereka seusia Zahra dan ….”


“Tidak usah berkomentar. Lagipula kau tidak mengenal mereka,” sahutku cepat memotong pembicaraannya.


Wajah berbinar yang biasanya ku lihat. Perlahan meredup dan fokus kembali pada kegiatan membungkus kado. Terus terang, aku sangat menyukai dimana perubahan wajahnya terjadi. Itu sangat menggelikan.


“Minggu depan mereka ulang tahun.”


Bening mengangguk. Keningnya berkerut dan bibirnya bergerak-gerak seolah-olah hendak bicara.


“Kau pasti berpikir, kalau mereka itu anak-anakku.”


“Saya tidak tahu.”


“Mereka adalah Arka dan Artha. Anak kakakku. Usianya sekitar lima tahun.”


“Ya.”


“Sekarang ceritakan tentang saudara kandungmu?”


“Tidak sekarang. Rasanya terlalu cepat untuk bercerita.”


“Tidak masalah, akan aku cari tahu sendiri. Hanya perlu sedikit waktu.”


Setelah memberi pernyataan itu, tidak ada jawaban atau komentar lagi. Membiarkannya bimbang dan menerka-nerka adalah hiburan buatku.


Bening berdiri dan berpamitan. Dengan cepat aku cegah. Ada beberapa hal yang juga membuatku khawatir. “Apa Bu Sakinah itu bisa dipercaya?”


“Tentu saja. Jangan khawatir. Dia bukan orang yang suka asal bicara.”


“Apa kau yakin?”


Bening mengangguk dan menatapku sekilas.


Kami berpisah di pertigaan. Tanganku merogoh ponsel dan mulai mengetik pesan singkat lalu ku kirim pada Bening. Seperti ini isinya.


[Di kampus, tidak diperbolehkan adanya kedekatan khusus antara Dosen dan Mahasiswa/i]


[Saya paham. Besok saya konfirmasi lagi kepada Bu Sakinah]


[Jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga]


Tidak ada balasan lagi darinya. Itu artinya Bening mengerti. Aku masukkan ponsel di saku. Terus terang kejadian tadi membuatku untuk lebih berhati-hati saat bertemu gadis itu. Mungkin aku hanya cukup menjatuhkan simpati, terkesima dan menikmati perangainya. Tanpa harus terus-menerus khawatir.

__ADS_1


__ADS_2