
Bus pariwisata sudah ada di depan kampus. Sore ini, beberapa mahasiswa memakai seragam KKL berlalu lalang. Kebetulan Aku, Bu Laras dan Pak Heru menjadi pendamping Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahun ini. Program tersebut akan berlangsung di Bali selama empat hari. Pesan singkat untuk Bening, sudah ku kirim sepuluh menit yang lalu. Isinya adalah, sebelum aku berangkat, ingin bertemu walau hanya sebentar di kantin.
Dia pasti ada di Aula, sedang mengikuti pembekalan KKN.
Aku memesan makanan. Sejak pagi belum sempat mengisi perut. Kantin penuh, hampir tidak ada kursi kosong. Ku lirik di pojok, ada dua kursi kosong di sebelah Iskan.
“Bagaimana seleksi volunteer kemarin?” tanyaku tiba-tiba.
“Mister? Silakan duduk,” kata Iskan. “Tidak lolos. Kendalanya, ada di motivation letter. Sepertinya tulisan saya terlalu bertele-tele.”
“Tidak apa-apa, setidaknya kau sudah berusaha.”
Ku coba menawarkan makanan atau minuman. Dia menolak dengan sopan.
Seorang laki-laki menepuk pundaknya, “Wes ta lah Jeh, tak osah sedih dek iyeh. Pah ikhlas beih, pacare be'en bik oreng laen.”
Iskan hanya diam dan menggeleng.
Hampir saja aku tersedak mendengar ucapan laki-laki itu. Perangainya agak aneh, rambutnya berwarna coklat seperti rambut jagung. Aku masih ingat, dia adalah laki-laki yang bicara di tenda tempo hari. Ya, tidak salah lagi.
Dari percakapan mereka, aku bisa menarik kesimpulan. Bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada hubungan Iskan dan kekasihnya. Jadi perubahan wajahnya begitu kentara, ada kekecewaan yang mendalam. Kasihan? Tapi anak muda memang harus terlatih dengan patah hati. Dan harus mampu berdiri tegak menghadapi urusan asmara.
Laki-laki berambut aneh itu terus saja mengoceh. Sedikit kurang sopan dan terlalu bebas. Memberi saran dan solusi, seolah-olah dia paham dan ahli dalam urusan patah hati. Hingga makanan dan minumanku habis. Dia belum juga berhenti bicara.
“Kowe iso meneng opo ora? Mumet aku, Mar!”
“Aku kan niatnya membantu.”
“Mbuh! Karepmu!”
Tidak ada pembicaraan lagi. Iskan dan laki-laki itu juga sudah pergi.
Kulirik jam di tangan, tiga puluh menit lagi berangkat. Sial! Gadis itu belum juga datang. Resah ini tidak akan berkurang sebelum mendengar suaranya, bertemu dengannya dan melihatnya.
“Mister, maaf tadi ada yang harus diselesaikan,” kata Bening tergesa-gesa dan gugup. “Sudah lama menunggu?”
“Sangat lama.”
Mudah sekali bilang maaf. Dasar wanita, selalu saja begitu. Langkahnya pelan di belakangku. Kegigihan gadis belum berkurang. Hal ini paling aku sukai darinya, tidak pernah menyerah. Sesulit apapun situasinya.
“Aku akan pergi,” ucapku pelan. “Apa kau satu kelompok KKN dengan Iskan?”
Bening mengangguk pelan.
“Begitu kembali, akan aku luangkan waktu untuk menemuimu di tempat KKN.”
“Have a good vacation,” katanya.
Saat aku dan Bening berhadapan. Terdengar suara berisik. Gerombolan mahasiswi peserta KKL menghampiriku.
“Mister, boleh minta foto, ya?” tanya gadis berkerudung pink. “Sebelum berangkat, buat kenang-kenangan.”
“Satu saja, boleh, ya? Jarang-jarang melihat Mister berpenampilan santai seperti ini,” sahut gadis berkerudung kuning.
Aku mengangguk datar.
“Eh, mbak tolong fotoin, ya!” Serunya riang dan memberikan kamera ke arah Bening.
Bening mundur beberapa langkah. Kemudian mulai memotret. Wajahnya masam, tidak seperti biasanya.
“Bagus! Satu kali lagi ya, Mbak?” pinta gadis berkerudung pink.
“Kau pikir, aku tukang foto, enak saja!” kata Bening kesal.
Setelah mendengar kata-kata Bening. Dua gadis langsung menjauh dan bergegas pergi. Wajah mereka terlihat malu. Meskipun terlihat binar-binar keceriaan, karena hasil bidikan yang bagus.
Bu Laras berjalan ke arahku. Matanya menatap tajam. Kemudian berdehem keras. “Bening, kau tidak berniat ikut ke Bali, kan?”
Bening menggeleng.
“Kalau begitu, pergilah! Kami akan segera berangkat,” kata Bu Laras dengan nada agak tinggi.
Bening menurut dan pergi.
“Well, Bagaimana dengan murid menyedihkan itu, Mister? Sudahkah Mister menemukan sesuatu yang ada di dalam dirinya?” tanyanya mengikuti langkahku yang cepat.
“Omong kosong!” Sahutku. “Aku tidak mengerti tentang apa yang anda bicarakan.”
“Ini tentang Bening. Bagaimana dengan bakat alaminya? Dalam menggoda dan menarik perhatian?”
“Bening bukan gadis yang seperti itu.”
__ADS_1
“Amatilah, Mister! Caranya bertutur kata dan bersikap seperti gadis tidak berdaya dan rendah,” katanya terus menerus menyerang. “Bagaimana pendapat anda mengenai dia? Jika anda butuh beberapa referensi, dengan senang hati akan aku berikan.”
Makhluk apa yang memasuki pikiran Bu Laras? Kata-kata yang keluar berapi-api, bahkan sulit dipadamkan. Panas dan membuat telinga berdengung. Ocehannya belum juga berhenti. Hingga aku masuk ke dalam Bus. Tidak kehabisan ide, Bu Laras mengambil tempat duduk tak jauh dariku. Sesekali melirik sinis dan mendesah kesal.
***
Setelah pulang dari Bali, aku belum sempat menghubungi Bening. Begitu pula saat di Bali, terlalu banyak kegiatan, lupa memeriksa ponsel hingga kehabisan baterai. Ada sedikit kekhawatiran, tapi aku yakin Bening pasti bisa mengatasi apapun yang menimpanya. Tanpa perlu bantuan dariku. Di sana juga banyak teman-temannya.
Sabtu, pukul tujuh pagi, awan hitam menggulung. Burung-burung bersahutan nyaring. Angin kencang dari arah selatan, membuat debu-debu bertebaran kemana-mana. Penglihatan sedikit terganggu, segera aku lap kacamata dengan kain. Sepi tidak seorang pun yang lewat. Apapun keadaan ini sama sekali tidak membuatku takut, perubahan cuaca memang sering berubah mendadak. Tanganku mengelus batu nisan bertuliskan ‘Devi Eliza.’ Kemudian melangkah pergi. Kakiku bergerak cepat keluar dari tanah kusir. Segera menyalakan motor dan pulang. Selama perjalanan tidak hambatan yang berarti.
“Nang endi ae, suk-isuk wes ngilang,” sapanya di depan pagar rumahku.
“Dari makam.”
Aku membuka pintu pagar dan mempersilahkan masuk.
“Siapa yang meninggal?” tanya Amir.
“Tidak ada. Hanya berkunjung ke makam Devi.”
“Belum lupa rupanya,” kata Amir. “Murid terkasih.”
“Sebenarnya, aku hanya kasihan.”
Tanganku membuka kunci pintu. Sejurus kemudian aku melangkah ke dapur dan mengambil minuman.
“Kau mau ikut ke Desa?” tanya Amir meraih segelas air.
“Nanti saja agak siang,” jawabku.
“Pasti menemui gadis itu, kalau tidak salah namanya Bening.”
“Jadi kau sudah mengenalnya?”
“Sedikit. Dia tidak terlalu banyak bicara,” kata Amir. “Kalau begitu aku berangkat dengan Ratna.”
“Tunggu! Kau dan Ratna?”
“Ya, setelah di pantai beberapa waktu yang lalu. Aku dan Ratna sering bertemu. Dia wisuda tahun ini.”
Aku terdiam sejenak. Berawal dari perkenalan di pantai Papuma. Amir dan Ratna, terus berlanjut. Bagaimana dengan Iskan? Ah, apa peduliku. Tunggu! Ada hal yang sedikit mengganjal. Begitu cepatnya Ratna luluh di tangan Amir. Sepertinya ini yang dinamakan keberuntungan. Setelah Amir pergi. Segera ku kirim pesan pada Iskan bahwa siang nanti, aku berkunjung ke tempat KKN.
Sesuai dengan rute yang Iskan jelaskan. Panjang dan rumit. Aku berhenti di terminal Tawang Alun. Menitipkan motor dan mencari bus yang melewati daerah kencong. Itu adalah cara yang mudah, daripada naik motor sendirian. Cuaca juga tidak mendukung. Tidak perlu nunggu lama, pukul dua belas siang, bus kentjono melaju dengan cepat. Di dalam panas sekali, tidak ada ac. Kubuka sedikit kaca jendela agar udara bisa masuk. Bus berhenti di depan pasar Balung, terus beberapa kilometers berhenti lagi di Pasar Kasiyan. Berhenti sebentar untuk menurunkan atau menyangkut penumpang baru. Hujan deras mengguyur saat bus berhenti di pertigaan pasar Gumukmas. Sengaja aku pindah di bangku depan dekat jendela. Seorang penumpang baru duduk di sebelahku. Dari penampilannya sekilas kurang lebih berusia empat puluh tahun.
Aku menoleh. “Balai desa kencong.”
“Balai desa wonorejo, Kencong itu kecamatan,” katanya ramah.
Aku mengangguk sopan. Kemudian tidak ada pembicaraan lagi. Untuk memastikan tempat yang dituju. Ku rogoh ponsel dan mengirim pesan pada Iskan. Beberapa menit kemudian ada balasan. Ternyata benar apa yang dibilang bapak di sebelahku ini. Bus berhenti di sisi kiri jalan. Kuedarkan pandangan keluar dari kejauhan Iskan berdiri sambil menatap ponsel.
“Mister!” teriaknya.
Aku menyebrang dan berjalan ke arahnya.
Tulisan balai desa wonorejo pada gapura pintu masuk. Di sebelahnya ada jalan kecil seperti gang, tertera nama MtsN kencong. Lokasinya dekat jalan raya. Di samping balai ada sebuah ruangan tertutup. Di atasnya ada spanduk yang bertuliskan “Posko 5 KKN Universitas Pillar tahun 2010-2011.”
Iskan membuka pintu ruangan tertutup tadi. Sedikit berantakan dan pengap. Gitar, papan catur, keranjang kecil berisi kain, buku dan bantal tidak pada tempatnya.
“Maaf, sedikit berantakan. Saya juga baru datang. Sejak jumat kemarin kosong. Karena kami semua ikut rapat di posko satu,” katanya. “Dan tadi pagi juga ada rapat lanjutan di tempat yang sama.”
“Dimana yang lain?”
“Libur. Kami sistem piket, kebetulan saya dan dua orang lainnya jaga hari ini. Karena di depan nanti ada pertunjukan wayang kulit, semoga saja ramai,” katanya. “Bening dan Yasmin, mungkin sebentar lagi datang.”
“Di antara kalian siapa yang rumahnya paling dekat?”
“Bening. Kurang lebih empat belas kilo dari sini.”
“Siapa Dosen pembimbing lapangan?”
“Mister Amir.”
“Berarti Amir sering ke sini?”
“Tidak pernah. Hanya memanggil ketua kelompok dan beberapa orang saja untuk hadir di posko satu,” jawab Iskan dengan raut wajah kesal.
Tanganku mulai mengeluarkan sesuatu dari tas. “Coba kau baca dulu, siapa tahu tertarik?”
“Brosur volunteer,” jawabnya berbinar. “Saya pelajari dulu.”
Suara motor berhenti. Seperti ada yang aneh. Aku duduk tidak jauh dari kipas angin, tapi terasa gerah. Mungkin karena ruangan ini pengap dan berantakan, jadi kurang nyaman.
__ADS_1
“Ah! Itu Bening dan Yasmin.”
Aku tersentak.
“Ada tamu? Siapa?” Suara Bening dari luar. “Hari ini kan libur, setahuku tidak ada agenda.”
“Mlebu sik! Takon ae,” jawab Iskan di dekat pintu. “Yasmin! Ojo dipateni motore, terno aku tuku pulsa.”
Iskan segera menyambar jaket dan tas.
“Mister, saya tinggal, ya? Mau beli pulsa modem, sebentar.”
Aku mengangguk kemudian mengikutinya keluar. Tak lama kemudian Iskan pergi.
Bening tersenyum dan mengangguk sopan.
“Good Afternoon,” sapanya.
“Good Afternoon, Aku datang untuk dua alasan, yang pertama untuk bertemu denganmu. Alasan yang kedua, memberikan brosur volunteer pada iskan.”
Tanganku merogoh paper bag kecil dari tas.
“Oleh-oleh dari Bali,” ucapku pelan.”Ini untukmu.”
Bening mengeluarkan isi paper bag. Sirkam bunga mawar merah merekah dengan hiasan manik-manik berkilauan di sekitar bunga itu.
“Ini indah sekali,” katanya menatapku. “Terima kasih.”
“I'II give you my best.”
Aku raih jari-jari kecil yang dingin. Kemudian mendekatkan punggung tangannya ke bibirku. Merangkai momen penuh kesan. Sudah lama, aku ingin melakukannya.
Tin!!! Suara klakson motor Iskan. Membuyarkan semuanya. Moment penuh kesan itu tidak terjadi. Iya, tidak pernah terjadi. Segera ku lepaskan tangannya.
Bening berbalik memunggungiku dan berkata, “Maaf saya permisi dulu.”
Iskan menghampiriku. Kami berdiskusi di balai. Dengan beralaskan karpet seadanya dan meja kecil sebagai tempat laptop. Laki-laki itu sangat antusias terkait brosur volunteer ke Jepang. Pengalaman untuk menjelajah ke negara asing, selagi ada kesempatan jangan sampai terlepas begitu saja. Mumpung masih ada tenaga dan kesempatan.
Berkas-berkas sudah selesai kubaca. Termasuk motivation letter yang perlu sedikit perbaikan. Mataku melirik ke arah Bening yang tengah menyulam beberapa kain. Dia duduk tak jauh dariku, keranjang kecil berisi jarum, benang dan kain tak luput dari perhatiannya. Sangat tenang dan lembut. Sementara temannya yang bernama Yasmin, sibuk dengan ponsel di tangan.
“Selesai,” ucapku tiba-tiba. Aku mengeluarkan amplop warna putih. “Ini surat rekomendasi untukmu.”
“Rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup. Ini sangat luar biasa. Sekali lagi … big thanks,” kata Iskan berkaca-kaca.
“Its Ok. Tidak perlu terlalu banyak terimakasih. Never give up!”
Iskan mengangguk dan menunjukkan surat rekomendasi pada temannya. Wajah tirus itu terlihat bahagia sekali. Diraih ponsel dan menelpon seseorang. Suaranya gembira berubah menjadi pelan dan sopan.
Aku menghela napas panjang. Lega bisa menolongnya. Adapun surat rekomendasi itu, untuk mempermudah kelulusannya di tahap seleksi berkas. Iskan itu pandai, sedikit saja bantuan, pasti membuatnya lebih maju. Menjadi sukarelawan itu perbuatan mulia dan banyak sekali manfaat yang bisa diambil. Ku alihkan pandangan ke tukang sulam yang tenang dan lugu. Dan mengawali obrolan ringan dan santai.
“Apa rencanamu selanjutnya? Kau tidak tertarik menjadi volunteer?”
“Tidak,” jawabnya. “Saya ingin menabung, terus terang KKN ini banyak sekali pengeluaran.”
Kedua mataku belum beranjak dari kain dan jarum di tangannya. Semakin tekun dan fokus. Ingin sekali aku singkirkan benda-benda remeh itu.
“Apa kau mengerjakan pesanan? Berapa banyak?”
“Lumayan, kurang tiga puluh saputangan lagi. setidaknya ini penghasilanku selama KKN. Satu sulaman sapu tangan seharga delapan ribu. Ada pesanan lima puluh biji.”
“Kenapa tidak memasang harga yang lebih tinggi? Menyulam silang-silang begitu pada kain polos, cukup sulit.”
“Benang dan kain dari pelanggan. Saya hanya mengeluarkan tenaga.”
Kali ini aku benar-benar tidak tenang. Benda itu harus tersingkir hingga Bening memperhatikan, menyadari dan menganggap keberadaanku di sisinya. Aku tarik ujung sapu tangan pelan. Belum juga berhasil. Ku tarik lagi agak kasar. Dan jarum menancap di jarinya. Agak dalam, terus saja ku tarik kain itu tanpa peduli jarum menggores hingga membuat kulitnya terkelupas. Darah segar mulai menetes.
Bening mendesah pelan dan meletakkan kain itu. Kemudian tangan kanan meraih tisu dan plester.
Aku mengamati ekspresinya.
“Apa kau terluka?”
Bening mengangguk.
“Itu karena kau tidak mendengarku. Jauhkan benda remeh itu saat aku bicara,” ujarku kesal. “Kau bahkan lebih peduli dengan sapu tangan bodoh itu.”
“Saya mendengar apa yang Mister bicarakan. Disisi lain saya sedang menyelesaikan pekerjaan.”
Matanya menatapku sekilas, terlihat kesedihan dan kekecewaan terpancar. Sama sekali dia tidak memberontak atau protes padaku. Dia terlihat tidak berdaya dan lemah. Namun ketekunan dan kegigihan masih berapi-api. Jari-jarinya bergetar hebat saat membereskan kain-kain yang berserakan di depanku. Gerak-geriknya gesit dan cekatan. Bekas tetesan darah di lantai juga dibersihkan dengan tisu. Semua menjadi bersih seperti sedia kala.
Dorongan dari dalam pikiran semakin mendesakku untuk melakukan sesuatu. Melakukan hal yang lebih ekspresif dan hangat, seperti meraih tangannya atau memeluknya dalam dekapan. Lalu menjatuhkan kecupan pada kening atau pipinya. “Astaga, apa yang sudah aku pikirkan?” gumamku dalam hati. Walaupun secara umum, apa yang ada di benakku adalah sebuah kewajaran hasrat seorang pria. Namun hatiku menolak untuk melakukan itu.
__ADS_1
Bening yang semula duduk di sebelahku. Perlahan menjaga jarak. Apalagi sejak datangnya laki-laki berambut aneh itu. Aku tidak tahu ada hubungan apa mereka. Yang pasti, laki-laki itu berusaha menarik perhatiannya. Bening tidak goyah sama sekali, seluruh perhatiannya hanya untuk sapu tangan itu. Kejadian tadi, membuatku agar lebih hati-hati saat berada di sekitarnya.
Ada sebuah pertunjukan wayang kulit, di depan balai desa. Iskan dan laki-laki berambut aneh itu membantu warga untuk mengatur lalu lintas di jalan raya, sebentar. Rintik-rintik hujan tidak membuat jalan menjadi senggang, justru semakin padat saja. Pertunjukan belum dimulai tapi warga sudah banyak yang bergerombol di area itu. Begitu juga para pedagang kecil yang sudah membanjiri sisi jalan. Ku lirik jam dinding sudah pukul enam lewat tiga puluh menit. Sudah cukup lama di sini, berjalan-jalan di sekitar balai desa juga sudah kulakukan, termasuk makan malam dengan mie instan rasa garam buatan Yasmin. Sebagai tamu, aku tidak berhak protes terhadap apapun yang diberikan si tuan rumah. Kopi buatan Iskan lumayan, tidak terlalu encer ataupun kental. Dan lagi, hiburan suara sumbang dan petikan gitar asal-asalan dari laki-laki berambut aneh itu. Dia bermaksud menghibur Bening, bukan aku. Tapi tetap saja, telingaku berusaha keras untuk tidak mendengar lagu itu. Tukang sulam itu tidak bicara sama sekali, tidak juga bercengkrama dengan teman-temannya.