
Mataku masih mengamati lembar kerja atas nama Bening. Kuraih ponsel, dan mengirim sms padanya. Terkirim, seperti biasa. Tapi tidak pernah ada balasan. Aku coba telpon juga tidak pernah diangkat. Kembali, aku membaca tulisannya. Dia menulis tentang guru bahasa inggris yang telaten, lembut dan sabar. Selalu dicintai dan menjadi inspirasi bagi murid-muridnya. Apa dia menulis tentangku? Adakah sosok diriku dalam tulisan ini? Pikiranku sudah melayang terlalu jauh.
Pagi ini Amir berkunjung ke tempatku. Tujuannya adalah bercerita tentang hubungannya dengan Ratna. Sejak pukul enam tadi sudah berkicau riang penuh romansa. Begitulah, orang yang sedang kasmaran. Mereka semakin hari semakin gencar jadi buah bibir di Kampus. Ah, aku tidak terlalu peduli. Ratna sudah menyelesaikan tugas akhir. Itu artinya dia bukan mahasiswi lagi, dan ini pasti sangat Amir tunggu-tunggu. Lembar - lembar tadi kumasukkan ke dalam tas. Bergegas keluar dan pergi ke Kampus.
Sengaja, aku duduk di bangku belakang. Suara mereka ada yang tertahan hingga sulit di dengar. Bagi yang bersuara lantang, tentunya tidak mengalami kesulitan. Beberapa aspek penilaian sudah ada di meja, ini pertama kalinya mengajar speaking 1 dengan tema yang ringan untuk review. Tema “Jember at Glance.” Mereka hanya perlu presentasi di depan kelas. Ini adalah pertemuan ke delapan. Satu persatu aku panggil nama mereka untuk maju ke depan.
“I think enough, see you,” ucapku mengakhiri pelajaran dan keluar kelas.
“Mister!” teriak seseorang dari belakang.
Aku menghentikan langkah.
Gadis berbaju kuning. Rambut panjang bergelombang diikat kebelakang. Jepit berwarna merah melilit rapi. Wajahnya polos dan manis. Tersenyum ramah ke arahku.
“Bagaimana cara melafalkan beberapa kosa kata dengan benar dan tepat?” tanyanya.
“Practice makes perfect.”
“Maksud saya, apakah ada ilmu khusus untuk mempelajarinya?”
“Ada, itu Mata kuliah “Pronounce Practice.”
Gadis itu mengangguk paham. Menatapku sekilas. Sempat ku lirik buku yang dia bawa, tertera nama “Lintang Aruna.” Itu pasti namanya. Mahasiswi semester satu, masih semangat. Haus ilmu, tertarik hal-hal baru. Segar dan berseri-seri. Seperti bunga di pagi hari, menatap sinar matahari untuk mendapatkan manfaat. Hingga bertumbuh menjadi sesuatu yang berarti.
Setelah membasuh wajah. Kupandangi air muka yang tegas dan kaku. Bersih. Sebagaimana wajah ini diciptakan Tuhan tanpa cacat. Ku lepas kaca mata dan mulai membersihkannya. Cklek! Bunyi kran menyala. Suara air keluar gemericik. Beberapa menit kemudian berhenti. Saat aku bergegas keluar dari toilet. Kran itu menyala lagi. Aku tidak peduli. Lagi pula ini siang hari dan toilet sedang sepi. Siapa pula yang bermain - main dengan kran?
Kulangkahkan kaki ke tempat parkir, menyalakan motor dan bergegas menuju tempat mengajar berikutnya. Bagaimana kabar bungaku di sana? Masihkah meredup? Atau sekarang sedang merona dan siap untuk di dekati.
Segerombol mahasiswi menghadang. Langkahku harus terhenti ketika hendak masuk kelas. Mereka meminta tanda tangan, terkait tugas kemarin.
“Tanda tangan yang ada sudah ada namanya,” ujar salah satu dari segerombolan mahasiswi.
“Punyaku, juga, ya!” Sahut yang lain
“Punyaku, duluan!” Sahut yang lainnya lagi. Gadis-gadis ini sangat berisik dan tidak sabaran. Main tarik saja. Mereka benar-benar merepotkan. Minta tanda tangan bergerombol seperti ini. Sangat melelahkan, aku duduk di depan kelas dan melihat sekeliling.
Bening melirik dingin dari kejauhan. Dengan wajah muram nyaris sedih. Kemudian menunduk dan tidak peduli lagi. Entahlah, aku tidak mengerti kenapa dia begitu? Hingga gadis-gadis merepotkan ini pergi. Bening belum juga menyapaku dengan senyuman. Di kelas pun, wajahnya datar.
Kusandarkan punggung di kursi. Berpikir keras, untuk menemukan apa yang membuatnya begitu dingin seperti sekarang. Tidak mungkin hanya karena sapu tangan bodoh kemarin. Tangan nya juga sudah tidak apa-apa, bahkan dia menulis seperti biasa. Pukul lima sore, bel berbunyi. Dia memasukkan buku-bukunya, kemudian mengangkat kepala. Saat itu pula pandangan kami bertemu. Dia sedikit membungkuk saat melewati depan mejaku.
“Kemarilah,” kataku tiba-tiba.
Dia mendekat dan berhenti di depan meja. Wajahnya masih datar.
“Ada banyak kesalahan pada tulisan ini,” kataku pelan. “Kau sudah semester akhir tapi masih belum bisa menulis dengan tepat.”
Matanya memperhatikan tulisan tersebut dengan hati-hati. Tangan nya mencari pena. Kemudian memberikan padaku. “Silakan coret bagian yang salah.”
Tidak ada kesalahan. Hanya saja aku gunakan kesempatan untuk mendapat perhatian.
“Aku suka bagian yang ini,” kataku setengah berbisik. Sekaligus menggaris bawahi kalimat ‘The best teacher teaches from heart, not from book.’’ Seperti itu kalimatnya. Sederhana.
Senyum tipis terbit. Mataku memberi isyarat bahwa percakapan ini harus segera berakhir. Beberapa pasang mata memperhatikan, ada yang berbisik dan menatap sinis.
“Tolong, bawa kertas - kertas ini ke ruanganku,” kataku berdiri mengambil tas. Kemudian keluar kelas. Sedikitpun aku tidak peduli dengan tatapan aneh dari mahasiswa-mahasiswi lainnya.
Bening berjalan di belakangku. Menurut dan tidak bersuara. Sayup-sayup kudengar ada yang mengajaknya bicara. Seperti suara Iskan. Tidak, aku tidak boleh menoleh. Cukup menajamkan telinga saja.
“Ini ponselmu! Jangan di celupin ke air, susah ngebetulinnya. Banyak telepon masuk. Tidak aku angkat, ada beberapa pesan juga.”
“Dan kau membaca pesan itu?” tanya Bening. “Habis berapa?”
“Ya, aku membacanya. Gak usah di bayar santai saja.”
“Pasti sms anak-anak les. Thank you, ya. Udah betulin ponselku. Gratis pula.”
Iskan berjalan mendahuluiku. Membungkuk dan melirik sekilas. Tanpa menyapa. Langkahnya cepat dan terburu-buru menuruni tangga.
Aku terus kepikiran tentang sms itu. Ya, akulah yang selalu mengirim sms pada Bening. Gemuruh di dalam dada, semakin keras. Ini sangat mengganggu. Artinya komunikasi melalui ponsel sudah tidak aman lagi. Selama ini aku kurang perhatian pada hal-hal kecil. Saat itu juga ku robek kertas kecil dan menulis sesuatu kemudian memberikan padanya.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk pelan, kemudian masuk ke ruang dosen untuk meletakkan beberapa lembar tugas.
__ADS_1
Segera aku tinggalkan dia, karena harus mengajar di tempat kursus bahasa inggris. Mampir sebentar ke fotokopian milikku. Memeriksa beberapa hal, tidak ada masalah atau kerusakan. Semuanya lancar. Ponsel bergetar, pesan masuk dari Miss Azizah. Anak-anak SMP minta lebih awal masuk kelas. Jadwal mengajar di tempat kurus semakin hari semakin padat termasuk jam tambahan mengajar kelas karyawan.
Ting! Bunyi notifikasi dari laptop. Kulirik sekilas. Pemberitahuan di kolom messenger. Tanganku masih menyeduh kopi. Setelah minum sedikit, aku menghadap layar datar tersebut. Senyumku mengembang dan mulai chatting di facebook, sepertinya aman. Sepuluh menit lagi masuk kelas. Masih ada waktu.
Bening : Smsnya belum saya baca.
PW : Tidak usah dibaca, nanti ponselmu rusak lagi. Masih di kampus?
Bening : Iya.
PW : Tadi kenapa? Mukanya masam begitu?
Bening : Mister sekarang banyak fans.
PW : Risiko.
Bening : Tuh kan! udah ah.
Terpaksa menahan tawa geli. Dasar bocah. Sepertinya dia terganggu saat aku dikelilingi mahasisw berisik tadi.
PW : Jealous? Butuh perhatian?
Bening : Tidak.
PW : Besok ada waktu? Pukul tiga sore.
Bening. : Mau kemana?
PW : Besok pagi, aku kabarin. Bye!
Terpaksa aku tutup laptop dan bergegas menghabiskan secangkir kopi. Akan ku lanjutkan lewat telepon besok. Menggelikan. Hal kecil saja, bisa membuatnya wajahnya masam sepanjang sore.
Kelas karyawan hari ini berjalan lancar. Aku tiba di rumah pukul sembilan malam. Gelap. Lampu ruang tamu padam. Kulihat ruang tengah masih menyala. Segera aku ambil kunci pintu di bawah pot bunga. Begitu masuk, aku tidak langsung mengganti lampu yang padam. Rasanya pegal bergelayut dan waktunya tidur.
***
Pukul, tiga sore.
Berbagai cemilan seperti suwar-suwir, kopi salak dan edamame (kedelai hijau) mudah di temukan disini. Selain harganya terjangkau tempatnya juga bersih. Selalu ramai, beberapa pengunjung berlalu lalang. Ada yang mendorong troli ataupun keranjang belanja. Supermarket Matahari. Swalayan tak jauh dari pasar tanjung.
Bening mengangguk dan memasukkan di troli. “Ada lagi?”
“Cukup,” jawabku.
Dia mengikuti langkahku ke kasir. Tidak banyak bicara, menurut dan selalu malu-malu saat pandangan kami bertemu. Dari sikapnya, terlihat tempat ini tidak cocok untuknya. Setelah meninggalkan kasir, kami ke food court, lantai tiga. Dia tidak memesan makanan. Hanya minum air mineral.
“Apa kau tidak suka menu makanan, disini?” tanyaku saat pesananku datang.
Dia menggeleng.
“Kenapa?” tanyaku sekali lagi, sambil meraih sauce tomat di depanku. “Kau punya rekomendasi, tempat makan bagus atau kau tidak biasa makan di tempat seperti ini.”
“Bukan begitu. Saya tidak makan daging ataupun seafood.”
“Vegetarian, herbivora atau diet. Kau bisa pesan roti, kalau mau,” ucapku sambil menikmati makanan.
Dia tersenyum dan menggeleng. “Saya takut, makan hewan yang memiliki mata. Menghindari makanan yang terlalu asin, manis, susu, keju dan gluten. Kalau terpaksa makan itu semua, malamnya pasti sulit tidur.”
“Well, apa ada lagi pantangannya?”
“Bawang merah dan bawang putih, karena aromanya terlalu menyengat dan tajam.”
Tak terasa, makanan di hadapanku sudah habis. Kami meninggalkan food court dan menuju ke department store lantai dua, ku lirik sekilas. Raut wajahnya biasa saja, tidak antusias untuk belanja atau tertarik melihat barang-barang bagus. Bukankah belanja itu hobi wanita. Ah ya! Aku ingat beberapa percakapan Iskan dengan laki-laki berambut aneh, beberapa waktu yang lalu. “Bening tidak menyukai belanja.” Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Sekarang terbukti, dia tidak menyentuh sepatu, pakaian, tas ataupun aksesoris lainnya.
Kini langkahnya terhenti di stand kecil tempat buku yang letaknya di dekat eskalator. Stand buku sedang menggelar promo, kalau hari biasa kadang stand buku ini tidak ada. Bagian novel, buku motivasi, buku anak-anak dan bahasa inggris. Sudah terlewati. Dia berdiri begitu lama di tumpukan buku hobi. Tangannya meraih buku bersampul merah ‘’Cara mudah bermain gitar.’’Dia membacanya sekilas lalu meletakkan kembali. Sepertinya, dia tidak punya uang untuk membelinya atau mungkin sedang berhemat.
“Sudah selesai?” tanyaku tiba-tiba.
Senyum tipis terbit di sertai anggukan. Bening benar-benar unik. Sama sekali tidak merepotkan ataupun berisik. Kali ini, aku tidak menyentuh atau memegang tangannya. Sejauh ini dia sangat tenang. Kami turun ke lantai satu. Lagi-lagi dia berdiri dan diam sebentar di gerai aksesoris jam tangan, tepat di hadapan etalase jam tangan berwarna silver mengkilap, berantai menyerupai gelang. Kemudian matanya beralih pada jam tangan kuno, warna coklat pudar lusuh yang sedang dipakainya.
Aku berdehem.
__ADS_1
“Kau menyukai jam tangan itu?” tanyaku berdiri di sampingnya.
“Tidak,” jawabnya menggeleng. “Jam tangan di etalase ini sama dengan jam tangan yang saya pakai.”
Kuraih tangannya sebentar untuk memastikan. “Sama merk, tapi beda model dan tempat. Punyamu sudah sangat ketinggalan jaman.”
“Memang kuno, jam tangan ini milik ibu saya,” jawabnya. Kemudian dia berlalu santai ke pintu keluar.
Waktu bergerak cepat. Ini bukan kencan, hanya menghabiskan pekan bersama. Rasanya baru sebentar memasuki pusat perbelanjaan ini. Jalanan ramai dengan pengendara. Lampu-lampu jalanan pun menyala. Kami duduk di teras tak jauh dari pintu keluar. Bening mengeluarkan kantong plastik ukuran sedang dari dalam tas. Isinya kertas lembaran kertas origami dan pena. Kemudian menulis sesuatu dan melipatnya menjadi pola berbentuk burung. Setelah itu menyimpannya lagi. Satu tarikan napas panjang, lalu kepalanya mendongak ke atas.
“Dasar aneh! Buang-buang waktu.”
“Nanti kalau jumlahnya sudah mencapai 108, semua kertas itu harus dibakar. Lalu abunya dibuang ke laut,” katanya menatapku sebentar.
“Kenapa kau melakukan ini? Dan ada apa dengan angka 108?”
“Dua bulan yang lalu saya ulang tahun. Tiba-tiba dapat ide ini dengan menuliskan perasaan. Saya merasa lega,” katanya. “Beberapa sumber yang pernah saya baca, 108 itu artinya 36 terkait waktu dan perasaan masa lalu, 36 terkait waktu dan perasaan masa kini dan 36 terkait waktu dan perasaan masa depan. 36+36+36 \= 108.”
“Kau pasti menulis namaku pada kertas itu,” kataku mengancam. “Awas saja!”
Bening tersenyum dan memberikan kantong plastik berisi origami tadi. “Silakan baca, setelah itu bentuk lagi polanya.”
Tanganku mulai membuka salah satu kertas berwarna merah. Rumit. Tidak sabar. Srek! Kertas robek menjadi dua. Tulisan “Aku ingin bersamanya.” Terbelah menjadi dua.
Bening menghela napas panjang kemudian mengeluarkan kertas kosong warna merah dan pena. “Tulis lagi, lipat lalu bentuk pola yang sama.”
“Rumit,” ujarku memberikan kertas itu. “Tidak! Aku tidak bisa membentuk pola yang sama.”
Diraihnya kertas merah tadi. Kemudian Bening mulai melipatnya dengan perlahan. Apa dia kecewa? Atau dia lelah? Itulah pertanyaan yang ada di benakku. Robeknya kertas tadi adalah kesengajaan. Selain penasaran pada perasaannya aku juga ingin menuliskan sesuatu di antara lipatan - lipatan kertas yang nantinya dibakar lalu jadi abu kemudian terbang bersama angin, menyatu dengan air laut. “Semoga semesta bisa mempersatukan kami,” bisikku dalam hati ketika menulis sesuatu.
“Kau tidak mengajariku melipat polanya?”
“Mana berani aku mengajari anda,” katanya. “Melipat ini pekerjaan mudah.”
“Apa karena aku gurumu?” tanyaku. “Bukankah, kau juga seorang guru.”
Bening tak menjawab dan menyimpan kertas - kertas tadi ke dalam tas.
Sungguh aku sendiri bingung dengan arah pembicaraan ini. Karena otakku sedang berusaha menyusun kalimat untuk meluluhkan hatinya. Si tukang sulam remeh. Mahasiswi naif dan yang berhasil membuatku resah sepanjang hari saat bersamanya. Celaka! Aku malah membuat pertanyaan aneh. Sudah bisa dipastikan dia tidak akan mengajariku.
Ponsel berdering. Panggilan masuk dari Amir. Segera ku tekan tombol tolak.
“Kenapa dimatiin?” tanya Bening.
“Amir telpon. Nanti akan ku telepon.”
“Mister Amir? Jadi ingat Mbak Ratna,” ujarnya tersenyum.
“Aku tidak yakin kalau Ratna serius. Perangainya kadang berubah-ubah,” ujarku. “Begitulah, kalau hubungan berawal dari mata turun ke hati. Mereka bahkan terburu-buru.”
“Terburu-buru atau pelan-pelan tidak bisa jadikan ukuran. Toh, Tuhan yang menentukan skenarionya.”
“Kisah antara Dosen dan Mahasiswi ...,” ucapku pelan. Tenggorokanku terasa tercekat. Ingin sekali menarik ucapan tersebut. Namun sudah terlambat.
Bening menatapku. Keningnya berkerut. Seolah-olah berusaha meminta penjelasan terkait ucapanku tadi. Menuntut lanjutan kalimat yang menggantung. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan kalimat tersebut. Seperti tertampar dengan ucapan sendiri. Memalukan. Amir begitu percaya diri memproklamirkan hubungannya. Sedangkan aku? Perasaanku pada Bening masih aku pertimbangkan.
Pengecut!
Nyaliku memang tidak sebesar perasaanku terhadapnya. Beberapa hal yang selalu menjadi bahan pertimbangan selama ini yaitu, pantaskah aku memiliki perasaan yang sangat dalam terhadapnya? Benarkah, aku menyukainya? Entah rasa kasihan atau obsesi belaka. Ya, pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggu. Hingga tak sadar dengan apa yang sudah aku lakukan.
“Mister, tolong lepaskan tangan saya,” katanya.
Aku tersentak dari lamunan, segera kulepaskan tangannya. Tidak sadar, bahwa sejak tadi aku menggenggam tangannya dengan erat. Hingga pergelangan tangannya memerah. Kedua mataku juga tertuju padanya tanpa berkedip. Cepat-cepat aku lempar pandangan sekeliling.
“Aku tidak tahu kapan, bagaimana dan apa pemicunya? Sudah lama aku memperhatikanmu, tidak sebagai seorang gadis biasa. Kau berbeda. Dan aku mencintaimu, Ning,” ungkapku lancar tanpa hambatan apapun.
“No, Not Now … give me time.”
“Aku bersedia mengabarkan pada ayahmu mengenai hal ini.”
“Tidak,” katanya menatapku serius. “Tolong, Mister jangan menyusahkan diri, hanya karena saya.”
__ADS_1
Aku mengangguk paham. Ya, ini terlalu cepat tapi aku sudah mengatakannya, dan tidak akan terburu-buru. Dia hanya butuh waktu, tidak sekarang itu artinya nanti. Bisa saja saat ini dia sedang malu. Hari itu akan datang. Dimana dia benar-benar menyadari semua ini.
Pernyataan ini benar adanya. Aku tidak pernah main-main dengan seorang gadis ataupun wanita. Ideku mengutarakan perasaan pun tidak romantis seperti drama, dongeng ataupun kisah-kisah cinta lainnya. Tapi lebih mengarah pada keberanian. Sudah aku pertimbangkan sebelumnya dan aku tekankan bahwa aku selalu siap menemui ayah atau walinya kapanpun. Tanpa keraguan. Kelegaan sudah meringankan otot-otot saraf yang belakangan ini membuat resah.