
Pertemanan dapat memberi pengaruh besar pada sikap dan pikiran. Mereka yang sering bertemu, diskusi atau berbicara satu sama lain. Lebih memahami cara hidup, jalan pikiran dan perasaan secara alami. Tanpa sadar hal itu menumbuhkan kegairahan tersendiri. Kebiasaan-kebiasaan kecil saat bersama seperti suntikan semangat yang pelan tapi pasti.
Aku bahkan sudah merasa berteman dekat dengan gadis itu. Tidak terlalu sering bicara, hanya pada waktu tertentu saja. Mengingat kesibukanku yang menggunung. Sehingga waktu untuk bersamanya sangat sedikit. Melihatnya setiap hari cukup memberiku ketenangan dan kebahagiaan tersendiri.
Ketika aku menyelami dunianya yang remeh dan membosankan, dia menyambut dengan sepenuh hati. Namun saat aku berusaha menyelam lebih dalam, dengan cepat dia menghindar. Jinak - jinak merpati, mungkin ungkapan itu pantas untuknya. Dia ingin aku berusaha keras.
Dia tidak tahu bahwa sejak tadi aku memperhatikannya di balik laptop. Entah apa yang dia baca, sepertinya menarik. Sesekali seulas senyum hadir. Ah, semakin menggoda saja. Segera kututup layar persegi kemudian berdiri dan berjalan ke arahnya.
Sebelum mendekat ke mejanya. Kedua kakiku terhenti.
Laki-laki datang menepuk pundak gadis itu. Lalu mengajaknya pergi.
Kedua mata ini masih memperhatikan mereka dari jauh. Bening menggeleng dan tersenyum pada laki-laki itu. Sejenak aku harus menarik napas panjang. Melihatnya bersama orang lain. Sungguh, aku benar-benar tidak mengetahui apapun tentangnya. Siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa mereka?
“Sekarang, anda lihat sendiri! Dia tidak sepolos seperti yang anda pikirkan,” kata Bu Laras.
Aku hanya meliriknya sebentar kemudian meninggalkannya di kantin. Wanita itu selalu saja ikut campur. Berkomentar seenaknya. Dan berusaha mengendalikanku agar bertekuk lutut di hadapannya. “Dasar penggoda,” bisikku dalam hati.
***
Amir memintaku untuk menemaninya melihat proses pembuatan film pendek di pantai. Tugas untuk Mahasiswa semester lima. Pukul tiga sore, kami sudah sampai di tempat tersebut.
Hamparan pasir putih yang luas. Batu karang beserta ombaknya yang besar. Udaranya dingin dan bersih. Pantai ini dikenal dengan nama pantai “Papuma.” Dari kota Jember ditempuh lebih dari satu jam, berada di kecamatan Wuluhan.
Ada sekitar dua puluh mahasiswa menyimak instruksi dari Amir. Sepertinya dia menikmati pekerjaannya. Aku tidak terlalu memperhatikan, ku arahkan pandangan ke sekeliling. Birunya air laut, suara ombak, angin dan burung-burung menghias sore. Berjalan-jalan tak jauh dari mereka, sambil merapatkan jaket. Aku berdiri di bawah pohon kelapa. Air laut sudah mulai pasang beberapa nelayan berjalan membawa ikan tangkapan.
Seseorang menepuk pundakku. “Apa menariknya membuat drama atau film pendek di pantai?”
“Aku tidak tahu,” jawabku singkat dan menoleh.
Laki-laki itu terkekeh. Tangannya sibuk pada teropong. “Aku kira Mister sedang mencari inspirasi.”
Aku menggeleng. Tiba-tiba terasa menggigil dan resah. Mendengar suara yang tidak asing berasal dari belakang Membuat degup jantung berdetak cepat.
Deg! Bening ada disini.
Dia bertanya pada Iskan, laki-laki yang ada di sebelahku.
“Ternyata disini,” sapanya ramah. “Sudah dapat spot yang bagus?”
“Spot? Dari tadi aku masih melihat-lihat. Kayaknya ada anak kelas pagi, di sana,” jawab Iskan mengarahkan teropongnya pada kerumunan. “Kau ambil gambar di sekitar sini, sekalian menunggu Ratna. Sebentar lagi dia datang.”
Gadis itu melihatku sekilas, kemudian menunduk. Dan sibuk dengan kamera di tangan.
“Ayo ikut aku, sepertinya disana ada spot yang bagus.”
Bening mengangguk dan berjalan di sebelahku. Tidak bicara hanya sesekali melirik. Poninya sedikit berantakan tertiup angin. Sengaja dia biarkan, karena kamera lebih menarik untuknya saat ini. Tangannya mengarahkan kamera lalu memotret beberapa kerang-kerang kecil pada pasir, air laut, pohon-pohon, anak-anak yang sedang bermain layang-layang dan tentunya nelayan yang sedang berlalu-lalang.
Setelah berjalan cukup jauh. Aku duduk di batu besar. Suara ombak semakin keras. Cahaya matahari berwarna oranye dan hawanya semakin dingin. Setelah beberapa gambar sudah di dapat. Aku menyuruhnya duduk disebelahku.
“Hai .…”Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Kau melamun?”
“Tidak,” jawabnya menunduk gugup.
Aku mengangkat dagunya pelan. Kemudian menatapnya lekat-lekat. Kedua mata kami bertemu. “Tidak perlu takut, ini bukan di kampus.”
“Ya, saya takut sekali. Takut pada perasaan ini jika tidak sejalan dengan kenyataan, di mana anda selalu berada di sekeliling saya. Bayangan akan sesuatu dan ….”
“Aku tidak pernah bercanda untuk berada di sekelilingmu,” ujarku pelan.
Kini kuraih jari-jarinya. Begitu dingin dan basah. Tanganya kecil sehingga tanganku dengan mudah mengengamnya. Tidak ada penolakan sama sekali. Aku eratkan sekali lagi. Dan menatapnya matanya lebih dalam.
“Tolong Mister, lepaskan tangan saya,” katanya pelan.
“Seberapa dalam perasaanmu padaku?”
Wajahnya pucat. Namun matanya seperti bercahaya dan teduh. Bibirnya bergerak-gerak pelan. Tapi tidak ada kata yang keluar. Kedua pipinya bersemu merah.
“Jawab Ning!” Aku semakin mempererat genggaman.
“Sangat dalam.”
__ADS_1
Aku merasakan sesuatu. Tubuh ini terasa ringan dan hangat. Suara lembut keluar dari bibirnya. Rasanya ingin sekali mendekapnya erat-erat serta membawanya pulang. Akan ku jaga harta karun ini, sungguh aku tidak ingin melepaskannya.
“Dan apakah arti diriku, bagimu?”
“Mister adalah guru bahasa inggris yang keras kepala. Dan juga sangat pintar. Terkadang kasar pada yang lemah dan sangat baik pada mereka yang rajin, meskipun mereka itu tidak menarik dan pandai. Saya bahagia melihat anda berbicara, mengajar dan mendengar suara anda. Mister, saya lega bisa mengatakan ini semua secara langsung.”
Perlahan aku lepaskan genggaman. Kemudian aku melingkarkan lengan ke pundaknya.
“You are great student and you will be a splendid teacher.”
Kami berjalan di pinggir pantai sambil bergandengan tangan. Kini dia lebih sering tersenyum dan melirik diam-diam. Saling bercerita tentang latar belakang masing-masing. Bening pun kini mulai terbuka. Perjalanan kami sudah cukup jauh dari kerumunan. Matahari juga hampir tenggelam.
Untuk sementara formalitas di antara kami sedikit memudar. Namun masih dalam batasan-batasan umum. Tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu berjauhan. Aku merasa damai bila di dekatnya. Tapi tunggu! Dalam hal ini sikap terburu-buru sepertinya akan mengakibatkan kebosanan. Jadi aku memilih untuk menikmatinya.
Dia mohon ijin untuk berjalan duluan. Ketika langkah kami sudah mendekati kerumunan. Perlahan aku lepaskan tangannya. Sungguh, rasanya saat ini ingin segera pulang dan menikmati sesuatu yang baru saja terjadi. Keramaian tidak bisa membuatku lebih baik.
Ratna tersenyum melirik ke arahku dan Bening. Tatapan gadis itu sedikit mencurigakan. Sementara Bening dan Iskan saling bertukar kamera kemudian sedikit berdiskusi tentang beberapa foto yang berhasil mereka dapatkan.
Aku tinggalkan mereka dan berjalan ke arah Amir yang sedang sibuk dengan laptop.
Beberapa tenda sudah jadi. Mahasiswa yang lain sedang membuat api unggun. Sementara para gadis menyiapkan tikar untuk alas duduk. Angin semakin dingin. Matahari benar-benar tenggelam. Begitu juga suara ombak, menggema keras.
“Sepertinya kita harus menginap. Karena masih ada beberapa yang belum selesai,” kata Amir. “Lagi pula, daerah ini rawan begal saat malam hari.”
“Apa di sekitar sini ada cottage, penginapan atau homestay?” tanyaku. “Kita bisa beristirahat di sana.”
“Penginapan? Tentu saja ada. Tidak, itu tidak menarik. Mereka sudah menyiapkan tenda khusus laki-laki dan perempuan.”
Beristirahat dengan mereka? Yang benar saja. Di dalam tenda pengap. Dan malam ini sudah benar-benar dingin, jaket yang aku kenakan tidak dapat membantu sepenuhnya.
Begitu api menyala pelan-pelan. Kayu terbakar dan sesekali bara menyembur ke atas. Keadaan di sekeliling menjadi hangat. Aku duduk pada tikar tak jauh dari api. Dari tempatku banyak mahasiswi berbisik-bisik satu sama lain. Entah apa yang mereka diskusikan. Aku merasa sedang diamati. Kulirik mereka sekilas, salah satu diantaranya tersenyum genit. Kedua mataku enggan beranjak pada gadis yang sibuk memotret dan bercengkrama dengan teman-temanya.
“Apa pendapatmu tentang gadis yang berdiri di dekat tenda kuning itu?”
“Biasa saja, dia bawa kamera. Wajahnya tidak begitu menarik. Kalau gadis yang memakai topi warna pink di sebelahnya itu, baru cantik,” jawab Amir.
“Yang memakai topi pink itu Ratna, sepupunya Laras.”
Aku terkekeh.
Seperti biasa, Amir tidak akan buang-buang waktu untuk berkenalan atau pembuka pembicaraan dengan seorang gadis cantik. Sedikit melegakan, dia tidak melirik ke arah Bening. Itu artinya gadisku aman.
Bara api mulai berkurang. Aku ambil kayu yang tersisa. Tidak ada yang peduli, begitulah anak-anak muda. Sibuk bersenang-senang, ada sibuk mengedit video, bermain gitar, berlarian kesana kemari, memotret dan berdiri menghadap ke pantai. Sejenak aku tertegun. Ada seorang gadis berdiri sendirian. Siapa gadis itu? Rambutnya lurus panjang terurai. Bajunya panjang berwarna putih. Tangan mengepal. Kulitnya putih dan pucat. Tanpa mengenakan alas kaki. Dia berdiri cukup lama, sementara angin semakin kencang.
Aku melangkah berniat menghampirinya. Tiba-tiba kedua kaki terasa berat. Napasku terengah-engah setelah berjalan beberapa meter menjauh dari kerumunan. Beberapa langkah lagi sampai.
Gadis itu berbalik namun wajahnya masih tertutup beberapa helai rambut pada wajah. Jalannya pelan tapi tidak ada bekas telapak kakinya pada pasir yang basah.
Aku terus mengikutinya. Berjalan cukup jauh dan meninggalkan pantai. Masuk ke sebuah lahan gelap dan penuh dengan pohon kelapa. Hanya angin dingin yang bisa aku rasakan.
“Tunggu!” teriakku.
Dia bersembunyi di balik pohon kelapa besar.
Suara daun kelapa bergerak. Membuat ku tersentak menengadah ke atas. Tidak ada apapun di atas, hanya sinar bulan yang terang. Aku mengumpulkan tenaga dan berusaha mendekat ke arah pohon besar itu.
“Keluarlah!”
Tanganku berusaha menyentuh pundak gadis itu. Seluruh tubuhku bergetar luar biasa. Srek! Daun kelapa bergerak lagi. Lagi-lagi aku menengadah ke atas. Tidak ada apa-apa. Kembali aku menatap lurus di balik pohon besar itu. Tidak ada apa-apa. Gadis berbaju putih itu juga tidak ada. Mataku mencarinya ke sekeliling. Seperti ada yang menarik tubuhku. Kini aku berada di tempat gadis itu bersembunyi tadi. Tidak ada siapapun. Sunyi sekali. Kedua lututku lemas hingga aku duduk pasrah. Kedua mataku terasa panas dan nyeri di ulu hati. Bayangan akan kehilangan, kesedihan dan penderitaan itu merasuk dalam pikiran dan menguasai jiwaku. Sesak dan sulit bergerak. Kedua tanganku pucat dan kaku seperti diikat. Sebisa mungkin aku berusaha berteriak namun tidak bisa. Ku gigit bibirku sendiri hingga berdarah. Perlahan ku tutup kedua mata ini dan melantunkan untaian doa. Walaupun suaraku hampir tidak terdengar. Setelah beberapa menit tekanan aneh ini berkurang. Sayup-sayup terdengar suara. “Aku akan selalu mengandalkanmu.”
Dengan berpegangan pohon, aku berhasil bangkit. Dan terlepas dari tekanan tadi. Kejadian ini seperti kutukan yang sering aku alami sejak Devi meninggal. Aku cukupkan tangan di dada, dan melantunkan doa khusus untuknya. Angin dingin menyapu wajah pelan dan akhirnya aku berhasil keluar dari lahan gelap tadi lalu kembali ke pantai.
Kerumunan tadi menjadi sepi. Hanya beberapa orang yang masih terjaga. Api unggun masih menyala. Artinya masih ada aktivitas. Kupercepat langkahku dan berusaha melupakan kejadian tadi.
Amir mencerocos dengan berbagai pertanyaan sejak tadi. Pasti dia khawatir karena aku pergi tanpa memberitahu siapapun. Ocehannya membuat kepalaku pusing. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul dua belas.
Ratna, Iskan dan Bening melihatku curiga. Aku tidak menyukai tatapan mereka.
“Tadi aku hanya jalan-jalan sebentar.”
“Ya, sudah. Tenda laki-laki ada di sebelah sana,” kata Amir datar.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu membasuh wajah dan kedua tanganku dengan air laut. Perih. Ketika aku kembali ke dekat api unggun, Amir sudah tidak ada. Hanya ketiga siswaku yang terjaga.
“Apa Mister baik-baik saja?” tanya Iskan.
“Never better.”
Aku menghela napas panjang. Dan duduk pada tikar menghadap ke api unggun. Pasti terdapat berbagai pertanyaan di benak mereka. Ketiganya bukan orang asing, wajar saja jika mempunyai rasa keingintahuan yang lebih. Menuntut penjelasan misalnya. Tidak, aku tidak akan memberitahu siapapun atas kejadian tadi. Seperti biasanya, aku akan menelannya sendiri dalam diam.
“Tolong, ambilkan aku segelas air.”
Ratna mengangguk dan berjalan mengambil air kemasan. Sejurus kemudian dia letakkan di depanku. Gadis bertopi pink itu meraih tikar dan duduk tak jauh dariku. Iskan dan Bening mengikutinya. Tidak ada yang bicara. Hanya tatapan penuh tanya.
Aku berdiri kemudian meninggalkan mereka. Jika aku bercerita, mereka pasti berpikir aku berbohong, aneh dan tidak jelas. Karena kejadian yang kualami tadi di luar logika. Orang yang sudah mati, pasti berada di alamnya sendiri. Tapi Devi, masih bisa mengunjungiku dengan bebas. Berusaha meraih ku dengan caranya sendiri. Mengerikan.
Tenda ini cukup luas. Tapi tetap saja pengap. Kalian, bisa bayangkan tidur bersama-sama seperti ini. Ada yang mengigau, terlentang dan meringkuk kedinginan. Aku berusaha memejamkan mata, walaupun keadaan masih terjaga. Hingga suara ombak masih mampu ku dengar dengan jelas. Termasuk suara berisik di sebelahku.
“Iskan? Apa benar Bening itu Jomblo?”
“Mbuh Mar, pikiren dewe. Aku ngantuk ojo pacapa.”
“Kapanane, Bening muleh bareng aku. Sesok arep pedekate karo Bening. Piye menurutmu?
“Iyo ta? Eh temen a, wes yakin tenan?”
“Seratus persen yakin,” Jawabnya pasti. “Bening suka jam tangan, bunga, boneka atau coklat. Cepat beritahu aku?”
“Dia tidak suka semua itu. Tas cantik, sepatu high heels dan aksesoris dia juga tidak suka.”
“Terus dia sukanya, apa?”
“Dia suka musik, kisah-kisah “historical romance” dan anak-anak.”
“Terus apa lagi?”
“Tak perlu berusaha keras untuk mendekatinya. Cukup buat dia nyaman. Sudah pasti berhasil.”
“Selama ini, apa kau tidak pernah berpikir untuk mendekatinya?”
“Damar, aku dan Bening berteman baik. Tidak pernah terjadi sesuatu.”
“Kenapa?”
“Karena dia bukan tipeku,” jawabnya santai. “Walaupun kami sering berdiskusi, tapi Bening bukanlah orang yang menyenangkan untuk diajak berbelanja, nonton film atau jalan-jalan tanpa tujuan. Kebetulan saja, dia mau diajak ke pantai karena ada tugas dari UKM photografi.”
“Jadi apa kelebihannya?”
“Sabar dan pendengar yang baik.”
Segera kututup mulut dengan kedua tangan. Agar tidak tertawa. Jadi, laki-laki yang menarik tangan Bening beberapa waktu yang lalu, bernama Damar. Pembicaraan mereka sangat menggelikan. Dasar anak muda, yang mereka pikirkan hanya hal-hal remeh. Semoga aku salah satu orang yang beruntung menyaksikan kisah-kisah mereka.
***
Matahari belum terbit sempurna. Angin juga masih dingin. Terpaksa bangun, karena suara berisik di luar. Aku mengucek mata kemudian membetulkan letak kacamata. Hanya beberapa orang yang bangun, mereka membakar jagung pada sisa api unggun.
Setelah dari tempat mandi umum. Segera ku raih tas dan memeriksa ponsel sebentar. Tidak ada jaringan sama sekali. Amir memanggil untuk foto bersama sebelum pulang. Dengan latar membelakangi pantai, tubuhku menggigil seperti semalam. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan, aku harus keluar dari tekanan yang datang.
“Boleh, aku pinjam kameranya?”
“Tentu,” jawab Bening. Dia memberikan kamera kemudian melirik sekilas.
Mengingat kejadian semalam bisa merusak pagi ini. Semoga dengan ini pikiran dan perasaan sisa semalam, bisa menghilang. Setelah melihat beberapa gambar hasil bidikan gadis itu. Lumayan bagus, sangat jelas dan rapi.
“Apa kau akan mencetak semuanya?”
“Tidak, hanya beberapa yang diperlukan. Itu masih harus di pilih-pilih lagi.”
“Aku suka yang ini, hanya saja warnanya terlalu cerah.”
“Bisa diatur kontrasnya,” kata Bening menunjukkan beberapa tombol yang ada pada kamera. “Coba tekan yang ini.”
Sejujurnya, aku selalu mengamatinya. Dalam keadaan tenang, diam dan sepi. Di sisinya kutemukan kedamaian dan di matanya kulihat ketulusan yang tiada tara. Sudah saatnya kebersamaan ini diakhiri. Agar tidak menimbulkan gosip murahan.
__ADS_1