Crush On You

Crush On You
part 2


__ADS_3

Part 2


Sikap Pandir


Aku berdiri di samping gerbang warna hijau. Di depan gedung bertingkat dua warna putih bertuliskan Universitas Pillar. Di belakang gedung itu adalah beberapa ruang kelas dan kantor Fakultas. Mataku mencari kantor FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Tidak ada orang yang ku kenal. Semua sedang berlalu lalang. Hingga laki-laki berkacamata, tubuh tinggi dan rambut sedikit beruban berjalan ke arahku. Sedikit tersentak, ternyata Bayu. Kami bersalaman, dan dia mengajakku ke ruangnya. Ruang Dekan. Setelah berbincang-bincang tentang masa lalu kemudian dia mengujiku dengan memberi beberapa lembar kertas pertanyaan yang harus aku selesaikan.


Tak ada perubahan yang mencolok pada Bayu. Perangainya serius, kurang ramah dan kaku. Pakaiannya rapi dan berkelas sesuai dengan profesinya. Caranya melihatku agak sedikit berbeda. Berkali-kali dia mengangguk ketika memeriksa beberapa lembar yang sudah aku kerjakan tadi. Akhirnya kontrak kerja sementara sudah terjalin. Deal. Dia mengantarku ke ruangan dosen yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Aku mendapat meja kerja seperti dosen-dosen lainnya. Di mejaku sudah ada jurnal, laptop dan beberapa perangkat mengajar.


“Hari ini, Pak Purwaka Wiseso akan menggantikan Bu. Rahayu yang sedang cuti.”


Beberapa orang di ruangan itu berdiri dan mengangguk ke arahku dan Bayu. Sejurus kemudian, laki-laki itu meninggalkan ruang dosen. Tepat di dekat pintu, matanya sedikit melirik ke salah satu wanita berjilbab ungu muda yang modis dan elegan. Larasati, nama yang tertera di atas meja. Tubuhnya tinggi dan ramping. Wajah tirus dengan riasan tipis yang anggun. Matanya ndamar kanginan, sayup-sayup bercahaya tegas meneduhkan. Dan senyumnya seperti madu pinastika.


Tirai jendela di dekat meja sedikit terbuka. Membentuk sinar garis lurus tepat mengenai netraku. Waktu memasuki kelas akan segera dimulai. Aku menyiapkan buku dan spidol ke dalam Map warna kuning. Kacamata dan obat tetes mata kuselipkan di saku celana.


Beberapa dosen lainnya juga telah bersiap-siap mengajar. Hanya ada beberapa dosen yang membawa Map kuning, ada Bu Rahma, Pak Heru dan Bu Laras. Map kuning itu untuk FKIP  Bahasa Inggris. Aku mengangguk sopan ketika melewati meja dekat pintu.


Laras membuatku berhenti. Suara lembut itu seakan memahanku. Kini aku sudah ada di depannya.


“Untuk semester 2 kelasnya ada di lantai dua. Di dekat Lab. Bahasa, mari saya tunjukkan”


Aku mengangguk dan berjalan di samping wanita itu. Sesekali ku lirik air muka yang menonjolkan kecerdasan. Dia bicara banyak sekali mengenai anak didiknya. Cukup seulas senyum dan anggukkan sopan untuk mengimbanginya.


“Pak Bayu sering cerita tentang anda, jauh-jauh dari Sidoarjo untuk kerja di sini. Apa anda diberhentikan sebagai guru SMA? Sepertinya aku perlu turut prihatin.”


“Kurasa tidak salah untuk mencoba karir yang lebih bagus.” Napasku tertahan beberapa detik saat mendengar pertanyaan lancang itu. Sisi yang berbeda sekali, di balik wajah anggunnya. Perkataannya terlalu berani pada orang baru. Dia menaikkan bahu dan melirik ke arahku sementara kedua tangan nya sibuk memperbaiki kerudungnya yang tertiup angin.


Kalian tahu, dia mencoba untuk menarik perhatian atau menginginkan pujian. Mungkin ingin beramah-tamah lebih lanjut. Hal kecil yang dia lakukan tidaklah berguna. Menurutku sikapnya itu Pandir. Ceroboh, arogan dan kurang beretika. Menyinggung tentang pekerjaanku yang dulu tanpa kerendahan hati. Kami berpisah di dekat tangga saat memasuki lantai dua. Dua mahasiswa laki-laki membawa Map kuning berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


Hari pertama aku mengajar mata kuliah structure 2. Setelah menjelaskan di papan tulis. Dengan cepat kuhapus, kemudian ku bagikan beberapa lembar soal. Tidak ada kegaduhan sama sekali. Cukup tenang. Sesekali dua mahasiswi yang duduk di depan. Melempar pandangan ke arahku. Ada yang berbisik dan tersenyum tidak jelas.


“Maaf pak, soal ini sulit sekali.” serunya sambil mengangkat tangan.


“Jangan sulit-sulit dong pak, kami tidak mengerti sama sekali” kata gadis berkerudung biru.

__ADS_1


“In English” jawabku datar tanpa keramahan. Menatap mata mereka secara bergantian. Mereka harus dipertegas. Karena hal ini sangat berguna untuk masa depan. Kesulitan saat ini bukan apa-apa, mereka harus terlatih tentang kecakapan berbahasa, etika dan kesopanan. Sungguh suatu kecerobohan berbicara seperti itu pada guru. Mereka harus menggunakan bahasa inggris jika bicara padaku.


Kring!!! Bunyi bel. Beberapa Mahasiswa mengumpulkan tugas. Kemudian bergegas keluar tanpa kegaduhan. Dua gadis yang duduk di bangku depan belum beranjak. Mereka  keluar paling akhir. Wajahnya masam dan mengumpulkan tugasnya dengan gusar. Tertera nama Della dan lembar di sebelahnya milik Vita. Della adalah gadis yang memakai kerudung biru. Tinggi proporsional, ramping dan modis. Wajahnya biasa saja, tidak ada yang menarik hanya riasan tebal. Terlebih lagi sikapnya suka mencari perhatian. Sedangkan Vita, gadis itu pendek rambutnya lurus sebahu, kulitnya berwarna coklat dan memakai aksesoris yang tidak penting. Wajahnya manis tapi itu tidak akan ada artinya tanpa pengendalian sikap.


Membatasi diri untuk tidak terpengaruh dengan perangkap gadis-gadis muda. Tingkah mereka berlebihan dalam bertindak. Hal itu bisa berbahaya bagi lingkungan dan diri mereka sendiri. Sedikit liar dan seenaknya. Seharusnya gadis muda yang berpendidikan tinggi  mempunyai sikap pengendalian diri. Terlebih lagi bicara pada guru. Menghadapi mereka bukanlah hal baru. Mengingat bahwa sebelumnya aku juga mengajar di SMA. Namun kali ini harus lebih hati-hati dan waspada.


***


Sudah dua bulan aku mengajar. Tidak ada masalah yang rumit. Semua berjalan lancar. Bahkan aku dan Bayu sering berdiskusi seputar pengajaran di kelas. Beberapa dosen lainnya juga mulai akrab. Rasa canggung dan kaku sudah terlewati.


Namun sikap Laras semakin hari semakin membuatku tidak nyaman. Entah sengaja atau tidak, mejanya yang di dekat pintu, kini pindah di samping mejaku. Ya, itu artinya meja kami berdekatan. Paras anggunnya kadang membuatku gugup. Seringkali aku berusaha keras untuk menguasai diri dan menata pikiran agar tidak tergoda.  Tak jarang aku menemukan coklat serta kartu ucapan di laci meja kerjaku. Terlalu kekanak-kanakan, tapi begitulah wanita. Berita bagusnya hingga detik ini belum ada yang curiga atau memergokinya.


Sore ini setelah mengajar aku masuk ke ruang dosen dengan pakaian agak basah. Jam dinding menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Suasana sepi, nampaknya yang lain sudah pergi sebelum hujan tadi. Tangan kiriku  meraih tas di meja dengan gusar. Penglihatanku tiba-tiba tidak jelas dan kepala terasa berat. Seseorang mendaratkan sentuhan hangat di lenganku.


“Anda butuh minuman hangat. Tunggu sebentar,” Katanya menuntunku duduk di sofa. Kemudian melepaskan tangannya. “Aku akan kembali”


Kepalaku menyandar di sofa. Sementara tanganku merogoh obat tetes mata pada saku celana. Beberapa menit kemudian penglihatanku sudah kembali jelas.


“Iya,” jawabnya pelan dan menyodorkan secangkir teh. “Semoga ini bisa membuat anda lebih baik”


Setelah minum teh. Kedua mataku menatap lurus di wajah rupawan. Hatiku berdesir. Bukan hanya teh yang bisa menghangatkan. Namun keberadaan Laras saat ini seperti cahaya pagi yang menghangatkan bumi. Rona merah di pipinya melambangkan kelembutan sempurna.


“Sepertinya hujan sudah berhenti,” Aku berdiri dan mengangguk sopan. “Terima kasih”


“Tunggu…” tangannya meraih lenganku. “Kita bisa pulang bersama.”


Kami keluar dari kampus. Jalan bersama di bawah payung hitam. Diiringi suara gemericik air yang turun dari langit. Tangannya melingkar erat di tanganku. Sangat dekat. Aku beranikan diri untuk membuka pembicaraan.


“Sudah berapa lama Bu Laras mengajar?”


“Tiga tahun, sebelum pak Bayu diangkat menjadi dekan”


“Bu Laras asli Jember?”

__ADS_1


“Bukan. Aku aslinya dari Lumajang.” tangannya melambai dan angkutan kota berhenti.


“Saya duluan bu, terima kasih.” Ucapku memberikan payungnya. Dan masuk pada mobil warna kuning. Lebih tepatnya len/lin (angkutan umum di jember). Wanita itu mengangguk sopan dan tersenyum.


Hanya mondar-mandir di dalam kamar. Tidak bisa tidur. Kulirik kalender. Hari kamis malam jum'at artinya Amir sedang di pondok. Dan kembali besok sore. Kuraih ponsel di meja. Seraut wajah teduh dan hangat terlintas begitu saja. Ibu, bagaimana kabarnya sekarang? Ingin sekali aku bercerita tentang resah yang berkecamuk di dalam dada. Mungkinkah Laras, wanita yang tepat?


***


Minggu pagi, Amir mengajakku ke pasar Tanjung untuk membeli sangkar burung. Setelah itu kami mampir di warkop belakang Matahari department store. Secangkir wedang kopi sudah tersedia di meja. Tanganku meraih sendok kecil dan mulai mengaduk.


“Eh...nak kanak binik ruwah raddin” celetuk Amir menyikut lenganku. “Mbois jeh”


“Jarno”


Mataku melempar pandangan pada dua remaja di seberang jalan. Gadis berambut lurus bercengkrama dengan seorang laki-laki di atas sepeda motor. Biasa saja tidak ada yang menarik menurutku.


Ocehan Amir masih seputar gadis di seberang sana. Celetukkan kekaguman dan pujian tak henti-hentinya keluar. Hingga gadis itu pergi. Saat itu juga Amir diam dan menyeruput kopinya. Dari dulu dia memang suka sekali memperhatikan gadis yang berusia 17 tahun ke atas. Masih kinyis-kinyis katanya.


Sebenarnya aku enggan membicarakan ini. Rasanya kurang sopan. Namun suasana sedang santai. Jadi tidak ada salahnya mencari tahu sesuatu yang akhir-akhir ini membuatku penasaran. Sudah dua bulan mengajar dan sering melihat Bayu dan Laras bersama. Amir pasti mengetahui sesuatu.


“Apa Bayu pernah bercerita tentang seorang wanita?” tanyaku penasaran. “Atau menyebut nama seseorang bernama Laras”


“Larasati? Mereka bertunangan enam bulan yang lalu. Kenapa Pur?”


Lidah ini menjadi kelu. Kata ‘bertunangan’ membuat dada terasa sesak. Benarkah yang ku dengar barusan. “Bayu tidak pernah memberitahuku”


“Sengaja. Karena tidak ingin jadi bahan pembicaraan. Kau kan sekarang jadi bagian dari mereka,” ujar Amir. “Jangan katakan kau terpikat pada Laras, wonge dhuwur, ramping lan ayu.”


“Biasa saja,” Aku menyeruput kopi hingga habis. “Posturnya terlalu tinggi kurang pas di pandang”


Amir terkekeh. “Laras memang pernah jadi finalis ‘cak dan yuk’ Lumajang waktu masih SMA.”


Pernah jadi finalis duta wisata. Luar biasa. Tak heran penampilannya selalu jadi pusat perhatian di kalangan dosen dan mahasiswa. Sudah terlatih rupanya. Namun terlepas dari itu semua, perilakunya sedikit berani. Dimana wanita itu seharusnya pemalu, lemah lembut bahasanya dan sopan perilakunya. Kelancangan Laras saat berani mendaratkan tangannya ke lenganku, belum bisa aku lupakan. Kenapa itu jadi sebuah Kelancangan? Karena aku dan dia sangat berbeda. Dan yang kedua, jika dia sudah punya tunangan, kenapa masih berusaha menggoda dan tebar pesona pada laki-laki lain.

__ADS_1


__ADS_2