Crush On You

Crush On You
part 6


__ADS_3

Part 6


Setelah libur tahun ajaran baru. Pendaftaran di tempat kurus mulai dibuka. Beberapa siswa SD,SMP dan SMA mulai berdatangan. Bahasa inggris di Indonesia termasuk bahasa asing jadi wajar peminatnya lumayan banyak. Bahasa inggris sendiri termasuk salah satu mata pelajaran Ujian Nasional.


Miss Azizah dan rekannya, admin Smart English sibuk mencatat dan memberi penjelasan pada siswa baru. Terkait pembagian kelas dan beberapa program dari lembaga tersebut.


Aku meletakkan sertifikat di meja admin,”Ini sudah selesai, tinggal menempelkan foto dan stempel”


“Aku akan menempelkan fotonya”


Mataku melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Amir, Miss Sofia dan Miss Silvi belum datang. “Jam berapa rapatnya?”


“Nanti jam lima sore, sekalian pembagian kelas” jawabnya tenang. Sementara tangannya sibuk mencari sesuatu di laci. “Mister bawa Stempel?”


“Ya,” tanganku mengambil benda yang di maksud dalam tas. Pukul tiga sore, pekerjaan tidak terlalu banyak. Aku membantu memberi stempel pada sertifikat. Kutarik kursi dan duduk tak jauh dari meja admin. Samar-samar terdengar suara tidak asing. Ku pejamkan mata untuk memastikannya.


“Permisi, saya mau melamar pekerjaan,” katanya pelan. “Posisi pengajar bahasa inggris.”


“Sebentar ya mbak. Saya baca dulu CVnya,” kata Miss Azizah. “Asmarani Bening. Semester berapa?”


Mendengar nama itu, membuatku tersentak dan menoleh. “Bening...is that you?”


“Maaf, saya tidak jadi melamar disini.” Bening meraih kembali amplop warna coklat  dan berjalan keluar tanpa bicara lagi.


“Hei...wait!” teriak ku mengejarnya hingga sampai pagar.


Dia tidak menoleh atau berhenti. Terus berjalan cepat seperti kereta api. Menyeberang jalan dan berhenti di dekat halte.


“Kau bahkan tidak menyapaku. Kenapa tidak jadi melamar?”


“Tidak ada apa-apa,” Kedua matanya menatapku sebentar dan menunduk lagi. Tangannya bergetar meremas amplop warna coklat, “Permisi, saya harus pergi. Good Afternoon.” Perangainya malu-malu, ragu dan takut. Sangat santun. Begitu juga penampilannya yang biasa-biasa saja.


Ingatanku kembali waktu menyuruhnya mengajar di kelas. Dan beberapa waktu yang lalu saat tidak sengaja bertemu di pasar. Lugu dan manis sedikit. ‘Bening, semoga kau segera mendapat pekerjaan’ lirihku pelan.  


***


Kini aku tidak lagi tinggal di rumah Amir. Sebuah keputusan sudah ku ambil. Rumah kecil berhasil ku sewa untuk tiga tahun kedepan. Perumahan Bumi Kaliwates, jaraknya tidak jauh dari kampus tempatku mengajar. Suasananya tenang dan asri. Banyak tumbuhan hijau tumbuh di halaman. Terdapat ruang tamu, dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Sementara tidak ada perabotan di ruang tamu. Hanya meja dan tempat tidur di kamar. Kebetulan itu peninggalan si pemilik rumah. Sudah tidak terpakai katanya. Dapurnya juga masih kosong. Itu artinya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk membeli sedikit perabotan yang diperlukan.


Aku merebahkan diri di tempat tidur. Ku tarik selimut hingga ke leher. Sudah seminggu tinggal disini. Sedikit bergidik saat teringat pada kata-kata saudariku. Dimana saudara kandung seperti orang asing. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, begitu menyakitkan. ‘Dasar benalu,’ ya mbak Fira mengatakan itu. Berbulan - bulan aku harus menelan rasa sakit itu. Hingga akhirnya sekarang bisa bernapas lega dan tenang.


Pukul delapan malam. Terdengar suara pintu diketuk. Aku turun dari tempat tidur. Berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu.


“Assalamualaikum, ada seorang wanita mencari sampean?,” tanya Pak RT. “Namanya Safira. Katanya dari Sidoarjo.”


“Waalaikumsalam, iya pak dia kakak saya”


“Ya sudah kalau gitu, saya suruh kesini saja”


Laki-laki berkumis itu pergi. Kebetulan rumah ini berhadapan dengan rumah RT. Jadi cukup tenang jika ada orang yang ingin berkunjung. Tunggu, mbak Fira kesini. Ada apa?


“Oh jadi ini tempat tinggalmu,” katanya sinis saat melangkah ke ruang tamu. “Menyedihkan. Tapi ku rasa ini memang cocok untukmu.”


“Ada perlu apa?”


Wanita itu mengeluarkan kertas kosong dan pena. “Cepat tanda tangan disini. Aku akan menjual rumah peninggalan bapak.”


“Tidak.” Aku memalingkan muka.

__ADS_1


Plak!!! Tamparan keras mendarat di pipiku.”Beraninya kau menentangku. Well, jika itu kemauanmu. Kau tidak akan dapat apapun. Dasar tidak berguna.”


Kuarahkan pandangan ke jendela. Tak ada niatan untuk menanggapinya. Kasihan sekali, tidak menemukan cara untuk bahagia, selain membuat orang lain sengsara. Suara langkah kakinya keluar dari rumah. Kekuasaan sedang meracuni pikirannya.


Aku memilih diam dan tidak bercerita pada siapapun tentang hal ini. Termasuk pada ibu atau pada saudara yang lain. Biarlah semua ini berlalu dengan sendirinya. Sungguh rasanya sekarang seperti sedang terbebas dari beban yang kadang meracuni pikiranku. Mbak Fira pasti membenciku. Tapi itu pilihannya sendiri. Rumah peninggalan bapak seharusnya tidak dijual, karena ibu juga masih bisa menempatinya.


***


Seorang pria bertubuh gempal berjalan ke arah mejaku. Pak Slamet namanya, dia satpam di kampus ini. Perangainya tegas dan kaku.


“Selamat siang, ada surat untuk anda” katanya meletakkan surat di meja.


“Terima kasih’’


Setelah Pak Slamet keluar ruangan. Ku lirik Bu Laras sedang memperhatikanku sejak tadi. Penasaran pada isi surat ini pastinya. Tidak biasanya aku mendapat surat khusus, maksudku surat dengan amplop warna kuning motif bunga-bunga seperti saat ini. Yang jelas ini bukan surat resmi.


Ku simpan surat itu di saku celana. Tanganku meraba dalam saku. Sial! Harusnya aku membawa obat tetes mata. Sinar matahari diluar cukup panas memantul dari lantai dua nanti.


“Sedang mencari sesuatu?” tanya Bu Laras menyelidik.


“Sepertinya aku lupa membawanya. Dan benda itu penting sekali” jawabku ringan.


Wanita itu meletakkan benda kecil di mejaku. Benda yang aku butuhkan. “Apa ini bisa membantu?”


“Bagaimana bisa benda ini ada pada anda?”


“Well, ceritanya panjang. Ambil saja, aku tahu anda membutuhkannya,”ujarnya pelan. Matanya melihat sekeliling. Ruangan sepi, beberapa dosen lainnya pasti sudah masuk ke kelas.”Dinner with me at 7 o'clock.”


“with my pleasure...”


Pemilik senyum madu pinastika itu merona. Semakin cantik dan menggemaskan. Namun aku harus segera meninggalkannya untuk mengajar. Selama mengajar, pikiranku penasaran dengan surat tadi. Sementara murid-murid mengerjakan soal. Segera ku robek ujung amplop itu. Tanganku gemetar dan berkeringat. Pada lipatan kertas ada uang lima puluh lima ribu. Isi suratnya seperti ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.


Aku tidak ingin berhutang pada siapapun. Terima kasih, sudah menolong saya. Di pasar beberapa bulan yang lalu, saya memang sedang tidak punya uang. Dan sekarang saya kembalikan uang itu. Mohon diterima, karena itu hak anda.


Muridmu,


Asmarani Bening.


Surat tersebut aku simpan kembali. Ini sebuah kelancangan. Niatku murni ingin membantunya tanpa mengharapkan imbalan. Sepertinya gadis itu tidak bisa memahami mana pertolongan murni dan mana itu hutang. Keterlaluan sekali.


Kring!!! Bunyi bell membuatku tersentak. Setelah mengakhiri pelajaran. Aku keluar dengan perasaan tidak karuan. Dan ini tidak bisa dibiarkan. Kelas berikutnya, semester lima. Saat tiba di kelas, tidak ada keramah-tamahan. Suasana hatiku sedang buruk. Aku membagikan kertas pada mereka, “write your name, make 3 or four paragraph. Deskripsikan seseorang yang paling menarik menurut kalian ”


Mereka berbicara satu sama lain. Tidak menghiraukanku sama sekali. Berisik sedikit gaduh. Rupanya tema ini, membuat imajinasi mereka membludak tak terkendali.


“Any question?”


Sepi dan tenang. Tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat tangan untuk bertanya.


Kuperhatikan wajah mereka satu persatu. Ada yang senyum-senyum sendiri. Sepertinya mereka berimajinasi dan larut. Namun, ada satu mahasiswi yang tenang dan datar melempar pandangan ke luar jendela. Sesekali dia membuka oxford dictionary pocket di hadapannya. Kemudian tangannya mulai menulis dengan hati-hati.


Posisi duduknya tenang. Pakaiannya sama seperti kemarin. Kemeja putih dan rok hitam selutut. Sederhana dan biasa saja. Terlihat raut lelah di wajahnya. Bibirnya terkunci rapat.


Aku berdiri tidak jauh darinya. Rasanya ingin sekali menegurnya terkait surat itu. Tidak, tapi tidak untuk detik ini. Ini di kelas, dan dia sedang belajar.


“Five menit again. Selesai ataupun belum, segera kumpulkan di depan” perintahku pada mereka.


Pekerjaan mereka menumpuk di meja. Satu persatu kumasukkan ke dalam map. Semua sudah meninggalkan kelas, kecuali Bening. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan membolak-balik buku seperti itu.

__ADS_1


“Hi...you,” teriakku tegas. “Can you help me, bring this to my office.”


Dia maju mendekat. Masih dengan kepala tertunduk,”yes sir…”


“You hurt my feeling…!” Kali ini kami berhadapan satu sama lain. “Aku murni ingin menolongmu kemarin. Jadi jangan merasa berhutang. ” Uang 55 ribu kuletakkan di atas map yang dia bawa. “Masukkan uang ini pada kotak amal”


Matanya menatapku sekilas dan tertunduk kembali. Wajahnya pucat. Tak bergeming. Keringat membanjiri keningnya. Dan dia melangkah keluar meninggalkan ruangan.


Aku tidak membiarkannya lolos begitu saja. Segera kupercepat langkah untuk berjalan di sebelahnya. Tak sampai hati melihatnya begitu ketakutan. Murung dan sedih. Tapi itu membuatku lebih baik. Sikap tenangnya tidak goyah sama sekali, bahkan saat aku berada di sebelahnya. “Apa kau sudah dapat pekerjaan?”


“Sudah’’


‘’Dimana?’’


‘’Di TK. Untuk sorenya mengajar bahasa inggris di rumahnya Bu Sakinah.”


“Bu Sakinah dosen matematika?”


“Benar mister. Beliau membuka study club untuk siswa TK, SD dan SMP, kebetulan saya yang mengajar bahasa inggris”


She is an English Teacher. Not bad. Itulah kesimpulan perkapan  hari ini. Kami berpisah di dekat ruang dosen. Aku berdiri dan pandanganku tertuju padanya. Hingga di kejauhan, dia menoleh dan tersenyum sopan di sertai anggukan.


***


Aku menatap diri di cermin. Mengamati pakaian yang melekat saat ini. Biasa saja, santai dan sopan. Wajahku memang tidak masuk kategori tampan dan menarik. Justru semakin hari semakin tirus saja. Ponsel bergetar, pesan dari Bu Laras.


Jalanan juga nampak senggang. Kuselipkan bunga mawar  merah berpita pink dalam saku jaket. Hatiku berdesir. Mungkinkah ini berarti sesuatu. Semoga saja. Motorku berhenti di depan gerbang warna putih.


Wanita memakai dress polos selutut tanpa lengan berdiri dan tersenyum. “Ayo masuk,” sapanya ramah.


“flower for beautiful woman,” Mataku mengerjap dan memberikan bunga. Bu Laras tanpa menggunakan hijab terlihat  rupawan. “Apa anda, tinggal di sini?”


“Tidak. Ini rumahnya sepupuku. Kebetulan dia sedang ada luar kota. Jadi aku bebas menggunakannya.”


Kami masuk ke ruang tamu. Kemudian menuju ruang makan. Beberapa lilin ada di meja. Makanan ala western dan beberapa minuman. “Well, apa anda biasanya juga mengundang Bayu dengan cara seperti ini?” tanyaku menggali dan mengamati gerak-geriknya.


“Kadang-kadang” Dia mulai mengisi piringku.”Semoga anda suka makanannya”


Tidak ada pembicaraan selama kami makan. Sesekali saling berpandangan dan tersenyum. Setelah makan malam dia menawarkan minum teh dan bersantai di ruang tamu. Dia duduk tepat di sampingku. “Mungkin aku akan meninggalkan Bayu.”


“Tidak. Dan jangan pernah lakukan itu.”


“Well, sepertinya udara disini terlalu panas,” keluhnya malas dan mengunci pandangan ke arahku


Setiap inci di wajahnya menarik untuk diperhatikan. Mataku yang jelalatan enggan berpaling. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhku. ’Apa dia ingin bercinta denganku?’ bisikku dalam hati. Pertanyaan itu terus bersarang.


“Ah ya!” Aku mulai mengatur napas. “Sepertinya aku harus pergi”


Bu Laras mengantarku hingga pintu gerbang.


Begitu sampai di rumah. Segera aku melepaskan jaket dan mengisi bak mandi. Ya Tuhan, apa yang sedang aku pikirkan? Sepertinya memang terjadi sesuatu. Aku merasakannya, ya aku merasakannya. Kenyamanan, keindahan dan semuanya. Larasati harus segera pergi dari pikiranku. Sesuatu yang indah hanya boleh dilihat namun tidak untuk dimiliki. Dia milik temanku.


Bersambung...


with my pleasure...” – dengan senang hati


Bening...is that you?”- Bening...kau kah itu?

__ADS_1


You hurt my feeling…!”- Kau menyakiti perasaanku...!


She is an English Teacher. – Dia (Pr) seorang guru bahasa inggris


__ADS_2