Crush On You

Crush On You
part 10


__ADS_3

Acara makan siang di restoran Taman Mangli Indah, Jalan Hayam Wuruk Kaliwates Jember. Aku berjalan sambil mencari dimana meja mereka. Maksudku Bayu dan Amir. Datang di tempat ini mengingatkanku pada pemilik senyum madu pinastika. Tidak, kali ini aku tidak boleh mengingatnya.


Seorang pelayan memberitahu tempat dan meja yang masih kosong. Karena sebagian meja di sini sudah dipesan pelanggan. Dari kejauhan Amir mengangkat tanganya. Aku mengangguk dan berjalan ke sana. Bayu cepat-cepat mematikan rokoknya. Saat aku mengambil tempat duduk.


“Mulai besok, Amir akan bergabung di Universitas Pillar, tapi dia hanya mengajar beberapa kelas reguler.” Bayu membuka pembicaraan.


“Akhireh bisah ngelompok poleh, jeh. Kancaan sak terossah.” Kata Amir gembira.


Selamat bergabung, Mir.” Sahutku cepat dan segera minum segelas orange juice.  


Teman adalah pembawa keberuntungan. Itu memang benar. Ya, seperti yang terjadi saat ini. Teman seperti saudara. Dan terkadang saudara seperti orang asing. Hal itu wajar, bukan? Aku rasa begitu.


“Cara mengajar yang kaku dan sifat ‘cold fish’ pada mahasiswa jaman sekarang kurang cocok,” kata Bayu menghadap ke arahku. “Sepertinya kau perlu beberapa referensi. Kapan-kapan, masuklah di kelas Laras.”


Aku ingin sekali menyanggkal. Namun tidak untuk sekarang. Kenapa tiba-tiba Bayu bicara seperti itu? Pasti ada yang mempengaruhinya. Baiklah lihat saja, cepat atau lambat. Aku pasti mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Selama bertahun-tahun karakterku memang begini. Ku anggukkan kepala dan senyum tipis.


Pelayan datang menghidang kan makanan. Meja di hadapan kami sudah penuh. Mulai dari makanan pembuka, hingga penutup. Lagi-lagi aku mendapati sesuatu yang mencurigakan. Perangai Bayu masih belum terbaca. Sedangkan Amir tetap santai.


Aroma mawar segar. Melewati indra penciumanku yang memang akhir-akhir lebih tajam dari biasanya. Segera aku ubah posisi duduk dengan sedikit tegap. Degup jantung mulai bekerja lebih cepat dan otot-otot saraf sedikit menegang.


“Lagi lunch bareng rupanya.” Suara yang tidak asing. Menghampiri meja kami.


Laras. Wanita itu selalu elegan dan manis. Dia mengangguk pada Amir. Ucapan selamat bergabung juga terlontar dari bibirnya. Kemudian dia mengangguk pelan ke arahku. Sementara jarinya yang lincah dan halus itu ada di genggaman Bayu.


‘Drama menyebalkan’ lirihku dalam hati. Aku sangat lapar, dan wajah cantik itu tidak akan mampu membuatku kenyang. Tanganku mulai meraih semangkuk sup. Kemudian aku mulai mengunyah makanan dengan sangat pelan, tiba-tiba seperti ada yang tertahan di tenggorokan. Segera kuraih segelas air. Ku lirik sekilas, Bayu begitu pasrah pada wanita itu. Sangat membahayakan. Tapi begitulah wanita cantik, terkadang menyimpan bius tersendiri. Jadi, berhati-hati lah.


Sepuluh menit berlalu. Drama berakhir. Akhirnya wanita itu pergi dan menuju meja lain. Tempatnya agak jauh, dia sedang bersama-sama teman-temanya.


“She is an attractive.” Kata Amir.


“Memang.” Bayu mulai menaikkan bahu dan melirik ke arahku. “Bagaimana menurutmu, Pur?”


“Yeah, sepertinya begitu. Di samping itu dia juga cerdas.” Jawabku seolah-olah terpukau dengan wanita itu. Sungguh, demi apapun itu. Aku sebenarnya tidak ingin berkomentar, melihat atau bertemu dengan hal-hal yang membuatku tidak nyaman seperti ini.


Setelah acara makan siang selesai. Amir pulang bersamaku. Kebetulan dia tadi tidak bawa motor. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya dia membicarakan Laras.


“Jok neneng meloloh. Be,en tak pah apah tah?”


“Mumet aku Mir!”


“Mumet opo loro ati? Omongane Bayu ora usah di pikir, Jeh.”


“Menurutku omongan tadi itu penghinaan.”


“Bayu kui cuma ngelingake. Ngopi sik ayo, ben ora tegang.”


Kulirik jam di pergelangan. Sepuluh menit lagi mengajar. Tidak ada acara ngopi bersama. Motor berhenti di depan kampus. Dan Amir pun ngopi di kantin sendirian. Setelah mengajar nanti baru ku antar dia pulang.


***


Dengungan seperti suara seruling terus mengganggu. Menggema di telinga kiri. Sudah tiga hari berturut-turut, aku sudah coba tutup dengan kapas tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku biarkan saja. Dan dengungan itu terjadi setiap malam, sekitar pukul sembilan lewat.


Dari jendela ada asap. Kuraih kacamata untuk memastikan sesuatu. Tidak ada asap di sana. Ku letakkan kembali kacamata. Dan asap mengepul banyak sekali. Kedua kaki terasa kaku untuk melangkah. Berkali-kali aku menghela napas, saat itu pula aku merasakan kesedihan yang mendalam akan kehilangan dan kematian.


Tanganku meraih buku doa dan mulai melantunkannya dengan pelan. Perlahan rasa itu pergi dengan sendirinya. Kedua mata ini belum terlelap, bayangan akan hal-hal yang tak seharusnya muncul kembali. Devi yang selalu mengganggu dengan serbuan sms tidak penting kini sudah tiada. Ku lirik ponsel di meja, “mungkin aku sedikit merindukannya” ucapku pelan ketika menyudahi japa dan kembali ke kamar.


Pukul setengah enam pagi. Embun bergelayut, basah dan dingin. Jalanan berkabut putih. Pengap dan membuat pandangan melalui kacamata terganggu. Aku pelankan motor dan berbelok menuju tempat fotokopi. Jalanan masih lenggang. Hanya Penjual sayur yang wira-wiri. Sepagi ini hanya ada satu tempat fotokopi yang buka. Di toko ujung jalan dekat jalan raya. Begitu sampai sudah banyak yang antri. Aku mendesah pelan dan duduk di samping toko tersebut.

__ADS_1


“Mister?” suara anak kecil menarik lenganku.


“Zahra? Sama siapa?”


Anak itu menunjuk seseorang yang meletakkan sepeda di bawah pohon. Gadis itu memakai kemeja batik warna ungu dan celana panjang hitam.


“Morning….” sapaku.


“Morning sir. Sudah lama?”


“Belum.”


Kami hanya saling memandang dan tersenyum sebentar. Dia berdiri tepat di sebelahku.


Tertegun sejenak. Hatiku berdesir. Kali ini wajahnya cerah dan segar. Kulitnya kuning langsat bercahaya. Rambutnya di kepang menyamping rapi. Akan lebih bagus jika terselip hiasan bunga-bunga di setiap rambutnya. Kurang lebih sepuluh menit. Kupandangi wajah itu, wajah Bening pagi ini.


Suara karyawan toko itu membuatku tersentak. Fotokopian sudah selesai. Hasil fotokopi di masukkan map warna kuning. Tanpa membacanya lagi, segera kumasukkan dalam tas. Ku lirik Bening sedang menatap ponselnya. Tangannya juga meraih map kuning.


Basa-basi sebentar. Aku sudah tidak tahan jika berlama-lama menatap wajahnya. “Sekarang, hari pertama aku mengajar di Universitas Harapan.”


“Ohya? Good luck!” katanya semangat.


Diakhiri anggukkan sopan. Gadis itu beranjak duluan dan pergi bersama Zahra. Rajin bekerja dan mandiri.


Terlalu pagi untuk sampai di kampus. Sengaja aku sarapan terlebih dahulu di warung pinggir jalan jawa. Sepiring nasi pecel dan teh hangat siap untuk di santap. Jangan tanya rasanya seperti apa? Untuk bumbu kacangnya, manis dan tidak terlalu pedas. Aku mendesah pelan setelah sarapan sambil meraih ponsel. Sedikit teringat Bening, bagaimana dunianya? Bagaimana caranya mengajar anak-anak? Apa saja yang dilakukannya di sekolah? Sepertinya ini akan jadi topik menarik untuk dibicarakan dengannya. Jika dia membutuhkan saran atau pendapat tentang belajar dan mengajar, aku siap membantu dan memberikan referensi. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Tapi kapan? Sudahlah, aku tidak ingin terlalu mengganggunya.   


Motorku memasuki kampus. Langsung ke kantor sebentar dan masuk kelas ekonomi. Berkali-kali ponsel bergetar. Tidak ada niatan untuk meraih ponsel itu. Posisi sedang di kelas. Seperti biasa pada pertemuan pertama, tidak ada basa-basi atau perkenalan yang ramah. Cukup aku menyebutkan nama dan memperhatikan mereka satu persatu. Kedua mataku membelalak heran nampun tetap tenang dan terkendali.


Mereka semua modis dan cukup menawan. Untuk mahasiswi penampilannya seperti sosialita. Tidak ada rambut atau kerudung yang berantakan. Tidak ada tas lusuh atau sepatu usang. Semuanya serba indah dan serasi. Begitu juga untuk Mahasiswa, kebanyakan mereka berpakaian santai tapi modis, ada yang bergaya ala anak band, artis korea atau cover-cover boy/girl majalah. ‘Ini kelas, atau ajang pemilihan model’ bisikku dalam hati. Aku mengajar bahasa inggris, dasar-dasarnya saja. Karena hanya satu semester, 2 sks. Setelah menjelaskan di papan. Tanganku meraih map kuning yang berisi soal. Begitu aku membuka map itu, ternyata isinya adalah gambar pemandangan dan tertera nama TK Tulip. ‘Astaga, dimana soal yang aku fotokopi tadi? Kenapa jadi lembar mewarnai anak Tk?’ bisikku dalam hati.


“Ya, ampun dari tadi menulis melulu,” kata salah satu mahasiswi paling depan. “Capek.”


Aku menoleh. “untuk mempersingkat waktu, aku dektekan saja.”


“What!” teriak mahasiswa lainnya. “Tulisan di papan saja aku belum selesai sudah mau  dekte”


“Well, silakan fotokopi sendiri jika tidak mau menulis.” Aku mengeluarkan buku English grammar tebal warna biru.


Mereka menggeleng dan lanjut menulis. Jaman sekarang banyak sekali mahasiswa atau mahasiswi manja serta pandai mengeluh. Tidak tahukah mereka. Bahwa menulis itu termasuk melatih otak agar tetap bekerja dan konsentrasi. Setelah kelas berakhir. Aku keluar dan merogoh ponsel di saku. Tiga panggilan tak terjawab atas nama Bening. Dan satu pesan di kotak masuk. Seperti ini isinya.


Good morning sir,


Saya membawa map kuning berisi soal bahasa inggris. Ini pasti milik anda. Dan apakah anda membawa map kuning berisi lembar mewarnai untuk anak TK?


Sincerely,


Bening.


Senyumku mengembang. Jadi soal bahasa inggrisku ada padanya. Dengan cepat aku balas pesannya.


Morning….


Ya, sepertinya tertukar tadi pagi.


See you on campus this afternoon.


Ku masukkan kembali ponsel di saku. Rasanya tidak sabar menunggu siang nanti. Waktu istirahat, aku gunakan untuk menyapa dan beramah-ramah di ruang dosen dengan rekan-rekan kerja yang baru. Suasana hangat sudah mulai terasa. Sejauh ini, hanya Bu Sakinah dan Arif saja yang sering ngobrol denganku.

__ADS_1


Suasana baru selalu membuatku kaku. Walaupun sebisa mungkin bersikap ramah. Saling berdiskusi seputar pengajaran satu sama lain. Mereka juga memberitahu, beberapa kebiasaan-kebiasaan pengajar di sini.


“Setiap satu bulan sekali. Lebih tepatnya tanggal 29 selalu ada anjangsana ke rumah pengajar dan staff,” kata wanita bertubuh gempal. Dia koordinator agenda bulanan itu. Bu Sri wahyuni namanya. “Tujuannya, biar lebih akrab. Gimana Pak Pur setuju atau keberatan dengan agenda kita?”


“Ya, setuju. Ide yang bagus.”


Wanita bertubuh gempal itu tersenyum kemudian menulis namaku dan memasukkan dalam botol. Karena setiap bulan akan di undi, nama yang keluar itu artinya rumahnya yang akan dituju sebagai tempat anjangsana.


***


“Persiapkan diri dan jaga kesehatan dari sekarang.” ujarku pada Iskan. Sejauh ini aku lihat dia memang berbakat. Jadi tidak perlu persiapan rumit.


Iskan bercerita tentang rencananya untuk jadi volunteer ke Eropa. Sengaja berdiskusi karena ingin mendapatkan motivasi. Nasehat dan saran kecil, aku berikan. Sungguh, keinginannya sangat menggembirakan bagiku. Jarang sekali ada anak muda yang penuh semangat seperti dia.


Dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih padaku.


“Iskan, kayaknya kelasmu sudah masuk dari tadi.” seorang gadis menepuk pundaknya.


“Mata Kuliah English for young learners? Lantai dua?” Iskan menoleh.


“Iya, kelasnya Madam Laras”


“Oh God, thank you Ning.” jawabnya berlari.


Setelah Iskan pergi. Kini tinggal  aku dan Bening di bawah pohon tak jauh dari perpustakaan.


“Take, a sit please.” pintaku.


Bening mengangguk dan duduk. Tangannya mengeluarkan map kuning dan meletakkan di meja. “Maaf, map nya tadi tertukar.”


“Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya.”


“Syukurlah. Tadinya saya mau mengantar map itu. Tapi tidak jadi, karena Mister sudah balas sms.”


“Tidak perlu. Kau sendiri bagaimana? Aku harap kau tidak memberikan soal bahasa inggris itu pada anak-anak TK.”


“Tentu saja tidak.” Jawabnya tersenyum malu.


Tanganku meraih selembar soal dari map kuning. “Sekarang, coba kerjakan ini.”


Gadis itu mengangguk dan mulai mengerjakan.


Tenang dan tidak peduli dengan suara - suara yang berlalu lalang melihat ke arah kami. Di sekitar aku perhatikan mereka, para mahasiswi. Ada yang berbisik, melirik sinis, dan melempar tatapan penuh tanya. Kurang dari lima menit, sepuluh soal selesai dia kerjakan.


“Tidak perlu latihan khusus untuk mengerjakan soal seperti ini, mudah bukan?” mataku melirik sekilas. “Good Job, Miss Bening.”


Wajahnya berbinar, sama seperti saat hujan kemarin. Kali ini tanpa senyum. Sesekali melihat ke arahku dan dengan cepat pula menunduk datar.


“Kenapa? Apa kata-kataku terlalu dingin, ya?”


Dia menggeleng. Kemudian beranjak dan mengangguk sopan. Tanpa kata, pergi begitu saja.  


Aku bersandar pada pohon. Harusnya aku tadi bisa membuat dia betah. Lagi-lagi aku kesulitan bicara dengannya. Kulirik jam tangan. Waktunya masuk kelas. Saatnya fokus kembali.


Empat puluh lima menit berlalu. Sinar matahari sore belum juga redup. Masih berwarna orange di balik awan putih pucat. Langkahku terhenti melihat Bu Laras dan Bening masuk ke ruang dosen. Sebaiknya aku tunggu salah satu dari mereka keluar. Ku rogoh ponsel di saku celana. Beberapa pesan masuk dari Amir. Ada meeting di tempat kursus hari ini. ‘’Well, sebaiknya aku masuk dan berkemas'’lirihku pelan.


Begitu memasuki ruangan. Bening sudah tidak ada. Dan Laras tengah sibuk berkemas. Suasana mulai sepi, aku pun berkemas dan membersihkan meja. Hampir setiap ketemu aku menghindari dan mengurangi untuk beramah-tamah. Menyibukkan diri itu lebih baik daripada sibuk mengurus orang lain yang belum tentu peduli dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2