
Pada bulan April yang cerah, pertama kalinya aku mengajar di kediaman Pak Surya. Aku tiba pukul delapan pagi, wanita yang kemarin membukakan pintu untukku. Sekarang dia menunjukkan tempat kerjaku. Ruangan dengan pencahayaan sinar matahari yang cukup. Beberapa rak buku. Meja persegi panjang besar. Kedua siswaku sudah duduk di depan meja tersebut. Wanita bertubuh tinggi berdiri di sudut ruangan. Dia mengangguk sopan. Sekilas wajahnya mirip Bu Laras walau tidak keseluruhan, hanya saja pipinya sedikit berisi.
“Sugeng rawuh Pak Pur,” sapanya berjalan dan menjabat tanganku.
Wanita yang ada di sebelahku bicara, “Niki Bu Andini, garwanipun Pak Surya”
“Monggo pinarak…” kata Bu Andini ramah.
Dengan sedikit anggukkan sopan,“Inggih matur nembah nuwun bu.”
Etika jawa seperti ini sangat perlu dalam pergaulan dengan orang yang lebih tua atau orang yang memiliki derajat tinggi. Andhap asor dan luwes. Ajining diri soko lathi artinya berharga atau tidaknya diri kita itu berasal dari lidah (pengucapan) kita. Beberapa hal yang selalu ibuku ajarkan sejak aku kecil, dan ternyata itu sangat berguna.
Aku tahu sebelum kedatanganku mengajar di sini, sudah ada dua orang yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan perilaku kedua remaja bule yang ada di hadapanku sekarang. Mereka adalah Kevin dan Andrew.
Untuk itu aku tidak akan beramah-tamah dengan mereka. Terserah mereka terkesan atau tidak pada pertemuan pertama. Yang pasti mereka harus disiplin, patuh dan sopan. Jangan berharap bisa main-main denganku.
Semalam aku sudah membaca biografi mereka. Dari buku catatan milik Pak Surya. Dua laki-laki berusia lima belas tahun. Manja dan susah diatur. Karena tidak ingin terlalu merepotkan diri pada pertemuan pertama, aku menyuruh mereka membaca beberapa teks bahasa Indonesia. Awalnya mereka membaca sangat pelan. Telingaku hanya menangkap sedikit suara yang berdengung.
“Open page 36 paragraph 3. Read loudly”
Tidak ada yang menghiraukan. Keduanya masih bergeming seolah-olah aku tidak ada di sana.
“Kevin...please read loudly!” perintahku sedikit keras.
“Reading? Oh no, that is not interesting.” Keluhnya. Keduanya mengeluh seolah-olah membaca adalah hal yang paling berat untuk mereka. Terlebih lagi aku menangkap ekspresi-ekspresi ketidak pedulian mereka.
Mereka kira sikapku lemah lembut. Penilaian berdasarkan dari penampilanku. Mereka salah besar. Justru aku bisa menjadi garang jika mereka berani melawan atau tidak menaati perintah. Sengaja aku bisikkan sesuatu ancaman pada keduanya, ya sedikit cerita yang aku ciptakan sendiri untuk mengelabui mereka. Dan akhirnya berhasil. Pelajaran hari ini berjalan lancar. Kesulitan kecil sudah teratasi. Aku menyuruh mereka membaca karena aku ingin mengetahui bagaimana cara mereka melafalkan bahasa Indonesia. Suara mereka, seperti orang cadel atau cedal. Kesulitan jika bertemu huruf “R.”
Pukul 11.30 siang itu berarti kelas berakhir. Langkahku pelan menuruni anak tangga. Ku lihat Bu Andini dan seorang pelayan sedang duduk di ruang TV. Wanita itu menawarkan makan siang.
“Maaf bu. Lain kali saja. Saya harus segera ke kampus”
“Tunggu sebentar,” pintanya. “Biar saya bungkuskan”
“Tidak usah repot-repot bu.”
“Ndak repot. Saya tadi itu masak sate, terus Pak Surya telpon kalau dia sedang ke luar kota,”ujar Bu Andini. “Tadi sebagian juga sudah saya antar ke kosannya Laras”
“Terima kasih.” Aku menerima bungkusan itu dan keluar. Tunggu, ‘Apa Laras tinggal di daerah ini juga?’ tanyaku dalam hati. Sedikit penasaran, tidak bermaksud apa-apa. Bungkusan itu ku gantung di setir sepeda motor.
Motor berhenti di dekat lampu merah. Tiba-tiba perutku melilit. Dan pandangan sedikit kabur. Ponsel di saku celana bergetar. Kuhentikan motorku dan segera meraih ponsel di saku. Pemberitahuan rapat staf dan dosen di kampus pukul 12.30 siang.
Sepertinya acara makan siang harus tertunda. Mengingat sejak tadi pagi aku belum makan dan minum. Aku tancap gas lebih cepat. Namun tidak ada gunanya, jalanan sedang macet. Bersamaan anak-anak SMA pulang sekolah.
Motor melaju pelan memasuki tempat parkir. Kakiku berjalan cepat menuju tangga lantai dua. Saat menaiki tangga kemudian melewati beberapa kelas. Banyak Mahasiswi sedang duduk di depan kelas. Ada yang mengobrol, sibuk dengan ponsel, dan membaca buku. Perkuliahan dimulai pukul dua siang. Langkahku terhenti pada pintu lab bahasa yang terbuka.
__ADS_1
“Saya tidak menerima alasan apapun. Kau terlambat mengumpulkan tugas”
“Maaf, Kemarin saya menunggu. Tapi Madam tidak datang ke kampus”
“Kemarin saya ada seminar. Kenapa tidak kau kumpulkan hari senin bersama yang lain?”
“Senin kemarin saya tidak masuk karena sakit”
“Alasan” gertak Bu Laras. “Kau tahu mata kuliah Discourse Analysis itu penting. Jadi jangan main-main.”
“Iya maaf Madam”
Tertegun melihat wajah ayunya saat marah. Semakin menarik untuk diperhatikan. Matanya membelalak dan napasnya naik turun. Pertanda emosinya sedang terbakar. Namun suasana sedang tegang antara Laras dan Mahasiswi itu. Sepertinya perlu di cair kan. Aku berdehem. “Good Afternoon” tanganku mengetuk pintu.
“Come in” jawab Bu Laras pelan.
Aku mendekat dan berbisik, “Did you fall from heaven?”
“No, I am red rose from hell”
“Oh well, I guess that explains why you're so hot.”
Rona merah dipipi Bu Laras terbingkai sempurna.
Aku mengangguk dan mengulum senyum. Seperti ada kupu-kupu terbang di dalam perutku. Bu Laras pun keluar dari lab bahasa dengan wajah yang merona dan berseri. Ku lirik mahasiswi tadi. Dia menunduk menahan tawa mendengar percakapan barusan.
“Thank you sir, Thank you so much.” katanya memberikan tugasnya padaku.
Belum sempat aku perhatikan bagaimana wajah mahasiswi itu. Karena dia hanya menunduk tanpa menatapku atau mendongak. Aku hanya ingin menolongnya itu saja. Se ingatku dia berambut panjang bergelombang. Dan sejak di lab bahasa tadi, seluruh perhatianku hanya tertuju pada Bu Laras.
Permainan ini sangat menarik. Aku sengaja seolah-olah bertekuk lutut pada pesonanya. Padahal, aku hanya terkesima wajah cantiknya. Bu Laras itu milik Bayu, aku tidak berhak ataupun mempunyai kesempatan dalam sudut manapun. Mata indahnya berbinar bila melihatku. Dan saat itu juga aku memaksanya untuk tenggelam di mataku. Kadang ini berhasil dan kadang tidak. Karena perangai Bu Laras yang cerdik.
‘Aku sudah belajar banyak’ bisikku dalam hati. Sosok wajah Bu Laras yang paripurna memang menjadi buruan sang pelukis atau bahkan penulis untuk mengabadikan dalam bentuk apapun. Dan untukku pribadi, aku ingin mengetahui kedalaman karakternya.
***
Keesokan harinya, awan kelabu disertai angin kencang. Tidak hujan. Daun kering disertai debu berterbangan. Sangat mengganggu pengendara sepeda motor di jalan. Belum lagi banyak pohon tumbang, untuk sementara beberapa jalur teralihkan. Ku lirik jarum panjang hampir tepat di tengah angka dua belas. Dan jarum kecil di angka dua. Belum terlambat, Aku turun dari sepeda motor. Dan aku masuk kelas semester empat.
Ku ambil spidol warna hitam. Dan mulai menulis di papan. Beberapa pattern dan ku jelaskan beberapa perbedaan pronoun, noun, …. Sesekali aku ingatkan. Takutnya mereka lupa dengan kelompok kata dan penggunanya.
“Any question”
Mereka tak bergeming. Beberapa dari mereka tampak bingung, namun berusaha untuk tidak bertanya. Dengan gigih berusaha mengerjakan soal sendiri. Karena sudah semester empat, mereka tidak manja atau bermanis muka. Proses belajar mengajar tidak ada hambatan.
Tok-Tok! Suara pintu diketuk. “Excuse Me, sorry I'm late…”
__ADS_1
Gadis itu tertunduk malu di dekat pintu. Tidak bergerak. Tidak juga menatapku. Rambutnya diikat kebelakang. Pakaiannya sederhana, tas selempang lusuh dan sepatu warna putih yang kusam. Menyedihkan. Penampilan yang malang.
Aku menyuruhnya masuk.
Dia masuk dengan kepala tertunduk dan duduk di bangku paling belakang. Tangannya mengeluarkan beberapa buku.
Dari kejauhan aku masih mengamatinya. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Entahlah, wajahnya tidak asing. Tanganku meraih absensi, semua full dengan tanda tangan kehadiran, kecuali satu yang kosong. ‘Nah, ini pasti namanya’ gumamku dalam hati.
“Have you finish?”
“Finish sir!” jawab seorang laki-laki berbaju biru. Dan duduk tepat di belakang gadis yang terlambat tadi. Sementara yang lainnya masih sibuk mengerjakan.
Aku berjalan ke salah satu mahasiswa yang sudah menyelesaikan tugas. Setelah memeriksa tugasnya, aku bertanya. “What's your name?”
“My name is Iskan”
“Good job” ungkapku setelah memberinya nilai. Kedua mataku masih fokus pada gadis di belakangnya. Berusaha mengingat gadis itu. Sial! Aku benar-benar tidak ingat. Kusandarkan tubuhku dinding. Berdiri tidak jauh darinya. Buku Let's write english by George E. Wishon berada di atas mejanya.
Tanganku menunjuk buku itu. “ can you OpenPage 33 please?”
Dia mengangguk dan membuka halaman 33. semua soal latihan sudah terisi. Tak ada suara atau tatapan darinya.
“Can you answer the question on Whiteboard?”
“Yes sir,” jawabnya pelan.
“Well, after you answer. I want you explain to your friends in front of class.”
Gadis itu menatapku takut. Diikuti anggukkan ragu-ragu. Sejurus kemudian dia menyelesaikan soal di papan tulis. Dia juga menjelaskan pattern of sentence. Full English. Tak lupa dia juga menjawab pertanyaan dari beberapa temannya. Suasana kelas yang awalnya sepi menjadi hangat.
Aku tertegun melihat keluwesannya ketika mengajar. Tenang dan sabar. Parasnya biasa saja. Tidak cantik ataupun menarik. Justru lugu dan polos. Bahkan bekas jerawat di pipinya juga masih terlihat. Kring!!! Suara bell, membuatku tersentak. Beberapa mahasiswa sudah keluar. Tinggal aku dan gadis itu. “Wow...great. Thank you” ucapku berjalan ke arahnya. “What is your name?”
“Asmarani Bening” jawabnya tertunduk malu. Dan mundur beberapa langkah.
“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?”tanyaku penasaran.
“Iya”
“Dimana?”
“Di lab bahasa, beberapa hari yang lalu”
Ku hembuskan napas tenang. Dia adalah Mahasiswi yang bersama Bu Laras. Ya, tidak salah lagi. Perangainya malu-malu, takut dan sopan.
Menundukkan kepala pada orang yang lebih tinggi derajatnya, menjaga jarak dan bersuara lemah lembut. Benar-benar membuatku penasarad. Gadis ini sedang tumbuh menjadi wanita dewasa. Sikap sopan santunnya sudah terpancar. Bukan dari wajah, tapi dari tindak tanduknya.
__ADS_1
Diantara bunga-bunga yang indah. Ada bunga yang sedang berusaha mekar perlahan. Bunga biasa warnanya tidak terlalu menarik. Namun aku berani berasumsi bahwa tangkainya kuat. Dan daunya tidak mudah jatuh. Dikala banyak mahasiswi menjaga eksistensi diri dalam penampilan dan pergaulan. Justru Bening terlihat punya sedikit teman.
Sebenarnya aku ingin memberinya hukuman. Karena keterlambatannya masuk kelas. Sengaja aku urungkan, alasannya yang pertama kasihan melihat penampilannya. Dan kedua, aku cukup terkesan padanya, caranya dia minta maaf benar-benar pasrah dan tulus. Tidak peduli itu suatu kesengajaan atau karena keadaan.