Crush On You

Crush On You
part 9


__ADS_3

Senin sore, begitu keluar dari kampus melewati pertigaan. Tiba-tiba motorku mogok. Aku pinggirkan di trotoar. Berkali-kali menekan tombol start. Tidak menyala. Aku turun dan menggulung kemeja hingga lengan. Berusaha untuk memperbaikinya. Keringat di dahi sudah mulai berkumpul. Belum juga menyala. Bagian busi sudah diotak-atik. ‘Haruskah aku periksa selang bensin nya’ lirihku pelan.


Kring! Bunyi bel sepeda. Sepatu warna putih melangkah di dekatku setelah meletakkan sepeda,”Mister?”


Tiba-tiba aku menggigil. Suara itu. “Eh...Bening. Hai .…” jawabku mendongak sedikit.


“Mogok?”


Aku mengangguk dan melihatnya sekilas.


Bening berdiri tak jauh dariku. Sesekali menunduk dan bibirnya bergerak-gerak seperti menggumam sesuatu.


“Ada apa? Kau tidak pulang?”


“Itu … itu motornya belum nyala,” jawabnya ragu-ragu tanpa menoleh ke arahku. “Mungkin Mister perlu bantuan”


“Terima kasih.” Aku mendongak tertegun sejenak memperhatikannya. Hingga tak menyadari tanganku mencabut selang bensin. Seketika muncrat ke arahku. Dengan cepat aku tutup kembali. Kini bajuku terkena semburan bensin. Sudah dua puluh menit berlalu.


“Apa kau tahu bengkel motor di daerah sini?”


Gadis itu mengangguk tanpa bicara. Kemudian berjalan, meraih sepeda. Matanya menatap sekilas lalu mengayuh. Dan pergi masuk ke arah gang kecil belakang kampus.


Aku menghela napas pasrah. Duduk di rerumputan, motor bertendeng tepat di sebelahku. Semua sudah aku coba periksa, seperti menegakkan benang basah. Belum juga ada tanda-tanda menyala. Jam tangan menunjukkan pukul 18.00. Hampir gelap. Dalam keadaan ini siapa mau peduli? Menunggu belas kasihan orang lain? Ah, mustahil. Bahkan gadis itu pergi tanpa pamit. Kepala menengadah ke atas. Mendung bergulung tebal.


Kring! Bunyi bel sepeda membuatku menoleh.


Iskan dan Bening turun dari sepeda.


“Motornya belum nyala?” tanya Iskan.


Aku menggeleng.


Laki-laki itu mendekat ke motor.


“Matiin dulu rokoknya.” Bening mengingatkan.


“Ah, tanggung. Enggo wae” jawabnya santai. Laki - laki itu semakin menghisap rokoknya dalam. “Enek opo emange?”


“Tadi bajunya Mister kecipratan bensin. Dan kau merokok tak jauh darinya.” ujarnya khawatir. “Mengko yen kobong piye?”


“Yen kobong berarti yo gosong” sahutnya terkekeh dan menoleh. “Saya benar kan Mister?”


Kali ini aku tak sanggup menahan tawa mendengar percakapan mereka. Dengan cepat aku tutup mulut dengan tangan. Seperti menyaksikan pertunjukan kecil.

__ADS_1


Laki-laki itu membuang rokoknya dan mulai memeriksa. Ternyata ada masalah pada karburatornya. “Bagaimana kalau motornya saya bawa dulu? Besok siang pasti selesai. Saya kerja di bengkel.”


“Well, Sounds good. Bawa saja, beritahu aku kalau sudah selesai memperbaikinya” ujarku setuju.


Rintik-rintik air mulai turun. Disertai angin. Iskan merapatkan jaketnya. Dan bergegas pergi membawa motor. Sementara aku dan Bening masih diam dan sesekali melirik.


“Terima kasih sudah membantu. Sekarang pergilah .…”


“Mister pakai sepeda ini,” katanya. “Biar saya pulang jalan kaki.”


Tanpa pikir panjang. Aku meraih sepeda tersebut.  Sementara Bening mulai membuka payung dan menunduk. Sungguh aku kasihan melihatnya. Tapi diriku juga patut di kasihani. Akhirnya aku bonceng dia. Tidak ada pembicaraan lagi. Hingga melewati tanjakan, beberapa genangan air dan jalan berlubang. Kacamataku berembun terkena air.


“Kenapa berhenti?”


“Aku harus membersihkan kacamata”


Kami turun dari sepeda. Dan berteduh di teras toko tutup. Teras sempit atapnya juga berlubang. Benar-benar bukan tempat berteduh yang layak. Aku mulai membersihkan kacamata.


Gadis itu menggigil. Menggosok-gosokkan tangannya. Sementara dia berdiri di bawah atap yang sedikit berlubang. Giginya gemeretak dan kedua kakinya bergetar.  


Aku menariknya mendekat. Tangan kananku melingkar di pundaknya. Kini jarak di antara kami hanya beberapa senti saja. Bahkan aku bisa merasakan kulitnya yang dingin. Sejenak mata kami bertemu.


Dia mendongak dan tertegun. Tanpa bersuara.


Perlahan kepala kami bersentuhan. Kedua pipinya merona. Kami sama-sama tersenyum. Dan hujan mulai berhenti.  Astaga, aku benar-benar malu. Malu sekali, semua ini terjadi karena tidak sengaja. Terdapat ketenangan, kedamaian dan ketulusan di sana.


Bening mundur sedikit kemudian menjauh. Raut wajah berbinar mulai meredup dan kembali pucat. Keningnya berkerut. Matanya menatap tajam padaku untuk beberapa saat. Tidak lama. Kemudian dia pamit untuk pulang duluan.


Mataku belum beranjak hingga dia berbelok dan hilang dari pandangan. Apa dia marah? Atau bingung? Aku sendiri tidak terlalu memikirkan. Lagipula, kejadian tadi tidak begitu fatal. Namun tatapan tajam itu membuat seolah-olah aku bersalah.


***


“Sepertinya, kemarin aku melihatmu bersama seseorang,” Amir mencari beberapa soal di rak penyimpanan berkas-berkas. “Ketika hujan deras di depan Toko”


“Bukan siapa-siapa.” Aku berusaha untuk tidak mengingat kejadian hujan kemarin.


“Well, kau bersama seorang wanita.  Siapa namanya?”


“Bening”


“Oh … Bening yang sempat melamar di sini tapi tidak jadi,” Sahut Miss Azizah. “Kalau tidak salah dia masih kuliah.”


“Sepertinya aku ketinggalan berita.” Amir menyikut lenganku. Berusaha menemukan penjelasan.

__ADS_1


Kali ini seperti ada kupu-kupu bergerak di dalam perut. Menggelikan. Apa yang harus kuceritakan? Tidak ada sesuatu yang menarik. Astaga, Mereka menatap penasaran dan siap mendengarkan penjelasan. Dengan diam ku tinggalkan mereka.


Seperti biasa, aku masuk kelas. Di sela-sela mengajar, sedikit teringat gadis itu. Matanya indah dan wajah berbinar. Apa dia berbinar karena menatapku? Pertanyaan aneh itu bersarang di kepala. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku raih selembar soal di meja. Dan mulai menjelaskan dan membahas materi parts of speech.


Beberapa siswa maju ke depan mengerjakan soal di papan tulis. Ada siswa yang meminta agar dijelaskan kembali. Sepertinya materi tentang ‘noun and pronoun’ sedikit membingungkan bagi mereka. Setelah memeriksa kembali jawaban. Kemudian kelas berakhir.


Aku sengaja pulang lebih awal. Tiba-tiba tengkuk leher terasa pegal. Begitu membuka pintu rumah, ada amplop warna coklat di lantai. Setelah menutup pintu dan menggantung tas. Tanganku merobek ujung amplop tersebut. Ternyata isinya surat penerimaan kerja. Besok pagi harus datang ke di Universitas Harapan di jalan jawa. Segera aku mandi dan istirahat lebih awal, tak sabar menunggu besok.


Kemarin sempat ikut interview di beberapa kampus. Akhirnya diterima juga. Langkah tenang dan pasti setelah memarkir sepeda motor.


“Pak Pur….” Suara seorang wanita dari belakang.


“Bu Sakinah?” sapaku. “Anda mengajar disini?”


“Iya, hanya beberapa kelas. Bapak ngajar di sini juga?”


Aku menunjukkan amplop.


“Selamat ya Pak.” ucapnya ramah.


Aku mengangguk. Kami masuk ke ruang dosen. Tak perlu menunggu lama. Hari itu juga aku sudah mendapat jadwal mengajar di kelas ekonomi dan sejarah. Setiap hari selasa dan kamis. Mulai jam delapan hingga pukul sebelas pagi harus tetap di kampus.


“Purwaka!” suara laki-laki menepuk pundakku.


Aku menoleh dan membenarkan letak kacamata. “Arif? Arif Putrawan”


“Iyo,”jawabnya mengulurkan tangan ke arahku. “Pangling aku rek!”


“Loh pean ngajar ning kene?”


“Iyo. Suwe wes sekitar telung tahun” jawabnya ramah dan melirik jam tangan.”Ngopi sek, ayo…”


Kami menuju kantin dan memesan kopi. Seperti biasanya, Arif selalu menyulut rokok dan asapnya sering membuatku batuk. Kami bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Arif lebih banyak bercerita tentang beberapa pekerjaan sampingan.


“Lah yo opo jeh, gabung a karo percetakanku. Pean kan rajin mulai biyen” katanya percaya diri. “Ojo khawatir soal gaji, pean itung dewe.”


Aku terkekeh mendengar penuturannya. Kerja saja belum tapi sudah di suruh menghitung gaji. “Nanti, aku pikirkan.”


“Ra usah dipikir, wong bujang ae lho,” serunya mematikan rokok di asbak dan memberikan alamat kantornya. “Lek iyo, sesok teko,o ning kantor. Eh, wes yo. Aku arep ngajar iki.”


Aku mengangguk pelan. Perangai santai dan mudah bergaul dalam diri Arif tidak berubah. Hanya saja sekarang jadi sedikit gemuk. Menurutku dia dulu setelah lulus kuliah, bakal jadi pengusaha kuliner. Mengingat dulu dia paling suka jualan camilan kalau ada acara konser musik. Dan sekarang sudah jadi dosen.


Bagaimana perjalanan seseorang? Itu semua rahasia. Tidak ada yang bisa menebak atau meremehkan dalam hal apapun. Karena pada dasarnya, semua sudah diatur oleh yang Mahakuasa. Jadi cukup jalani saja, jangan lupa bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2