Crush On You

Crush On You
part 8


__ADS_3

Part 8


Aku berusaha tersenyum hari ini. Sebisa mungkin menutupi sayatan - sayatan luka yang masih menganga. Tersenyum kepada mahasiswa berlalu lalang di kampus. Tidak banyak hanya beberapa yang lewat. Kebetulan ada seminar pendidikan. Tersenyum kepada Bu Laras untuk mengelabui rasa kecewa.  


“Apa anda tidak ikut masuk ke Aula?” tanyanya semanis mungkin.


Saat itu aku masih tersenyum berdiri tak jauh dari Ratna. Gadis itu ketua panitia seminar sekaligus sepupu Bu Laras. Sudah bisa dipastikan dia orang paling sibuk mengurus seminar atau mungkin pencitraan. Dan akhirnya tersenyum tulus kepada Bening. Dia mengenakan kemeja pink soft motif polkadot dan rok panjang hitam. Semalam sudah ku kirim sms untuk bertemu. Ada getaran-getaran kecil dalam dada. Manakala melihatnya tersenyum.


“Tanda tangan dulu sebelum masuk” perintah Bu Laras. Matanya melirik pada Bening.


“Saya tidak ikut seminar,” Bening mengangguk sopan. “Saya mau bertemu Mister .…”


“Ya, sebaiknya kita tidak bicara disini” sahutku cepat sebelum gadis itu menyebutkan namaku. Wajah Bu Laras menjadi merah padam. Senang sekali melihat ekspresinya.


Kantor tutup tidak ada aktivitas mengajar. Namun di kampus tidak pernah sepi. Beberapa anak UKM nampak berdiskusi. Sementara beberapa ikut seminar pendidikan. Kami duduk di bangku panjang tak jauh dari perpustakaan. Di bawah pohon, tempat yang paling tenang dan nyaman. Namun kalau hujan di sini lembab dan dingin. Hamparan rumput hijau. Aku mengeluarkan map warna kuning. “Kemarin, sudah diperiksa sebagian. Tulisanmu dan Iskan cukup masuk akal. Sementara yang lain buruk sekali.”


“Mata Kuliah writing sebelumnya diajar sama Bu Rahayu. Beliau lebih fokus ke vocabulary and free writing. Agar lebih mudah bukan ke structure/grammar.”


“Sungguh?” Aku  menunjukkan salah satu tulisan yang buruk berdasarkan pengamatanku.


Bening menggeleng. Matanya tertuju pada kertas di tanganku. “Bu Rahayu tidak pernah membahasnya sedetail ini. Setelah mengumpulkan tugas artinya selesai.”


“Sudahlah kalau begitu,” Aku mendesah pelan dan mengeluarkan tulisan Iskan. “Yang ini bagaimana menurutmu?”


“Perfect,” jawabnya riang. “Dari semester satu Iskan memang selalu unggul. Dia pernah tinggal di Pare, Kediri”


Aku menyuruhnya untuk memeriksa beberapa lembar pekerjaan temannya. Saat dia berkonsentrasi pada lembaran, mataku bebas mengamati setiap gerak-gerik dan memandangnya cukup lama. ‘Gadis yang tidak merepotkan. Ah sial! aku lupa untuk mengembalikan kamusnya’ bisikku dalam hati.


Adapun maksud dan tujuan mengajaknya diskusi adalah ingin mengujinya sejauh mana skill writing yang dia miliki. Dua lembar dia periksa selama lima menit. Terlalu lama. Harusnya bisa lebih cepat.


Tidak pernah sedikitpun dia berusaha mencuri pandang, menatap dalam waktu yang lama atau mencari perhatian. Lagi-lagi dengan kepala tertunduk dan meremas, jari-jarinya. Mungkin pembaca bertanya-tanya. Seperti apakah Bening itu? Dia itu klasik dan sederhana. Tanpa riasan tebal seperti gadis-gadis pada umumnya. Perangainya malu-malu dan tenang. Bagiku dia pendengar yang baik dan tahu diri. Kenapa bisa begitu? Karena dia tidak pernah berisik, merepotkan orang lain atau dirinya sendiri. Pikiran dan keinginannya tidak mudah dibaca. Sesekali, aku mencoba memahami karakternya lewat tulisan. Meskipun tidak semuanya kesimpulanku benar tapi paling tidak mendekati. Bening itu lugu. Terlebih lagi dari caranya berbahasa, sepertinya dia bukanlah seorang penindas yang licik. Sementara hanya itu sedikit kesimpulan tentangnya.


“Permisi … sudah sore, waktunya saya pulang.” katanya melirik jam tangan kemudian menatap sebentar dan mengangguk hormat.


Aku mengijinkannya pergi. Kira-kira dengan siapa dia pulang? Bagaimana kalau ada yang mengganggunya? Atau bagaimana responnya saat menghadapi masalah? Lagi-lagi aku terus memikirkan hal kecil tentangnya. Terkadang hinggap sedikit rasa cemas.


***


Malam sekitar pukul delapan lebih lima menit. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai guru bahasa untuk dua bocah Bule, asuhannya Pak Surya. Sudah pasti beliau terkejut dan berusaha menahanku. Seluruh upaya dikerahkan. Kedua Bule itu juga menyayangkan keputusanku.


Buku peraturan dan kunci motor, aku letakkan di meja. Pak Surya dan Istrinya menatapku penuh tanya, “Apa anda berniat meninggalkan kota ini?”


“Tidak, akhir-akhir ini saya sering sibuk.” jawabku beralasan.


Laki-laki berkacamata itu memijat pelipisnya. Dari nada bicaranya, mengungkapkan kekecewaan dan penyesalan. Dan menyerahkan gaji terakhir. “Jangan sungkan main kesini, jika punya waktu luang.”


“Terima kasih, saya permisi.” Aku pamit dan melangkah keluar. Kini tidak ada seorangpun yang bisa meremehkanku. Urusan dengan Bu Laras sudah selesai. Jika mengingat kata-katanya kemarin, membuatku terguncang. Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Betapa  sangat sadar, bahwa keadaan saat ini tidak layak untuk bersanding siapapun.


Begitu memasuki pagar rumah. Aku dikejutkan oleh sosok pemilik senyum madu pinastika. Yang sempat aku kagumi dengan sepenuh hati. Dia duduk di teras.


“Keputusan yang anda ambil cukup mengejutkan,” ujarnya. Tidak salah lagi, informasi pengunduran diri pasti sampai di telinganya dengan cepat. “Aku ingin tahu alasannya?”


“Ada kalanya sebuah keputusan tidak memerlukan alasan” jawabku datar melangkah masuk.


Wanita itu terus mengikutiku. Tangannya meraih tanganku. Aku berhasil menepis dan tidak menoleh walau hanya sebentar.


”Well, aku akan segera temukan alasannya,” ujarnya sinis. “Take care and see you.”


Bu Laras keluar rumah dengan gusar. Dan tidak menemukan apapun. Kali ini dia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan apa yang dia cari. Kecerdikannya akan membantu, tapi tidak dalam detik ini.


Sungguh ini tidaklah semudah yang kalian bayangkan. Aku dan Bu Laras sudah cukup dekat. Tapi aku tidak akan membalas semua perlakuannya. Rasa kecewa ini cukup membuatku banyak merenung dan menelannya sendiri dalam diam.


***


Sudah dua hari membiasakan kemana-mana harus naik angkutan umum dan jalan kaki. Sedikit melelahkan, mengingat setelah jam sebelas siang harus sudah siap-siap mengajar di kampus. Jalan kaki pada jam segitu pasti benar-benar menguras energi, meskipun jarak tempat tinggalku dan kampus tidak terlalu jauh. Cahaya menyilaukan paripurna. Lagi-lagi kedua mata ini sedikit tersiksa. Ketika keringat di dahi menetes dan mengenai kelopak mata ditambah cahaya panas melewati kacamata. Sempurna. Air menetes keluar begitu saja, bukan air mata. Itu adalah tanda bahwa mataku lelah.


Di tengah keheningan kelas hanya suara buku di balik, kertas di robek dan goresan pena. Mereka benar-benar bekerja keras untuk memperbaiki dan menemukan paragraf yang tidak sesuai dan menyalinnya kembali dengan benar. Itu semua yang harus mereka bayar, setelah kemarin mengerjakan tugas dengan asal dan terburu-buru.


Setelah duduk dan menyandarkan punggung. Mataku mencari Bening. Kenapa dia tak kunjung datang? Harusnya dia ada di kelas saat ini. Setengah jam berlalu. Aku berdiri di dekat pintu, mungkin saja dia sedang ada di kelas lain. Atau sedang ada urusan. Semoga saja dia tidak lupa, bahwa tugas kemarin harus selesai pada hari ini.

__ADS_1


“Hari ini kau sudah sangat terlambat mengikuti pelajaran. Cobalah datang tepat waktu lain kali” Aku melarangnya masuk kelas.


“Maaf saya .…” ucapnya ketakutan.


Tanpa berusaha mendengar alasannya. Aku masuk kelas kemudian menutup pintu. Bening masih di luar. Ketidakdisiplinan adalah pemborosan waktu. Proses belajar di kelas itu punya aturan. Setiap waktu itu berharga. Siapapun harus tunduk pada peraturan. Sudah dua kali dia terlambat. Dan kali ini aku tidak bisa memberinya toleransi.


Satu persatu mahasiswa maju mengumpulkan tugas dan keluar. Tertib dan sopan. Nampaknya tugas yang aku berikan membuat mereka tertekan. Setelah kelas sepi, aku berjalan keluar. Bening masih berdiri di dekat pintu.


“Permisi ....” suaranya pelan. Kemudian menyerahkan tugas kemarin.


Aku tidak bisa membaca expresinya. Dia menunduk. Kalau saja dia mendongak sedikit, mungkin aku bisa langsung menebak apa yang telah terjadi. Kata-kataku tadi terdengar kurang ramah, itu karena kesalahannya. Dia harus bisa menghargai waktu. Langkahku mengikutinya dari belakang hingga sampai di perpustakaan.


Dia meletakkan tas di loker. Tidak menoleh.  Kemudian mengambil catatan kecil dan pena. Melangkah masuk, menunjukkan kartu perpustakaan pada petugas .Mengisi daftar kunjungan. Decak kakinya berhenti dan meraih buku ‘berjudul La Tahzan Jangan Bersedih.’


“Jangan bersedih seperti badai topan yang merusak cuaca, menumpahkan air, mengubah langit dan mematahkan bunga mekar di kebun yang menawan,” Aku lebih mendekat di depannya. “La Tahzan Jangan Bersedih, Halaman 19.”


Kedua mata kami bertemu. Kakinya  mundur perlahan. Sementara tangannya bergetar dan meremas buku itu. Kemudian cepat - cepat meletakkannya kembali.


Aku terus maju ke arahnya perlahan tapi pasti. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Menatap Wajahnya yang pucat.


Sesekali dia menunduk ketakutan. Hingga punggungnya menempel di dinding. “Berhenti, jangan maju lagi” katanya gugup dan menggeleng.


“Kau takut?” tanyaku maju mendesak.


Dia mengangguk cepat dan berkata, “Maaf...Mister. Tolong mundur sedikit.”


Kurogoh kamus kecil di saku. “Ini punyamu? Ambilah ….”


Tanganya berkeringat. Jari-jarinya bergetar meraih kamus itu dari tanganku.


“Pastikan benda itu tidak jatuh di kepalaku.” Bisikku pelan di telinganya. Kali ini aku bisa melihat ekspresinya. Diam terpaku, tegang dan tertekan karena berhadapan sedekat ini.


Aku mundur sedikit kemudian berbalik pergi meninggalkannya. Kejadian ini pasti akan membuatnya untuk lebih berhati - hati. Setelah menatap ke sekeliling, ternyata sepi. Pasti tempat ini bisa membuatnya lebih baik.


Urusan dengan gadis itu sudah ku anggap selesai. Dia sudah mengerjakan tugas dan kamusnya juga sudah aku kembalikan. Semoga tidak pernah memikirkannya lagi. Pukul tiga sore harusnya aku mengajar, Namun saat ini menatap layar laptop di depan meja kerja. Mereka ada pembekalan KKN jadi jadwalnya diganti sabtu depan. Ponsel berdering. Panggilan masuk aku tekan tombol answer. “Ok, saya akan segera keluar” jawabku di sertai langkah cepat menuju tempat parkir.


Seorang wanita bertubuh tinggi dan berambut pendek turun dari kendaraan tersebut. “Ini surat-surat beserta kontaknya,” katanya sumringah. “Monggo, langsung test drive atau mau di lihat-lihat dulu”


“Ah, Bu Sakinah bisa aja” tanganku menerima surat-surat dan kunci kendaraan tersebut.


“Duluan ya pak. Sudah waktunya mengajar,” ujarnya riang. “Tapi nanti anterin saya pulang lho pak.”


Aku mengangguk. Motor ini milik tetangga Bu Sakinah. Kondisinya masih bagus hanya catnya sedikit mengelupas. Dan harganya di bawah lima juta rupiah. Sengaja aku membelinya untuk memudahkan bepergian ke tempat kerja. Selalu ada niatan untuk membeli motor yang bagus dan mahal. Namun segera ku pendam niatan itu, hidup sehemat mungkin adalah prinsip. Karena aku tidak akan mendapat apapun jika tidak bekerja. Untuk itu tabungan atau dana darurat digunakan seminimal mungkin. Sadar bahwa hidup sendiri harus benar-benar pandai mengelola keuangan.


Motor membawaku keliling kota. Tiba-tiba mata ini terasa panas. Kenangan tentang almarhum Bapak hadir kembali. Pada spion kulihat sekilas sosok diriku. Mirip sekali seperti almarhum, berwajah tirus, mata bulat dan rambut tersisir rapi. ‘Semoga Bapak mendapat tempat terindah disisi yang Maha Kuasa’ lirihku pelan. Setelah berputar - putar menyusuri jalanan kota. Aku kembali ke kampus.


“Monggo pak, nanti keburu malam” ajak bu Sakinah.  


Bu Laras berdehem keras.


Tidak ada niatan sama sekali untuk beramah-tamah dengannya. Atau bertegur sapa. Sungguh aku masih terluka. Tanganku meraih tas dan berjalan melewatinya. Jangankan untuk melirik. Menoleh sedikit aku enggan.


“Saya perhatikan sepertinya Bu Laras ingin ngobrol sama bapak”


“Tidak bu”


“Bapak kan masih single, Bu Laras juga,”ujarnya menggali informasi. “Apa tidak ada something gitu diantara kalian.”


“Something or Nothing?”


Bu Sakinah terkekeh. Dan aku mengantarnya pulang. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan. Wanita itu sibuk dengan ponsel hingga sampai di depan rumah. Motor memasuki halaman rumahnya. Terdengar suara anak kecil menyanyikan lagu little indians.


Seorang anak kecil kira-kira berusia enam tahun. Berlari menghampiri kami. “Mama .…”


“Zahra!” Bu Sakinah memeluk anak kecil itu.


“Ohya, kenalin ini teman mama,” katanya melirik ke arahku. “He is an English teacher.”


“Hi … hat's your name?”tanyaku mengelus kepala anak itu.

__ADS_1


“My name is Zahra. And you?”


Sebelum aku menjawab. Terdengar seseorang memanggil Zahra. Aku menoleh.


Deg! Gadis itu lagi. Dia berjalan ke arah kami. Pandangannya ragu-ragu. Kemudian menyambut Bu Sakinah dengan ramah. Dia tidak menatap atau menyapaku. Kemudian terburu-buru mengajak anak kecil itu masuk.


“Monggo pinarak,” sapa pria bertubuh jakung dari depan pintu “Gimana motornya mogok atau tidak?”


“Tidak pak. Kalaupun mogok mungkin hanya masalah kecil” jawabku memasuki ruang tamu.


“Syukurlah kalau gitu,” ungkapnya ramah.”Bagaimana tinggal di Blok D No 7, aman?”


“Sejauh ini masih aman”


“Pasti aman” sahut Bu Sakinah membawa dua cangkir teh.


Akhirnya kami ngobrol santai. Suami-Istri di depanku ini memang terkenal ramah dan suka bercanda. Tak terasa sudah hampir jam enam sore.


“Ma, Miss Bening mau pulang” kata Zahra berlari dan duduk di dekat ibunya.


Melihat gadis itu di depan pintu. Tiba-tiba aku menggigil. Dan tidak ingin lagi berurusan dengannya. Wajahnya saja polos tapi tidak disiplin. “Kalau begitu saya permisi dulu”


“Mau kemana Pak Pur?” tanya Pak Soni. “Monggo sekalian makan malam di sini.”


“Sebentar ya pak, saya siapkan dulu,” ujar Bu Sakinah kemudian menarik Bening masuk ke dapur.”Ayo masuk ning .…”


Makan malam dengan menu soto ayam, gorengan, dan telur rebus. Mataku melihat piring yang ada di depan Bening. Hanya ada nasi dan kuah saja. Porsinya juga sedikit. Dia makan tanpa bersuara ataupun menoleh. Pelan dan tenang. Setelah mengucapkan terima kasih aku memutuskan untuk pulang.


Gadis itu menuntun sepeda keluar pagar. Kemudian mulai mengayuh. Begitu hilang dari pandangan. Jadi teringat Devi. Tapi tidak, Bening tidak mirip sama sekali. Mereka sangat berbeda.


***


Keesokan harinya, saat pelajaran berakhir. Aku gunakan untuk ke perpustakaan sebentar. Ada beberapa buku yang harus dikembalikan. Beberapa Mahasiswi mengikutiku dari belakang. Saat aku berbalik, mereka pura-pura berhenti dan sibuk membuka buku. Kalian pasti bisa menebak siapa mereka? Ya Della dan Vita. Tingkah mereka tidak akan berhasil untuk mengelabuhiku. Gadis-gadis seperti mereka hanya layak di ajak ke pesta, belanja dan jalan-jalan. Wanita itu harus tangguh, cekatan, mandiri dan bisa diandalkan. Kalau cuma cantik, manis dan lucu itu boneka barbie, bukan manusia.


Tanpa memperdulikan mereka, langkahku cepat keluar dari perpustakaan dan menuju kelas berikutnya. Tiba-tiba aku harus berhenti dan berbalik sebentar. Ada Bening dan temannya keluar dari kelas. Begitu mereka lewat. Aku sengaja mengikutinya pelan-pelan.  


“Duh! Yang kemarin gak ikut seminar,” celetuk gadis berkerudung biru menyikut lengan temannya. “Ketemuan sama Mister Purwaka di bangku panjang bawah pohon. Berduaan lagi.”


“Oh … itu, kebetulan. Beliau memberikan tugas yang kemarin”


“Tugas apaan?”


“Tugas writing dan seperti biasa punya Iskan always perfect”


“Eh, tau gak? Mister Purwaka itu ada something lho sama Ma’am Laras. Terus lagi di semester tiga ada yang deket juga. Dua cewek lagi,” ujarnya antusias.”cek enggak,e.  Merasa cakep paling yo … padahal gak mbois blas”


“Mosok?” tanya Bening penasaran.


“Iya … Ning tenan kui. Menurutmu piye?”


“Gak eroh aku. Wes ta lha jok pacapa”


Sungguh rasanya ingin sekali menegur keduanya. Tapi itu bukan ide yang bagus. Bisa-bisa Bening ketakutan luar biasa, jika aku marah-marah tidak jelas. Terkait hal-hal remeh ini. Sebaiknya aku nikmati saja mendengarkan pembicaraan konyol mereka. Aku menarik napas dan berdehem keras.


Keduanya menoleh. Seketika buru-buru berlari. Ku naik kan bahu dan tersenyum. ‘Dasar aneh, bisa-bisanya bergosip’ bisikku dalam hati. Kemudian masuk kelas. Waktunya mengajar semester satu. Muridnya pintar-pintar dan manis. Senyumku masih mengembang saat keluar kelas hingga memasuki ruang dosen.


Beberapa kertas aku masukkan dalam tas. Kemudian Mengambil tisu untuk membersihkan kacamata.


“Sepertinya diskusi dengan mahasiswi malang kemarin menarik,” seru Bu Laras memutar kursinya. Tangannya memainkan pena di atas meja. “Asmarani Bening semester lima.”


Aku meliriknya sebentar “Menyenangkan dan semakin membuatku penasaran”


Bu Laras berdiri dan merapikan pakaiannya. “Aku rasa terlalu muda, naif, merepotkan dan berisik”


“Asalkan aku merasa cocok. Semua itu bukan masalah besar,” ujarku ringan membenarkan letak kacamata. “Terimakasih atas perhatiannya. Itu sangat berharga”


Pembaca bisa bayangkan ekspresi Bu Laras. Saat aku keluar dari ruang dosen. Keningnya berkerut. Ya, seperti itulah wanita, selalu berkompetisi. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit menggelikan.


Wes ta lha jok pacapa – sudahlah tidak usah banyak omong

__ADS_1


__ADS_2