Crush On You

Crush On You
part 7


__ADS_3

Bab 7


Aku bersimpuh di samping gundukan tanah basah penuh taburan bunga. Terasa sesak di dada. Dingin dan sunyi. Hanya suara burung-burung bersahutan menyambut matahari pagi. Mataku mengarah pada nisan kayu bertuliskan Devi Eliza. Tidak akan pernah lagi kulihat perangainya manja, percaya diri dan ceria. Sejenak ku tundukkan kepala dan melantunkan doa terbaik untuknya.


Angin berhembus pelan. Saat tertunduk aku merasakan kesedihan, kekecewaan dan penderitaan. Yang entah dari mana asalnya. Mungkin ini hanya suasana semata. Menggigil, napas tersendat-sendat.Keringat dingin dan kulit tangan menjadi pucat. Kematian adalah hal biasa menurutku. Suasana seperti ini, sempat aku alami saat kepergian ayahku. Dimana lidah menjadi kaku dan dada terasa sesak. Sebisa mungkin aku berusaha keluar dari suasana menyedihkan ini, dengan cara mengatur napas dan berusaha berdiri tegak menatap lurus ke depan.


Hari ini merupakan hari ketujuh setelah kepergiannya. Nanti malam ada doa bersama di rumah almarhum. Tidak ada persiapan khusus, hanya perlu menguatkan hati, menenangkan pikiran dan ikhlas. Aku tertegun sesat, mengingat hari-hari sebelum kepergiannya.


***


Senin pukul tujuh. Di tempat kursus setelah meeting. Amir menepuk pundakku, “Semua siswa SMA sudah mengambil sertifikat. Kecuali Devi belum ada kabar”


“Kau sudah mencoba menelpon atau mengirim pemberitahuan pada orang tuanya”


“Sudah Mister,” sahut Miss Sofia memutar kursinya. “Nomornya juga tidak aktif dan rumahnya juga terlihat sepi”


“Let's go to work,” Perintah Amir. “Kita bahas lain waktu lagi”


Rasanya aneh tiba-tiba nomornya tidak aktif. Tiga hari yang lalu, Devi masih mengirimkan sms. Dan kami sempat pergi bersama sebentar. Sore itu dia ingin membeli sesuatu di Roxy square. Aku mengantarnya pulang hingga depan rumah. Lalu tidak ada komunikasi lagi.  


Aku keluar dari ruang meeting dan menuju kelas. Pukul delapan tiga puluh menit kelas berakhir dan anak-anak pulang. Langkahku terhenti di dekat meja admin. Beberapa pengajar terlihat murung. Miss Sofia, yang biasanya pulang lebih awal. Kini dia membenamkan wajahnya di meja.


“Ada apa?” tanyaku pada Amir.


“Kami baru saja mendapat telpon, Devi kecelakaan dan nyawanya sudah tidak tertolong lagi.”


Tubuhku seperti tidak punya tenaga. Aku menggigit bibir bersandar di dinding. Dadaku terasa nyeri. “Aku akan kesana.”


“Ya, kita semua akan kesana sekarang.” Miss Sofia beranjak dari tempat duduk dan menyambar kunci motor. Tidak ada pembicaraan lagi. Kami semua kesana. Sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi.  


Bagai tersambar petir. Kabar buruk itu seperti kerikil tajam terlempar di tanah basah. Menancap ke dalam. Sudah pasti sakitnya tidak terelakkan lagi. Diantara pengajar-pengajar yang lain, Devi paling dekat denganku. Kami semua sedih dan kehilangan malam itu.


Pagi-pagi saat acara pemakaman. Ayah Devi dan seorang wanita berjalan ke arahku.


“Kami minta maaf jika ada kesalahan yang sengaja Devi lakukan” kata pria berkumis.


“Dan terima kasih sudah menjadi temannya” seru wanita di sebelahnya.


“Dia pasti dapat tempat terbaik disana.” Aku mengangguk dan berusaha tersenyum.


Kedua orang itu sudah berpisah, namun terlihat saling menguatkan saat kehilangan. Setelah mereka pergi. Tinggalah aku sendiri. Langkahku mendekat ke pusara muridku. “Aku akan terus menemuimu hingga tujuh hari kedepan.”


***


Seminggu berlalu setelah kematiannya. Benar-benar masih membekas. Aku merasa dia masih ada sekitarku. Sesekali terdengar suara, “Aku akan selalu mengandalkanmu.” Kalimat itu terus berdengung setiap malam. Devi pernah membisikkan kalimat itu.


Terjaga sepanjang malam. Mondar-mandir di dalam kamar. Menggigil dan tiba-tiba merasa sedih. Sudah ku coba untuk terlelap tapi tidak berhasil. Akhirnya lantunan doa tanpa henti yang mampu menemaniku hingga pagi. Dan siangnya aku pasti mengantuk disertai sakit kepala yang menghunjam.


Sebelum pukul tiga sore, kedua mataku ingin terpejam. Sudah cuci muka, masih saja mengantuk. Aku duduk di bangku bawah pohon. Menyandarkan kepala. Kulirik jam di pergelangan tangan. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum mengajar semester tiga. Aku mendongak, Bu Laras melambaikan tangan dari jendela atas.


Semilir angin, semakin menarikku untuk terlelap. Kedua mata terpejam. Hembusan udara yang sejuk. Begitu keadaan di sekitar cukup hening dan tenang. Hingga aku tidak mendengar apapun. Bugh! Kamus kecil menimpa kepala. Siapa yang melemparnya? Aku mendongak. Dari atas Bening memberi isyarat. Jarinya menunjukkan jam di pergelangan tangannya. Segera kulirik jam tangan milikku, ternyata sudah pukul tiga lebih lima menit. ‘Sial, harusnya aku masuk kelas sejak tadi’ gerutuku dalam hati.


Dua jam berlalu. Suara mahasiswa semester tiga sungguh berisik saat keluar kelas. Beruntung saat di kelas tadi mereka tidak terlalu merepotkan. Aku melangkah pelan menuruni tangga. Kepala masih nyeri. Laki-laki berambut lurus mendahuluiku.

__ADS_1


“Permisi...sir” sapanya ramah.


“Iskan!” panggilku cepat.  


“Ya”


“Apa kau melihat Bening?”


“Masih di kelas. Dia selalu keluar paling akhir”


Aku berdiri di dekat tangga. Menunggu untuk mengembalikan kamus. Belum ada tanda-tanda kemunculannya. Lagi-lagi Della dan Vita cekikikan turun dari tangga. Tanpa pikir panjang, langkahku bergerak cepat menuju ruang dosen. Sungguh mengerikan jika terjebak di antara kedua gadis itu.


Tenggorokan terasa kering. Langkahku pelan menuju pantry. Sebelum membuka pintu. Terdengar suara orang sedang tertawa pelan. Aku berdiri tak jauh dari pintu, ku pejamkan mata untuk memastikan sesuatu. Sekeliling sedang sepi.


“Laras yang kejam! Bagaimana mungkin kau menyiksa seseorang yang mencintaimu dengan sepenuh hati,” katanya bersemangat. “Aku ingin segera menikahimu”


“Bayu tersayang, bersabarlah sedikit. Tinggal beberapa bulan lagi. Aku masih belum memikirkan kebaya warna apa yang akan ku pakai”


“Well, ku harap kau tidak menyembunyikan sesuatu. Purwaka selalu terlihat gugup saat aku menyebut namamu.”


“Apa maksudmu?” tanya Laras menyelidik. “Menurutmu Purwaka jatuh cinta padaku?”


“Lebih tepatnya tergila-gila padamu. He has crush on you.”


“Apa dia bilang begitu?”


“Tidak. Hanya saja aku sangat mengenalnya”


“Ya, tapi aku cemburu”


“Pria itu tidak berharga sama sekali. Dengan mudahnya dia setuju bekerja dengan Pakdheku. Terlihat sekali dia sedang kesulitan keuangan. Tidak akan ada wanita yang tahan hidup miskin. Ya, aku akui dia memang cerdas.”


Tawa kecil wanita itu dan Bayu terdengar tanpa beban. Sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu. Aku urungkan niat untuk mengambil minuman di pantry. Pulang adalah langkah terbaik, sebelum mereka mendapati diriku berdiri di dekat pintu.


Sesampainya di rumah. Runtuh sudah cinta dan persahabatan yang selama ini aku percayai. Rasa demam membakar seluruh pembuluh darah. Begitu juga sakit kepala semakin menjadi. Ini tidak bisa dibiarkan. Ku raih obat tidur dan menelannya paksa. Pahit tersangkut di tenggorokan. Malam ini aku harus merasakan sakitnya pengkhianatan.


Sang fajar menyelinap di jendela. Aku bangun lebih segar dari sebelumnya. Hati yang sakit masih bisa di sembunyikan. Raga harus tetap bugar. Pukul enam pagi, aku bersiap jalan-jalan keliling kompleks mencari udara segar. Rasa nyeri di kepala perlahan menghilang. Mungkin aku hanya perlu mencari obat, semacam penghilang rasa sakit hati, luka, terhina dan sejenisnya.


Lima ratus meter dari depan rumah. Langkahku terhenti di dekat pos satpam. Istirahat sejenak.  Dari kejauhan anak-anak kecil berseragam kuning berbaris memanjang ke belakang dan di dampingi gurunya. Beberapa instruksi terlontar, namun tak ada reaksi dari pasukan kecil berbaju kuning. Mereka berlarian dan bubar barisan. Salah satu guru memakai topi bundar warna putih membunyikan peluit. Anak-anak itu berbaris kembali dan mengikuti instruksinya. Pemandangan yang menyenangkan, mataku masih tertuju pada mereka. Dan ternyata sekolah mereka tidak jauh dari pos satpam. Belok kiri beberapa meter ada warkop dan di sebelahnya itu sekolah mereka, KB/TK Tulip.


Rasa penasaran membuatku mengikuti mereka. Aku berhenti di warkop dan memesan secangkir kopi. Mataku masih belum beranjak dari mahluk-mahluk mungil nan menggemaskan.


“Good morning Miss Bening!” teriak mereka berisik. Saat guru memakai baju batik membuka pintu gerbang sekolah. Kemudian pasukan kuning masuk. Dia menutup gerbang kembali.  


Aku tersentak dan berdiri untuk memastikan bahwa itu Bening mahasiswi semester lima. Tanpa pikir panjang aku segera membayar kopi yang belum sempat terhidang.


Penjaga warung itu tertawa. “Sampeyan, kui piye? Beli secangkir kopi di bungkus”


“Iya saya lagi buru-buru”


“Lah wong masih pagi?” tanya ibu penjaga warkop. “Dari tadi ngeliatin sekolah TK. Anaknya sekolah di sana ya?”


“Bukan. Murid saya ada di sana. Bening namanya”

__ADS_1


“Walah, Miss Bening. Nanti dia juga ke sini”


Ibu penjaga warkop itu bercerita sedikit tentang Bening. Dia bilang, bahwa Bening itu rajin, ulet, pekerja keras dan sopan. “Kasihan Mas. Dia bekerja karena ingin kuliah. Memang sih sifatnya agak pendiam” katanya melirik sepeda mini di samping warung. “Itu sepedanya ada di sini”


“Jam berapa dia keluar?”


“Jam 9 nanti. Kalau hari jum'at dan sabtu tidak sampai siang”


Akhirnya sambil menunggu Bening keluar. Sekalian aku pesan makanan untuk sarapan. Kopinya tidak jadi bungkus. Melihat mie goreng instan dan secangkir kopi. Membuatku sedikit mual. Sepertinya sarapan ini terlalu berat. Hati yang sakit perlu energi untuk bertahan. Tanpa berpikir panjang aku  memakannya pelan-pelan hingga habis.


Dia datang.


“Sudah pulang Miss?”tanya ibu penjaga warkop.


“Inggih, bu. Badhe mundhut sepeda”


“Iku lho miss, ada orang yang mau bertemu”


Aku tertegun mendengar suaranya yang santun. Lembut dan menenangkan. Terasa ringan di telinga. Seperti mendengar burung-burung bernyanyi di pagi hari. “Hai…” sapaku. “Apa kau sudah selesai mengajar?”


“Sudah” jawabnya mengangguk. Saat mata kami bertemu, dia tertunduk dan menyembunyikan rona merah pada pipinya.


Aku berdiri dan membayar makanan.


Bening berpamitan pada penjaga warkop. Kemudian menuntun sepedanya. Sebelum naik ke sepeda dia menoleh kebelakang.


Tanpa sadar kedua kakiku terus mengikutinya hingga sampai di tepi jalan.


“Mister mau pulang?”


“Ya”


“Permisi, saya duluan”


“Tunggu…!” tanganku menarik sepedanya. “Bisa bicara sebentar?”


“Ya”


“Aku perlu bantuanmu sedikit. Besok temui aku pukul satu di bangku panjang dekat perpustakaan. Sekalian nomer ponselmu. Akan ku telpon jika kau lupa”


Bening mengangguk kemudian mengambil secarik kertas dari tas. Menulis nomor ponselnya dan memberikan padaku. Setelah itu dia menuntun sepeda. Sementara aku berjalan di sisinya. Otakku bekerja keras mencari topik pembicaraan agar suasana tidak canggung seperti sekarang.


“Apa kau suka dengan anak-anak?” entah bagaimana pertanyaan itu tiba-tiba keluar. Ingin ku tarik lagi pertanyaan itu. Tapi sudah terlontar begitu saja.


“Tentu saja. Mereka menyenangkan.”


Aku tersenyum mendengar penuturannya.


“Apa mister sudah punya anak?” tanyanya hati-hati dan menoleh ke arahku.


“Belum. Aku bahkan belum menikah,” jawabku sedikit gugup. Rasa ingin sekali menggali beberapa hal yang ada di pikirannya. Namun aku tidak ingin terburu-buru. “Rumahku sudah dekat. Terima kasih atas waktunya. Dan sampai jumpa”


Bening berjalan di depan dan mulai menaiki sepeda. Sebelum mengayuh sepeda, dia mengangguk sopan dan tersenyum tipis.  

__ADS_1


__ADS_2