
Part 3
Hari senin hingga jumat aku mengajar di kampus. Sabtu sore hingga malam membantu Amir mengajar di tempat kursus bahasa inggris di jalan Kalimantan. Smart English Course, Namanya. Kali ini hanya mengajar latihan soal-soal persiapan ujian nasional. Satu kelas ada 10 siswi dan 5 siswa. Suasana tenang dan kondusif. Tidak ada kesulitan yang berarti saat proses belajar mengajar.
Beberapa pengajar di sini adalah guru dari Madrasah Aliyah, yang merupakan rekan Amir mengajar. Dan ternyata Bayu juga sering ke tempat ini, karena memang tidak jauh dari rumahnya. Kami bertiga kalau sedang berkumpul sering lupa waktu.
Pukul satu siang, Bayu memarkir motornya dan segera masuk ke ruang staf pengajar. Hanya ada aku, Amir dan Bu Azizah staf admin. Kegiatan mengajar dimulai pukul tiga nanti. Jadi suasana masih sepi. Langkah Bayu gusar dan malas.
“Gak omes aku, Laras bolak-balik tak telpon ora kenek. Sibuk terus,”gerutunya sambil membuang puntung rokok di asbak. “Ting - mempenting”
“Adek koen,” kata Amir terkekeh. “Resiko, memangnya dimana dia sekarang?”
“Pulang ke rumah orangtuanya. Nanti malam aku akan ke rumahnya. Ada yang mau ikut?”
Amir menggeleng dan melirik ke arahku. Sial aku benci situasi ini. Apalagi yang berhubungan dengan Laras yang selalu membuatku gugup. “Nanti malam aku ada acara”
“Acara?” tanya Amir dan Bayu bersamaan.
Yang mereka ketahui, selama ini aku memang tidak punya acara khusus di waktu petang menjelang malam. Tidak seperti Amir yang selalu sibuk di pondok membantu gurunya. Otakku berusaha keras mencari alasan yang tepat. Berharap tidak ada yang curiga.“Nanti aku futsal bersama Pak Heru di Talangsari.”
Mereka mengangguk paham. Lega bisa terbebas beban yang membuatku gugup. Kehati - hatian tidak boleh luput sedikitpun. Atau semuanya menjadi runyam. Bayu akhir-akhir ini sibuk dan sering rapat di berbagai tempat. Sementara Laras dan aku sering berdiskusi di sela-sela jam makan siang di luar kampus. Sulit sekali untuk menolak pesonanya. Tunggu, sebaiknya pembaca jangan salah paham, topik diskusi antara aku dan Laras adalah tentang berbagai metode pembelajaran. Sebagai laki-laki yang sudah berusia dua puluh sembilan tahun rasanya wajar jika sudah mulai tertarik pada seorang wanita. Pemikiran dan sudut pandang Laras sangat bagus dan berpotensi.
***
Tiga hari yang lalu, aku mengetik beberapa soal di ruang tamu. Ujian tengah semester akan diadakan beberapa bulan lagi. Tidak ada salahnya menyiapkan terlebih dahulu. Lagu yang berjudul You Took My Heart Away by Michael Learn menggema pelan dari laptop. Saat santai seperti ini, mendengar musik merupakan pilihan yang tepat.
Kedua mataku belum teralihkan pada benda berukuran persegi panjang. Sementara jari-jariku mengetik dengan cepat. Beberapa buku tebal dan kamus ada di meja. Hingga tak menyadari ada seseorang yang datang. Berdiri di hadapanku. Perlahan kuarahkan pandanganku. Seulas senyum membuat kedua mata ini tak berkedip. Aroma mawar merasuki Indra penciumanku. Gamis corak bunga-bunga kombinasi warna merah muda dan putih.
Basa - basi tidak jelas keluar dari mulutku. Entahlah kenapa aku mendadak menjadi aneh dan konyol. Membuka pembicaraan pada lawan jenis merupakan hal tersulit saat ini. Tidak banyak yang Laras katakan. Lagi - lagi hasratku ingin memilikinya.
Wanita itu mengambil tempat duduk di sebelahku. Dia berkomentar tentang rumah dan dekorasi ruangan ini. Gagasan muncul tanpa persetujuanku. Entah apa maunya? Mungkin dia tidak tahu kalau rumah ini bukan milikku.
“Aku kesini ingin menawarkan sesuatu,” katanya ramah dan memberikan kartu nama. “Pakdheku membutuhkan guru bahasa Jawa, Indonesia dan bahasa inggris. Ada dua siswa dari Australia yang ingin belajar secara privat.”
Aku menerima kartu nama tersebut. Tunggu, mengajar siswa berkewarganegaraan asing? Ini adalah tantangan sekaligus pengalaman baru. Bu Laras bercerita tentang kesibukannya sehingga tidak bisa membantu.
“Aku yakin anda akan menerima tawaran ini” katanya mengedipkan mata. Sementara tangannya menggenggam jemariku.
Kabar yang sangat menggembirakan. Aku sangat berterima kasih padanya.
“Terlalu banyak berterima kasih, itu terdengar sangat berlebihan. Dan aku senang jika anda mengantarku sampai jalan raya.”
“Dengan senang hati Bu Laras.” Tanpa berpikir panjang. Aku mengangguk. Dan kami keluar rumah. Selama perjalanan kami bercerita tentang kegiatan sehari - hari. Tak lupa aku memberitahunya bahwa itu bukan rumahku. Tidak ada raut terkejut darinya. Rona merah muda dari pipinya kian menggemaskan. Setelah melihatnya masuk ke angkot. Aku pulang sambil memikirkan sesuatu, sepertinya aku perlu tempat tinggal yang lebih privasi.
Betapa menyedihkan jika membayangkan pernikahan yang bahagia. Melihat kondisi keuanganku yang jauh dari kata cukup. Jangankan untuk membahagiakan seseorang, untuk diri sendiri pun aku harus berhemat. Tempat tinggal tak punya, kalau dihitung-hitung gajiku sebulan hanya cukup untuk membeli sepeda gunung atau membayar uang muka kredit sepeda motor. Tidak, aku tidak berpikiran untuk membeli benda-benda apapun. Selama ini hanya dari rasa belas kasihan Bayu dan Amir lah, aku bisa menyambung hidup di perantauan ini. Sekali lagi aku belum pantas untuk memikirkan cinta atau menjatuhkan rasa pada seseorang. Kuremas lagi dompet dalam genggamanku.
***
“Bagaimana, masih ada yang ditanyakan?”
“Ini nomor 24 harusnya benar”
“Coba lebih teliti lagi. Itu masih ada yang kurang tepat”
“Ini soalnya comparative degrees. More...adj…kan sudah benar”
“Kurang ‘than’
“Astaga, pantas saja salah”
Aku menggeleng melihat salah satu siswi yang protes, karena pekerjaannya yang tidak tepat. Itu sebenarnya bukan masalah besar. Hanya kurang teliti. Setelah pelajaran selesai selalu ku luangkan waktu bagi yang ingin bertanya.
Devi Eliza namanya. Dia selalu bertanya di akhir pelajaran. Rambutnya lurus panjang dan diikat kebelakang. Poni samping menutup separo dahi. Terlihat manis dan menggemaskan. Perangainya ceria dan percaya diri. Usianya kurang lebih 17 tahun. Dia selalu melambaikan tangan untuk pamitan padaku.
“Sepertinya, kau ramah pada gadis yang lebih muda,” kata Bayu berdiri di dekat rak buku. “Tak jarang aku dengar kau sangat kaku bersikap pada mahasiswi”
“Itu tadi karena dia masih anak-anak. Kaku dengan mahasiswi karena aku tidak ingin mereka bersikap sembarangan.”
__ADS_1
Bayu menepuk pundakku. “Kau memang tidak berubah Pur”
“Kali ini aku setuju dengan Bayu. Santai ae jeh” sahut Amir.
“Diantara kami bertiga, hanya kau yang masih sendiri. Tidak ada salahnya lebih memperhatikan sesuatu yang indah, wanita tepatnya”
Aku tak bergeming mendengar apa yang mereka bicarakan. Ya, sebagian orang perlu orang lain untuk berbagi sesuatu. Tapi untuk saat ini, sebaiknya aku memikirkan hal lain. Seperti lebih giat bekerja dan mengumpulkan uang.
“Well, bagaimana kalau kita melakukan sedikit penilaian. Bagaimana penampilan Laras secara fisik menurut kalian?” tanya Bayu menyilangkan tangan di dada. Kemudian mengarahkan pandangan ke arah kami.
“Badannya terlalu tinggi, pipi tirusnya memang menarik. Tapi aku yakin itu tidak akan bertahan lama, suatu saat akan termakan usia.”
Bayu terkekeh mendengar penilaian dari Amir. Sepertinya dia terhibur. Dan kini dia menantikan penilaian dariku. Astaga, apa yang harus aku katakan? Semua yang Laras miliki sempurna dan pas.
“Dia memiliki warna kulit yang bagus, cerah dan tidak pucat”
“Pasti kau sering memperhatikannya. Mejanya tidak jauh dari tempatmu” kata Bayu
“Tentu tidak. Seluruh perhatianku hanya untuk pekerjaan. Rasanya kurang sopan jika aku memperhatikannya.”
Amir dan Bayu tertawa. Kemudian mereka menepuk pundakku.
“Iyo...iyo percoyo. Wes rasah sepaneng,” ujar Amir. “jika menurutmu memperhatikan Laras itu kurang sopan. Bagaimana kalau Devi, bukankah gadis itu juga mempunyai warna kulit yang cerah.”
“Amir benar. Muridmu itu cukup menarik,” Bayu berusaha membujukku. “Ya, mungkin kau perlu mengajarkan beberapa hal padanya.”
Tanpa berkomentar lagi. Ku raih tas dan berjalan keluar. Percakapan barusan adalah omong kosong. Bagaimana mereka menyalah artikan sikapku selama ini? Menyebalkan. Kudongakan kepala sejenak. Bintang-bintang kecil berkedip-kedip. Tidak terlalu menarik. Beberapa detik kemudian, aku menyebrang jalan. Seseorang duduk di dekat jembatan dan melambaikan tangan.
“Devi? Kenapa belum pulang?”
“Rantai sepedaku lepas.”
“Boleh aku lihat?”
Gadis itu mengangguk. Sementara tanganku sibuk memasang rantai yang lepas. “Sudah selesai, sekarang kau bisa memakainya”
“Terimakasih ya Sir”
“Iya Sir. Maaf sudah merepotkan”
“Tidak apa-apa. Kau tinggal di mana?”
“Di jalan Jawa”
“Baiklah, hati-hati dan sampai jumpa” ucapku sambil berlalu.
“Tunggu Sir!”
Langkahku terhenti dan menoleh kebelakang. Devi menuntun sepedanya.
“Boleh minta nomor hapenya?”
“Tidak. Kalau rantainya lepas lagi kau bawa saja ke bengkel”
“Kalau aku tanya tentang bahasa inggris, gimana?”
“Kau bisa tanya pada gurumu di sekolah”
“Pasti istri mister galak ya, minta nomor hapenya saja gak boleh”
“Aku belum punya istri”
“Asyik!!!” teriaknya senang. “Berarti boleh ya…”
Tangan kananku meraih kartu nama di saku dan ku ulurkan padanya.”
Wajahnya senang dan tersenyum melihat kartu namaku. Kemudian melambaikan tangan untuk berpamitan.’Dasar anak kecil, ada-ada saja’ bisikku dalam hati.
__ADS_1
***
Hampir setiap hari Devi mengirim pesan singkat atau sms. Tentunya dengan pertanyaan-pertanyan yang tidak terlalu penting. Seperti, How are you? What are you doing? Entah apa maksud semua itu. Di tempat kursus dia juga menjadi lebih rajin dan aktif bertanya. Beberapa bulan lalu dia juga menang lomba reading news tingkat SMA. Pencapaian yang bagus dan rasanya aku ingin memberinya apresiasi.
Minggu pagi ku kirim pesan padanya. Bahwa siang ini aku akan makan siang di conato bakery. Tidak terlalu berharap banyak, karena yang namanya anak-anak pasti bisa berubah pikiran dalam sekejap.
Sebelum berangkat. Aku menatap diri di depan cermin. Tidak terlalu tampan ataupun keren. Hanya saja tidak cacat. Kulirik lagi ponsel yang ada di meja, pesan masuk dari Devi. Rupanya dia sudah sampai lebih dulu.
Jalanan tak terlalu ramai. Langit biru sinarnya menyengat dan sedikit semilir angin. Ku usap keringat di dahi dengan sapu tangan. Kemudian kakiku keluar dari angkot. Berdiri tepat di depan Jember roxy square. Tempat ini belum lama dibuka, tapi sudah banyak pengunjung. Sesuai dengan pemberitahuannya, Devi memakai kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans hitam. Sebelum memasuki conato bakery, tiba-tiba mataku berair, efek cahaya menyengat. Kuraih obat di saku celana dan menetaskannya. Beberapa detik kemudian, segar kembali.
“Good Afternoon sir” sapanya ramah. “Jadi makan dimana?”
Aku hanya mengangguk dan menyuruhnya untuk mengikutiku. Kami makan siang di conato. Tidak ada pembicaraan yang berarti. Cukup siapkan telinga untuk mendengar semua ocehan yang riang mengenai dirinya, teman-temannya. Begitulah bocah. Sejenak, aku teringat kata-kata Bayu dan Amir. Sial, mereka berdua menyebalkan.
“Habiskan makanannya. Dan aku akan mengantarmu pulang”
“Pulang?”
“Iya”
Tangannya mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan di mulut. Posisi duduknya mulai tidak tenang. “Jangan pulang dulu, temani aku belanja”
“Aku tidak punya waktu untuk itu. Makan siang hari ini adalah bentuk apresiasi karena kau menang lomba reading news”
“Memangnya mister mau kemana?”
Sengaja untuk tidak menjawabnya. Dia begitu merepotkan. Aku sudah tidak tahan. Kulirik jam tangan pukul satu siang kemudian aku bergegas pergi. Amir dan Bayu akan tertawa jika melihat kejadian ini. Yang jelas jangan sampai mereka tahu. Namun siapa yang akan menjamin bahwa Devi akan tutup mulut. ‘Astaga aku benar-benar gelisah’ gumanku pelan.
Waktu senggang yang hendak ku gunakan untuk sedikit bercerita kepada Devi. Sengaja tertunda atau lebih baik batal. Tidak selaras dengan apa yang aku pikirkan. Sore itu juga aku putuskan untuk menemui seseorang yang menjadi orang tua student exchange. Pak Surya, namanya.
Puri Bunga Nirwana, Sumbersari. Aku menyusuri beberapa blok sambil mencocokan dengan kartu nama yang ada di tangan. Langkah kakiku terhenti di depan pagar hitam, rumah berlantai dua dan dinding berwarna kuning pucat. Seorang wanita membuka pintu gerbang. Dan ku ikuti langkahnya masuk ke halaman. Bunga kamboja putih setinggi gerbang dan di bawahnya ada kolam kecil serta air mancur kecil. Terlihat segar dan asri.
“Dirantos rumiyen, nggih” kata wanita itu. Kemudian dia masuk ke dalam.
Aku mengangguk dan duduk di teras.
“Monggo pinarak” suara dari ruang tamu. Seorang laki-laki berbadan kurus, rambut lurus dan berkacamata tebal.
“Sugeng sonten” sapaku ketika memasuki ruang tamu. Ruangannya besar dan luas. Beberapa furniture dari kayu. Hiasan dinding berupa foto keluarga. Dan ada foto Laras sedang memeluk dua gadis kembar.
Laki-laki itu mengangguk. Kemudian membuka pembicaraan tentang Bu Laras, dua anak kandungnya yang berada di Australia dan tak lupa anak bule yang menjadi anak asuhnya. Perangainya ramah dan sopan. Tidak ada ketegangan saat diskusi denganku. Begitulah sejauh hal yang ku amati.
Lalu dia menatapku serius dan bertanya, “Anda datang ke kota ini untuk mengajar?”
“Benar”
“Kedua anak asuhku perlu belajar bahasa indonesia dan bahasa jawa. Aku ingin mereka belajar bahasa jawa yang halus dan sopan.”
Dia menyodorkan surat berbahasa inggris. Ku terjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian dalam bahasa jawa kromo inggil. Sekilas dari raut wajahnya nampak puas dengan apa yang sudah aku kerjakan. Tangan kanannya mengambil kertas dan menulis beberapa nominal. “Ini gaji yang akan anda terima selama tiga bulan. Dan akan aku naikkan jika kinerja anda bagus.”
Mataku membelalak. Jumlah upahku lebih besar daripada mengajar di kampus. Beberapa keinginan sudah mulai muncul dalam otakku. Rasanya seperti mimpi saja.
“Ini kontrak kerjanya dan buku panduan yang berisi peraturan-peraturan yang harus anda patuhi”
Sebelum tanda tangan, aku baca teliti isi kontrak kerja dan beberapa lembar peraturan yang ada di buku. “Kapan saya bisa mulai kerja?”
“Dua minggu lagi,” jawabnya. Tanganya merogoh di saku. “Dan ini kunci motor untuk anda.”
Kesepakatan sudah terjalin. Fasilitas motor selama aku mendedikasikan diri untuk mengajar. Jadwal mengajar juga sudah ada di tanganku. Bibirku tak henti-hentinya mengucap rasa syukur ketika keluar dari pekarangan rumah berlantai dua itu. Motor vixion melaju kencang menembus keramaian kota. Rasanya tidak sabar ingin membagi kebahagian ini pada Amir dan Bayu.
***
Aku tertegun memperhatikan mahasiswa yang sedang berkelompok mengerjakan tugas. 10 menit lagi salah satu dari mereka akan presentasi untuk mewakili kelompoknya. Kelas ini seperti sebuah kebun yang penuh dengan bunga dan kumbang. Berwarna warni campur jadi satu. Dengan satu tujuan ingin tumbuh menjadi yang terbaik. Begitu pula si kumbang juga pandai memilih mana bunga yang indah dan mana bunga yang biasa saja. Sedangkan guru atau dosen layaknya tukang kebun yang akan merawat dan menjaga semua isinya.
Tanaman yang bagus akan berpotensi di lirik banyak orang. Namun tampilan luarnya saja tidak akan cukup jika tidak di imbangi dengan kekuatan tangkai daun dan warna yang cerah. Mungkin beberapa paragraf ini sedikit membingungkan pembaca, ya penulis menggambarkan ini semua untuk mahasiswa dan mahasiswi yang sedang belajar dan bertumbuh untuk menjadi sesuatu yang berharga.
Salah satu mahasiswi maju dan mendekat ke mejaku. Sambil membawa laptopnya. Dia berusaha untuk mendapatkan perhatian. Tidak peduli beberapa pasang mata memperhatikan tingkahnya. Beberapa pertanyaan sengaja dia tanyakan, padahal dia sudah mengetahui jawabannya. Hal seperti ini sering terjadi dan pelakunya adalah Della dan Vita. Motivasi mereka itu trik yang entah dari mana dapatkan. Untuk membuat orang lain tertarik padanya.
__ADS_1
Terus terang aku kesal dengan tindakan seperti itu. Kenapa tidak ada yang berubah dari mereka? Seberapa pentingkah mendapat perhatian dari dosen dengan cara instan. Tidak ada prestasi atau sesuatu yang lain, maksudnya yang lebih menarik untuk membuatku terkesan. Dengan sekuat tenaga aku mempertahankan sikap pengendalian diri agar tidak terjerat bujuk rayu dari mereka.
Dalam mengajar aku lebih sedikit berbicara. Namun disisi lain, mereka wajib aktif berbicara bahasa Inggris. Presentasi dari mahasiswa hari ini berjalan lancar. Aku suka mereka sekarang lebih semangat dan antusias belajar. Semoga hal ini terus mereka pertahankan hingga menghadapi tugas akhir nanti. “Thank you for your attention. And see you next week” ucapku ketika mengakhiri pelajaran dan keluar kelas.