Darah Dan Air Mata SUAMIKU

Darah Dan Air Mata SUAMIKU
Curiga


__ADS_3

"Halo, siapa kamu? Mengapa ponsel menantu saya bersamamu?" tanya Margareth dengan tegas dan marah.


John yang setengah mengantuk dan ia salah mengambil ponsel, dikiranya itu adalah ponsel miliknya ternyata yang diambil ponsel Celine. Saat ini Celine tengah tertidur akibat pertempuran panas keduanya beberapa saat lalu.


"Ya ampun aku ceroboh" ucap John dalam hati.


Celine menggeliat karena mendengar seseorang berteriak dan John yang mengusak selimut sehingga tidurnya terganggu namun ia tak jelas karena tengah mengantuk. Ia berusaha mengerjapkan mata dan melihat John masih di sampingnya sedang menggenggam ponselnya.


"Kenapa ponselku bersamamu sayang, apa ada yang menghubungiku?" ucap Celine dengan suara serak khas orang bangun tidur.


John langsung panik dan memutus telepon secara sepihak dan meletakkan ponsel Celine di atas nakas.


"Astaga Cel, kenapa kamu bersuara. Aduh gawat apa tadi Mama mertuamu curiga apa tidak ya?" tanya John yang tengah panik.


Celine langsung terbangun dan membuka matanya lebar. Ia syok mendengar bahwa yang menghubungi barusan adalah Mama mertuanya dan telepon tersebut tak sengaja diangkat John bahkan belum sempat di putus panggilan, dirinya mengeluarkan suara yang pasti Mama mertuanya mendengarnya.


"Gimana nih John, bisa gawat rencana kita. Jangan sampai wanita tua itu mengadu pada Leo sehingga berujung menceraikan aku karena dituduh selingkuh. Aku pasti gak akan dapat harta sepeserpun dari Leo jika seperti itu" ucap Celine penuh cemas.


"Kamu berusaha relax dulu Cel dan sekarang kamu segera rapikan tubuhmu dan dandan lalu bergegas kamu hubungi Mama mertuamu kembali segera agar ia tidak curiga padamu" ucap John.

__ADS_1


Celine segera melakukan perintah John dan ia langsung menghubungi sang mama mertua. Kini Celine berada di dalam sebuah taksi sudah menjauh dari kawasan rumah John.


Dretttt...Drettt..


Lima belas menit kemudian suara ponsel Margareth berbunyi di mana hatinya tengah curiga dan berkecamuk setelah sambungan teleponnya dengan Celine terputus. Ia melihat id pemanggil dari menantu kesayangannya dan bukan telepon biasa melainkan video call maka ia menghela nafas dalam dan tetap mengangkatnya.


"Halo Ma, maaf tadi teleponnya terputus mungkin sinyal kurang bagus. Celine sedang di jalan. Mama menghubungi Celine tadi ada perlu apa Ma?" tanya Celine dengan senyum palsu terpampang dalam video call tersebut dan hanya dirinya yang paham tentunya bahwa ia hanya berakting belaka.


"Kamu sedang di jalan? Perasaan saat tadi Mama telepon sepertinya suaramu seperti orang bangun tidur? ucap Margareth.


"Oh iya maaf Ma, tadi Celine agak ngantuk jadi tertidur sebentar di jalan. Ini Celine sedang naik taksi menuju rumah sakit untuk jenguk Mama. Maaf Celine sedang kurang enak badan jadi pergi ke dokter dulu sebelum ke tempat Mama" ucap Celine dimana otaknya langsung terkoneksi agar Margareth percaya pada alibi yang ia sampaikan.


"Celine sendiri saja Ma, mungkin tadi supir taksi yang sempat angkat telepon Mama karena Celine susah dibangunkan. Entah mengapa sejak kehamilan makin besar, aku bawaannya mudah mengantuk lalu tertidur sembarangan Ma" ucap Celine.


"Ya sudah hati-hati di jalan jika memang kamu capek tak perlu ke sini. Sudah ada suamimu yang menjaga Mama. Kamu jaga cucu Mama baik-baik ya dalam kandunganmu. Mama sudah gak sabar pengen gendong cucu" ucap Margareth sumringah.


"Iya Ma, ya sudah jika begitu Celine mau pulang ke apartemen dahulu nanti bila memang gak capek bisa ke tempat Mama. Cepat sembuh Ma, bye" ucap Celine setelah itu sambungan telepon terputus dan dirinya begitu lega karena semua berjalan aman terkendali.


Walaupun begitu tetap di hati Margareth merasa ada sesuatu yang janggal namun dirinya tengah sakit dan tak bisa berpikir terlalu keras khawatir kondisi tubuhnya drop.

__ADS_1


Leo keluar dari kamar mandi dan melihat sang Mama meletakkan ponsel ke atas nakas. Ia mengernyitkan dahi sambil bertanya dalam hati, Mamanya telepon dengan siapa gerangan.


"Mama habis telepon dengan siapa?" tanya Leo sambil berjalan menuju ranjang sang Mama.


"Celine, dia mau ke sini tapi karena takut ibu hamil kecapekan jadi Mama suruh langsung pulang saja ke apartemen kalian untuk istirahat. Tadi dia sempat mengeluh kurang enak badan sehingga periksa ke dokter sendirian. Lebih baik kamu pulanglah Leo, kasihan Celine yang tengah hamil tua perlu perhatian suaminya" ucap Margareth.


"Iya Ma, nanti malam yang jaga Mama ada suster yang sudah aku sewa. Aku mau keluar dulu ke kantin beli kopi. Mama ada mau nitip beli sesuatu?" tanya Leo.


"Mama gak ingin apapun kecuali sembuh dan berjalan normal untuk menyambut kelahiran cucu Mama" ucap Margareth sendu.


Leo pun berpamitan keluar ruangan sang Mama. Saat tengah berjalan menuju kantin, ia melihat seorang wanita yang ia kenal tengah duduk di depan ruang tunggu IGD sambil terisak dan dipeluk oleh seorang lelaki muda namun tak ia kenal akan tetapi sepertinya dirinya pernah melihat lelaki itu namun lupa di mana. Dari penampilan lelaki muda tersebut bisa Leo tahu bahwa ia bukan orang biasa karena kemeja, jas, sepatu serta jam mahal yang tersemat dalam tubuh lelaki muda tersebut adalah barang yang cukup mahal dan bermerk.


Tentunya Leo paham akan hal-hal tersebut karena dirinya pun dibalut dengan barang-barang mewah. Namun yang jadi pertanyaan dalam benaknya ada hubungan apa di antara keduanya. Akhirnya dirinya tak jadi pergi ke kantin namun berjalan menuju pada kedua orang tersebut yang tengah duduk di depan ruang tunggu IGD.


"Ehem, Ana sedang apa kamu di sini?" tanya Leo lembut.


Ana dan Pandu yang mendengar suara seseorang yang cukup familiar di pendengarannya, langsung mengangkat pandangan. Ana terperanjat melihat Leo berada di rumah sakit yang sama. Hatinya bertanya-tanya siapa yang sakit atau ada urusan apa kak Leo ke sini.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2