
Pagi itu sungguh pagi penuh senyuman untuk Ana ketika bangun tidur karena dirinya semalam begitu nyenyak walau hanya tidur di sofa kamar inap rumah sakit. Langkah riang mengawali paginya membersihkan diri serta menunaikan tugasnya kepada sang pencipta setiap pagi menjelang.
Namun senyum riang itu seketika lenyap ketika ia melihat Bu Yanti pagi ini seakan tertidur pulas hingga telat bangun Subuh. Padahal biasanya daripada Ana, Bu Yanti bangun lebih dahulu untuk menunaikan kewajibannya tersebut. Alhasil ia pun membangunkan Bu Yanti namun hanya wajah pucat tetapi dengan senyum mengembang di wajah wanita paruh baya tersebut yang didapati Ana dengan sentuhan tangan Ana pun kaget karena tubuh Bu Yanti terasa dingin. Ana pun bergegas memanggil dokter dengan wajah pucat pasi.
"Dokter...Dokter..." teriak Ana.
Setelah dokter memeriksa secara keseluruhan dan menyatakan bahwa Bu Yanti telah berpulang, Ana langsung jatuh pingsan. Anak buah Pandu yang berjaga langsung menghubunginya dan Pandu seketika meluncur ke rumah sakit setelah menelepon tim dokter yang merawat Bu Yanti menyatakan bahwa memang Bu Yanti telah meninggal dunia.
Di atas gundukan tanah merah dan rintik gerimis membasahi bumi siang itu mengiringi kepergian Bu Yanti untuk selama-lamanya. Di atas sebuah batu nisan dan gundukan tanah tersebut seorang gadis menangis tergugu dengan di dampingi calon suaminya yang selalu berada di sampingnya sejak tadi.
"Bu..Bu Yanti kenapa tega pergi terlebih dahulu sebelum bertemu Mbak Ayu dan menjadi saksi pernikahan Ana dengan Mas Pandu, huhu..." ucap Ana dengan terisak-isak.
"Ikhlaskan An" ucap Pandu sendu dengan terus merangkul pundak calon istrinya itu.
__ADS_1
"Huhuu...gimana nanti jika Mbak Ayu ketemu Mas, apa yang harus aku katakan padanya kalau Bu Yanti sudah pergi untuk selama-lamanya. Aku yakin Mbak Ayu pasti sangat terpukul karena dia sangat menyayangi Bu Yanti" ucap Ana terbata-bata dalam tangis sedu sedannya.
Pandu berusaha menguatkan hati calon istrinya itu yang terus menerus menangisi kepergian Bu Yanti bahkan sejak di rumah sakit beberapa kali Ana pingsan karena hubungan emosi antara dirinya dengan mendiang Bu Yanti sangat dekat seperti ibu kandung dengan putrinya.
Dibalik kerumunan pelayat yang hadir ada sosok lelaki gagah dan tampan memakai kacamata hitam yang juga sedih melihat kepergian Bu Yanti dari jauh. Ya dia adalah Leo, suami Ayu Larasati. Semalam ia menjaga mamanya di rumah sakit dan saat pagi menjelang akan mencari makan di kantin rumah sakit, ia dikejutkan dengan teriakan histeris Ana dari jauh yang menyebabkan gadis itu pingsan di depan ruangan inap Bu Yanti.
Seketika Leo menghampiri dan menanyakan pada perawat yang sedang ada tak jauh dari sana mengatakan bahwa pasien atas nama Bu Yanti telah meninggal dunia. Leo pun awalnya tampak terkejut karena beberapa waktu lalu bertemu dengan Bu Yanti masih dalam kondisi baik bahkan yang Leo dengar beliau akan pulang dari rumah sakit dan segera menyaksikan pernikahan Ana.
Leo pun telah diundang oleh Ana secara pribadi dengan acara sederhana di panti asuhan. Ternyata kabar duka ini datang lebih awal menjelang pernikahan Ana sungguh memilukan. Leo sangat paham karena ia tahu Ayu dan Ana adalah dua anak dari panti asuhan tersebut yang sangat dekat dengan Bu Yanti.
"Ayu maafkan atas segala kesalahan ibu dan terima kasih sudah merawat serta membesarkan Ayu dengan penuh kasih sayang tulus. Semoga ibu tenang di sana" ucap Ayu sendu sembari menatap langit yang tengah mendung sepertinya sore ini akan hujan cukup lebat.
Ayu pun masuk ke dalam kamarnya kembali lalu keluar untuk melihat si kembar yang sedang bersama kakek neneknya. Ketika melihat si kembar tengah bermain dan tertawa bersama dengan Alex dan Sinta Dharma, ia mengenang bahwa mendiang Bu Yanti yang lalu terus mendoakan dirinya segera memiliki keturunan sehingga wanita paruh baya itu ada yang memanggil eyang. Namun kini semua hanya tinggal kenangan belaka dan belum sempat si kembar mengucapkan sapaan pada eyangnya ternyata Bu Yanti sudah berpulang terlebih dahulu.
__ADS_1
Alangkah bahagianya bila Bu Yanti mengetahui bahwa doanya selama ini telah dijawab oleh Tuhan yang akhirnya ada yang ia panggil cucu. Bahkan jumlahnya langsung diberi dua bayi yang menggemaskan serta berparas tampan dan cantik jelita.
🍁🍁🍁
"Kamu dari mana Leo? Sejak tadi Mama telepon kamu kok gak angkat juga. Gak mungkin kan kamu pergi untuk urusan kantor di hari minggu begini?" tanya Margareth penuh selidik pada putranya karena sejak datang, sang putra berwajah sedih seakan banyak beban yang tengah ia pikirkan.
"Dari pemakaman Ma" ucap Leo sendu sembari melangkah duduk dekat sang Mama.
"Hah...siapa yang meninggal?" tanya Margareth sedikit terkejut.
"Bu Yanti, ibu panti asuhan tempat Ayu berasal" ucap Leo lirih.
Deg...
__ADS_1
🍁🍁🍁