
Malam hari, di kala kediaman Alex dan Sinta Dharma riuh atas tangisan bercampur tertawa lucu dari bayi Lio dan Lea saat bermain dengan kakek neneknya serta Ayu dan Bram, berbanding terbalik dengan kondisi wanita paruh baya di sebuah ranjang rumah sakit di Jakarta.
Dengan tenaga terakhir yang ia miliki, ia menuliskan sebuah surat permintaan maaf serta doa bahagia untuk putri asuhnya yang belum ia ketemukan itu dan surat doa kebahagiaan Ana dan Pandu dalam menyongsong pernikahan. Setelah selesai menulis surat tersebut, ia menaruhnya dalam laci nakas di sebelah ranjangnya. Bu Yanti melihat anak asuhnya yang lain yang ia sayangi seperti Ayu tengah tertidur pulas di sofa tak jauh dari tempat tidurnya.
Bu Yanti pun sebelumnya sudah mengetahui hubungan percintaan antara Ana dan Pandu karena kemarin lelaki itu telah datang menemuinya guna melamar Ana padanya. Ia pun memberi restu pada keduanya dan Pandu mengatakan bahwa mereka akan menikah setelah Bu Yanti pulang dari rumah sakit. Wanita paruh baya itu pun menyetujuinya dan meminta acara pernikahan keduanya berlangsung sederhana saja di panti asuhan dengan adik-adik panti serta beberapa warga sekitarnya.
__ADS_1
Bu Yanti juga telah mengetahui bahwa Pandu adalah anak yatim piatu sehingga hanya majikannya saja keluarganya saat ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah Alex dan Sinta Dharma sebagai perwalian keluarga dari pihak Pandu yaitu orang tua kandung Ayu. Namun Bu Yanti belum mengetahui bahwa saat ini Ayu telah bersama orang tua kandungnya itu. Pandu pun tak berani menceritakan tentang Ayu dan bayinya pada Bu Yanti dan Ana karena demi keselamatan nyawa Ayu serta bayinya yang sudah ia sepakati dengan bosnya itu.
Bu Yanti pun berjalan menuju sofa tempat Ana tertidur. Ia membelai lembut rambut Ana dan sepertinya yang empunya sedang kelelahan mempersiapkan pernikahannya dengan Pandu yang satu minggu lagi akan dihelat karena info dokter pagi tadi kepada mereka berdua bahwa Bu Yanti boleh pulang besok pagi. Tentu Pandu dan Ana bahagia mendengar Bu Yanti boleh pulang sehingga antusias keduanya menuju pernikahan menjadi semakin besar.
Padahal dokter sengaja mengatakan hal itu atas dasar permintaan Bu Yanti. Wanita paruh baya itu sudah merasa bahwa umurnya tidak akan lama lagi jadi ia ingin jika pergi bahwa dirinya sudah melakukan apa yang perlu dilakukan sebelum ajal itu menghampirinya. Bu Yanti pun menyuruh kepada dokter untuk merahasiakan kondisi sebenarnya pada siapapun termasuk Pandu dan Ana. Ia tak mau kedua anaknya itu yang ingin menikah harus menunggu lama atas kesembuhan dirinya yang tidak akan sembuh lagi dengan kondisi fisiknya sekarang akibat kecelakaan sebelumnya yang cukup parah menimpanya.
__ADS_1
"Semoga kamu memaafkan seluruh kesalahan ibu, wahai Ayu anakku di manapun kamu berada bahagia selalu bersamamu" ucap Bu Yanti lirih dengan lelehan air mata ia pun menutup mata guna beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya.
Meninggalkan kepingan kesedihan, maaf atas segala salah dan khilafnya sebagai manusia yang tak luput dari dosa masa lalu yang membelenggunya selama ini. Kini beban itu ia lepaskan dan meninggalkan kehidupan yang fana ini kembali pada sang pemilik pencipta.
Berharap dimaafkan dan di sisi Tuhan ia sudah bersiap untuk mempertanggungjawabkan segala khilafnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
"Ada dua hal di dunia yang pernah kita melakukannnya tetapi kita tidak mengetahuinya yaitu saat pertama kali kita membukakan mata dan saat terakhir memejamkannya (mati)"