
Tubuh Dayu terbaring, dengan mata terpejam dan wajah pucat. Tangan kanannya terjuntai ke lantai, dengan darah mengalir dari nadi di pergelangan tangan. Darah merah segar itu tertampung ke dalam wadah tanah liat. Mak Nairah menatap tangan Dayu, tatapan disertai senyum dingin. Kemudian, tatapan Mak Nairah beralih pada wajah Dayu.
"Seluruh darah yang ada di tubuhmu harus habis. Darah itu bisa membawa anakku kembali padaku." Ucapan tajam Mak Nairah, disertai tawa pelan.
Lalu, wanita tua itu mengambil darah Dayu dengan kedua tangannya. Aneh sekali, darah itu tidak menetes, ketika Mak Nairah membawanya ke arah wajah Kemuning. Setelah itu, darah itu disapukan ke wajah Kemuning dan seketika darah itu pun lenyap seakan meresap masuk ke wajah Kemuning.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan tubuh Bahar tercampak ke dalam, lalu jatuh pingsan tepat di depan Mak Nairah. Pak Hasan masuk diikuti Malik. Mata Mak Nairah terbelalak kaget menatap Pak Hasan.
"Kurang ajar! Kau jangan ikut campur urusanku, Hasan....!" Mak Nairah berteriak marah.
"Aku tidak akan ikut campur, kalau kau berusaha mengembalikan Kemuning. Tapi, jika kau mengorbankan anak almarhum Kamal untuk mewujudkan keinginanmu itu. Aku tidak akan membiarkanmu!" Pak Hasan membalas dengan suara keras.
Mak Nairah akan menyerang Pak Hasan, namun gerakannya terhenti saat mendengar suara erangan Kemuning.
"Aaaaahhhhh."
Mak Nairah bergegas mendekati anaknya, lalu duduk di depan Kemuning. Wajah Kemuning pucat pasi, matanya melotot dan menatap liar ke sekeliling.
Melihat itu, Pak Hasan bergegas mendekati Dayu, lalu mengambil pergelangan tangan Dayu. Mata Pak Hasan terpejam, sesaat kemudian matanya terbuka, lalu tangannya mengusap pergelangan tangan Dayu dan darah pun berhenti mengalir.
Wajah Mak Nairah terlihat gembira, ia memegang ke dua bahu anaknya.
"Kemuning, Anakku....Akhirnya, kamu kembali, Nak." Mak Nairah memeluk Kemuning.
Dalam pelukan Kemuning, terlihat wajah Mak Nairah gembira, tapi wajah itu berubah menjadi kesakitan, sesaat kemudian tubuh Mak Nairah tergeletak tidak bernyawa.
Bab 1
Pasar masih ramai, meski hari beranjak sore. Di antara deretan toko, terlihat Dayu berdiri di depan salah satu toko. Etalase yang berisi aneka produk kosmetik berada di samping Dayu. Wajah Dayu yang terlihat lelah masih menebar senyum pada setiap pengunjung yang lewat.
"Lipstiknya, Kak...." Dayu menyapa wanita muda yang berhenti sejenak di depannya. Wanita itu menatap Dayu dan tersenyum, seraya menggeleng, kemudian berlalu.
Mita keluar dari toko, lalu mendekati Dayu
"Hari ini sepi, ya?" Mita menatap keadaan sekeliling.
"Nggak ah, itu kan rame." Dayu menunjuk pengunjung yang lalu lalang.
"Maksud aku, sepi yang beli sama kita."
Dayu mengangguk, ia melangkah masuk ke dalam toko diikuti Mita. Dayu duduk di kursi plastik, dengan meja kayu kecil di depannya. Mita pun duduk di kursi plastik di hadapan Dayu.
"Kalau tiap hari sepi kayak gini. Gimana kita bisa dapat tambahan gaji. Dari pagi sampai hari gini, cuma tiga biji yang beli." Mita mengeluh.
__ADS_1
"Tiga orang lho..." Dayu memperbaiki kalimat Mita.
"Iya, tiga orang." Mita tertawa pelan.
Dayu mengambil satu buku dari laci meja, kemudian meneliti tiap tulisan.
"Gimana keadaan Ibumu?" tanya Mita. Dayu menatap Mita, wajahnya menjadi sendu
"Masih sama, Ta. Ibuku masih belum sadar."
"Siapa yang jaga?"
"Aku minta tolong sama perawat di sana. Untunglah, mereka mau menolong. Karena merekalah aku bisa kerja. Aku mau kasi uang sekedarnya untuk mereka. Tapi, mereka nggak mau. mereka bilang, uangku bisa digunakan untuk biaya perobatan ibuku."
"Syukurlah ada perawat yang mau menjaga ibumu."
"Iya, Ta. Syukurlah ada mereka."
"Udah jam lima, Yu. Kita tutup yuk...." Mita melihat jam di Hp. Dayu mengangguk, lalu menutup buku dan memasukkannya ke dalam laci.
Dayu dan Mita mengambil produk kosmetik yang tersusun di atas etalase. Mereka memasukkannya ke dalam etalase, kemudian mendorong etalase masuk ke dalam toko. Setelah itu, mereka bersama menutup pintu toko. Dayu mengunci pintu.
Mereka melangkah bersama menyusuri jalan kecil. Toko-toko di sisi kiri dan kanan mereka terlihat sudah ada yang tutup. Sebagian toko bersiap akan ditutup oleh pekerja atau pemiliknya. Melewati setiap toko, Dayu dan Mita menyapa orang yang mereka kenal.
"Aku boleh ikut kamu ke rumah sakit?" Mita bertanya.
"Boleh dong. Malam ini, aku tidur di sana. Besok kita, kan nggak jualan."
"Aku tidur di sana juga, ya?"
"Beneran, kamu mau tidur di sana?"
"Iya, Yu. Sejak ibumu di rumah sakit, aku belum pernah ikut menjaganya."
"Kalau kayak gitu ya udah. Yuk, itu angkot udah datang. "Dayu bersiap memberi isyarat dengan tangan kanann, agar angkutan umum berhenti.
Setelah angkutan umum berhenti tepat di depan mereka, mereka pun langsung naik dan mobil melaju kembali membelah jalan raya
*****
Ibu Dayu terbaring dengan tangan diinfus dan selang di mulut. Dayu dan Mita duduk di samping pembaringan.
"Apa kata dokter, Yu? Kapan ibumu bisa sadar?"
__ADS_1
"Cedera di kepala ibuku parah, Ta. Dokter udah kasi obat, tapi dokter belum bisa memastikan kapan ibuku sadar " Dayu berucap pelan. Napasnya menghela sedih. Melihat wajah ibunya, Dayu selalu merasa bersalah.
"Waktu ibuku mau menjemput, harusnya aku larang. Kalau ibu nggak menjemputku pulang kerja, ibuku tentu nggak ditabrak mobil " air mata Dayu perlahan turun. Mita memegang tangan Dayu dan mengelusnya pelan.
"Udahlah, Yu. Yang udah terjadi nggak usah diingat lagi. Yang penting, sekarang kita berdoa semoga ibumu segera sadar dan sehat kembali " Mita menenangkan Dayu.
"Iya, Ta." Dayu mengangguk, seraya menghapus air mata dengan tangan.
Mereka berdua duduk dengan mengelar tikar plastik di bawah tempat tidur. Ketika malam tiba, Dayu membeli nasi bungkus dan mereka menikmatinya bersama. Setelah makan, Dayu duduk di samping ibunya, seraya bercerita tentang pekerjaannya. Sementara, Mita sibuk dengan ponsel.
"Kamu belum mengantuk, Ta?" tanya Dayu, tanpa mereka sadari jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima.
"Belum, Yu. Kalau kamu udah ngantuk tidur saja dulu." Mita menjawab matanya beralih dari hp dan menatap Dayu sesaat.
"Aku juga belum mengantuk." Dayu berkata, sambil memperbaiki selimut ibunya.
Tiba-tiba, Dayu merasa ingin buang air kecil
"Ta, kamu jaga ibuku, ya? Aku mau ke toilet dulu di luar."
"Kenapa keluar? Itu, kan toilet." Mita menunjuk toilet di dalam ruangan.
"Toilet itu rusak." Dayu berkata, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu keluar.
Malam telah larut. Sepanjang lorong rumah sakit terang benderang oleh lampu. Tetapi, keadaan rumah sakit sangat sepi. Tidak terlihat seorang pun di sekitar. Dayu melangkah cepat menuju toilet. Dayu tidak menyadari kehadiran satu sosok perempuan yang berada di balik pepohonan. Perempuan itu menatap Dayu. Wajahnya tertutup oleh rambut, hanya kedua bola matanya yang terlihat. Kedua bola mata yang merah menyala.
Berada di salah satu kamar mandi, Dayu duduk di kloset. Ia sedang konsentrasi membuang hajat, ketika mendengar suara langkah kaki dan pintu kamar mandi di sebelahnya tertutup. Selesai membuang hajat, Dayu bangkit dan menaikkan celana panjang, lalu menutup resleting. Dayu keluar kamar mandi, lalu menatap ke sekeliling, kemudian melangkah menuju wastafel. Dia membuka kran untuk mencuci tangan.
Tiba-tiba, pintu salah satu kamar mandi terbuka dan menghantam dinding.
Braaaak!
Suara yang keras membuat Dayu kaget. Dia langsung menoleh, melihat ke dalam kamar mandi. Tidak ada orang di dalam. Pintu kembali tertutup, dengan suara kuat.
Braaaaaak!
"Hi hi hi hi hi hi...."
Terdengar suara wanita terkikik dari dalam kamar mandi. Tubuh Dayu gemetaran mendengar suara itu. Ia berusaha menggerakkan kaki untuk melangkah. Namun, kakinya sangat sulit untuk digerakkan, tubuhnya juga tidak bisa bergerak.
Dengan sekuat tenaga, Dayu mengangkat kaki kanannya yang terasa berat. Tiba-tiba, pintu kamar mandi itu terbuka. Dan, sosok perempuan keluar, lalu menghampiri Dayu.
Melihat wajah perempuan itu, Dayu tidak bisa menahan diri Hingga, Dayu pun rebah mencium bumi.
__ADS_1