Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 7 Perjalanan Yang Aneh


__ADS_3

Dayu menyusun beberapa pakaian ke dalam tas ransel. Mita juga melakukan hal yang sama.


"Udah, Ya?" Dayu memanggil Mita dari depan pintu kamar, dia telah selesai berkemas. Mita mengangguk, lalu membawa tas pakaiannya dan mendekati Mita.


"Ayo....kita berangkat ke rumah baru." Mita berkata, dengan nada semangat.


Mereka berdua melangkah keluar rumah. Dayu mengunci pintu, kemudian bersama mereka menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot.


Mereka naik angkutan umum menuju terminal. Turun dari angkutan umum, Dayu dan Mita langsung membeli tiket di loket bus.


"Tiket ke desa Batang Ujung dua, ya, Bang." Dayu menyerahkan sejumlah uang pada penjual tiket. Lelaki itu mengambil uang Dayu, lalu memberikan dua lembar tiket


"Pulang kampung, ya, Dek?" tanya penjual tiket.


"Iya, Bang." Dayu mengangguk.


"Saya juga dari Desa Batang Ujung. Kalian tinggal di dusun mana?"


"Dusun Beringin Hitam, Bang." Dayu menjawab ramah.


Mendengar ucapan Dayu, lelaki penjual tiket terlihat terkejut.


"Kampung kalian di dusun Beringin Hitam?" lelaki penjual tiket kembali bertanya.


"Iya, Bang. Memangnya kenapa kalau kami dari dusun Beringin Hitam?" Mita yang bertanya heran.


" Nggak...., nggak kenapa-kenapa." kepala lelaki itu menggeleng cepat. Mita merasa heran melihat reaksi lelaki penjual tiket itu.


"Sebenarnya, ada apa dengan dusun Beringin Hitam, Bang?" tanya Mita penasaran.


Lelaki itu diam sesaat, sepertinya enggan mengatakan sesuatu tentang dusun tersebut.


"Kata almarhumah Ibu saya. Dusun itu tempatnya dukun ilmu hitam, Dek. Sejak anaknya meninggal, nggak ada yang berani datang ke dusun itu lagi."


"Memangnya kenapa, Bang?'


"Kata orang-orang, dukun itu akan membunuh orang baru yang masuk ke sana."


Deg!

__ADS_1


Jantung Dayu berdetak. Wajah Mita terlihat pucat.


"Kalian dari sana. Pasti kalian kenal dukun itu Kalau saya nggak kenal, sejak kecil saya tinggal di sini. Jarang pulang kampung, apalagi main ke dusun lain." lelaki penjual tiket itu menatap Dayu, lalu Mita, "Kalian orang dusun Beringin Hitam. Mau pulang kampung, pasti nggak dibunuhlah." lelaki penjual tiket itu tertawa. Namun, tawa lelaki itu membuat wajah Dayu dan Mita semakin pucat.


"Terima kasih, Bang." Dayu langsung menarik tangan Mita.


Mereka berjalan bersisian, dengan pikiran masing-masing.


Duduk di dalam bis, mereka juga masih membisu


"Apa betul yang dibilang Abang tadi?" Mita memecah kebisuan.


"Aku nggak tahu, Ta. Tapi, nggak mungkinlah ada yang kek gitu. Kalau dukun memang masih ada zaman sekarang. Di kota saja masih ada, apalagi di kampung." Dayu menatap Mita.


"Iya, Yu. Dukun memang ada, dukun baik ada, dukun nggak baik pun ada." Mita mengangguk, "Masalahnya, dukun di dusun Beringin Hitam itu mau membunuh orang baru yang datang ke sana. Kita, kan orang baru. Apakah kita akan mati di sana?" suara Mita bergetar pelan.


"Ah, kamu ada-ada saja, Ta. Almarhum ayahku memberikan warisan rumah di sana. Wasiatnya beliau titip sama lelaki berpakaian hitam, lelaki itu pasti saudara atau teman almarhum ayahku yang nggak kukenal. Kalau di dusun itu ada dukun mau membunuh orang yang baru datang, nggak mungkin lelaki berpakaian hitam memberikan surat itu padaku."


Mendengar penjelasan Dayu panjang lebar, perasaan khawatir Mita perlahan hilang.


"Iya, ya, Yu. Nggak mungkinlah, almarhum Ayahmu kasi warisan kalau ada bahaya di sana."


Mobil bus melaju kencang melintasi jalan raya. Penumpang tidak terlalu padat, perjalanan yang lumayan jauh membuat mereka mengantuk. Sebagian ada yang tidur, bermain hp atau melamun. Satu jam perjalanan, tiba-tiba bus sedikit oleng, sebelum akhirnya berhenti. Para penumpang melihat supir dan kernet turun. Kedua lelaki itu memeriksa keadaan bus, ternyata salah satu ban bocor. Supir dan kernet bersama-sama mengganti ban. Dua orang penumpang lelaki ikut membantu.


"Kita turun yuk, panas sekali." Mita mengipasi dirinya, dengan kipas kecil yang dibawanya. Dayu mengangguk, lalu mengikuti Mita keluar dari bus.


Baru saja kaki Dayu menapak tanah, dia merasa bulu kuduknya meremang dan udara dingin menyelimuti tubuhnya. Sebuah bayangan hitam melewati Dayu, lalu masuk ke dalam bus.


Dayu menggigil, kemudian memeluk tubuh dengan kedua tangan.


"Kenapa, Yu?" Mita heran melihat tubuh Dayu gemetaran.


"Aku kedinginan, kamu nggak merasa dingin?" Dayu menatap heran pada Mita yang terlihat biasa saja.


"Nggak, aku kepanasan." Mita menambah kuat mengipas tubuhnya. Mereka berdua berdiri tidak jauh dari kesibukan supir, kernet dan dua penumpang lelaki. Bersama beberapa penumpang lain, mereka memperhatikan proses mengganti ban. Setelah selesai, kernet meminta seluruh penumpang masuk ke dalam bus


Dayu dan Mita menghentakkan punggung di kursi. Bus baru berjalan, ketika Dayu mengendus bau yang tidak sedap.


"Bau busuk....." Dayu menutup hidung, berbisik pelan pada Mita. Mita mengendus, tetapi tidak mencium bau busuk, selain bau asam orang-orang di dalam bus.

__ADS_1


"Kamu kok aneh, Yu? Tadi kamu bilang dingin, padahal cuaca panasnya minta ampun. Sekarang, kamu mencium bau busuk, aku cuma cium bau bus yang asam." Mita mengerutkan dahi, dia sungguh heran pada kelakuan Dayu.


Dayu membuka tangannya dari hidung, dia masih mencium bau busuk. Lalu, dia mencari bau itu dengan sedikit mengendus ke depan. "Baunya bukan dari sana." Dayu memalingkan wajah ke arah belakang, "Dari.....be ...lakang." suara Dayu terputus-putus, matanya bertemu dengan mata gadis sebaya dia, yang duduk di kursi paling belakang. Mata gadis itu merah menyala, wajahnya hitam dan sebagian wajahnya rusak Perlahan, tubuh Dayu kembali ke posisi semula, menghadap ke depan. Tubuhnya gemetaran, gadis sebaya dirinya masih menatapnya dengan senyum.


Tiba-tiba, terdengar suara keras.


Kreeeetaaaak!


Supri berusaha mengendalikan bus yang oleng. Perlahan, bus pun berhenti. Supir meminta kernet turun dan memeriksa keadaan bus.


"Ban belakang bocor, Bang." kerent naik ke bus dan melapor


"Aduuuuh, kenapa bocor lagi? Gimana ini, ban cadangan udah dipakai." supir menepuk dahi.


Supir turun memeriksa ban belakang, lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Ban bus bocor lagi, tolong antar ban cadangan." supir berkata, lalu lelaki itu menyebutkan lokasi. Setelah menelepon, supir naik ke bus dan berkata pada semua penumpang.


"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan adik-adik. Karena ban bus ini bocor lagi, sementara ban cadangan nggak ada. Kita menunggu bus lain lewat, bus itu akan membawa ban. Saya minta maaf atas kejadian ini. Harap semuanya bersabar, ya?"


"Iya....." penumpang serentak menjawab.


Supir duduk kembali di belakang kemudi, menyandarkan tubuh dan kepalanya. Sementara, sang kernet duduk di kursi cadangan dan bermain ponsel.


Dayu melihat ke sekitar tempat itu dari jendela, matanya menangkap sosok seorang lelaki tua berjalan terpincang-pincang mendekati bus.


"Kakek itu pasti mau naik bus ini." Dayu membatin, matanya masih menatap lelaki tua itu, ketika lelaki itu berjalan cepat, kemudian melayang di udara. Lelaki tua itu mendarat di depan pintu bus, kemudian masuk dan melewati tempat duduk Dayu dan Mita. Dayu tidak sanggup menatap lelaki tua itu lagi, matanya langsung terpejam. Jantungnya berdebar kencang. Sekarang, sudah ada dua makhluk gaib di dalam bus.


"Hhhhh, kenapa aku jadi sering bertemu mereka akhir-akhir ini? Aku nggak pernah liat hantu seumur hidup. Tapi, beberapa hari ini sungguh aneh, aku bisa melihat mereka. Kayaknya, mereka ada di mana-mana." hati Dayu bergumam heran.


"Yu....." panggilan Mita mengejutkan Dayu, "Kamu tidur, ya?" Mita menggoyang bahu Dayu.


"Hmmmm....." mata Dayu masih tertutup, di berpura-pura sedang tidur.


"Aneh ya, Yu? Kenapa ban bus ini selalu bocor?" Mita berkata, "Apa mungkin ini pertanda nggak baik?"


Mendengar ucapan Mita, Dayu menggeliat, kemudian menutup mulut dan menguap.


"Nggak baik berpikiran buruk, Ta. Bannya bocor pasti karena Abang supir nggak memeriksa dulu kondisi bus, sewaktu mau berangkat." Dayu berkata menenangkan kegelisahan Mita, meski hatinya juga berdenting gelisah.

__ADS_1


"Iya, juga. Aku nggak boleh berpikiran buruk. Kan, katanya ucapan adalah doa. Ya, ampun. Aku harus mengganti apa yang kubilang. Semoga ini pertanda kita akan mendapatkan kegembiraan. Amin." Mita menyapu wajahnya dengan tangan. Dayu tersenyum menatap Mita. Meski, ucapan Mita terdengar baik, tapi entah mengapa hatinya merasa mereka tidak akan baik-baik saja.


__ADS_2