
Dayu sedang berjalan menelusuri jalan sepi. Malam telah larut, kegelapan menyelimuti keadaan di sekitar. Jalan diterangi cahaya lampu yang redup. Dayu berhenti melangkah, matanya menatap dan menyapu seluruh tempat.
"Aku harus sampai di sana." Dayu bergumam dan kembali melangkah. Semakin lama, langkahnya semakin cepat
"Aku harus sampai di sana." kalimat itu kembali diucapkannya.
"Hei! Kamu....berhenti?" satu teriakan berasal dari belakang membuat Dayu menoleh. Seorang lelaki mendekatinya, dengan membawa pedang. Dayu yang semula berhenti kembali melangkah. Ia mendengar langkah kaki di belakangnya semakin cepat. Dayu menoleh, sambil berlari. Lelaki itu hampir mendekatinya. Ia bisa melihat pedang di tangan lelaki itu berlumuran darah. Kaki Dayu semakin cepat berlari. Ia terus berlari, hingga ada sesuatu yang tertendang oleh kakinya. Sesuatu itu tercampak ke depan dan menggelinding. Ketika Dayu mendekati sesuatu itu, matanya terbelalak penuh kengerian. Satu kepala manusia menyeringai padanya. Kedua taring di mulut kepala itu menyembul dari dalam mulut yang berlumuran darah.
Dayu terjaga dari tidur lelapnya, ia duduk tegak sesaat, dengan wajah berkeringat dan napas turun naik Mimpinya aneh sekali, ia dikejar oleh lelaki berpakaian hitam yang saat ini sedang terbaring kaku di depannya. Kepala manusia yang ditendangnya dalam mimpi, juga wajah lelaki berpakaian hitam.
Dayu menghela napas, lalu menatap lelaki berpakaian hitam itu.
Apa arti dari mimpinya?
Kenapa lelaki itu belum sadar juga?
Dayu tidak tau, kenapa dalam beberapa hari ini, ia mengalami hal yang aneh.
Seumur hidup, ia tidak pernah melihat makhluk halus, tetapi dalam dua hari ini, ia sering melihat mereka.
"Yu.....!"
Dayu terkejut, Mita menepuk bahunya.
"Ah, kamu, Ta. Kamu buat aku terkejut, hampir saja jantungku copot." Dayu memegang dadanya.
"Kenapa kamu, Yu? Aku liat kamu melamun. Kamu lagi mikirin apa?" tanya Mita.
"Nggak ada, aku nggak melamun. Kamu kok udah bangun. Ini, kan, masih malam?" Dayu merasa heran.
"Mana bisa aku tidur nyenyak di luar. Dingin kali di luar itu, mana banyak nyamuk lagi." Mita berkata kesal, seraya memeluk tubuh, "Kamu, kenapa belum tidur?" tanya Mita
"Aku tadi udah tidur, baru saja terbangun. Nggak nyaman tidur sambil duduk."
"Gimana keadaan Bapak itu." Mita mengambil kursi yang berada di samping tempat tidur yang kosong.
"Masih sama, belum bangun juga. Semoga saja, besok dia sadar."
"Kalau besok nggak sadar juga, apa yang akan kamu lakukan?"
"Nggak tau, Ta. Nggak mungkin aku menjaga Bapak ini berhari-hari. Aku juga harus melihat keadaan ibuku."
"Kalau kamu mau liat ibumu. Biar aku saja yang di sini."
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kalau di sini sendiri?"
"Nggak, tapi kamu ke mari lagi setelah liat ibumu, ya?"
"Iya." Dayu mengangguk.
Mereka terdiam sama-sama menatap lelaki berpakaian hitam. Tiba-tiba, mereka merasa mengantuk, lalu menguap bersama. Sesaat kemudian, kepala mereka rebah di samping lelaki berpakaian hitam.
Wuuuuuush.......!
Kabut putih memasuki ruang perawatan. Kabut itu terus bergerak, lalu berhenti di bawah kaki lelaki berpakaian hitam. Perlahan, kabut putih itu menghilang dan muncul seorang wanita paruh baya bertubuh kurus kerempeng, dengan wajah dingin. Wanita itu memegang ibu jari kaki lelaki berpakaian hitam.
"Bahar.....bangun!" Wanita itu memanggil. Sesaat kemudian, mata lelaki berpakaian hitam terbuka, lalu menatap wanita tua itu.
"Mak..." lelaki yang dipanggil Bahar itu pun bergerak bangkit dan berdiri,
"Saya minta maaf, Mak. Saya nggak mampu mengalahkan Hasan." lelaki berpakaian hitam menundukkan kepala.
"Kamu nggak akan bisa mengalahkan Hasan. Ayo.....sekarang, kita kembali ke desa." wanita itu adalah dukun sakti yang bernama Mak Nairah.
Lelaki berpakaian hitam mengikuti Mak Nairah yang melangkah keluar ruangan. Mereka berdua terus berjalan melewati, beberapa perawat, hingga tiba di pintu keluar dan melintasi petugas jaga rumah sakit. Setelah sampai di depan rumah sakit, mereka berhenti dan wanita tua itu membaca mantra. Tubuh mereka seketika dibungkus kabut putih. Tidak lama berselang, kabut putih itu menghilang, bersama dengan menghilangnya wanita tua dan lelaki berpakaian hitam.
Menjelang pagi, Dayu bangun dan melihat pembaringan. Matanya mencari keberadaan lelaki berpakaian hitam.
"Ta.....Mita." Dayu menggoyang tubuh Mita. Mita menggeliat dan membuka mata.
"Ke mana Bapak itu?" Dayu menunjuk pembaringan yang kosong.
"Mungkin ke toilet." Mita berkata.
Mereka menatap pintu toilet yang tertutup. Menunggu beberapa saat, seorang lelaki tua keluar. Dayu dan Mita saling tatap.
"Bukan Bapak itu. Ke mana dia?" Dayu terlihat bingung.
"Iya....ke mana?"
Dayu keluar ruangan diikuti Mita. Mereka mencari di depan ruang perawatan. Dayu melihat dokter dan dua perawat berjalan menuju mereka. Dayu melangkah mendekati.
"Dok, bapak yang tadi malam nggak ada."
"Bapak yang mana?" tanya dokter lelaki itu.
"Yang tadi malam, Dok. Kan Dokter yang periksa. Bapak baju hitam yang terluka. Dia pingsan, Dok." Mita mengingatkan.
__ADS_1
Dokter itu langsung ingat dan mengangguk.
"Oh, iya, saya ingat. Kalian berdua yang jaga, kan?"
"Iya, Dok. Tapi, Bapak itu nggak ada." Dayu berkata.
Mendengar ucapan Dayu, Dokter segera masuk ke dalam ruang perawatan. Dayu dan Mita beserta dua perawat juga masuk. Mereka menatap pembaringan yang kosong.
"Kami udah mencarinya di sekitar rumah sakit. Tapi, Bapak itu nggak ada." ujar Dayu Dokter mengangguk mengerti, lalu menatap kedua perawat.
"Kalian lapor sama petugas keamanan di depan. Mereka pasti akan mencari Bapak itu " Dokter memberi perintah.
"Iya, Dok." salah satu perawat mengangguk. Kedua perawat itu pun berlalu.
"Saya harus memeriksa pasien. Kalian berdua tunggu saja kabar dari perawat."
"Iya, Dok. Terima kasih." balas Mita.
Dokter masuk ke dalam ruang perawatan, sementara Dayu dan Mita duduk di depan ruangan.
Hingga hari menjelang siang, Dayu dan Mita baru mendapat kabar dari petugas keamanan.
"Kami tidak bisa menemukan Bapak kalian." seorang petugas keamanan berkata. Petugas itu menyangka, lelaki berpakaian hitam adalah ayah Dayu dan Mita. Namun, Dayu dan Mita tidak menyangkal.
"Gimana ini, Pak? Kami harus mencari Bapak itu ke mana?" tanya Dayu bingung.
"Apakah kalian sudah menghubungi saudara atau keluarga yang lain?" tanya petugas itu.
Dayu dan Mita menggeleng. Mereka tentu saja tidak tau, siapa yang harus dihubungi.
"Sebaiknya, kalian hubungi saja dulu saudara atau keluarga yang lain. Mungkin, Bapak kalian sudah pulang." petugas itu menyarankan.
Dayu dan Mita saling pandang.
"Iya, Pak." Dayu mengangguk
"Kalau begitu, saya permisi, ya?" petugas itu pamit.
"Iya, Pak. Terima kasih atas bantuan Bapak." ucap Mita.
"Iya, sama-sama." petugas itu pun berlalu.
Dayu dan Mita duduk berdampingan memikirkan lelaki berpakaian hitam yang menghilang.
__ADS_1
"Ke mana, ya, perginya Bapak itu?" Dayu bergumam.
"Iya, ya?" Mita menghela napas.