
Dayu dan Mita duduk melamun di depan ruang perawatan. Mereka masih memikirkan keberadaan lelaki berpakaian hitam.
"Ke mana Bapak itu, ya?" Dayu memecah keheningan di antara mereka
"Aneh, ya? Bapak itu kayak hilang gitu saja." Mita merasa heran.
"Iya, padahal kita belum tau siapa dia." Dayu mengangguk.
"Eh, Yu. Coba liat surat yang dikasihnya. Apa ada alamat di situ." tanya Mita, "Bapak itu pasti pulang kembali ke desa."
Dayu mengambil surat dari saku baju, lalu membukanya.
"Ada, Ta." Dayu menunjukkan tulisan alamat. Mereka bersama menatap tulisan tangan di dalam surat itu.
"Kayaknya aku pernah dengar nama desa dan dusun itu." Mita berkata, "Desa Batang Ujung, dusun Beringin Hitam. Aku dengar di mana ya?" Mita mencoba mengingat.
Dayu menatap Mita yang sedang berpikir.
"Di mana kamu dengar nama desa itu?" tanya Dayu.
"Ahhhh, aku nggak ingat." Mita menyerah, ia sama sekali tidak ingat.
"Aku harus ke desa itu, Ta. Lihat rumahnya, kalau rumah itu masih bagus, aku akan bawa ibuku tinggal di sana."
"Tinggal di sana? Kalau kamu tinggal di sana, kamu mau kerja apa? Di kota saja susah cari kerja, apalagi di desa." tanya Mita.
"Aku belum tau, mau kerja apa. Kalau udah tinggal di sana, pasti aku tau pekerjaan apa yang ada di sana." balas Dayu, lalu menatap Mita yang wajahnya berubah sedih.
"Kalau kau tinggal di sana, aku nggak punya kawan lagi. Sendirian lah aku di kota ini." suara Mita sendu.
Mendengar ucapan Mita, Dayu jadi ikut sedih. Mereka terdiam sesaat.
__ADS_1
"Gimana kalau kau tinggal sama aku, Ta?" Dayu meminta.
Dayu tidak ingin Mita sendiri di kota ini. Mita tidak punya siapa-siapa lagi, selain dirinya. Kedua orang tua Mita meninggal bersama dalam kecelakaan motor. Seperti dirinya, Mita juga anak tunggal. Saudara dari kedua orang tuanya jauh di pedalaman. Kedua orang tua Mita tidak pernah mengajak Mita pulang kampung, hingga Mita tidak pernah tahu tentang saudaranya.
Mendengar ucapan Dayu, Mita menatap Dayu, dengan mata bersinar.
"Aku boleh tinggal di rumah kamu, Yu?"
"Iyaaaa." Dayu mengangguk, seraya tersenyum.
"Terima kasih, Yu." Mita memeluk tubuh Dayu.
"Iya, Ta. Kita tinggal bersama, ya? Nanti, kita cari kerja di sana. Kerja apa saja yang penting halal. Semoga, ada rezeki kita di sana."
"Aamiin....." pelukan Mita bertambah erat,
"Kapan kita lihat rumah itu?" Mita merenggangkan pelukan dan menatap Dayu.
Dayu memikirkan sesaat.
"Kita harus cari tau dulu tentang Desa itu." Mita mengambil ponselnya dari dalam tas ransel, yang selalu dibawanya.
Dayu menatap ponsel bersama Mita yang mencari kata kunci nama desa Paya Ujung.
"Jaraknya kurang lebih lima jam dari sini." ucap Dayu, matanya menatap tulisan di layar ponsel Mita.
"Naaah, sekarang kita cari tiket. Apakah ada yang jual tiket ke sana? Coba, aku cari tentang tiket busnya." Mita mencari, setelah beberapa saat Mita menemukan," Ada yang jual tiket di terminal." Mita menunjuk hasil pencarian.
"Kalau lima jam nggak jauh kalilah. Hari ini, kita lihat ibuku dulu. Siang nanti kita ke terminal beli tiket." kata Dayu.
"Iya, Yu. Kita ke rumah sakit liat ibumu dulu." Mita mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun bangkit bersama, lalu berangkat ke rumah sakit tempat ibu Dayu dirawat.
Tiba di rumah sakit, Dayu duduk di samping ibunya, sementara Mita menunggu di luar ruangan. Mita mencari informasi lengkap, tentang desa yang akan mereka kunjungi.
"Desa itu banyak informasinya, tapi dusun tempat tinggal almarhum Ayah Dayu kok nggak ada, ya? Nggak ada nama dusun Beringin Hitam dari tujuh dusun di desa itu." Mita bergumam heran. Ia mencoba mencari lagi, namun hasilnya sama saja. Tidak ada nama dusun Beringin Hitam. Mita termenung memikirkannya, ia memiliki firasat tidak baik tentang dusun itu. Tetapi, ia tidak akan mengatakannya pada Dayu. Sahabatnya itu terlihat sangat gembira, demi mengetahui akan mendapatkan rumah warisan. Lagi pula, ia juga memerlukan tempat tinggal.
Semoga saja firasatku salah....
Mita berucap dalam hati.
Di ruang perawatan, Dayu bercerita pada ibunya.
"Bu, besok Dayu sama Mita mau ke kampung Ayah. Dayu dapat warisan rumah dari Ayah." Dayu memegang tangan Ibunya, lalu mengelusnya pelan, "Dayu nggak sangka, Ayah ternyata ada rumah di kampung. Kenapa Ayah sama Ibu nggak pernah cerita sama Dayu?" Dayu bertanya pada Ibunya. Melihat mata ibunya masih terpejam, Dayu tersenyum dan menyadari, kalau ibunya tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.
Tiba-tiba, tangan Ibu Dayu bergerak pelan. Melihat gerakan itu, Dayu menambah erat memegang tangan ibunya. Ibunya sering melakukan gerakan kecil, kadang matanya bergerak pelan, kadang tangan dan kadang juga kaki. Mungkin, itu respon dari ucapan Dayu.
"Dayu senang, Bu. Kita bakalan punya rumah lagi. Kita nggak akan pindah ke sana ke mari lagi. Nggak perlu pusing mikirin uang kontrakan." wajah Dayu berseri, lalu ia pun menceritakan tentang lelaki berpakaian hitam yang misterius.
Setiap ucapan Dayu dibalas gerakan pelan tangan ibunya. Melihat itu, Dayu bertambah semangat bercerita. Dia merasa, jika ceritanya tentang rumah membuat ibunya gembira. Hampir dua jam Dayu menemani ibunya, seraya bercerita. Ketika Dayu akan pamit, tangan ibu Dayu mengenggam erat tangan Dayu. Seolah tidak ingin melepaskan.
"Dayu pamit, Bu. Setelah lihat rumah itu, kita akan tinggal di sana." Dayu mencoba melepaskan genggaman ibunya, namun genggaman itu terlalu kuat, dia tidak mau menyakiti tangan ibunya, jika menarik kuat tangannya, lalu ia pun minta izin.
"Izinkan Dayu pergi ya, Bu? Dayu nggak bisa bayar kontrakan lagi, Dayu udah nggak kerja. Nanti, kalau kita tinggal di sana, Mita ikut juga. Pasti seru kalau kita bertiga tinggal bersama."
Perlahan, genggaman tangan ibu Dayu merenggang. Dan, Dayu melepaskan tangannya. Sebelum Dayu bangkit, diciumnya dahi ibunya. Tiba-tiba, air mata mengalir di kedua pipi ibu Dayu.
"Kenapa ibu menangis?" Dayu mengusap kedua pipi ibunya, "Dayu nggak lama, Bu. Besok Dayu berangkat, perjalanannya cuma lima jam. Kalau urusannya cepat selesai, lusa Dayu langsung ke mari." Dayu menyangka ibunya sedih, karena akan ditinggal pergi.
Dayu tidak pernah tahu, jika tangisan ibunya bukan sedih, karena kepergiannya. Tetapi, ibunya tidak mau Dayu ke desa di mana rumah itu berada.
Dalam satu bayangan, terlihat mata ibu Dayu terbuka dan dia berkata pada putrinya
__ADS_1
"Dayu.....jangan pergi, Nak. Di sana bukan tempat untukmu."
Tapi, Dayu tidak bisa melihat bayangan itu.