
Malik memarkirkan mobil di depan rumah kekasihnya. Penampilannya trendy dan kekinian. Meski, tinggal di perkampungan, Malik mengikuti tren pakaian orang kota. Ia sering belanja di kota, hingga gaya berpakaiannya tidak kalah, dengan pemuda kota. Setelah menatap dirinya di cermin mobil, ia pun turun dari mobil, lalu melangkah tegap menuju rumah Kemuning.
Niat Malik ingin mengajak Kemuning jalan-jalan ke kota. Namun, kehadirannya disambut wajah mendung Kemuning. Mereka berdua duduk saling berdampingan di ruang tamu.
"Mamak nggak kasi ijin, Bang. Mamak bilang, dalam bulan ini, Ning nggak boleh keluar." suara Kemuning sedih.
Malik terkejut mendengar penuturan Kemuning.
"Kenapa, Ning?" tanya Malik.
Belum sempat Kemuning menjawab, suara Ibu Kemuning terdengar.
"Pokoknya, kalian jangan ke mana-mana dalam satu bulan ini." Mak Nairah muncul, lalu duduk di hadapan Malik.
"Tapi, kenapa, Mak?"
Mak Nairah menghela napas.
"Apa kau harus tau alasannya?"
"Iyalah, Mak? Saya calon suami Kemuning, apa saja masalah dalam keluarga ini yang berhubungan sama Kemuning, saya harus tau."
"Mamak merasa kalau kalian akan dapat celaka."
"Siapa yang akan mencelakai kami?"
"Mamak belum tau."
Ucapan Mak Nairah membuat dahi Malik berkerut.
"Kalau Mamak belum tau, kalau cuma perasaan Mamak saja. Kenapa, Mamak percaya? Baru hari ini Kemuning ke kota, pastilah Mamak kuatir. Makanya, Mamak merasa yang tidak-tidak."Malik merasa ibu Kemuning hanya kuatir berlebihan.
"Kau percaya sajalah, perasaan Mamak nggak pernah salah."
"Kemuning pergi sama saya, Mak. Saya pasti akan menjaga Kemuning."
"Mamak percaya kamu pasti menjaganya. Tapi,..... "
__ADS_1
"Mak, Kemuning pergi nggak lama. Sampai di sana, setelah urusan siap langsung pulang. Iya, Kan, Bang?" Kemuning ikut membujuk ibunya.
"Iya, Mak. Percayalah sama saya." Malik meyakinkan.
"Baru hari ini, Ning merasakan pergi ke kota. Udah lama Ning ingin ke sana. Dulu, Mamak selalu melarang. Mamak bilang, belum waktunya. Sekaranglah waktunya, Mak." Kemuning menuntut janji ibunya. Ia memang dilarang pergi ke kota oleh Mak Nairah. Bukan hanya ke kota, untuk pergi keluar dari halaman rumah saja Kemuning tidak diizinkan. Kemuning memiliki penyakit yang tidak bisa terkena matahari langsung. Jika tubuhnya terkena sinar matahari, maka kulitnya akan melepuh dan terkelupas. Penyakit itu secara ajaib hilang, setelah Malik melamar Kemuning.
Wajah sedih Kemuning membuat Mak Nairah serba salah. Lalu, Mak Nairah menatap Malik.
"Sampai sekarang, Mamak nggak tau, kenapa Kemuning bisa sembuh, sejak bertunangan denganmu. Mamak anggap kamu membawa keberuntungan bagi Kemuning. Walau Mamak merasakan kepergian kalian pertanda nggak baik. Mamak ijinkan kalian pergi. Mudah-mudahan, ini cuma perasaan kuatir Mamak saja yang berlebihan." akhirnya Mak Nairah tidak mampu menahan hati, melihat keinginan anak semata wayang yang sangat dicintainya.
"Terima kasih, Mak." Kemuning mendekati Ibunya, lalu memeluk dan mencium ke dua pipi Mak Nairah.
Malik menghela napas lega. Tercapailah keinginannya untuk membawa kekasihnya melihat kota. Selain itu, mereka sudah berencana untuk membeli beberapa barang, untuk keperluan hari pernikahan.
Kepergian Mobil Malik yang membawa Kemuning diiringi tatapan Mak Nairah. Wanita paruh baya itu menatap, hingga mobil hilang dari pandangan. Sesaat, wanita itu terpaku, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Mobil Malik menelusuri jalan desa yang tidak rata. Sesekali, mobil harus berjalan sangat pelan saat melewati lubang yang lumayan dalam. Meski, keadaan jalan membuat perjalanan tidak nyaman, wajah Kemuning ceria menatap pemandangan.
"Ning bahagia, Bang. Bahagiaaaaaa sekali....." Kemuning berkata kuat, lalu menghirup udara dan menghembuskannya pelan. Malik hanya tersenyum melihat kekasihnya.
"Kamu pasti akan lebih bahagia, kalau kita sudah tinggal bersama." kata Malik.
"Kok cuma itu?" Malik bertanya menggoda.
"Apa lagi?" Kemuning menatap Malik yang menatapnya dengan mata menggoda.
"Ihhhh, Abang....." Kemuning mengerti maksud Malik dan mencubit pelan lengan Malik. Malik tertawa senang melihat wajah Kemuning yang memerah.
"Kalau nanti kita punya anak, Abang mau anak kita sepuluh."
Ucapan Malik seketika membuat Kemuning melepaskan pelukan, dengan wajah cemberut.
"Abang nggak kasian sama, Ning?"
"Lho? Memangnya kenapa?"
"Ning yang lahirin anak. Ning nanti yang rasain mual, mules dan sakit."
__ADS_1
"Iya, Abang tau. Sayang, jangan kuatir, ya? Ada Abang yang akan menjaga sayang selamanya." Malik mencubit manja pipi kanan Kemuning.
"Ning percayalah sama Abang. Tapi, tetap saja Ning nggak mau hamil dan melahirkan sampai sepuluh kali." Kemuning masih cemberut.
"Ya, udah. Kalau nggak mau sepuluh, sembilanlah."
"Abaaaang....." Kemuning memukul lengan Malik, dengan manja. Ia kembali memeluk lengan Malik dan berkata, "Terima kasih ya, Bang."
Malik menatap sekilas Kemuning, lalu kembali menatap ke depan.
"Tiba-tiba kok bilang terima kasih? Kita, kan belum sampai kota. Abang belum belikan apa-apa buat, sayang." Malik membelai rambut Kemuning.
"Terima kasih, karena Abang udah memilih Ning jadi calon isteri. Karena Abang, penyakit Ning bisa sembuh. Keajaibanlah yang membuat penyakit itu hilang. Dan, Abang keajaiban itu. Sejak kecil sampai beberapa bulan yang lalu. Ning hanya hidup di dalam rumah." mata Kemuning berkaca-kaca.
"Iya, Ning. Abang bersyukur, penyakit kamu bisa hilang. Abang memilih kamu, karena Abang mencintai kamu, sejak pertama melihat kamu." Malik tersenyum teringat pertemuan pertama mereka, "Kamu masih ingat?"
Kemuning mengangguk. Pertama kali bertemu, Malik mengantar paman dan bibinya menemui Mak Nairah. Kedua saudara Malik meminta tolong Mak Nairah mengobati Bibi Malik yang sering diganggu makhluk halus. Ketika melihat Kemuning, Malik tidak menyangka, Mak Nairah memiliki anak gadis yang sangat cantik. Sejak saat itu, Malik sering mengunjungi Mak Nairah. Mulanya, Mak Nairah tidak menyukai kedatangan Malik. Tetapi, melihat penyakit Kemuning perlahan mulai hilang, Mak Nairah menyangka jika itu ada hubungannya dengan kedekatan Malik dan Kemuning. Sewaktu Malik melamar Kemuning, penyakit Kemuning sembuh total. Malik merasa kalau ikatan cinta di antara ia dan Kemuning yang menghilangkan penyakit kekasihnya itu.
Malik dan Kemuning masih bercerita tentang masa lalu, ketika satu mobil truk besar menghantam bagian belakang mobil Malik.
Braaaaaak!
Malik dan Kemuning tersentak ke depan.
"Bang...!" Kemuning berteriak, matanya menatap ke belakang dan melihat truk itu kembali menghantam mobil.
Braaaak!!
Wajah Kemuning pucat, kedua tangannya memegang pegangan mobil di atas pintu,menahan tubuhnya agar tidak tersentak ke depan.
"Truk siapa itu, Bang? Kenapa dia menabrak kita?" suara Kemuning bergetar takut.
"Abang......" Malik menekan gas kuat agar mobil melaju kencang, "Tidak tau...."
Mobil Malik bergerak cepat, namun bisa dikejar oleh truk. Malik berusaha mengendalikan mobil, seraya menatap sekilas melalui kaca spion. Dan, truk itu mendorong mobil, hingga mobil sampai di tepi jurang. Akhirnya, mobil Malik masuk ke dalam jurang.
Truk berhenti di pinggir jurang. Tidak lama kemudian, satu mobil sedan hitam berhenti di samping Truk. Pengendara sedan keluar, lalu berdiri menatap puas ke dalam jurang. Lelaki paruh baya itu tertawa terbahak-bahak
__ADS_1
"Ha ha ha ha....akhirnya aku bisa membunuh anakmu Nairah!" teriak lelaki itu.
Mobil Malik terbalik dan rusak parah. Di dalam mobil, tubuh Malik dan Kemuning terhimpit badan mobil. Kepala dan hidung mereka mengeluarkan darah.