Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 4 Surat Wasiat.


__ADS_3

Dayu hanya menatap isi surat wasiat, tanpa membacanya. Lalu, ia melipat surat tersebut dan menyimpan dikantong daster yang dipakainya.


"Nanti saja kita baca, Ta. Kita bawa dulu Bapak ini ke rumah sakit." Dayu menatap Mita yang mengangguk setuju.


Hampir satu jam kemudian, satu mobil Ambulance memasuki pekarangan rumah. Setelah ambulance berhenti di depan rumah, lelaki tetangga mendekati supir yang masih berada di dalam mobil.


"Bapak cuma sendiri?" tanya lelaki itu.


"Iya, Pak. Nggak ada perawat yang bisa ikut. Banyak pasien di rumah sakit, kita kekurangan perawat." supir menjelaskan.


"Kalau gitu, Bapak tolong bantu angkat pasien, ya?"


"Baik, Pak." supir mengangguk, lalu turun dari mobil dan membantu mengangkat


lelaki berpakaian hitam. Setelah lelaki itu terbaring di pembaringan, supir ambulance menatap Dayu, Mita dan lelaki tetangga. Supir itu merasa heran, karena mereka bertiga turun dari mobil.


"Siapa yang akan menemani pasien?" tanya supir.


"Sebaiknya, Kakak berdua ikut ke rumah sakit. " lelaki tetangga berkata. Dayu dan Mita saling tatap


"Ya, udah, kita ikut saja, Ta. Kasihan Bapak itu kalau sendirian." Dayu mengajak Mita, "Terima kasih, ya, Pak. Atas bantuannya." Dayu berterima kasih pada lelaki tetangga


"Iya, Kak. Sama-sama." lelaki tetangga mengangguk, seraya tersenyum.


Dayu dan Mita naik bersama ke mobil, lalu supir menutup pintu mobil dan berjalan menuju bagian depan mobil. Lelaki tetangga menatap mobil ambulance yang berjalan keluar dari pekarangan. Lalu, melaju menuju jalan raya.


Dalam mobil ambulance, Dayu dan Mita duduk berdampingan menatap lelaki berpakaian hitam.

__ADS_1


"Yu, bacalah surat wasiat tadi. Aku penasaran sama isinya." Mita berbisik. Dayu menuruti ucapan Mita, diambilnya surat tersebut, lalu dibuka. Mereka membaca bersama dalam hati.


"Waaaah, kamu dapat warisan rumah, Yu." Mita berkata sangat pelan.


"Iya, Ta. Udah siap bacanya, kan?" tanya Dayu, seraya mengangguk.


"Udah. Kamu simpanlah suratnya, jangan sampai ilang." Mita mengingatkan.


"Iya..." Dayu menjawab pelan.


Mobil ambulance tiba di rumah sakit. Kedatangan ambulance disambut oleh beberapa perawat. Mereka membawa tempat tidur dorong. Setelah lelaki berpakaian hitam dipindahkan ke tempat tidur dorong, tempat tidur itu dibawa masuk ke dalam bangunan rumah sakit. Dayu dan Mita mengikuti para perawat menuju kamar perawatan.


Setelah berada di ruang perawatan, lelaki berpakaian hitam diperiksa oleh dokter, sementara dua perawat saling bantu memasang infus. Dayu dan Mita berdiri memperhatikan.


"Bapak ini perlu dirawat inap." Dokter menatap Dayu, lalu beralih pada Mita, "Besok, saya akan melanjutkan pemeriksaan. Untuk malam ini, saya kasi dulu obat melalui cairan infus." Dokter berkata, seraya menulis sesuatu pada sebuah buku.


"Iya, Dok." Dayu membalas ucapan Dokter.


Mita merasa matanya sudah sangat berat.


"Aku udah ngantuk, Yu." Mita menguap, "Aku tunggu di luar, ya?"


"Iya, Ta. Tunggulah di luar." Dayu mengangguk.


Mita langsung keluar ruangan, duduk di salah satu bangku panjang. Merasa tidak sanggup menahan kantuk, Mita merebahkan tubuh di kursi dan tertidur.


Dokter telah selesai memeriksa lelaki berpakaian hitam. Dua perawat juga telah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka semua meninggalkan ruangan. Tinggallah Dayu sendirian, ia duduk di samping pembaringan.

__ADS_1


"Siapa Bapak ini, ya? Apakah dia saudara almarhum Ayah?" Dayu mencoba mengingat semua saudara almarhum ayahnya. Namun, ia yakin tidak pernah melihat lelaki berpakaian hitam.


Dayu menatap jam ruangan, tanpa terasa malam semakin larut, jam menunjukkan angka dua belas lewat lima. Tiga pasien di dalam ruangan telah tidur. Keluarga pasien-pasien itu sebagian juga telah tidur. Dayu menutup mulutnya yang menguap. Matanya sudah terasa berat, ia berusaha menahan agar matanya tidak tertutup. Ia tidak boleh sampai tertidur, ia harus menjaga lelaki berpakaian hitam. Namun, kantuk yang menyerang seakan tidak mampu ditahannya lagu. Akhirnya, ia pun bangkit dan keluar ruangan.


Mita sudah tertidur pulas, Dayu hanya menatap sahabatnya itu, lalu duduk di sampingnya. Mata Dayu menatap keadaan sekitar yang sepi. Sesekali, satu orang perawat lewat. Kadang, beberapa keluarga pasien juga melintasi lorong rumah sakit. Dayu menguap, seraya menutup mulut dengan satu tangan. Matanya dikerjap-kerjap dengan kuat. Lalu, ia menarik napas dalam dan menghembus panjang. Sekarang, kantuknya terasa agak berkurang.


Dayu melamun memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya. Ia tidak pernah menyangka, akan mendapatkan warisan dari almarhum ayahnya. Tetapi, kenapa lelaki yang membawa surat wasiat dari ayahnya terluka? Apa yang terjadi pada lelaki itu, sebelum datang ke rumahnya? Dayu merasa penasaran, semoga saja besok pagi lelaki itu siuman, sehingga ia bisa mendapat jawaban dari lelaki itu.


Keadaan yang sepi membuat suasana terasa mencekam. Angin menerpa tubuh Dayu, hingga membuatnya menggigil kedinginan. Tiba-tiba saja, bulu kuduknya terasa berdiri.


Dayu tidak menyadari, ketika tiba-tiba, satu sosok lelaki berwajah rusak muncul di sampingnya. Pakaian dan tubuh lelaki itu hitam bekas terbakar. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Dayu. Dayu kaget, wajah rusak lelaki itu berada tepat di depan wajahnya. Dayu ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ketakutan menguasai Dayu, seluruh tubuhnya gemetaran. Tidak sanggup lagi menahan ketakutan, Dayu menutup mata. Lelaki itu mengendus wajah Dayu, mengusap wajah Dayu, lalu mengeluarkan lidahnya menjilati wajah Dayu.


Seorang perawat lewat di depan Dayu. Perawat itu berhenti, ketika melihat wajah pucat Dayu dan tubuhnya yang gemetaran.


"Dik, kamu kenapa?" Perawat itu memanggil Dayu, seraya memegang bahu Dayu.


Dayu kaget mendengar panggilan perawat. Matanya terbuka, ia merasa bersyukur wajah perawat yang ada di hadapannya. Dayu menoleh ke kiri, lalu ke kanan dan menghela napas lega. Sosok lelaki yang menyeramkan tidak terlihat lagi.


"Terima kasih, Kak." Dayu memegang tangan perawat yang heran mendengar ucapan Dayu


"Ada apa, dik? Kenapa adik bilang terima kasih."


Dayu bingung, apa yang harus dikatakan. Tidak mungkin, ia bilang kalau ada hantu berwajah rusak di depannya.


"Eh, saya tadi mimpi buruk, Kak. Terima kasih, Kakak udah bangunkan saya dari mimpi buruk." Dayu mendapatkan alasan.


"Ooooh, syukurlah. Kamu cuma mimpi, saya liat kamu tadi gemetaran, saya pikir kamu sakit." perawat itu menghela napas lega, "Ya, udahlah, ya. Saya mau ke dalam dulu."

__ADS_1


"Iya, Kak." Dayu mengangguk.


Baru saja perawat berlalu, mata Dayu menangkap kehadiran satu sosok wanita yang melangkah terseok-seok ke arahnya. Wajah pucat pasi wanita itu menyeringai padanya. Seringai wanita itu menunjukkan mulutnya yang bergigi taring dan berdarah. Sebelum wanita itu berada dekat dengannya, Dayu segera bangkit dan melangkah cepat masuk ke dalam ruangan.


__ADS_2