
Malam berkabut tebal di sekitar desa. Jam hampir menunjukkan angka dua belas. Dua orang petugas ronda berkeliling, seraya sesekali membunyikan kentongan.
Tok tok tok
"Malam ini kok rasanya dingin kali, ya?" Petugas ronda bersarung menggigil.
"Iya, selain dingin. Aku merasa merinding." Petugas ronda baju hitam memegang tengkuk.
Angin semilir berhembus agak kencang, kedua petugas itu gemetaran seraya memeluk tubuh sendiri.
"Perasaanku nggak enak, kita balik ke pos ronda yuk...." Petugas ronda bersarung mengajak temannya, kemudian berjalan memutar arah dan melangkah cepat.
"Tungguin aku...!" Petugas ronda berbaju hitam kaget, melihat temannya meninggalkannya. Ia pun bergegas berlari dan mendahului temannya.
Kedua petugas itu berlarian menyelusuri jalanan kampung. Tidak jauh dari mereka, satu sosok berpakaian serba hitam, dengan wajah tertutup berjalan di antara semak-semak. Sosok itu berjalan cepat seolah tidak menginjak tanah. Ketika tiba di salah satu rumah, sosok itu berhenti dan mengendap mendekati salah satu jendela.
Di dalam rumah tersebut, seorang gadis remaja berteriak kaget.
"Maaaak. Emak ...!" Gadis itu menatap bagian bawah tubuhnya.
Seorang wanita paruh baya terbangun dan langsung turun dari tempat tidur. Wanita itu berlari menuju kamar anaknya.
"Kenapa? Ada apa?" Tatapan wanita itu kuatir, kakinya mendekati anak gadisnya yang berdiri tegak.
"Ada darah, Mak." Gadis itu menunjuk ****** ******** yang berada di antara ke dua lutut.
"Ooooh, kamu dapat haid. Nggak apa-apa, ini tandanya kamu udah gadis." Wanita itu tersenyum menatap putrinya, "Sebentar, Emak ambil kain buat melapisi haid kamu." Wanita itu mendekati lemari dan mencari. Sesaat kemudian, ia membawa satu helai kain dan ****** *****, lalu menyerahkannya pada anak gadisnya.
"Pergi ke kamar mandi. Cuci ****** ***** kamu yang berdarah. Kamu pakai ini kayak emak biasa pakai. Kamu tau, kan?"
"Iya, Mak. " Gadis itu mengangguk.
Wanita itu menatap anak gadisnya yang melangkah ke dapur, kemudian kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur.
Gadis itu membuka pintu dapur. Keadaan gelap gulita membuatnya maju mundur untuk keluar. Matanya menatap kamar mandi yang berada agak jauh. Dengan menguatkan hati, ia pun melangkah keluar rumah menuju kamar mandi. Ketika gadis itu akan melangkah masuk, satu sosok berpakaian serba hitam menepuk pundaknya. Gadis itu berdiri kaku, matanya menatap hampa ke depan. Sosok itu mendekati gadis dan membuka ****** ***** gadis itu. Kemudian merengangakan kedua kakinya, lalu meletakkan satu baskom di tubuh bagian bawah gadis itu. Sosok itu memegang perut gadis dan menekannya berkali-kali. Sesaat kemudian, darah segar mengalir deras masuk ke dalam baskom. Ketika darah berhenti mengalir, sosok itu mengambil ember dan menepuk bahu gadis itu.
"Hhhaah, apa itu tadi?" Bulu kuduk gadis itu berdiri, tubuhnya gemetaran dan matanya menatap ke sekitar, "Maaaak....!" Gadis itu berteriak, kemudian berlari ke dalam rumah.
#####
__ADS_1
Mak Nairah duduk bersila di samping tubuh Kemuning. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit.
Tok tok
Suara pintu diketuk, sesaat kemudian pintu dibuka. Sosok berpakaian hitam melangkah masuk, tangannya membawa satu baskom, lalu mendekati Mak Nairah. Setelah berada di samping wanita itu, sosok itu membuka penutup wajahnya. Sosok itu ternyata Bahar, lelaki itu telah menjalankan perintah Mak Nairah.
"Kamu berhasil, Bahar?" Mata Mak Nairah terbuka dan menatap Bahar yang meletakkan baskom di depannya.
"Iya, Mak." Ucap Bahar.
"Terima kasih, kau tunggulah di luar." Mak Nairah kembali menutup mata. Sementara Bahar, keluar kamar dan menutup pintu.
Mak Nairah kembali memejamkan mata. Wanita itu duduk tegak, mata terpejam dan membaca mantra, hingga matahari hampir terbit.
Saat terdengar ayam jantan berkokok, matanya terbuka. Lalu, mengambil darah dari dalam baskom menggunakan kedua tangan. Kemudian, sambil mulutnya komat-kamit, ia mengusapkan kedua tangannya ke wajah Kemuning. Kini, wajah gadis yang telah menjadi mayat itu berlumuran darah. Tiba-tiba, mata Kemuning terbeliak dan tubuhnya bergetar kuat. Mak Nairah kaget, lalu memegang kedua tangan anaknya. Mantra yang diucapkannya semakin keras. Sesaat kemudian, tubuh Kemuning terdiam dan matanya terpejam. Terdengar helaan napas Mak Nairah, lalu dibelainya rambut Kemuning.
"Nggak lama lagi, Nak. Mamak akan buat ritual bulan purnama untukmu. Setelah itu, kamu bisa kembali hidup." Mak Nairah berucap pelan, ia tidak akan menunda rencananya lagi. Kalau terlambat, Kemuning tidak akan bisa kembali bersamanya lagi.
Mak Nairah menggenggam tangan Kemuning erat. Wajah gadis itu masih berlumuran darah.
Mak Nairah bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Bahar..." Mak Nairah memanggil nama lelaki itu pelan. Seketika, Bahar tersentak dan menatap Mak Nairah. Tubuhnya langsung berdiri.
"Iya, Mak." Bahar membungkuk sedikit.
"Kamu harus membawa anak almarhum Kamal. Dua hari lagi, purnama akan datang." Ucap Mak Nairah.
"Iya, Mak." Bahar mengangguk patuh.
"Bawalah dia tanpa paksaan." Mak Nairah melangkah menuju ruang tengah diikuti oleh Bahar.
"Gimana caranya, Mak. Dia nggak kenal sama saya, mana mungkin dia mau saya bawa." Bahar terlihat ragu.
Mak Nairah berhenti di depan lemari, lalu membuka salah satu pintu dan mengambil satu buah amplop berwarna putih.
"Kamu berikan ini, ini wasiat dari Kamal. Gadis itu mendapat warisan rumah Kamal. Begitu tahu kalau mendapat warisan, gadis itu pasti akan datang sendiri." Mak Nairah menyerahkan amplop itu pada Bahar.
"Baik, Mak." Bahar menerima amplop itu.
__ADS_1
"Sekarang, kau pergilah. Hati-hati sama Hasan, dia pasti nggak suka kau menemui anak gadis majikannya." Mak Nairah mengingatkan.
"Iya, Mak. Saya pergi, Mak." Bahar mengangguk kemudian melangkah meninggalkan Mak Nairah yang menatapnya, sambil menghela napas panjang
"Gadis itu harus datang sendiri. Kalau dipaksa, darahnya akan menjadi panas, itu nggak baik untuk Kemuning." Mak Nairah bergumam. Ia sudah mempersiapkan kemungkinan itu. Sengaja dibuatnya surat wasiat palsu atas nama Kamal. Kalau lelaki itu masih hidup, dia pasti tidak akan mau mewariskan rumahnya pada keturunannya. Lelaki itu tidak ingin keturunannya ada di desa ini.
Sementara itu, satu rombongan penduduk desa yang dipimpin Ayah dan Ibu Malik menuju rumah Mak Nairah. Dari rumahnya, Mak Nairah melihat rombongan itu, lalu melangkah keluar rumah.
"Hmm, mereka pasti mau buat masalah denganku." Mak Nairah berkata tajam.
Mereka telah memasuki halaman rumah, Ayah Malik memberi aba-aba untuk berhenti. Kehadiran mereka disambut Mak Nairah, wanita itu berdiri tegak di tangga rumahnya.
"Waaah, saya nggak sangka akan kedatangan tamu sebanyak ini. Ayo, silahkan naik." Ucap Mak Nairah ramah.
"Nggak usah berbasa-basi, Nairah. Di mana Malik?" Tanya Ayah Malik tegas.
"Kenapa kau tanya aku? Kau, kan Ayahnya?" Mak Nairah balik bertanya.
"Kau jangan berbohong, kau pasti tau di mana anakku." Mata Ayah Malik menatap garang.
"Katakan, Nairah. Katakan di mana Malik!" Ibu Malik berteriak.
"Ha ha ha ha...." Mak Nairah tertawa, "Kalian berdua sungguh aneh, anak kalian nggak ada di sini. Mentang-mentang kita hampir jadi besan, kalian pikir anak kalian ke mari? Hubungan Malik sama Kemuning udah putus. Mereka putus, sejak Malik membuat Anakku sakit." Mak Nairah berkata geram.
"Kemarin, Malik pamit mau ke mari. Sampai hari ini, dia belum juga pulang. Kami yakin, Malik...."
"Dia memang ke mari, tapi dia langsung pulang, setelah bertemu aku. Aku nggak izinkan dia melihat Kemuning, bisa tambah parah sakit anakku kalau melihat dia." Mak Nairah memotong ucapan ayah Malik.
"Kami nggak percaya. Anak kamu udah meninggal, mana mungkin Malik ke mari mau melihat Kemuning." Ibu Malik menggeleng.
"Anakku masih hidup. Kemuning hanya sakit dan nggak lama lagi, dia akan sembuh." Sanggah Mak Nairah.
"Sadarlah, Nairah. Kita semua tau kalau Kemuning udah meninggal." Ucap Ayah Malik.
"Nggak! Kalian semua nggak tau apa-apa. Kalian semua pulang! Pulang sana, jangan ganggu keluargaku!" Bentak Mak Nairah.
"Nggak bisa, kami harus menggeledah rumahmu. Kamu pasti menyembunyikan Malik." Ayah Malik memberi kode pada penduduk
"Untuk apa aku menyembunyikan anakmu?" Jerit Mak Nairah.
__ADS_1
"Kami akan mencarinya di dalam rumahmu." Ayah Malik memberi tanda untuk mereka masuk ke dalam rumah Mak Nairah.