Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 15 Dikejar Orang Bunian


__ADS_3

Bahar dan Dayu menelusuri hutan rimba.


"Mobil saya parkir nggak jauh dari sini. Kita harus naik mobil, supaya mereka nggak bisa mengikuti kamu." ucap Bahar disela langkah kaki.


"Siapa yang mengikuti saya, Pak?" Dayu merasa heran.


"Mereka ada di belakang kamu. Sebaiknya, kita jalan secepatnya." Bahar melangkah lebih cepat. Ucapan Bahar membuat Dayu penasaran, siapa yang mengikutinya. Namun, ketika ia akan menoleh ke belakang, Bahar mencegah.


"Jangan menoleh, kalau kamu melihat mereka, kamu nggak akan bisa jalan lagi."


"Tapi, kenapa, Pak?" Dayu bertambah penasaran.


"Mereka bisa menghipnotis kamu. Ayo, lebih cepat lagi jalannya. Jangan banyak bicara." ucap Bahar.


Dayu langsung diam dan berjalan cepat mengikuti kaki Bahar. Semakin lama berjalan, Dayu merasa kakinya mulai lelah.


"Saya capek, Pak." Dayu mengeluh.


"Jangan berhenti, sedikit lagi kita sampai." Bahar menarik tangan Dayu, lalu membawanya berlari.


Di belakang mereka, satu rombongan lelaki dusun bunian mengejar. Tidak lama kemudian, Dayu melihat mobil pick up yang berada di tepi jalan raya. Setelah sampai di samping mobil, Bahar segera menuju bagian kemudi.


"Ayo, masuk! Cepaaaat!" Bahar berteriak. Dayu gelagapan saat membuka pintu. Sebaik saja pintu ditutup terdengar suara benturan keras.


Braaaaaak!


Dayu kaget, ia melihat satu orang lelaki menabrak pintu mobil. Lelaki itu terlihat marah menatap Dayu, Dayu langsung membuang muka, dengan tubuh gemetaran.


"Kamu jangan takut. Mobil ini sudah saya kasi mantra, mereka nggak akan bisa masuk." Bahar menenangkan Dayu.


Lelaki yang menabrak pintu berusaha membuka pintu, namun tidak berhasil. Lelaki itu memegang tangannya yang melepuh. Mantra yang dibuat Bahar telah menyelimuti seluruh mobil. Sehingga, mereka yang menyentuh mobil akan terhalang sinar yang mampu membakar. Sementara, lelaki lain yang berjumlah lebih kurang dua puluh orang, mengepung mobil dari berbagai arah. Wajah mereka yang semula seperti manusia, telah berubah menjadi berbagai makhluk halus menyeramkan.


Perubahan itu membuat Dayu semakin takut, ia memejamkan mata sekuatnya. Meski tidak melihat, tetapi mata batinnya mampu menangkap gerakan semua orang bunian.


Bahar membawa mobil melaju sangat kencang. Tidak ada yang bisa menghalangi mobil. Meski, para lelaki bunian berusaha menghalangi. Dua lelaki bunian melompat di atas kap mobil, mereka mencoba menembus kaca, namun gagal. Seberkas cahaya yang keluar dari kaca menghantam tubuh mereka. Hingga, mereka terpental jatuh. Beberapa lelaki bunian melompat ke atas kap mobil, nasib mereka juga sama, semua lelaki bunian itu terlempar ke udara, lalu jatuh ke bumi. Bahar membawa mobil, dengan kecepatan penuh dan mengarahkan stir ke kiri dan ke kanan. Apa yang dilakukan Bahar membuat mobil berlari zig zag.


Tubuh Dayu terhempas ke kanan, lalu ke kiri. Wajahnya meringis menahan sakit, ia tidak berani membuka mata, meski penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Ya...Allah, lindungilah hamba....

__ADS_1


Dayu berdoa dalam hati. Ketakutan menguasai dirinya, hingga tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipi. Ia hanya ingin punya rumah, agar bisa hidup nyaman bersama ibu dan sahabatnya. Namun, sepertinya ia harus mendapat banyak rintangan untuk bisa mewujudkan impiannya itu.


Usaha Bahar untuk menghindari serangan para lelaki bunian berhasil. Setiap kali mereka berusaha menyerang mobil, tubuh mereka akan terpental jatuh terhantam sinar. Sinar yang menghantam tubuh mereka membuat mereka tidak berdaya, hingga jatuh dan tidak mampu untuk bangun lagi. Tidak ada lagi lelaki bunian yang tersisa. Semua terkapar di tanah. Lelaki berbadan besar muncul, ketika mobil telah jauh. Wajah lelaki itu menahan marah, lalu ia berteriak kuat.


"Aaaarrrrrggggghhhhh...!" teriakan lelaki itu menggema menakutkan.


Bahar membawa mobil keluar dari hutan rimba. Kini, mobil menelusuri jalanan desa. Mata Bahar menatap kaca spion melihat Dayu.


"Mereka udah nggak ada lagi, Nak. Bukalah matamu, kita udah sampai di desa." Bahar berkata.


Dayu membuka mata, lalu menatap ke sekeliling dan napasnya menghela lega.


Alhamdulillah...


Pemandangan rumah penduduk yang dilalui. Melihat beberapa warga berada di sawah dan bertemu beberapa warga di jalan, menghadirkan perasan bersyukur di hati Dayu. Ia bisa terhindar dari musibah, terhindar dari kejaran orang-orang bunian. Kalau saja ia ditangkap lagi oleh mereka, ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada dirinya. Untunglah, ia dan Mita bisa selamat. Mungkin, Mita juga diselamatkan oleh Bapak yang memberikan surat wasiat untuknya.


Kalau udah sampai di rumah ayah, aku pasti jumpa Mita. Aku sama Mita bisa tinggal di sana beberapa hari. Setelah itu, kami akan menjemput ibu.


Perasaan Dayu terasa hangat memikirkan hal itu. Guncangan mobil kembali terasa, kali ini jalanan yang berlobang membuat tubuh Dayu bergerak ke kanan, lalu ke kiri.


Mobil yang semula berjalan kencang, perlahan berkurang kecepatannya. Dayu melihat rumah penduduk di sepanjang jalan. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Hanya ada beberapa saja yang membangun rumah permanen.


"Dari mana, Pak Bahar?" sapa lelaki itu.


"Dari kota, Pak Kades." Bahar menjawab hormat pada lelaki yang menjabat sebagai kepala desa itu.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar, Bapak?" tanya Kades.


"Kabar saya baik, Pak. Pak Kades sama yang lainnya dari mana?" Bahar menatap bawahan Pak Kades.


"Kami dari rumah Pak Camat. Ada urusan masalah bantuan desa." Kades menjelaskan.


Kepala desa menatap Dayu. Dayu mengangguk, seraya tersenyum.


"Adik ini siapa?" tanya kepala desa.


Mendapat pertanyaan tersebut, Dayu bingung mau menjawab. Bahar menangkap kebingungan Dayu.


"Dia anak almarhum Kamal, Pak." Bahar terpaksa jujur, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan siapa gadis yang dibawanya.

__ADS_1


"Anak almarhum Kamal?" dahi Kades berkerut heran, "Almarhum Kamal Abidin?"


Mendengar pertanyaan itu, Dayu mengangguk dan menjawab.


"Iya, Pak. Saya Dayu, anak almarhum Kamal Abidin." Dayu mengulurkan tangan dan disambut Kades. Dayu melekatkan tangan kades ke dahinya.


"Waaaah, sudah gadis anak almarhum Kamal." Kades tersenyum ramah, "Kamu pasti mau ke rumah almarhum ayah kamu."


"Iya, Pak." Dayu menagangguk.


"Oooo, ya sudah. Kamu antar dulu dia, Bahar. Nanti kita bicara lagi." Kades berkata pada Bahar.


"Baik, Pak. Kalau gitu, kami permisi dulu." Bahar berkata sopan.


"Oh, iya. Silahkan, hati-hati di jalan." kades mempersilahkan.


Bahar membawa mobil diiringi tatapan kepala desa dan anak buahnya.


"Kenapa anak gadis almarhum Kamal dibawa sama Bahar?" Kades berkata heran.


"Pak, kenapa Bapak nggak tanya saja langsung sama Pak Bahar tentang anak gadis Mak Nairah." salah satu bawahan kades berbaju hijau bertanya.


"Tidak perlu tanya sama Pak Bahar. Nanti, kita ke rumah Mak Nairah, kita langsung tanya saja sama dia." balas Kades.


"Kalau tanya sama Mak Nairah, apa dia nggak marah, Pak?" tanya lelaki berbaju hitam.


"Mungkin, Mak Nairah akan marah. Tapi, kita jangan takut, kita harus mengetahui kebenaran tentang Kemuning. Sudah hampir tiga bulan, kita lalai menanyakan tentang Kemuning. Apakah dia masih hidup? Atau, sudah meninggal."


"Apa mungkin, Kemuning masih hidup, Pak?" lelaki berbaju merah ikut bertanya.


"Kemungkinan itu sangat mustahil. Dokter rumah sakit sudah memberi informasi, jika Kemuning telah meninggal. Dokter itu sendiri yang memeriksa keadaan Kemuning." Kades menjelaskan.


"Tapi, Pak. Ada yang bilang, kalau Kemuning masih hidup. Setelah keluar dari rumah sakit, Mak Nairah sendiri yang mengobatinya. Makanya, kita nggak melihat Kemuing, karena masih dalam pengobatan Mak Nairah." lelaki baju putih bicara.


"Apa pun kata orang. Sebaiknya, kita langsung lihat ke sana." kades memberi pengertian.


"Iya, Pak." lelaki baju putih mengangguk.


"Sekarang, kita pulang dulu ke rumah masing-masing. Nanti malam, kita ke rumah Mak Nairah." kades mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2