Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 2 Ketakutan


__ADS_3

Matahari baru saja bersinar sempurna. Cahayanya tidak menembus ke dalam toilet di rumah sakit. Dayu masih tergeletak pingsan, ketika petugas kebersihan datang. Petugas wanita itu kaget melihat seorang gadis tergeletak di bawah wastafel, dengan air yang mengalir.


"Siapa ini? Kenapa dia pingsan? Pingsan atau mati eh meninggal?" raut wajah wanita itu kaget dan ketakutan


Petugas itu mematikan air dari kran wastafel, kemudian jongkok dan mengarahkan jari telunjuk di bawah hidung


"Ah, syukurlah, dia masih hidup." wanita paruh baya itu menghela lega, "Naaaak, bangun... Ayo, bangun." Wanita itu menggoyang bahu Dayu.


Tubuh Dayu menggeliat, matanya perlahan terbuka dan melotot kaget. Ia langsung bangkit dan duduk, sambil memegang kepala. Kepalanya terasa sangat sakit. Dayu menatap wanita itu.


"Kamu kenapa, Nak? Apakah kamu sakit?" tanya wanita itu


"Kepala saya sakit, Bu." Dayu meringis memegang kepala.


"Ayo, ibu bantu kamu berdiri." wanita itu memegang lengan dan pinggang Dayu, lalu membantu Dayu untuk bangkit.


Setelah Dayu berdiri tegak, Dayu melepaskan pegangan wanita itu


"Terima kasih, Bu. Saya mau kembali ke ruang perawatan." Dayu pamit.


"Iya, Nak. Hati-hati....." wanita itu mengawasi Dayu, hingga Dayu keluar dari toilet.


Dayu melangkah pelan menelusuri lorong rumah sakit. Pagi hari, keadaan ramai oleh para pasien, pengunjung, dokter dan perawat. Tapi, Dayu tidak menyadari keramaian di sekelilingnya. Wajah menakutkan wanita di toilet masih membayangi pikirannya. Wajah itu pucat sekali. Bola matanya putih semua, sementara darah segar mengalir dari ke dua hidung. Ketika wajah itu berada dekat di wajahnya, mulut wanita itu terbuka lebar dan terlihat darah segar memenuhi mulut. Terbayang lagi wajah itu, perut Dayu seakan meronta.


Dayu mengeluarkan semua isi perutnya di pinggir lorong. Muntahan Dayu masuk ke dalam parit kecil. Setelah muntah, perutnya terasa lega. Dayu melanjutkan langkah menuju ruang perawatan.


Setelah masuk ke ruangan di mana ibunya dirawat, Dayu melihat Mita tertidur di lantai beralaskan tikar plastik.


"Ta......, Mita...." Dayu menggoyang tubuh Mita pelan.


Mata Mita terbuka, ia menggeliat, seraya menguap.


"Kamu dari mana saja, Yu?"


"Dari mana?" Dayu memasang wajah heran, "Aku nggak ke mana-mana. Kan, tadi malam cuma ke toilet."

__ADS_1


"Tadi malam aku nyariin kamu. Tapi, kamu nggak ada. Aku mau nelepon, hpmu kamu tinggal." Mita menguap, seraya menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Habis dari toilet, aku cari makanan. Waktu aku kembali, kamu udah tidur " Dayu terpaksa berbohong.


"Mana makanannya? Aku udah lapar." mata Mita mencari.


"Makanan tadi malam udah aku habisi. Kalau nggak aku habisi, pasti pagi ini udah basi. Kalau kamu mau makan, aku belikan lagi, ya?" Dayu akan beranjak.


"Biar aku saja yang beli. Aku belikan sekalian untukmu." Mita bangkit, seraya meraih tas sandangnya.


Setelah Mita pergi, Dayu mendekati pembaringan ibunya, lalu duduk di sisi tempat tidur. Dayu membelai tangan ibunya.


"Ibu, kapan Ibu bangun? Dayu rindu sama Ibu." air mata menetes pelan di kedua pipi Dayu. Dayu mencium kening ibunya, kemudian duduk menatap wajah lemah ibunya.


Dayu melamun memikirkan jalan hidupnya. Semenjak ibunya koma, ia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini, selain Mita. Mereka berdua memiliki nasib yang sama. Persamaan itu membuat mereka menjadi dekat dan merasa seperti saudara. Ia mengenal Mita, ketika mencari pekerjaan di sekitar pasar. Sewaktu melintasi salah satu toko, ia berhenti dan berdiri di depan toko itu. Saat itu, Mita menghampirinya dan bertanya


"Mau beli apa, Kak? Di sini ada bermacam-macam kosmetik. Ada lipstik, alat makeup, skincare juga ada." Mita mempromosikan jualan yang ada di toko


Mendengar ucapan Mita, Dayu menatapnya dengan malu.


"Kakak lagi nyari kerja? Waaah, kebetulan sekali. Bos saya lagi cari karyawan. Ayo, masuk, Kak. Kita jumpai bos saya." Mita berkata ramah, lalu meraih tangannya dan membawanya masuk ke toko.


Sejak awal mengenal Mita, gadis itu memang gadis yang baik. Mita yang mengajarkannya tentang, bagaimana menjadi penjual kosmetik. Bagaimana menghadapi pelanggan dan hal lainnya yang menyangkut, tentang pekerjaan mereka.


Ingatan Dayu pada masa lalu terhenti, ketika Mita memanggil namanya.


" Dayu...!" Mita memegang bahu Dayu, "Apa yang kamu lamunkan?" tanya Mita, seraya menyerahkan satu bungkusan.


"Ah, nggak kok, Mit. Aku nggak melamun. Ini nasi apa?" Dayu menatap bungkusan.


"Itu nasi lauk telur dadar. Kita makan dulu, ya? Aku udah lapar." Mita duduk di bawah, lalu membuka bungkusan. Dayu juga duduk di samping Mita dan mereka menikmati sarapan bersama.


*****


Dayu dan Mita turun dari angkutan umum. Setelah itu, mereka melangkah bersama memasuki gang kecil. Mereka pulang kerja disaat matahari hampir terbenam. Sepanjang jalan, Dayu disapa oleh warga. Dayu membalas ramah, hingga mereka tiba di rumah Dayu.

__ADS_1


"Kamu tinggal di sini saja, Ta. Nanti kita bayar kontrakan rumah ini bersama." Dayu berkata, seraya mengambil kunci dari dalam tas.


"Iya, Yu. Terima kasih " Mita merasa bersyukur. Ia baru satu bulan telat bayar uang kos, tapi pemilik tempat kosnya menyuruh ia pindah. Mita terpaksa pindah dan meminta Dayu mengijinkannya untuk tinggal bersama.


Dayu dan Mita masuk. Dayu duduk di ruang tamu, Mita meletakkan tas berisi pakaiannya di lantai, lalu duduk di samping Dayu.


"Kamu bisa tidur di kamar itu." Dayu menunjuk salah satu kamar, ada dua kamar di rumah kontrakan Dayu.


"Kapan pembayaran rumah ini, Yu?" tanya Mita.


"Seharusnya, minggu kemarin. Aku minta waktu sama yang punya rumah, dua minggu. Semoga, aku ada uang." Dayu berharap, "Dua minggu lagi aku juga harus bayar biaya perobatan ibuku." Dayu menghela napas berat


"Kalau mengharapkan gaji, kita pasti tidak bisa bayar kontrakan. Apalagi bayar biaya perobatan ibumu." Mita berucap pelan.


"Iya, kamu betul, Ta." Dayu mendesah.


"Aku udah telepon ibuku di kampung. Ibuku cuma bisa kirim sedikit uang. Aku nggak berani minta banyak. Ibuku bekerja sendirian, sementara Bapakku, kerjanya cuma duduk ngopi dan merokok di warung." Mita berkata kesal teringat pada bapaknya.


"Udahlah, nggak usah ingat lagi Bapakmu. Nanti kamu sedih lagi, nangis lagi. Besok kita pikirkan lagi gimana cari uang. Sekarang, kita mandi dan makan. Badanku udah gerah, perutku juga udah bunyi minta diisi " Dayu beranjak bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Mita juga bangkit, seraya mengambil tas berisi pakaian miliknya.


Dayu meletakkan tas sandangnya di atas tempat tidur. Dia mengambil handuk yang berada di belakang pintu. Lalu, melangkah keluar kamar menuju kamar mandi. Baru saja kakinya akan melangkah masuk, kuduknya terasa dingin. Tubuh Dayu berdiri tegak, matanya menatap lurus ke depan. Dia merasakan ada satu sosok berdiri di belakangnya. Dayu tidak berani memutar tubuh untuk melihat.


Di belakang Dayu, satu sosok wanita memakai baju terusan putih berdiri, dengan wajah tertutup rambut. Ketika, sosok itu akan mencekik Dayu, Mita keluar kamar dan memanggil.


"Kamu ngapain, Yu?" Mita menatap heran dan mendekati Dayu.


Dayu memutar tubuh, lalu sekilas dia melihat satu sosok wanita berjalan menembus dinding samping rumah. Sebelum tubuh wanita itu hilang, wajah menyeramkan wanita itu menyeringai padanya. Seketika, Dayu gemetaran.


"Yu.....Dayu!" Mita menepuk bahu Dayu. Dayu tersentak dan memeluk tubuh Mita. Mita jadi bingung merasakan tubuh Dayu yang gemetaran kuat.


"Kamu kenapa, Yu? Tenang, tenang, Yu. Maaf kalau aku buat kamu terkejut." Mita mengelus rambut Dayu, dia merasa bersalah. Mita membawa Dayu ke kamar, lalu menyelimuti Dayu yang berbaring.


"Aku ambilkan minum, ya?" Mita akan berlalu, tapi tangannya ditarik Dayu.


"Jangan pergi, aku takut....." suara Dayu bergetar. Mita urung melangkah, lalu duduk di samping Dayu.

__ADS_1


__ADS_2