Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 8 Perjalanan Yang Aneh(Bagian 2)


__ADS_3

Berada satu bus bersama makhluk halus, tentu saja membuat Dayu tidak bisa lepas dari ketakutan. Dia takut, jika tiba-tiba saja kedua hantu itu akan menghampirinya.


"Udah jam berapa sekarang? Kenapa bus yang bawa ban belum datang?" Mita bicara sendiri, matanya menatap arah belakang. Dayu tidak berani ikut menatap, dia tidak mau bertemu muka dengan hantu.


"Iya, ya? Kok belum datang?" Dayu bergumam, seraya melihat jam di pergelangan tangan, "Udah jam lima, Ta." Dayu berkata pelan, dengan nada kuatir.


"Udah sore, Yu. Aku takut, malam kita baru sampai di Desa. Apakah ada kendaraan ke Dusun kalau udah malam?"


"Kalau nggak ada, kita terpaksa nginap di desa."


"Kamu punya uang nginap di hotel?"


"Ada, tapi apa ada hotel di sana?"


"Iya, juga ya? Kalau nggak ada, kita nginap di mana?"


"Hhhhh, nantilah kita pikirkan kalau udah sampai di sana." ujar Dayu.


Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing.


kruuuk! kruuuk! kruuuk!


Perut Mita berbunyi, dia meringis sambil memegang perut .


"Aduuuuh, aku lapaaar, Yu...." wajah Mita memelas.


Dayu mengambil satu bungkus roti.


"Makan ini dulu, Ta. Rencananya, kita makan kalau udah sampai di desa. Makanya, aku nggak bawa bekal nasi."


"Iya, rencana kita kayak gitu. Tapi, seharusnya jam segini kita udah sampai." Mita mengeluh.


"Iya juga. Pantesan kamu lapar. Tapi, aku juga lapar. Kita makan roti saja buat nahan lapar." Dayu menyerahkan roti pada Mita. Dia juga mengambil satu bungkus roti, lalu mulai melahapnya.


Sore berlalu, bus yang ditunggu belum juga datang. Para penumpang mulai gelisah.


"Pak, kok belum datang busnya?" seorang lelaki muda bertanya pada supir.


"Iya, Pak. Kenapa nggak datang juga. Nanti kami kemalaman sampai rumah." wanita paruh baya itu ikut bertanya.


"Sabar ya, saya udah telepon lagi tadi. Kata mereka, mereka telat keluar dari terminal. Menunggu penumpang yang sudah pesan tempat duduk." Supir menjelaskan dengan sabar.


"Kira-kira jam berapa kita sampai, Pak?" tanya bapak bertopi hitam.

__ADS_1


"Satu jam lagi. Harap semuanya bersabar, saya juga nggak mau lama-lama di sini. Anak sama isteri saya menunggu di Batang Ujung." supir berusaha menenangkan penumpang.


Akhirnya, para penumpang hanya bisa menggerutu kesal.


"Waaaah, bisa kemalaman di jalan."


"Kalau tau kayak gini mending besok saja pulang."


"Nyesal aku naik bus ini."


"Bus ini mungkin bawa penumpang sial."


Berbagai umpatan didengar Dayu dan Mita, mereka saling pandang.


"Malam jugalah kita sampai di sana, Yu." Mita menghela napas.


"Iya, Ta. Mau gimana lagi? Kita sabar sajalah nunggu bus itu datang." Dayu berkata pelan.


"Yu, kalau bus itu datang, lebih baik kita naik bus itu saja. Kalau menunggu bus ini ganti ban, bisa lama." Mita kasi saran.


"Iya, juga. Mungkin, bus yang datang nanti bisa bawa kita sampai ke desa nggak terlalu malam. Tapi, apa supir kasi kita naik bus lain?" Dayu agak ragu.


"Aku tanya sama supir dulu, ya?" Mita berkata.


Mita pun bangkit, lalu berjalan mendekati supir. Dayu memperhatikan Mita yang berbicara pada supir.


"Pak, kami boleh naik bus yang datang nanti? Kalau nunggu bus ini ganti ban pasti tambah lama." tanya Mita. Supir menatap penumpang lain, sebelum menjawab. Untunglah, semua penumpang tidak memperhatikan.


"Bicaranya pelan-pelan, Dek. Nanti semua penumpang bisa minta pindah bus. Bukan apa-apa, kalau semua pindah, komisi saya berkurang." supir berbisik.


"Boleh, kami pindah?" Mita berbicara sangat pelan. Supir tidak menjawab, hanya mengangguk.


Mendapat izin dari supir, Mita kembali ke tempat Dayu.


"Kata supirnya boleh, Yu." Mita berkata, setelah berada di samping Dayu, dia pun kembali duduk di kursi.


Dayu dan Mita bersama semua penumpang menunggu, dengan sabar kedatangan bus.


Saat matahari hampir tenggelam, udara mulai terasa dingin. Angin yang bertiup membelai wajah Dayu membuat matanya terasa berat. Mata Dayu berkedip-kedip mengusir rasa kantuk. Namun, matanya semakin berat, hingga akhirnya tertutup.


"Kok aku jadi mengantuk, ya?" Mita menatap Dayu yang sudah tertidur, "Yaaah, yang diajak ngomong udah tidur." Mita menghela napas, seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sebelum memejamkan mata, Mita menguap dan tidak lama kemudian, terdengar dengkuran halusnya.


Suasana di luar sepi mencekam, ketika malam telah menyelimuti bumi. Semua yang berada di dalam bus tertidur. Tidak ada yang menyadari kedatangan satu bus. Bus itu sama seperti bus yang dinaiki Dayu dan Mita. Hanya saja, seluruh penghuni bus terlihat aneh. Semua orang berwajah putih pucat, mata lurus ke depan, tanpa berkedip. Tidak terlihat ada tanda-tanda kehidupan manusia.

__ADS_1


Suara bus yang berhenti tepat di samping Dayu, membuat gadis itu tersentak. Matanya menatap bus, dengan wajah gembira.


"Ta...., Mita....." Dayu menggoyang bahu Mita.


Mita menggeliat dan terbangun.


"Ada apa, Yu?" Mita menatap Dayu


"Itu busnya udah datang." Dayu menunjuk bus yang berada tepat di samping mereka.


"Iya, busnya udah datang. Kita langsung saja pindah ke sana." ujar Mita.


"Ayo, kita pindah." Dayu bangkit, lalu mengambil tas pakaiannya yang berada di tempat di atas kepalanya.


Mita juga mengambil tas pakaian miliknya. Lalu, mereka berdua melangkah menuju pintu keluar. Mereka melewati para penumpang yang masih tidur nyenyak.


Setelah turun dari bus, mereka langsung naik ke dalam bus yang baru datang.


"Pak, kami pindah ke bus ini, ya? Kata supir bus itu, kami boleh pindah ke sini." Mita berkata pada supir, seraya tangannya menunjuk bus satu lagi. Supir bus hanya mengangguk, dengan ekspresi datar.


"Terima kasih, Pak." Mita berkata riang


"Terima kasih, Pak." Dayu tersenyum ramah pada supir yang hanya diam. Wajah supir itu lurus ke depan.


Dayu dan Mita terlalu gembira, hingga tidak menyadari keanehan yang ada di dalam bus yang baru datang. Mereka menghenyakkan punggung di kursi, dengan perasaan nyaman. Tidak lama, bus pun berjalan. Sebaik saja bus yang dinaiki Dayu dan Mita meninggalkan tempat itu, satu bus lain datang. Bus itu adalah bus yang membawa ban cadangan.


Setelah bus berjalan kurang lebih sepuluh menit, Dayu dan Mita baru menyadari ada yang aneh pada semua orang di dalam bus.


"Ta....orang-orang di sini kok diam semua, ya?" Dayu berbisik.


"Iya, nggak ada yang bicara. Nggak ada yang bergerak. Semuanya kayak patung...." Mita berkata lirih.


Mereka pun memperhatikan dua orang yang duduk di bangku sejajar, dengan mereka. Lelaki dan perempuan usia sebaya mereka. Wajah keduanya pucat pasi, tubuh tegak dan menatap lurus ke depan.


"Serem kali, Yu....." Mita terlihat takut. Dayu hanya mampu mengangguk. Dayu yang duduk di pinggir menoleh pelan ke belakang. Satu sosok lelaki tua dan seorang gadis yang ada di bus sebelumnya, duduk di kursi paling belakang. Mata kedua sosok itu menatap Dayu tajam, mereka menyeringai menyeramkan. Dayu langsung memalingkan wajah, seraya menutup mata, tubuhnya menggigil. Mita merasakan tubuh Dayu gemetaran.


"Kamu kenapa?" tanya Mita pelan.


"Takuuut........" suara Dayu bergetar.


Tiba-tiba, bus berjalan keluar dari jalan utama, lalu bergerak cepat dan menerobos semak belukar. Dayu dan Mita menatap keluar jendela. Mata mereka berdua terbelalak kaget. Mita mengenggam tangan Dayu, Dayu balas memegang erat. Setelah menerobos semak belukar, bus terjun ke dalam jurang.


"Waaaaaaa......! Mita menjerit.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa.....! Dayu berteriak.


__ADS_2