
Tubuh Dayu tergeletak pingsan di tepi jurang. Keadaan hutan lebat itu sepi, sesekali terdengar suara kicauan burung.
Ciiiit! Ciiiit! Ciiiit!
Suara burung bergantian dengan kodok yang berteriak.
Kroooong! Kroooong!
Kehangatan sinar matahari menyapu wajah Dayu. Sesaat kemudian, tubuh Dayu bergerak dan matanya terbuka.
"Ahhh...." Dayu menutup wajahnya dengan tangan, menghalangi sinar matahari yang menusuk mata.
Perlahan, Dayu bangkit dan duduk. Matanya menatap ke sekitar, pikirannya mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Mita! Di mana Mita?" Dayu teringat pada sahabatnya, "Apa yang terjadi? Di mana Mita?" Dayu bergumam, seraya bangkit untuk berdiri.
Dia ingat dengan jelas. Tadi malam, dia dan Mita berada dalam bus. Bus yang aneh, karena semua orang yang ada di dalam seperti mayat hidup. Tiba-tiba, bus berjalan menerobos semak belukar, hingga masuk ke dalam jurang. Ketika bangun, mereka telah berada di dusun bunian. Mereka dipaksa memakan makanan yang sangat enak. Tetapi, kenapa dia merasa sangat mengantuk, setelah makan? Dia tidak ingat apa lagi yang terjadi. Hanya sampai disitu yang diingat oleh Dayu.
Dayu menatap ke segala penjuru, dia ingat lagi pada sahabatnya.
"Mita di mana?" Mata Dayu kembali mencari. Namun, hanya kesunyian yang terlihat. Akhirnya, Dayu melangkah pelan, seraya berteriak memanggil Mita.
"Mita.....! Ta.....! Mita.....!" suara Dayu membelah keheningan, "Mita.....!" Dayu kembali memanggil, tidak ada suara yang membalas panggilan Dayu. Hanya suara binatang hutan yang terdengar bergantian.
Dayu terus melangkah, tanpa menyadari jalan yang dilalui telah membawanya semakin jauh ke dalam hutan. Setelah berjalan lama, dia merasa lelah, kakinya pun tidak sanggup lagi melangkah, akhirnya dia duduk di sebuah pohon yang rindang.
"Hauuuus....aku haus sekali." napas Dayu naik turun dengan cepat. Kepalanya mulai terasa pusing, matanya menjadi berkunang-kunang. Perlahan, mata Dayu tertutup dan tubuhnya jatuh tergeletak di akar pohon.
Tidak jauh dari tubuh Dayu, seorang lelaki paruh baya berpakaian putih memperhatikan Dayu. Lelaki itu adalah lelaki yang pernah berkelahi dengan lelaki yang memberikan Dayu surat wasiat. Lelaki itu melangkah cepat mendekati Dayu. Setelah sampai di samping Dayu, lelaki itu akan menyentuh Dayu, namun tangannya dipukul seseorang.
"Akhhhhh!" lelaki itu berteriak kesakitan, lalu memegang tangannya, matanya menatap marah pada lelaki berpakaian hitam.
Lelaki berpakaian hitam tertawa.
"Ha ha ha ha. Mau kau apakan gadis itu, Hasan? Sudah tua mau main-main sama anak gadis?"
Lelaki berpakaian putih bernama Hasan itu semakin marah.
"Jangan bicara sembarangan, Bahar! Aku akan membawa gadis itu kembali ke kota." Hasan membentak lelaki berpakaian hitam.
__ADS_1
"Untuk apa? Kau jangan mencampuri urusan majikanku." mata Bahar melotot.
"Aku tidak perduli sama urusan majikanmu. Aku cuma tidak mau, majikanmu mengorbankan gadis ini demi kepentingannya."
"Aku bilang .....kau jangan ikut campur!" Bahar berteriak, kemudian menyerang Hasan.
Pertarungan dua lelaki itu berlangsung sengit. Bahar mengeluarkan jurus yang mematikan. Hasan mempertahankan diri, lalu berusaha membalas. Saling serang, saling balas pun terjadi. Berkali-kali Bahar melancarkan pukulan dan tendangan ke arah tubuh Hasan. Hasan juga melakukan hal yang sama. Hingga, satu pukulan menghantam telak dada Hasan. Tubuh Hasan terdorong jauh ke belakang. Kesempatan itu digunakan Bahar untuk berlari cepat, lalu sekuat tenaga menendang ulu hati Hasan. Akibatnya, Hasan tercampak, lalu jatuh ke tanah dengan darah segar keluar dari mulut. Wajah Bahar terlihat puas menatap tubuh Hasan yang tergeletak tidak bergerak.
"Kau bukan tandinganku, Hasan. Ilmumu masih jauh di bawahku." Bahar tersenyum angkuh. Lalu, dia mengangkat tubuh Hasan dan membawa tubuh itu ke balik pohon besar. Bahar meletakkan tubuh Hasan di bawah pohon.
"Kamu diam saja di sini. Aku akan menyelesaikan urusanku."
Setelah itu, Bahar melangkah cepat ke arah Dayu.
"Sialan....! Gara-gara orang bunian itu, gadis ini lepas dari tanganku!" Bahar menggerutu. Lalu, dia membangunkan Dayu.
"Nak, bangun!" Bahar menggoyang lengan Dayu, "Banguuuun, Nak!"
Lengan Dayu kembali digoyang Bahar, dengan agak kuat, hingga Dayu menggeliat.
Mata gadis itu terbuka dan terbelalak kaget melihat kehadiran lelaki berpakaian hitam.
Bahar tersenyum, seraya mengangguk.
"Bangunlah, Nak." Bahar memegang bahu Dayu, membantunya untuk bangun.
Dayu menyandarkan tubuhnya di batang pohon.
"Saya haus." Dayu merasa tenggorokannya sangat kering.
Bahar mengambil botol minuman yang tergantung di pinggang. Lalu, membuka tutup botol dan membantu Dayu untuk minum.
"Kenapa Bapak bisa ada di sini?" tanya Dayu heran. Bahar menutup botol minuman, kemudian menggantungkannya pada tali pinggang.
"Saya sengaja datang untuk menjemput kamu."
"Menjemput saya? Untuk apa, Bapak menjemput saya?"
"Kamu pasti mau ke rumah almarhum Ayahmu, kan?"
__ADS_1
"Iya, Pak." Dayu mengangguk.
"Mari ikut saya. Saya akan membawa kamu ke sana."
"Tapi, bagaimana Bapak bisa tau saya di sini?" Dayu merasa heran.
"Saya ke rumah kamu kemarin siang. Karena kamu tidak ada, saya merasa kamu pasti akan pergi ke rumah almarhum ayahmu. Saya naik bus yang membawa ban untuk bus yang kamu naiki. Sesampainya di sana, kamu tidak ada. Lalu, saya mengikuti jejak yang kamu tinggalkan."
"Jejak? Saya rasa, saya nggak ada meninggalkan jejak."
"Kamu tidak menyadari itu. Jejak yang kamu tinggalkan itu adalah aroma tubuhmu. Bapak bisa mencium aroma tubuhmu dari jarak satu kilo meter."
Ucapan lelaki berpakaian hitam membuat tubuh Dayu merinding.
"Kata-kata Bapak buat saya takut." suara Dayu bergetar.
"Kamu jangan takut sama Bapak. Bapak cuma mau kamu sampai ke rumah almarhum ayahmu, dengan selamat. Bapak akan melindungi kamu dari makhluk halus." Bahar mencoba menenangkan Dayu, "Selama kamu belum sampai ke tujuanmu. Kamu akan selalu diikuti makhluk halus. Karena, mereka ingin mengambil tubuhmu."
"Apa.....apa, maksud Bapak?" Dayu semakin takut.
"Tenanglah, Nak. Jangan takut, Bapak akan melindungi kamu dari mereka." Bahar berkata, seraya mulutnya komat- kamit, lalu dia menghembus wajah Dayu.
Hembusan napas Bahar mengeluarkan asap putih tipis. Asap itu menutupi wajah Dayu, kemudian hilang. Sekarang, Dayu merasa perasaannya tenang.
"Kenapa semua makhluk halus itu, mau mengambil tubuh saya?" Dayu bertanya lirih.
"Saya belum mengetahui alasan mereka. Sebaiknya, kamu ikut Bapak sekarang. Kita pergi ke rumah almarhum ayahmu, sebelum malam datang."
"Tapi, bagaimana dengan Mita, kawan saya, Pak?" Dayu teringat pada Mita.
"Kamu harus berada di rumah almarhum ayahmu, agar kamu bisa bertemu kawanmu."
"Saya bisa bertemu Mita di sana?"
"Iya. Kawanmu sedang menunggumu di sana."
"Mita udah ada di rumah ayah?"
Dayu merasa heran, mendengar Mita sudah berada di rumah almarhum ayahnya. Namun, dia tidak bertanya lagi dan mengikuti Bahar yang berjalan mendahuluinya.
__ADS_1
Dayu tidak menyadari, kehadiran satu gerombolan makhluk halus yang berada tidak jauh di belakangnya. Gerombolan makhluk tak kasat mata itu mengikuti Dayu.