Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 3 Lelaki Misterius


__ADS_3

Malam kelam menyelimuti hutan kecil di pinggiran kota. Kabut tipis menguasai suasana di sekitar yang terasa mistis. Di antara suara gaduh binatang malam, terdengar teriakan disertai suara pertarungan. Dua lelaki berwajah serius terlibat perkelahian, mereka dua lelaki paruh baya. Salah seorang memakai pakaian serba hitam, sementara pakaian serba putih membalut tubuh lelaki yang satu lagi. Lelaki berpakaian hitam melancarkan serangan pukulan tangan bertubi-tubi ke arah tubuh lelaki berpakaian putih. Serangan itu mampu ditangkis, lelaki berpakaian putih membalas, dengan satu tendangan kaki yang menghantam ulu hati. Lelaki berpakaian serba hitam tercampak, hingga tergeletak dengan mulut mengalir darah. Melihat lelaki berpakaian hitam tidak berdaya, lelaki berpakaian putih segera memburunya, dengan mengarahkan tinju tangan kanan ke arah kepala. Lelaki berpakaian hitam mampu menangkis, namun dia tidak bisa menghindari tendangan kaki kiri lelaki berpakaian putih yang menghantam dadanya. Lelaki berpakaian hitam memegang dadanya, dengan tangan kanannya. Wajahnya pucat menahan sakit. Ketika lelaki berpakaian putih akan kembali menyerang, tangan kiri lelaki berpakaian hitam mengambil pisau yang tersembunyi di balik pakaiannya. Lalu, pisau itu ditusuk ke arah lelaki berpakaian putih dan mengenai dadanya. Lelaki berpakaian putih tersentak ke belakang, memegang dadanya yang tertancap pisau. Melihat lelaki berpakaian putih tidak berdaya, lelaki berpakaian hitam bangkit dan melarikan diri. Lelaki berpakaian putih hanya mampu menatap, kemudian lelaki itu duduk bersila, memejamkan mata dan menarik pisau dari dadanya. Pisau itu berlumuran darah dan jatuh tergeletak di atas tanah. Lelaki itu masih bersila, dengan kedua tangan bersidekap di dada dan mata terpejam


...*****...


Dayu dan Mita sedang menikmati makan malam.


"Besok pagi, kita harus buka toko lebih pagi, Yu. Mana tau, kalau buka lebih cepat, banyak yang beli." Mita berkata.


"Iya, Ta. Semoga saja besok banyak yang beli." Dayu membalas diantara mulutnya yang mengunyah, "Gimana kalau semua barang yang ada di toko kita foto. Kemudian, kita jual secara online."


"Waaah, iya ya? Kalau jualan online, kan banyak yang tau produk kita. Kenapa kita nggak mikir ke situ, ya?"


"Aku juga baru terpikir. Tapi, apa bos setuju kita jualin barangnya di online?"


"Pasti setujulah. Bagi dia yang penting barangnya laku."


"Tapi, kita harus minta izin juga."


"Iya, sebentar aku telepon dulu." Dayu meletakkan sendok, mengambil ponsel yang berada di meja di depannya, lalu menelepon bosnya. Tidak ada jawaban, Dayu mencoba lagi. Namun, hanya terdengar suara operator yang mengatakan nomor yang anda hubungi diluar jangkauan.


"Nggak bisa." Dayu menatap Mita.


"Ya, udah. Kamu habisin dulu makannya. Nanti, kan bisa ditelepon lagi."


Dayu mengangguk dan melanjutkan makan. Sesaat kemudian, ponselnya berbunyi. Nama bos tertera di layar, Dayu langsung menjawab. Mita menatap Dayu yang mendengarkan perkataan bos mereka. Wajah Dayu terlihat serius.


"Iya, Bu. Mita ada sama saya. Iya, nanti saya sampaikan." Dayu berkata dan kembali diam mendengarkan, "Iya, Bu. Selamat malam....." Dayu mengakhiri telepon.


"Ada apa? Kenapa, Yu." Mita penasaran melihat wajah Dayu yang termenung.


Dayu menghela napas.


"Mulai besok, kita nggak usah ke toko lagi."

__ADS_1


"Apa? Kenapa?" Mita terkejut.


"Ibu Riris bilang, mulai besok toko tutup. Karena nggak banyak barang yang laku. Ibu Riris nggak bisa meneruskan tokonya lagi." Dayu berkata sedih.


"Aduuuuh, gimana ini? Kek mana nasib kita?" Mita mendesah resah.


"Aku juga bingung, Ta. Mau kerja apa kita nanti? Bukan mudah cari kerja lagi." Dayu mengeluh.


"Iya, Yu. Kalau nyari kerja butuh waktu, juga uang." Mita menghela napas.


"Dua hari lagi, kita diminta ke rumah Bu Riris, ambil gaji terakhir." wajah Dayu muram.


Dayu dan Mita saling diam dengan pikiran masing-masing. Ketika suasana hening, terdengar ketukan di pintu. Dayu dan Mita saling pandang.


"Siapa yang datang?" tanya Mita.


"Mungkin, Ibu yang punya kontrakan. Aku bukain dulu, ya?" Dayu beranjak. Mita pun bangkit dan melangkah di belakang Dayu.


Dayu memutar kunci dan membuka pintu. Tiba-tiba, seorang lelaki paruh baya berpakaian serba hitam masuk dan jatuh pingsan di depan mereka. Dayu dan Mita kaget, mereka tidak tau harus melakukan apa.


"Aku nggak tau, Ta. Aku nggak kenal. Kenapa Bapak ini datang kemari?" Dayu memperhatikan sosok lelaki itu.


"Jadi, kek mana ini? Masak kita biarkan dia pingsan di sini?" Mita bertanya dengan perasaan takut


"Aku panggil tetangga sebelah saja, ya?" Dayu bergegas keluar rumah.


"Jangan lama-lama, Yu. Aku takut......" suara Mita bergetar.


Dayu melangkah cepat menuju rumah tetangga yang berada di sebelah rumahnya.


Sementara Mita tegak berdiri menatap lelaki itu, kemudian menatap keluar rumah.


"Cepatlah, Yu. Aku takut...." Mita bergumam. Kakinya gemetaran, badannya terasa dingin. Matanya melihat darah menetes dari mulut lelaki itu.

__ADS_1


Dayu datang bersama dua orang lelaki.


"Ini orangnya, Pak " Dayu menunjuk lelaki yang tergeletak. Salah satu dari lelaki itu memeriksa keadaan lelaki yang tergeletak.


"Orang ini masih hidup. Badannya penuh luka dalam." lelaki itu berkata, "Kita bawa ke rumah sakit saja. Saya akan telepon rumah sakit. Kamu ke rumah pak RT, ya? Lapor sama pak RT, ada orang asing di rumah Kakak ini." lelaki itu kasi instruksi pada lelaki yang lebih muda.


"Iya, Yah." lelaki muda itu mengangguk, lalu melangkah pergi.


Dayu dan Mita memperhatikan lelaki itu menghubungi rumah sakit.


"Rumah sakit akan mengirim mobil ambulan ke mari." Lelaki itu menatap Dayu.


"Sebelum ambulan datang. Apa nggak sebaiknya kita angkat dulu Bapak ini, Pak? Kita letakkan di atas sofa di dalam." Dayu tidak sampai hati melihat lelaki itu tergeletak.


"Iya, Dek. Sebaiknya kita angkat." lelaki itu bersimpuh di samping lelaki yang tergeletak. Ketika dia akan memegang tangan lelaki yang tergeletak, dia kaget melihat tubuh lelaki itu bergerak dan telentang.


Dayu dan Mita yang juga ikut bersimpuh kaget.


Mata lelaki yang tergeletak itu terbuka, lalu tangan kirinya mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. Selembar surat ada di tangan lelaki itu. Lalu, lelaki itu mengangsurkan surat itu pada Dayu.


"Surat ini, surat wasiat dari almarhum ayah kamu " suara lelaki itu menahan sakit.


Perlahan, Dayu mendekati lelaki itu dan mengambil surat tersebut.


Setelah surat berada di tangan Dayu, lelaki itu kembali pingsan. Dayu memegang surat itu dengan tangan gemetaran.


"Ayo, Dek. Kita angkat dulu Bapak ini." lelaki tetangga Dayu memegang tubuh bagian atas lelaki yang pingsan.


Dayu dan Mita memegang tubuh bagian bawah, lalu mereka bertiga mengangkat lelaki yang pingsan itu, membawanya masuk dan meletakkannya di atas sofa.


"Bapak ini saudara Dek Dayu, ya?" tanya lelaki tetangga Dayu.


"Saya nggak kenal, Pak. Mungkin, dia kawan almarhum ayah saya." kata Dayu.

__ADS_1


Mita menatap surat di tangan Dayu.


"Apa isi surat itu, Yu?" Mita ingin tahu. Dayu membuka surat itu dan menatap isinya.


__ADS_2