
Mak Nairah masuk ke dalam rumah, Bahar menghampiri.
"Tempat mandi Non Kemuning udah siap, Mak." Bahar berkata.
"Di mana Kemuning?" tanya Mak Nairah.
"Ada di kamarnya "
"Bawa dia ke tempat mandi."
"Iya, Mak." Bahar mengangguk patuh, lalu melangkah menuju kamar Kemuning. Sementara, Mak Naira menuju bagian belakang rumah. Rumah Mak Nairah lumayan luas, bagian belakang terdapat ruangan khusus untuk mandi. Ruangan itu biasa digunakan untuk ritual mandi para tamu yang datang padanya. Mak Nairah menatap tempat tidur dari kayu yang dialasi pembaringan, seperti tilam di rumah sakit. Tilam itu tidak akan basah, jika anaknya dimandikan di situ.
Ahhhhh, Kemuning sayang, biasanya tempat ini untuk ritual orang. Sekarang, Mamak harus melakukannya padamu.
Batin Mak Nairah berkata, helaan napasnya mendesah sedih. Tidak berapa lama, Bahar yang bertubuh tegap dan tinggi datang. Lelaki berwajah dingin itu menggendong tubuh Kemuning. Dengan perlahan dan hati-hati, Bahar meletakkan tubuh Kemuning di pembaringan.
"Kamu udah siapkan sajen?" tanya Mak Nairah.
"Udah, Mak. Udah saya taro di kamar semedi." Bahar mengangguk.
"Terima kasih, Bahar."
"Iya, Mak." kedua tangan Bahar bersidekap di dada.
"Sekarang, kamu pergilah ke kota. Belikan bahan-bahan untuk obat Kemuning." Mak Nairah mengambil uang dari dalam kantong baju, kemudian menyerahkan pada Bahar.
"Iya, Mak." Bahar mengambil uang, kemudian melangkah keluar ruangan.
Mak Nairah duduk di kursi di samping Kemuning. Perlahan, Mak Nairah membuka gaun yang dipakai Kemuning. Gaun kesayangan anaknya yang dipakai untuk pertama kali, demi pergi ke kota bersama pemuda yang dicintai. Bayangan saat Kemuning menunjukkan gaun itu kembali hadir.
"Maaaak, cantik gaun ini?" Kemuning muncul di kamar Mak Nairah, dengan gaun indah membalut tubuh.
Mak Nairah menatap terpana. Cantik sekali anak gadisnya.
"Iya, cantik." balas Mak Nairah datar. Lalu kembali menekuni pekerjaannya, melipat baju. Melihat reaksi ibunya, wajah Kemuning cemberut dan menunduk. Ia tahu, ibunya masih tidak mengizinkannya pergi ke kota.
Melihat anaknya seperti itu, Mak Nairah menghela napas, lalu bangun dan tersenyum.
"Anak Mamak, pakai baju apa saja pasti cantik." Mak Nairah memuji, lalu memeluk Kemuning, seraya membelai rambutnya. Mendengar ucapan ibunya, wajah Kemuning terlihat sumringah, pelukan ibunya dibalas dengan erat.
__ADS_1
Ingatan Mak Nairah pada masa lalu terhenti, ketika menyadari air matanya mengalir deras. Dihapusnya air mata, dengan lengan baju.
"Kamu pakai apa saja cantik, Nak. Waktu itu, Mamak nggak suka kamu pakai gaun ini. Karena, kamu memakainya untuk pergi sama Malik." Mak Nairah meletakkan gaun di lantai. Lalu, membuka pakaian dalam Kemuning, "Mamak, kan udah melarang kamu, jangan pergi ke kota sama Malik. Kalau cuma jalan-jalan di sekitar desa, mamak nggak pernah melarang. Perasaan Mamak nggak pernah salah, mamak bisa merasakan bahaya akan menghampirimu, jika keluar jauh dari desa. Karena, setelah melewati perbatasan desa, mamak nggak mampu menjaga kamu." Mak Nairah meletakkan pakaian dalam Kemuning di atas gaun, "Sekarang, Mamak maraaaaah, marah sekali sama Malik! Tapi, apa yang bisa Mamak lakukan? Mamak nggak mungkin menyakitinya, sementara kondisi dia seperti itu." Mak Nairah menghela napas berat.
Dengan kasih sayang seorang ibu, Mak Nairah memandikan anaknya. Menyiramkan air berkali-kali, lalu menyabuninya. Setelah merasa anaknya cukup bersih, ia mengambil satu ember air bersisi aneka bunga dan daun. Sebelum menyimkannyanke seluruh tubuh Kemuning, Mak Nairah memejamkan mata, lalu mulutnya membaca mantra.
#####
Bahar turun dari mobil pick up. Ditangannya membawa bungusan plastik besar. Langkahnya tegap memasuki rumah, setelah berada di dalam, ia langsung menuju kamar Kemuning. Ia yakin, majikannya pasti berada di sana. Bahar mengetuk pintu.
Tok tok tok...
Bahar menunggu, sesaat kemudian terdengar suara.
"Masuklah, Bahar." suara Mak Nairah terdengar.
Bahar membuka pintu, kemudian melangkah masuk dan mendekati Mak Nairah yang sedang menyisir rambut Kemuning.
"Semua yang Mamak pesan udah lengkap, Mak. Saya mencarinya di tiga tempat." Bahar melapor, sekaligus menyerahkan bungkusan pada Mak Nairah yang duduk di kursi, sementara Kemuning duduk di depannya.
"Iya, terima kasih." Mak Nairah mengambil bungkusan tersebut dan meletakkan di pangkuannya. Lalu, kembali menyisir Kemuning, "Saya siapkan dulu menyisir rambut Kemuning. Setelah ini, kamu tolong saya menyiapkan ritual."
"Kamu lihat Kemuning, Bahar? Dia masih cantik, kan?" tanya Mak Nairah, sekilas matanya menatap Bahar.
"Iya, Mak." Bahar yang tegak berdiri mengangguk
"Kamu udah cari tau, gimana kabar Malik?" Mak Nairah bertanya.
"Udah, Mak. Saya tadi ke rumah sakit, saya tanya dokter yang merawat dia. Dokter bilang, keadaan Malik mulai membaik. Dalam beberapa hari lagi, dia akan siuman."
Ucapan Bahar menghentikan tangan Mak Nairah, yang akan mengikat rambut Kemuning.
"Kalau dia siuman, berarti nggak lama lagi, dia pasti akan sembuh." Mak Nairah berkata, Bahar hanya diam, "Dia akan sembuh, kan, Bahar?"
"Iya, Mak."Bahar mengangguk.
"Dia bisa sembuh, tapi bagaimana dengan Anakku?" Mak Nairah berucap sedih, "Harusnya, dia seperti Kemuning. Aku nggak mau dia hidup, sementara Anakku seperti ini." Mak Nairah mendesis.
"Apa yang harus saya lakukan, Mak? Apakah saya harus membunuhnya?" tanya Bahar. Mak Nairah tidak menjawab, "Apa saja yang Emak perintahkan, akan saya lakukan." kata Bahar.
__ADS_1
"Nggak usah, kamu nggak perlu membunuhnya. Saya memerlukan Malik dalam keadaan hidup. Nyawanya bisa ditukar, dengan nyawa Kemuning." Mak Nairah menyelesaikan mengikat rambut Kemuning, "Kamu ingat almarhum Kamal Abidin?" tanya Mak Nairah.
Bahar mencoba mengingat dan kepalanya mengangguk, setelah wajah lelaki tua bernama Kamal hadir sekilas dalam ingatannya.
"Iya, Mak. Saya ingat, dia dulu dukun di desa ini."
"Dulu, sebelum saya mendapat wangsit dari leluhur dan menjadi dukun. Kamal telah menjadi dukun di sini. Hanya saja, dia dukun aliran putih. Dia mati meninggalkan seorang anak perempuan. Anak perempuan yang mewarisi darah goib. Darah yang bisa membangkitkan orang dari kematian."
"Di mana anaknya sekarang, Mak?"
"Ada yang bilang, Kamal mengirim anaknya ke kota bersama isterinya, sebelum ajalnya menjemput. Kamal nggak mau anaknya jadi incaran dukun dan makhluk gaib yang menginginkan darah dan tubuhnya."
Mak Nairah mengambil kain panjang dan membalut tubuh Kemuning.
"Kamu duduk di sini dulu ya, Nak? Mamak mau siapkan obat untuk kamu." Mak Nairah berkata. Posisi duduk Kemuning tepat di depan jendela, sehingga jika ada yang melihat, orang itu pasti menyangka Kemuning, sedang duduk menikmati pemandangan di malam hari.
Mak Nairah melangkah keluar kamar diikuti oleh Bahar. Mereka berjalan menuju kamar ritual yang berada di ruang tamu. Setelah berada di kamar ritual, Mak Nairah duduk di depan meja panjang, sementara Bahar duduk di hadapannya. Peralatan ritual telah tersusun di atas meja, sepanjang kurang lebih dua meter. Dupa telah menyala di tempat pembakarannya. Mak Nairah menabur kemenyan, hingga seluruh ruangan berbau kemenyan. Diambilnya beberapa jenis dan warna kembang, kemudian ditaburnya memutari tempat pembakaran dupa. Mata Mak Nairah tertutup, mulutnya membaca mantra. Tidak lama kemudian, matanya terbuka dan melotot. Tubuhnya bergetar hebat membuat meja dan tempat yang didudukinya juga ikut bergetar.
Tubuh Mak Nairah terus bergetar, Bahar yang melihat langsung menutup mata dan mulutnya membaca mantra. Tidak lama berselang, Bahar mengulurkan kedua tangan, lalu menyentakkan kedua telapak tangan ke dada Mak Nairah. Tubuh Mak Nairah tersentak mundur dan jatuh. Bahar segera bangkit dan menolong Mak Nairah untuk bangun.
"Maaf, Mak." Bahar berkata, Mak Nairah menepis tangan Bahar.
"Nggak usah, biar saya bangun sendiri." Mak Nairah bangun, lalu berjalan kembali ke meja ritual, setelah duduk ia menatap Bahar yang kembali duduk di hadapannya, "Arwah leluhur saya tadi datang. Kedatangannya membawa aura yang kuat. Saya nggak bisa menahannya. Untung kamu segera bertindak. Terima kasih." Mak Nairah berkata.
"Iya, Mak." Bahar mengangguk.
"Saya harus memberikan tumbal untuk leluhur. Kamu bisa membantu saya?"
"Bisa, Mak. Tumbal apa yang Emak perlukan."
"Kita harus menyediakan darah gadis yang baru mendapat haid. Cuma sedikit, tapi meski sedikit, kita tidak bisa meminta begitu saja. Kita harus melakukannya secara diam-diam. Kamu sanggup, Bahar?"
"Sanggup, Mak."
"Terima kasih, Bahar. Sekarang, kamu boleh keluar." Mak Nairah berkata.
Bahar pun bangkit dan melangkah keluar kamar. Ia akan melakukan apa saja perintah majikannya, meski ia merasa heran.
Mengapa majikannya harus memberikan tumbal?
__ADS_1
Sebelum menutup pintu, Bahar melihat Mak Nairah yang sedang meminum segelas darah segar. Darah yang disediakan Bahar dari tiga ekor ayam hitam.