
Seluruh rombongan yang dipimpin Ayah dan Ibu Malik masuk ke rumah Mak Nairah. Wanita itu hanya menatap dingin, dari tempatnya berdiri.
"Kamu duduk saja di sini, biar kami yang cari." Ayah Malik memegang bahu istrinya.
"Aku mau mencari juga, Bang." Ibu Malik bersikeras.
"Nggak usah, kamu pasti kelelahan, udah dua hari ini kamu kurang tidur." Ayah Malik membujuk.
"Abang juga nggak tidur udah dua hari." Ibu Malik menatap suaminya.
"Nggak apa, Abang masih kuat. Kamu duduklah." Ayah Malik menarik tangan istrinya dan menuju salah satu kursi. Ibu Malik pun menurut.
Ayah Malik bersama lima orang memeriksa kamar Mak Nairah, mulai dari lemari, bawah tempat tidur, hingga menuju kamar ritual yang pintunya terhubung juga ke kamar wanita itu. Semua menatap ngeri pada meja ritual, tidak ada yang berani mendekat. Mereka berdiri terpaku, angin dingin yang mengantarkan bau anyir darah menyadarkan mereka.
"Huek! Hueekkk! Bau apa ini?" Lelaki bertopi menahan diri agar mual hanya sebatas tenggorokan. Semua langsung menutup hidung dan buru-buru keluar.
Mereka berlari keluar dari kamar Mak Nairah, lalu menghela napas lega.
"Ampuuunlah, bau sekali. Untung aku nggak muntah...." Lelaki barbaju merah menghela napas berkali-kali.
"Iya, baunya kayak bau bangkai." Ujar lelaki berbaju hitam, tubuhnya bergetar menahan isi perutnya yang berontak.
"Bukan bangkai, itu bau anyir darah." Ayah Malik melangkah keluar kamar. Ia lelaki terakhir yang keluar. Sebelum keluar, ia melihat satu baskom berada di atas meja. Ia pun melangkah mendekati meja dan melihat isi baskom tersebut. Terlihat sedikit darah yang menghitam. Aroma anyir darah menyeruak ke seluruh kamar.
"Hiiiiih....darah? Darah siapa? Jangan-jangan, Mak Nairah itu minum darah manusia, makanya dia punya ilmu dukun." Lelaki bertopi bergidik
"Pasti dia minum darah, kalau ada warga kita yang mati kehabisan darah, itu pasti ulah Mak Nairah. Kalau itu terjadi, kita jangan diam saja, kita laporkan sama polisi." Lelaki berbaju merah merasa kesal.
"Memangnya, kamu berani lapor polisi?" Tanya lelaki berbaju hitam.
Mendengar pertanyaan itu, lelaki berbaju merah menatap seraya nyengir.
"Sudah, jangan memikirkan hal itu. Kita harus cari Malik dulu." Ayah Malik berkata, "Ayo, kita lanjutkan lagi mencari." Ayah Malik melangkah menuju kamar Kemuning.
Lima orang lelaki itu pun berjalan menyusul ayah Malik. Di dalam kamarnya, wajah Kemuning yang berlumuran darah tergeletak seperti orang tidur. Mereka memeriksa lemari, serta kolong tempat tidur. Tiba-tiba, mata Kemuning terbuka dan menatap ke arah Ayah Malik. Tatapan yang semula tajam berangsur menjadi lembut, lalu setitik air mata mengalir di kedua pipi Kemuning. Ayah Malik menyusuri tempat tidur itu dengan matanya. Lelaki itu tidak bisa melihat Kemuning yang terbaring di sana. Sesaat pandangannya terpaku pada Kemuning, lalu beralih pada beberapa bingkai foto Kemuning di dinding.
"Ini pasti kamar Kemuning." Ayah Malik mendekati bingkai itu. Wajah Kemuning terlihat ceria dan senyumnya merekah di foto itu, "Bapak sangat suka kamu bersama Malik. Bapak ingin sekali kamu menjadi menantu Bapak. Tapi, sayang sekali, umur kamu nggak panjang." Ayah Malik mendesah sedih. Ia teringat, ketik pertama kali Malik membawa Kemuning bertemu ia dan isterinya. Sebelum bertemu Kemuning, isterinya tidak setuju anak mereka menjalin hubungan dengan Kemuning. Isterinya tidak suka, dengan Mak Nairah. Wanita itu dikenal sebagai dukun aliran hitam. Namun, setelah bertemu Kemuning, hati istrinya menjadi luluh. Mereka pun tidak menolak, ketika Malik meminta mereka untuk melamar gadis itu.
__ADS_1
"Pak...." Lelaki berbaju merah memegang bahu Ayah Malik. Ayah Malik tersentak dan menatap lelaki itu.
"Nggak ada di sini?" Tanya Ayah Malik. Lelaki itu menggeleng,. "Kita cari di kamar sebelah." Ayah Malik melangkah menuju pintu.
Mereka juga tidak menemukan Malik di kamar berikutnya. Hingga, semua kamar telah dimasuki, hasilnya mereka tidak menemukan Malik. Demikian juga halnya, warga lain yang memeriksa seluruh ruangan. Tidak ada yang berhasil dan mereka bertemu di tengah ruangan. Melihat ayah Malik beserta warga, Ibu Malik beranjak bangkit, lalu melangkah mendekati mereka.
"Kami udah memeriksa semua ruangan. Nggak ada Malik, Pak." Lelaki berbaju kotak-kotak berkata pada Ayah Malik.
"Semua kamar juga nggak ada." Ucap lelaki berbaju lengan panjang.
Ayah Malik menghela napas, lalu menatap wajah istrinya. .
"Di mana Malik, Bang? Di mana Anak kita?" Ibu Malik berucap pelan. Wajah Ibu Malik tersaput mendung.
"Sabarlah, Bu. Kita cari lagi di seluruh rumah. Kita cari di luar, di sekitar rumah. Mudah-mudahan, kita bisa menemukan Malik." Ayah Malik memegang bahu istrinya, menatap lembut agar istrinya tenang.
"Iya, Bang." Ibu Malik mengangguk.
Ayah Malik menatap semua warga yang menunggu perintah.
"Sekarang, kita cari di luar." Ucap Ayah Malik, lalu melangkah keluar rumah diikuti oleh semua orang. Sementara itu, Ibu Malik berdiri termanggu memikirkan anaknya. Perlahan, air matanya mengalir.
Nairah! Dia pasti menyembunyikan anakku!
Batin Ibu Malik berkata. Seketika, Ibu Malik melangkah keluar rumah. Mak Nairah duduk di teras rumah, pandangannya lurus ke depan. Mulutnya terlihat komat-kamit. Mendengar langkah kaki mendekat, Mak Nairah menoleh.
"Gimana, udah ketemu anakmu?" Nada suara Mak Nairah mencemooh Ibu Malik, yang berdiri di hadapannya.
"Aku tau, kau sudah melakukan sesuatu pada Anakku. Kau pasti menyembunyikan Anakku!." Ibu Malik berkata tajam.
"Untuk apa aku sembunyikan anakmu?" Mak Nairah berucap kalem.
"Jangan bohong, Nairah! Kalau sampai mereka menemukan anakku di sini, kau akan tau akibatnya!" Ancam Ibu Malik. Ia tidak pernah mau berurusan lagi dengan Mak Nairah. Tetapi, jika anaknya disembunyikan Mak Nairah, ia akan membuat wanita itu menyesal.
"Temukan saja dulu anakmu. Barulah kau bisa berhadapan denganku." Mak Nairah menatap bengis.
"Aku yakin, Anakku ada di sini. Kalau pun nggak ada yang menemukannya hari ini. Aku akan kembali lagi untuk mencarinya!" Tatapan Ibu Malik mengancam, sebelum ia melangkah menuju tempat rombongan mencari Malik.
__ADS_1
Mak Nairah tersenyum melihat Ibu Malik.
Kau nggak akan menemukan anakmu....
Mak Nairah berucap dalam hati.
Rombongan itu kembali berkumpul, wajah mereka terlihat muram.
"Nggak ada?" Tanya Ibu Malik melihat wajah-wajah lesu itu.
Mereka semua menggeleng.
"Semua tempat kita cari, Malik nggak ketemu. Yang anehnya, kita juga nggak melihat Kemuning." Lelaki berbaju hitam bicara.
"Iya, ya? Di mana Kemuning? Kata Mak Nairah, anaknya itu masih hidup. Tapi, kita nggak ada jumpa Kemuning di rumah ini." Ujar lelaki bertopi.
Ayah Malik mengangguk-angguk, dengan dagu berkerut.
"Mungkin, Kemuning sudah dikubur, Mak Nairah bilang anaknya masih hidup itu untuk menghibur hatinya." Kata lelaki berbaju merah.
"Iya juga. Mungkin dia nggak terima anaknya meninggal, makanya dia bilang kek gitu."
Ucapan lelaki bertopi disambut anggukan oleh semua orang.
"Kalau gitu, kita pulang saja. Gimana Pak Lukman? Kami boleh pulang?" Tanya lelaki berbaju merah pada Ayah Malik.
Ayah Malik menghela napas, lalu menatap istrinya yang mengangguk tanda setuju.
"Ya, kita pulang saja. Semoga Malik pulang sendiri nanti. Mungkin, dia pergi ke rumah temannya dan lupa mengabari kami." Ayah Malik mengangguk, hatinya berharap apa yang diucapkannya benar adanya.
Sebelum mengikuti rombongan yang berjalan menuju pintu keluar, Ibu Malik menatap Nairah yang juga menatapnya dari teras rumah. Ia tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Helaan napas Ibu Malik terdengar berat, lalu melangkah cepat menyusul rombongan.
Rombongan itu pun melangkah meninggalkan rumah Mak Nairah. Melihat semua orang telah keluar dari halaman rumahnya, Mak Nairah tertawa.
"Ha ha ha ha. Sampai kapan pun kalian nggak akan menemukan Malik." Mak Nairah tertawa puas. Selain mereka tidak bisa menemukan Malik, mereka juga tidak akan bisa melihat Kemuning, karena pandangan mereka telah dialihkan oleh Mak Nairah.
Mak Nairah masih duduk di teras, ketika mendengar teriakan.
__ADS_1
"Aaaaaakkkkhhhh"
Tubuhnya refleks bangkit dan berlari menuju arah teriakan. Pendengarannya tertuju pada kamar Kemuning.